
"Selamat pagi Nona Aldo-"
"Vina, Alvina" Aldora langsung memotong perkataan Sansone yang ingin menyebutkan nama Aldora.
"Ah iya, Nona Alvina" ucap Sansone.
"Selamat pagi Duke Sansone," balas Aldora.
"Nona Alvina anda bisa keluar sekarang. Kita bicarakan laporannya nanti. Saya ingin berbicara dengan Duke Sansone," ucap Riccardo sengaja menyuruh Aldora pergi karena ia merasa muak melihat kedua manusia dihadapannya yang saling bertukar senyuman.
"Baik Yang Mulia," Aldora menunduk dan pergi.
"Hari ini aku harus mengembalikan mobil Kak Sansone. Tidak baik bukan, menyimpan barang orang terlalu lama," Aldora berkata lirih penuh tekad setelah duduk di kursi hitam yang ada di kantornya.
Aldora menunggu Sansone keluar sambil mengerjakan tugasnya yang lain. Tak terasa waktu sudah menunjukkan lima menit sebelum makan siang.
Tok tok
pintu ruangan Aldora diketuk oleh seseorang.
"Masuk," ucap Aldora.
Seorang office boy (OB) masuk dengan menentang plastik makanan.
"Nona, ini ada titipan makanan untuk anda," ucap office boy itu.
"Dari?" Tanya Aldora.
"Tidak ada nama pengirimnya," jawab office boy.
"Letakkan saja disini," ucap Aldora.
"Terima kasih dan maaf telah merepotkan," ucap Aldora.
"Tidak perlu sungkan, Nona. Ini memang pekerjaan saya," ucap office boy.
Lalu office boy itu pamit dan setelah diizinkan oleh Aldora akhirnya office boy itu pergi.
Aldora membuka plastik kemasan makanan. Ada kartu pesan dari sipengantar pesan.
Al, selamat menikmati makananmu. Uncle tahu kamu sering melewatkan makan siang. Itu sebabnya Uncle mengantarnya untukmu. Selamat menikmati, Tuan Putri. Unclemu tersayang
Uncle, kenapa Uncle membahayakan diri Uncle sendiri. Jika sampai Uncle ketahuan, Al tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Tapi Al bahagia karena Uncle sangat perhatian kepada Al.
Ucap Aldora dalam hati dengan perasaan bahagia memenuhi ruang dadanya.
Krek...
Suara pintu terbuka membuat Aldora segera menyembunyikan kartu ucapan dan mendongakkan kepalanya menatap kearah pintu.
__ADS_1
"Ah, Kak Sansone membuatku kaget saja" ucap Aldora.
Sansone tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Aldora.
"Selamat pagi Ya-"
"Stop!" Aldora sedikit berteriak saat Sansone ingin mengatakan kata kata formal juga memberikannya salam penghormatan.
"Maaf, hanya saja aku belum terbiasa," ucap Sansone.
"Tidak masalah. Tapi tadi Kakak hampir keceplosan saat mengatakan sapaan kepadaku di ruangan Riccardo," Aldora berkata dengan berbisik ditelinga Sansone.
"Aldora walaupun kamu tidak menyukainya. Tapi kamu harus tetap menghormatinya," ucap Sansone.
"Tidak mungkin!" Aldora berkata tegas lalu mengambil kunci mobil di meja kerjanya dan menyerahkannya kepada Sansone.
"Ini kunci mobilmu, Kak. Akhir pekan kita rayakan pertemuan ini. Aku akan mentraktirmu," ucap Aldora.
"Tidak perlu, kamu gunakan saja mobil itu. Akhir pekan aku memang tidak ada pekerjaan. Sebaiknya kamu datanglah kerumah. Mama pasti merindukanmu," ucap Sansone.
"Ketemu Aunty? Tidak buruk. Baiklah sepakat," ucap Aldora kembali menarik tangannya beserta kunci mobil.
"Al, aku harus pergi dulu. Sampai jumpa," Sansone baru saja akan membalikkan tubuhnya.
"Tunggu..." Aldora berjalan ke meja kerjanya dan mengambil makanan yang tadi diantar oleh Uncle Penrod.
"Makanlah, anggap ini sebagai traktiran dariku" ucap Aldora.
"Baiklah, sampai jumpa akhir pekan" Sansone menepuk pelan bahu Aldora setelah itu ia baru pergi.
Aldora kembali duduk di kursi kerjanya setelah memastikan bahwa Sansone telah pergi.
Telepon di meja bergetar, membuat Aldora segera mengangkatnya.
"Halo Nona Alvina, apa anda lupa kita ada pertemuan dengan klien siang ini?" Tanya Riccardo di seberang sana.
Aldora mengernyitkan dahinya merasa bingung. Seingatnya tidak ada pertemuan dengan klien hari ini. Aldora meletakkan ponsel lalu mengambil iPad dan membuka jadwal kerja Riccardo untuk hari ini.
"Tidak ada pertemuan dengan klien hari ini, Yang Mulia. Hanya ada rapat dengan tim pemasaran jam 3 nanti," ucap Aldora setelah memastikan bahwa perkataan Riccardo itu salah.
"Baiklah, mungkin aku yang salah ingat" ucap Riccardo lalu mematikan sambungan telepon.
Aldora meletakkan kembali telepon itu dan lanjut bekerja. Dia baru saja akan meletakkannya jari lentiknya keatas keyboard. Namun suara ponselnya kembali terdengar.
Nada dering dari ponselnya yang sangat Aldora kenal. Uncle Penrod sedang menelponnya.
Aldora yakin beliau akan mempertanyakan makan siang yang dia berikan tadi.
"Halo," sapa Aldora setelah tersambung.
__ADS_1
"Halo Al, apa kamu sudah menerima bekal yang Uncle kirim?" Tanya Uncle Penrod.
Bingo! Tebakan Aldora benar.
"Ya Uncle," jawab Aldora.
"Syukuran, ap kamu sudah makan?" Tanya Uncle Penrod.
"Al memberikannya kepada seorang Duke. Tapi Al akan segera makan sekarang," ucap Aldora beranjak dari duduknya.
"Al, kamu memberikan bekalnya kepada orang lain?" Terdengar suara kecewa Uncle Penrod.
"Bukan begitu Uncle, dia bukan orang lain. Dia Duke Sansone! Sansone, Uncle. Uncle percaya?" Aldora berkata pelan namun penuh kegembiraan.
Bagaimanapun saat ini dia ada di kantor.
"Sa-Sansone? Kamu tidak bercanda Al? Sansone, putra Uncle?" Uncle Penrod bertanya dengan perasaan campur aduk antara tidak percaya, senang, terkejut.
"Ya, Uncle" jawab Aldora masuk ke dalam lift dengan senyuman bahagia menghiasi wajahnya karena dia dapat membayangkan ekspresi bahagia Uncle Penrod.
"Al, Uncle... ah, Uncle tidak dapat mempercayai ini. Sansone... dia masih hidup dan menjadi seorang Duke. Anak itu... sangat membanggakan," ucap Uncle Penrod.
Aldora tersenyum.
"Ya Uncle dia sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang hebat. Uncle, Al punya berita bahagia lainnya. Sampai saat ini, Aunty Anin masih hidup. Dan pesta waktu lalu itu merayakan kesembuhan Aunty," ucap Aldora berjalan keluar dari lift menuju kantin.
"Ternyata anak itu benar benar menepati janjinya," gumam Uncle Penrod yang masih bisa didengar oleh Aldora walaupun terdengar samar ditelinganya.
"Janji? Janji apa?" Tanya Aldora bingung.
"Kita bicarakan dirumah. Makanlah dengan tenang," ucap Uncle Penrod berniat memberi salam dan mengakhiri sambungan.
"Tunggu," Aldora terdiam.
Ia ingin memberi Uncle Penrod teguran karena mengantarnya bekal. Tapi mendengar suara Uncle Penrod yang bahagia, Aldora tidak ingin merusak suasana hati Unclenya itu.
"Ada apa Al?" Tanya Uncle Penrod.
"Tidak jadi, Uncle. Selamat berjumpa dirumah," ucap Aldora lalu mematikan sambungan telepon.
Aldora memakan makan siangnya yang tadi sudah dia pesan.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan waktunya pulang. Dengan rasa penasarannya yang besar Aldora langsung pergi dari kantor. Bahkan dia sampai lupa untuk menunggu Riccardo pulang.
Masa bodoh dengan itu.
Yang terpenting baginya sekarang adalah mengobati rasa penasarannya mengenai janji yang tadi Unclenya sebutkan.
Ketika sampai di apartemen hal pertama yang Aldora lakukan adalah mandi agar Uncle Penrod tidak memberikan alasan untuk menunda penjelasannya.
__ADS_1
Setelah itu dengan semangat yang menggebu-gebu Aldora berjalan kearah ruang kerja Uncle Penrod.