Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Siapa Alexa Abraham.??? Keturunan terakhir Jangkar Perak kah.?


__ADS_3

Pagi yang penuh semangat itu terasa begitu cepat datang bagi seorang pria yang sedang tersenyum bahagia itu. Ya, Halilintar Samudra, pria itu sudah menyelesaikan mandinya dan kini duduk di tepi ranjang setelah mengganti bajunya.


Mata nya terus menatap wajah cantik wanita yang masih terbuai di alam mimpi itu dengan tatapan mesra. Wanita iblis yang kini sudah menjadi istrinya itu.


Halilintar tersenyum mengingat kejadian semalam, dimana ia baru pertama kalinya melihat Zha menangis dan mengeluarkan air mata karena kerakusannya.


Gadis ketua mafia yang tidak pernah takut dengan apapun itu tidak akan pernah menangis hanya karena sebuah pisau atau peluru yang berhasil melukai tubuhnya. Tapi Halilintar sukses membuat wanita iblis itu menjerit bahkan menangis kesakitan namun tidak melawan ketika Halilintar berhasil merobek keperawanannya semalam.


Hanya deraian air mata dan tangan yang mencengkeram sprei hingga menyisakan suasana ranjang yang berantakan , itulah yang sempat di lihat Halilintar di sela sela aksinya merakus tubuh Zha.


Tangan Halilintar mengusap wajah itu membuat si pemilik wajah menggeliat merasakan sentuhan tangannya.


"Hall,! Jam berapa.?" Zha mengucek matanya , menatap wajah tampan yang semalam namanya terus ia panggil di setiap desahannnya itu.


"Hampir siang , bangun lah. Kita akan sarapan dulu. Setelah itu kau boleh beristirahat lagi jika masih lelah."


Halilintar menarik selimut Zha dan Zha langsung terperangah. Dengan cepat Zha menahan selimutnya untuk kembali menyembunyikan tubuh polosnya di balik selimut dengan wajah yang memerah menahan malu.


"Aku sudah melihat semua nya semalam, kenapa harus malu.?" Halilintar tersenyum pada istrinya.


"Siapa yang malu, aku .. aku hanya masih dingin. Pergi lah Hall..! Aku ingin sendiri dulu." sahut Zha masih dengan wajah memerahnya.


"Tidak, aku akan menunggu mu di sini. Kau pasti akan kesusahan berjalan." jawab Halilintar membuat Zha langsung menoleh dan menatap Halilintar sedikit tidak mengerti maksud pria itu.


Halilintar berdiri dan melangkah meraih handuk, lalu mengulurkannya pada Zha.


"Ayo lah Zha, kau harus mandi. Nyonya Azkayra pasti sudah menunggu di meja makan."


Zha pun melilit tubuh nya dengan handuk dan mulai beranjak.


"Argh.!" Zha merintih ketika merasakan nyeri dan perih di area sensitifnya bahkan ia merasa kesusahan untuk melangkah.


"Kau kenapa Zha.?"


"Sial,.. semua gara gara kau Hall.! Badan ku sampai sakit semua seperti ini." keluh Zha.


"Maafkan aku Zha. Aku bantu ya.?" Halilintar menghampiri Zha dan memapah nya ke kamar mandi.


Zha yang sudah berada di dalam mandi, mengguyur tubuhnya dengan air.


Mengingat yang semalam, Zha terus mengutuk dirinya sendiri saat menyadari begitu liarnya ia membalas semua sentuhan Halilintar padanya.


Zha termenung memikirkan dirinya.


Dengan pernikahannya saat ini dan dengan ia melakukan pembalasan perasaan Halilintar, lalu apa kabar dengan keturunan terakhir jangkar perak yang harus segera ia temukan.?


Zha menghela nafas, keluar dari kamar mandi. Ia melihat Halilintar sudah tidak ada di kamar. Zha tak ingin memikirkan nya , ia melangkah untuk meraih ganti dan segera mengenakan nya tidak peduli jika baju yang ia kenakan saat ini tidak sesuai lagi dengan pakaian yang biasa ia kenakan sehari hari.


Halilintar membuka pintu , melangkah dengan sebuah nampan berisi sarapan untuk mereka.


"Kita sarapan di kamar saja." ucap nya meletakkan sarapan itu di atas meja.

__ADS_1


"Kenapa tidak di meja makan saja Hall.? Bukan kah Mama dan Papamu sudah menunggu di sana.?" Zha menghampiri Halilintar dan ikut duduk di sofa.


"Mereka sudah mengerti, jika kau masih lelah. Mama justru yang menyuruh ku untuk kita sarapan di kamar saja." jawab Halilintar membuat Zha semakin malu saat mengerti ucapan pria itu.


"Maksud mu.?" Zha pura pura tidak paham.


Halilintar tersenyum menatap Zha. "Mereka juga pernah menjadi pengantin baru. Pasti lah mereka paham ada yang terjadi di antara kita semalam."


Bug..!!


Zha mendarat kan tinju nya pada bahu Halilintar yang langsung meringis mengusap bahu nya.


"Jangan terus mengungkit nya Hall, atau aku akan menghajar mu.!"


"Aku ini suami mu Zha, kau tidak boleh kasar lagi pada ku. Kau mau jadi istri durhaka ya..?"


"Oh ya, aku lupa. Maaf suami ku..!!"


Zha yang nampak kesal itu langsung mengambil sarapan milik nya dan segera memakan nya tanpa memperdulikan Halilintar lagi.


"Tidak ada romantis romantisnya." gerutu Halilintar melirik pada Zha.


"Kau bicara apa.??"


"Ah,..tidak Zha., habis kan sarapan mu." jawab Halilintar ikut menikmati sarapan nya.


****


"Apa yang sedang kau cari Hall.?" tanya Zha tergelitik ingin mengetahui apa yang sedang di lakukan suami dadakannya itu yang tampak serius dengan laptop nya hingga mengacuhkan keberadaannya.


Halilintar tidak menjawab selain hanya tersenyum tanpa menoleh.


Zha yang merasa tidak di pedulikan akhirnya kesal dan memilih pergi dari hadapan Halilintar untuk kembali berbaring di atas ranjang.


"Zha, lihat lah penemuan ku kali ini.!" seru Halilintar. Zha yang tidak ingin peduli itu hanya diam saja . Ia malas menanggapinya.


"Zha, coba lihat dulu. Kau akan tercengang dengan fakta baru yang aku temukan ini." kembali Halilintar mencoba bicara pada Zha.


Zha hanya berdehem tanpa ekspresi.


"Zha, ini tentang keturunan Jangkar Perak yang kau cari selama ini." sambung Halilintar kini mendekati Zha dengan membawa laptopnya.


Masih dengan malasnya Zha beranjak bangun dan melirik layar laptop yang di sodorkan Halilintar tepat di hadapannya itu. Matanya seketika membulat, Zha tercengang ketika membaca artikel di layar pipih itu.


Foto seorang wanita muda seusianya itu nampak jelas dengan seorang pria di sampingnya yang tidak bisa di lihat Zha dengan baik karena menutup wajahnya dengan sebuah masker.


Terlihat sebuah Tatto jangkar di bahu sebelah kirinya karena posenya yang miring membelakangi kamera dan hanya dengan mengenakan tengtop saja.


Alexa Abraham, wanita itu di duga keturunan terakhir klan jangkar perak yang akhir akhir ini sering muncul dan berkeliaran di kota. Dan kini menjadi incaran banyak klan Mafia lain yang menginginkannya. Namun ia sangat sulit di temui media manapun hingga wanita itu di anggap begitu sangat misterius.


"Aku harus menemukannya terlebih dahulu sebelum mereka.!" tiba tiba Zha bangun dari duduk nya dan terburu menyambar baju milik nya.

__ADS_1


"Tunggu Zha, kau tidak boleh terpancing. Bisa jadi ini hanya akal akalan segelintir manusia untuk suatu jebakan.!"


"Kenapa kau yakin seperti itu.?"


"Karena menurut ku._"


"Walau itu sebuah jebakan aku tidak peduli. Dengan menemukannya setidaknya aku akan mendapatkan banyak info darinya." potong Zha.


"Tidak Zha, kau tidak boleh pergi sekarang. Kau harus tau dulu jika ada sesuatu yang tersimpan pada tubuhmu yang saat ini belum kau sadari." ucap Halilintar.


"Apa maksud mu Hall.?" Zha kini mendekati Suaminya.


"Kau menemukan sesuatu pada tubuh ku.?" sambung Zha . Halilintar mengangguk.


"Katakan..!" Zha mencengkeram kerah baju Halilintar yang langsung menahan tangan Zha.


"Lepas dulu Zha, kau jangan emosi. Bagaimana aku menjelaskannya.?" ucap Halilintar , Zha akhirnya melepaskan tangannya.


"Saat kau terluka tembakan pada saat menolong Ayah ku, Dokter Bram yang menangani mu , menemukan adanya partikel yang di duga sebuah partikel Manipulasi yang tertanam pada jaringan kulit mu Zha. Dan aku yakin ada sesuatu yang besar tersimpan di partikel itu." jelas Halilintar.


Zha begitu terkejut dengan penjelasan Halilintar.


"Dan selama ini kenapa kau merahasiakan semua itu padaku Hall.?" tatapan mata Zha terlihat kecewa.


"Aku menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu mu Zha. Ku mohon jangan kecewa padaku. Aku hanya ingin ketika kau mengetahuinya status kita sudah menjadi suami istri. Dengan begitu aku sudah mempunyai hak untuk ikut campur akan apapun yang menyangkut dirimu." Halilintar meraih tubuh Zha dan membawa nya dalam pelukannya.


"Aku mencintai mu Zha, percayalah. Aku tidak ingin terjadi apapun padamu." ucap nya mendaratkan kecupan panjang di kening Zha yang masih tak bergeming dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui.


"Siapa yang melakukan itu padaku.?"


"Kita akan segera mengetahuinya. Papa sudah menyuruh seorang profesor ahli untuk menyelidikinya. Kau tenang lah."


"Tapi jika partikel itu merupakan suatu yang berbahaya bagaimana.? Atau.._"


"Kita akan menghadapinya sama sama. Kau percaya padaku kan.?" Halilintar mengangkat wajah Zha untuk menatapnya.


"Tidak ada alasan apapun lagi untuk aku tidak percaya padamu.!" jawab Zha , mata nya saat ini berkaca kaca. Ia baru menyadari jika pria yang di depannya itu sudah memberikan segalanya untuk dirinya.


Bukan hanya cinta dan kasih sayang, namun perhatian dan peduli dengan apa yang ada di dirinya. Zha melemas di pelukan Halilintar , terdengar isakannya.


"Menangis lah Zha, aku tau sebenarnya kau rapuh. Hanya saja kau selalu ingin terlihat kuat di depan orang lain. Saat ini ada aku yang akan menemani mu. Kau tidak perlu berpura pura kuat lagi. Karena di saat salah satu di antara kita rapuh, maka yang satunya akan menguatkan. Apa kau mengerti.?"


"Terimakasih Hall, terimakasih kau sudah menerima ku dengan keadaan ku yang tidak baik ini."


"Karena aku mencintai mu." jawab Halilintar mengeratkan pelukan nya.


"Lalu menurut mu, siapa Alexa Abraham itu Hall, benarkah dia keturunan terakhir jangkar perak yang aku cari.?" Zha kembali membahas wanita itu.


"Kita akan menyelidiki nya bersama. Tapi setelah mendapat kabar dari profesor yang saat ini sedang melakukan penyelidikan mengenai partikel yang ada di tubuh mu Zha. Kau harus bersabar." jawab Halilintar.


Jika sebelum nya Halilintar mengira Zha lah keturunan terakhir Jangkar Perak, namun ketika ia mendapatkan fakta tentang wanita yang bernama Alexa Abraham itu , saat ini Halilintar menjadi ragu. Otak nya pun terus berputar dan bertanya. Siapa sebenarnya yang menjadi keturunan terakhir Jangkar Perak.?

__ADS_1


_________________________________


__ADS_2