Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Hanzero VS Zha


__ADS_3

Kini Halilintar dan Zha sudah berada di dalam sebuah Taksi, dan Halilintar langsung menyuruh sang sopir untuk melaju tepat ke arah Rumah Utama.


Zha yang masih tidak percaya jika Halilintar bisa langsung begitu saja percaya dengan ucapan Ardogama terlihat risau ketika mengetahui Halilintar akan membawanya ke Rumah pria tersebut.


"Pak, berhenti.!!" tiba tiba Zha berseru pada sopir taksi itu.


"Zha, apa yang kau lakukan.?" Halilintar segera mencegah Zha yang hendak menuruni taksi.


"Aku tidak akan lari Hall, aku bukan manusia pengecut. Lebih baik menghadapi mereka dari pada harus kabur dan bersembunyi." ucap Zha.


"Untuk kali ini saja Zha, ku mohon menurut lah. Keselamatanmu saat ini adalah tanggung jawabku."


"Tanggung jawab dari siapa hah.! Sudah lah Hall pulang lah sendiri. Aku mampu menjaga diri ku sendiri. Toh selama ini aku sudah terbiasa sendirian." bantah Zha.


"Zha, untuk kali ini saja. Ku mohon bersabar lah. Kita bisa kembali mengatur rencana nanti." Halilintar kini menarik tangan Zha dan memposisikan tubuh Zha seperti semula.


"Jalan pak.!"


Zha yang kesal karena Halilintar terus menggenggam lengannya membanting pintu mobil sambil terus mengumpat.


"Kenapa kau bisa percaya begitu saja dengan tua Bangka sialan itu Hall.?"


"Bukan kah kau sendiri yang waktu itu percaya dengan ucapan nya.? Dan kali ini aku juga bisa merasakan jika Ardogama memang bisa di percaya." sahut Halilintar masih terus memegang erat lengan Zha.


Terdiam, Zha akhirnya hanya bisa pasrah tanpa sepatah kata pun,hingga saat taksi itu telah berhenti di depan halaman luas milik rumah utama keluarga Samudra dan kemudian Halilintar mengajaknya turun untuk melangkah masuk.


Zha hanya bisa mengikuti langkah kaki pria di hadapannya itu meskipun hatinya diliputi keraguan. Entah apa yang membuat Zha ragu, tapi kali ini hatinya merasa tidak tenang.


Sampai di dalam Rumah Utama Halilintar langsung mengajak Zha menemui Azkayra yang berada di ruang tengah.


"Mam, Lihat siapa yang ku bawa.?" ucap Halilintar pada Azkayra yang langsung berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Kanzha..!!" Azkayra terburu menghampiri Zha dan tanpa memperdulikan putranya sendiri Azka memilih untuk memeluk Zha.


"Kanzha, kenapa lama sekali nak..? Apa Azze berbuat kasar lagi padamu.?" tanya Azka pada Zha.


"Tidak Tante,. Tadi kami tidak sengaja bertemu dan Hall mengajak Zha kemari." kilah Zha menutupi apa yang terjadi selama ini yang sebenarnya.


"Oh, baik lah. Kalau begitu duduk lah dulu. Tante akan membuatkan minuman untuk kalian. Azze terimakasih sudah membawanya kemari." ucap Azka menoleh dan tersenyum senang pada putra nya yang membalasnya dengan menepuk dada dengan songongnya.


"AZ Mam, tidak akan mengecewakan mu." ucapnya. Azka kembali tersenyum dan melangkah.


"Zha." Halilintar tiba tiba merengkuh kepala Zha yang sudah duduk dan mendaratkan kecupan kilat di keningnya.


"Diam lah di sini untuk sementara waktu sampai aku memastikan keadaan aman diluar sana untuk mu." ucap Halilintar menggenggam erat tangan Zha.


Zha segera melepaskan genggaman tangan Halilintar dan mengangguk cepat , ia hanya tidak ingin perbuatan Halilintar di lihat Azkayra.


"Ah baik lah, aku akan ke kamar ku dulu, kau tunggu mama, nanti mama yang akan mengantar mu ke kamarmu." ucap Halilintar melangkah pergi sesaat setelah kembali merengkuh paksa tengkuk Zha untuk kembali mencium keningnya.


"Sayang.. Minum lah dulu. Setelah itu kau bisa beristirahat." ucap Azka yang muncul dari belakang Zha membawa segelas teh hangat.


.


********


.


Di tempat lain , tepatnya di kantor perusahaan Samudra nampak Hanzero terlihat sedang berbicara serius dengan Detektif Victor. Sepertinya hari ini Victor sengaja menemui Hanzero untuk membahas sesuatu yang penting.


Sesaat Hanzero terlihat mengangguk ringan sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Victor untuk pulang ke rumah utama.


Sepanjang perjalanan pulang, wajah Hanzero yang masih terlihat tampan dan penuh wibawa itu nampak menyimpan kerisauan. Entah apa yang sudah di perbincangkan Victor dengannya hingga membuat seorang Hanzero beberapa kali menghela nafas berat.

__ADS_1


Hingga sampai di rumah utama sirat risau itu segera tersembunyi di balik kewibawaannya sambil menghampiri sang istri yang tengah berbincang dengan sosok gadis yang sudah pernah di lihat Hanzero itu.


"Azka.!!"


"Hanz..! Kau sudah pulang. Tumben."


"Ya Azka, aku sedikit lelah. Oh. Ada tamu rupanya." sahut Hanz segera menatap tajam ke arah Zha yang langsung mengangguk hormat pada Ayah Halilintar itu.


"Hanz, Azze menepati janjinya untuk membawa Kanzha kemari." ucap Azka.


Hanz hanya tersenyum simpul.


"Azka, bisakah kau menemani ku sebentar di kamar.? Sepertinya aku sedang tidak enak badan." ucap Hanz pada istrinya.


"Ya Hanz, tapi tunggu Azze ya.?" sahut Azka.


Hanz mengangguk ringan dan duduk di sebelah istrinya, namun mata tajamnya terus memperhatikan Zha, dan Zha mampu mengartikan tatapan ketidak sukaan Hanzero padanya. Zha hanya menunduk menjaga pandangannya agar tidak terpancing oleh tatapan sangar Hanzero itu.


"Papa..!" di ujung sana Halilintar sudah menghampiri mereka dan ikut duduk diantara mereka tepatnya di sebelah Zha.


"Dari mana saja kau Hall,?" tanya Hanz pada Putranya tanpa basa basi.


"Pa, Aku sedang ada urusan sedikit."


"Urusan apa.? Kau sibuk dengan Urusan baru mu yang tidak penting itu dan melupakan orang tua mu.?" tanya Hanz melirik Zha yang juga sempat meliriknya.


"Hanz.!" Azka mengusap punggung suaminya bermaksud untuk menenangkan hatinya karena Azka tau jika Hanz saat ini sedang marah pada Halilintar yang sudah beberapa hari tidak pulang atau sekedar memberi kabar.


"Pa..!" Ucapan Halilintar terhenti ketika getaran Ponselnya tanda panggilan masuk. Halilintar segera merogoh nya dan menarik tombol hijau ketika nama Victor terpampang di sana.


"Halo."


"Hall, Ada info penting mengenai Gadis Pecinta Asap. Bisa kah kau kemari menemui ku.? Atau aku yang akan menemui mu ke rumah mu.?" suara Victor di sana.


"Aku yang akan menemui mu. Tunggu saja." Halilintar cepat menjawab sambil melirik ke arah Zha yang tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Kau mau kemana lagi.?" tanya Azka.


"Victor menyuruh ku menemui nya. Ada hal penting yang akan kami bahas." jawab Halilintar.


"Kalau begitu pergi lah. Tidak perlu khawatir , Mama akan menjaga Zha. Antar dulu dia ke kamarnya." ucap Azka.


Halilintar mengangguk dan segera mengajak Zha menuju kamar tamu yang tersedia di lantai atas.


"Hall, aku ikut." ucap Zha setelah berada di depan kamar.


"Tidak Zha, Victor adalah detektif yang sedang mencari mu. Jika kau ikut dia bisa mencurigai mu karena saat ini dia sedang ingin memberitahu ku info tentang gadis pencinta asap yang ia dapatkan. Percaya lah padaku Zha. Kau aman di sini." jawab Halilintar berusaha meyakinkan Zha.


"Tapi Hall,"


"Zha.. Aku harus menemuinya, siapa tau aku bisa mendapat sedikit petunjuk. Kau di sini saja. Lakukan apapun yang kau mau asal jangan keluar dari zona aman. Kau mengerti." ucap Halilintar memeluk sejenak kekasih nya itu.


"Aku mencintai mu Zha, aku akan menemani mu melewati semua ini. Kau harus percaya padaku." bisik Halilintar mampu membuat Zha tertegun.


Zha hanya bisa menatap langkah pria itu dengan perasaan kacau hingga dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.


**********


Sampai sore menjelang malam , Zha terlihat gelisah menanti kepulangan Halilintar yang tak kunjung datang. Ia melangkah keluar kamar sekedar hanya untuk menghilangkan rasa gelisahnya menuju dapur.


Entah apa yang ingin ia lakukan , Zha pun nampak bingung ketika sudah berada di dapur yang terlihat sepi itu. Hingga sebuah tepukan di bahunya mengangetkannya.


Sesaat Zha hampir tidak bisa menahan diri ketika sebuah moncong pistol sudah menempel di pelipisnya, beruntung ia bisa cepat menatap wajah seseorang yang memperlakukannya begitu.

__ADS_1


"Aku hanya ingin bertanya, apa tujuan mu masuk ke dalam keluarga Samudra, Gadis Pecinta Asap.??" Hanzero sudah siap menarik pelatuk pistolnya.


Zha sesaat tersentak mendengar pertanyaan Hanzero yang terasa menancap ulu hati nya, dari mana ia tahu tentang diri nya.?


"Jawab, atau kau akan berakhir saat ini juga.!"


"Om .. Tuan. Saya .. saya tidak bermaksud apapun.! Sungguh.!" selesai berucap secepat kilat tangan Zha menyambar pergelangan tangan Hanzero dan memutarnya hingga membuat pistol itu terjatuh lalu Zha menendangnya hingga pistol itu terpental jauh.


Menyadari jika yang di hadapannya itu bukan lah gadis sembarangan, Hanzero yang sudah menyiapkan dengan matang pun menendang Zha namun terelakkan dengan begitu lincah.


"Tuan, tunggu dulu. Aku sungguh tidak berniat apapun. Halilintar sendiri yang memaksaku untuk masuk kemari." Zha terus berusaha memberi penjelasan pada Hanzero sambil terus mengelak serangan Hanzero.


Hanz menghentikan serangannya ketika berhasil menyambar pistolnya dan kembali menodong kan ke arah Zha.


"Apa aku bisa mempercayai ucapan seorang ketua mafia seperti mu.?"


"Jika anda tidak percaya, Anda bisa menanyakan sendiri pada Putra mu.!"


"Kau sudah meracuni putra ku.!! Dan kau pikir, bisa semudah itu memperdayai ku.!"


"Tidak tuan, aku tidak melakukan apapun pada Halilintar.!"


"Baik lah, jika ucapan mu benar. Sekarang juga kau ikut dengan ku.!" ucap Hanzero masih setia menodongkan Pistol nya.


"Cepat jalan.!!"


Zha terpaksa mengikuti perintah Hanzero, padahal jika ia mau bisa saja Zha melawan Hanzero dan mungkin bisa dengan mudahnya menghabisi Hanzero saat ini juga. Tapi Zha tidak lah gegabah, ia masih bisa berpikir jernih untuk tidak membuat Masalah dengan orang tua Halilintar apalagi sampai membunuhnya. Itu tidak mungkin di lakukan Zha.


Hanzero segera membuka pintu mobil ketika mereka sudah berada di depan Rumah dan mendorong kasar tubuh Zha untuk masuk lalu menghidupkan mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi membawa Zha jauh meninggalkan Rumah utama. Sementara Zha hanya terdiam tanpa ada lagi ucapan yang terucap karena Zha tau jika itu hanya akan sia sia. Zha sadar siapa Hanzero. Yang tidak akan mudah mempercayai siapa pun dan akan melakukan apapun demi melindungi Keluarganya, apalagi saat ini di mata Hanzero Zha adalah manusia yang sangat berbahaya. Zha mengerti dengan maksud Hanzero pad nya.


"Aku tidak ingin Putra ku terlibat apapun dengan mu. Apa kau mengerti.?" ucap Hanzero memecah kesunyian.


"Aku akan lakukan. Aku berjanji." sahut Zha.


"Baguslah.!! Mulai detik ini jauhi Putra ku dan juga istri ku, jangan pernah menampakkan wajah mu di hadapan mereka atau kau akan berhadapan dengan ku..!!" ucap Hanzero menghentikan mobilnya.


"Turun lah.!!"


Mendengar itu entah kenapa hati Zha terasa hancur berkeping keping, namun ia masih mampu untuk tenang, Zha mengangguk dan membuka pintu mobil.


"Aku tidak peduli kau siapa. Mafia atau pembunuh sekali pun. Yang jelas aku akan memegang janji mu. Aku sudah lelah dengan segala permasalahan yang kerap menghampiri keluarga ku. Dan aku tidak mau itu terulang lagi. Ku harap kau mengerti itu." ucap Hanzero sebelum Zha benar benar keluar dari mobilnya.


Sekali lagi Zha hanya bisa mengangguk dan menutup pintu mobil itu kembali. Membiarkan Hanzero menurunkannya di tengah jalan raya yang sepi dan melesat meninggalkan nya.


Zha melangkah , ia membenarkan semua tindakan Hanzero dan sedikit pun tidak menyalahkannya. Siapapun orangnya pasti akan melakukan hal yang sama seperti Hanzero ketika mengetahui dirinya siapa.


Ketika Zha melangkah , dari arah belakang muncul beberapa mobil yang melaju cepat seperti sedang mengejar mobil Hanzero.


"Klan Vargas ..!!" Zha terkejut ketika mengenali dengan baik beberapa mobil yang baru saja melintas itu.


Zha merogoh Ponselnya dan secepatnya menghubungi nomor Halilintar, Namun sayangnya nomor yang Zha tuju tidak aktif.


"Hall, kenapa kau tidak mengaktifkan nomor mu.!!??" Zha terlihat panik ,ia menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi. Tanpa berpikir lagi, Zha berlari menghadang sebuah mobil yang kebetulan melewati jalanan itu.


Sang pemilik mobil yang tidak curiga sedikit pun itu menghentikan mobilnya dan membuka pintu.


"Turun.!!" Zha sudah menodongkan pistol tepat di kepala sang pemilik mobil yang langsung pucat dan dengan tubuh gemetaran menuruti perintah Zha untuk turun. Zha menarik kasar kerah Pria pemilik mobil itu dan mendorongnya hingga jatuh tersungkur lalu segera mengambil alih mobilnya.


Zha menginjak pedal gas itu dengan kecepatan penuh menyusuri jalanan beraspal hitam itu, berharap ia bisa menyusul tepat waktu rombongan Anak buah Vargas tadi.


Tapi sayang ,kali ini perkiraan Zha melesat sempurna. Zha hanya bisa menemukan mobil Hanzero dengan keadaan kaca pintu mobil itu sudah pecah berantakan dan Hanzero tidak dapat Zha temukan di mana mana.


"Bedebahhhh...!!!! Vargas.. Dia berhasil membawa Tuan Hanzero.!!"

__ADS_1


"Arrgghhh...!!!" Zha membanting pintu mobil hasil rampasannya tadi dan bergegas duduk kembali untuk melajukan mobil itu .


_____________


__ADS_2