
Zha sudah berhasil menenangkan hati Riana yang kini duduk manis di sampingnya di jok belakang, sementara Halilintar sendiri berada di kursi depan bersama sang sopir yang membawa mobil mereka melaju ke Rumah Utama.
Mobil yang ditumpangi Hanzero dan Azkayra pun mengikuti mobil mereka dari belakang bersama mobil mobil para pengawalnya.
Zha mengira setelah sampai di Rumah Utama keadaan akan sudah tenang dan Zha bisa segera berpamitan untuk pulang ke Mansion bersama bibinya.
Namun perkiraan Zha salah besar, bagaimana tidak. Sesampainya mereka di Rumah Utama Sang bibi kembali mengamuk dan kali ini Riana menuntut keluarga Samudra.
"Maaf Tuan dan Nyonya ya..? Bukan saya tidak sopan. Tapi saya menuntut keadilan. Saya mau putra kalian menikahi Zha. Jika tidak saya akan menuntut kalian dengan jalur hukum biar nama keluarga terhormat kalian akan tercemar dan mendapat malu.!" ucap Riana membuat Zha kaget.
"Bibi.. Apa yang bibi katakan.? Tuan maafkan bibi ku. Tidak perlu di ambil hati ucapannya barusan." potong Zha merasa sangat malu dengan tingkah bibinya.
"Ayo bi, kita pulang saja." bujuk Zha.
"Tidak bisa.. Enak saja. Mereka memang orang yang berkuasa, dengan kekuasaan mereka bisa menegakkan keadilan. Tapi tidak untuk bibi, bibi tidak takut Zha.. Kau sudah di lecehkan oleh pria itu, dia harus bertanggung jawab. !!" sang bibi menunjuk Halilintar yang hanya menunduk.
"Bibi,.!!"
"Zha, bagaimana aku harus bertanggung jawab pada almarhum Ibu mu. Ah,.. dia pasti akan sangat sedih melihat kau diperlakukan seperti ini.! Hiks...hiks..!" Riana menangis sejadi jadinya.
"Aisyah maafkan aku tidak bisa menjaga putri mu..!"
"Bu, tenang lah.. Kita akan mencari jalan keluar yang terbaik. Jangan menangis." ucap Azkayra menepuk lembut tangan Riana, tapi wanita itu menepis tangan Azkayra dengan kasar.
"Bagaimana saya bisa tenang Nyonya, Zha itu anak perawan. Bagaimana dengan nasib masa depannya jika orang lain tau kalau dia di grebek warga gara gara berduaan dengan laki laki yang bukan mahramnya.!" ucap Riana.
"Begini Bu,..!"
"Tidak, pokoknya saya mau Putra kalian harus menikahi keponakan saya, jika tidak lihat saja apa yang akan saya katakan pada seluruh orang tentang keluarga samudra yang terhormat ini..!!" bentak Riana terus mendesak mereka.
"Baik lah Tante, saya akan menikahi keponakan Tante. Bila perlu sekarang juga .!" tiba tiba Halilintar menjawab.
"Hall,.!" pekik Zha merasa tersudut.
"Bibi kita pulang sekarang."Zha menarik kasar lengan Riana.
"Tunggu Kanzha..Benar kata bibi mu. Halilintar memang harus bertanggung jawab. Kami tidak keberatan jika kalian harus menikah walaupun saat ini juga. Benar kan Hanz.?" Azka menoleh pada suaminya yang hanya diam saja memperhatikan perdebatan mereka.
"Tante, tidak perlu. Bibi hanya masih salah paham. Zha nanti akan mencoba menjelaskan." sahut Zha sungguh merasa tidak enak hati dengan tuntutan bibi nya yang menurut Zha sudah melampaui batas pada keluarga Samudra.
__ADS_1
"Zha, dengarkan aku. Sebaik nya kita menikah saja. Setelah itu baru kita bisa memberi penjelasan pada Bibi mu." ucap Halilintar menghampiri Zha.
"Kau jangan gila Hall, kau pikir menikah itu main main.?" Zha melotot pada Halilintar.
"Siapa yang mau main main.? Aku serius.!" ucap Halilintar.
"Hall..!!"
"Dengar kan aku Zha, jika kita tidak menikah, bibi mu akan mengatakan pada semua orang tentang aku yang sudah melecehkan mu. Apa kau tidak memikirkan nama baik keluarga kami.?" kini Halilintar terlihat sangat serius.
"Tidak Hall, aku tidak bisa. Kau tenang saja , aku bisa mengurus masalah bibi ku."
"Kenapa Zha, kau meragukan aku.?"
"Bukan begitu tapi.._"
"Kanzha, benar kata Halilintar . Sebaiknya kalian menikah setelah itu baru memikirkan jalan untuk ke depannya. Tante mohon , Tante tidak mau nama keluarga samudra tercemar." ucap Azkayra ikut mendekati Zha.
"Tapi Tante.?"
"Dasar gadis bodoh. Tuan muda ini sudah mau menikahi mu. Bagus nya kau berterimakasih karena masa depan mu terselamatkan. Siapa yang akan sudi menikahimu jika orang lain tau kalau kau gadis murahan yang kena grebek warga Kanzha...!!"
"Zha, sudah lah. Walau bagaimana pun juga dia sudah menjadi pengganti orang tua mu. Wajar kalau dia khawatir dengan masa depan mu. Kau tidak boleh membantahnya." kini Hanzero ikut andil dalam memberi pendapat.
"Baiklah, aku akan menyiapkan semua nya." sambung Hanzero melangkah pergi ke kamarnya di susul Azkayra.
"Hanz, apa kau serius.?" tanya Azka berjalan di samping Hanz.
Hanz menoleh dan tersenyum.
"Seperti nya rencana mu akan berjalan lancar."
***
Ekspresi datar ciri khas wajah Zha saat ini tidak lagi nampak, terganti raut gusar dan tatapan gelisah. Jantungnya pun terus berdegup memikirkan sesuatu yang akan segera terjadi.
Sang wanita iblis yang tidak terbiasa gugup atau gelisah itu kini harus mengalami perasaan itu.
Zha ingin sekali menyalahkan bibinya, tapi sekali lagi ia menatap wajah yang sudah tidak muda lagi itu terlihat begitu khawatir memikirkannya. Bibinya tidak sepenuhnya bersalah, Riana pasti punya alasan yang kuat untuk mendesak agar Halilintar menikahi Zha, meskipun Zha sudah mengatakan jika tidak terjadi apa apa antara Zha dan Halilintar tetap saja Riana ngotot dan mendesak mereka dengan sebuah alasan dan ancaman.
__ADS_1
Tapi..
Kenapa bibi bisa sampai sekhawatir itu.? Zha nampak berpikir. Atau ini hanya akal akalan bibinya saja yang memang menginginkan Zha menikah dari dulu. Zha lalu menatap Halilintar, pemuda yang saat ini tengah menggenggam erat tangannya dengan maksud agar Zha tidak kabur dari rumahnya. Sebenarnya Zha memang sedang memikirkan hal itu, tapi ia berpikir ulang. Jika ia kabur dan bibinya benar benar akan melakukan ancamannya, lalu bagaimana dengan nasib nama baik Keluarga Samudra ?
Zha tidak mungkin akan membiarkan Keluarga Samudra menanggung aib yang seharusnya tidak pernah ada ini.
Baiklah, aku akan menikah. Mudah saja. Bukan kah Tuan Hanzero juga pernah melamar ku untuk Hall.? Tapi bagaimana dengan misi ku..?
Tidak tidak.. Aku tidak bisa.!
Zha meremas tangan Halilintar membuat pria itu menoleh.
"Zha .. apa yang kau lakukan..?" Halilintar mengiris menahan pedih tangannya.
"Ini semua gara gara kau.!"
"Kenapa jadi menyalahkan aku.?"
"Kenapa kau harus mengikuti ku..? Begini kan jadinya.!"
"Mungkin ini sudah menjadi jalan kita, kita jalani saja dulu ya? Urusan lain kita pikirkan nanti." jawab Halilintar malah tersenyum tanpa beban. Dan Zha menangkap senyuman Halilintar seolah sebagai senyum kemenangan.
******
Selesai waktu magrib, semua sudah berkumpul di ruang tengah.
Zha sudah duduk dengan balutan kebaya putih yang terpaksa harus di pakainya karena Azkayra sudah mempersiapkan untuk nya. Wajah Zha yang juga sudah di makeup oleh tangan Azkayra sendiri itu terlihat sangat menawan dan hampir tidak di kenali jika itu adalah Zha sang ketua mafia. Di sampingnya jelas saja sudah duduk sang pewaris tunggal keluarga samudra dengan tuxedo mahalnya menambah kesan tampan dan gagah Halilintar.
Detik menegangkan bagi Zha benar benar berlalu dengan begitu lambat bagi Zha,
hingga tak terasa air matanya mengalir begitu saja ketika acara Ijab Kabul mereka berjalan lancar tanpa hambatan. Entah apa yang di rasakan Zha saat ini, senang atau sedihkah.? Zha sendiri pun tidak mengerti.
Apa pernikahannya ini akan berujung bahagia atau malah akan menyusahkan kedua belah pihak.? Entah juga. Yang jelas malam ini di depan Penghulu yang sengaja di undang Hanzero ke Rumah Utama dan hanya dengan beberapa saksi saja serta di hadapan Tuan Hanzero beserta Nyonya Azkayra Zha telah resmi menjadi Nyonya Halilintar dengan pernikahan yang di buat sesederhana mungkin itu.
Kecupan panjang milik Halilintar mendarat di kening Zha menandai akhir dari acara pernikahan mendadak mereka itu.
Isak tangis dari sang bibi Riana pecah sesaat setelah ia memeluk Zha.
"Jadi lah istri yang baik Zha.. Melihat ini Ibu mu di sana pasti bahagia.!" ucapnya mengusap air matanya , Zha hanya membalas dengan senyuman getir saja.
__ADS_1
___________________