Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Lamaran Hanzero.


__ADS_3

Masih di suasana Rumah Utama , Zha terlihat sedang duduk menyandar kan kepala nya di sofa berhadapan dengan Halilintar. Ia sudah mengenakan kembali pakaiannya sendiri karena merasa tidak nyaman dengan pakaian pemberian Azkayra.


Zha menarik nafas sebelum akhirnya menghela dan menatap pria tampan di hadapan nya itu. Tidak bisa di bohongi jika saat ini jantung Zha terus berdebar ketika tatapan nya beradu dengan tatapan Halilintar.


"Hall, aku harus pulang. Kau tidak perlu ikut." ucap Zha.


"Mama menyuruh ku untuk mengantar mu Zha. Apa kau lupa.?"


"Aku masih banyak urusan Hall, kau tidak mengerti juga."


"Kau yang tidak mengerti, aku ingin menemani mu dalam keadaan apapun." jawab Halilintar terus bersikeras dengan keinginan nya menemani Zha pulang.


Suara ketukan pintu mengakhiri perdebatan antara Zha dan Halilintar. Azkayra terlihat memasuki kamar dan menghampiri Zha.


"Kanzha , Ayah Halilintar menunggu mu di depan. Ada yang ingin di bicarakan padamu." ucap Azkayra langsung di balas anggukan Zha yang langsung berdiri dan melangkah.


"Sayang,.. kau sudah janji akan memberi tahu Alamat Bibi mu. Mana.?" tanya Azkayra sebelum Zha keluar dari pintu.


"Oh, iya Tante." tidak ingin menambah masalah lagi Zha akhirnya menuliskan alamat lengkap Bibi Riana dan memberikan pada Azkayra yang langsung tersenyum senang menatap alamat yang baru saja gadis itu berikan padanya.


Zha kini melangkah menemui Hanzero yang sudah duduk menunggu nya di ruang tengah.


Dengan ciri khas wajah datarnya Zha kini duduk di hadapan Hanzero, pria yang penuh wibawa itu.


"Tuan,." tegur Zha sesaat setelah duduk.


"Zha. Ada yang ingin aku bicarakan padamu."


Zha mengangguk saja.


"Sebelum nya, aku ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya padamu. Sejak kau menyelamatkan aku , aku belum sempat berterimakasih padamu." ucap Hanzero menatap gadis cantik di hadapan nya itu.


"Tidak perlu berterimakasih Tuan, karena walau bagaimana pun juga itu sudah menjadi urusan ku. Alex pernah meminta jasa ku untuk membunuh mu. Karena penolakan ku Alex menyewa mafia lain. Aku sudah memperingatkan nya untuk tidak menyakiti keluarga ini, Dan aku merasa siapa pun yang melawan ku adalah musuh ku. Jadi, tidak perlu berterimakasih." jawab Zha.


"Walau bagaimana pun juga kau tetap menyelamat kan nyawaku. Apapun alasan mu."


Zha lagi lagi hanya mengangguk saja.


"Zha.. aku ingin melamar mu."


Bommm..


Seketika jantung Zha seperti hendak meledak, terkejut. Ya terkejut namun Zha yang pintar menyembunyikan perasaan itu bisa berpura-pura tidak terkejut.


Zha hanya tersenyum simpul.

__ADS_1


"Ah, Tuan.. Apa aku tidak salah dengar.?"


"Tidak. Kau tidak salah dengar. Di hadapan mu langsung aku ingin melamar mu untuk Halilintar. Bisakah kau menjadi menantu kami.?"


"Tuan, seperti nya kau salah memilih. Kau akan menyesal."


"Bukan itu jawaban yang ku ingin kan Zha. Bisa kah kau menerima lamaran ku.?" kembali Hanzero bertanya pada gadis yang mulai terlihat gelisah itu.


"Maaf Tuan, aku tidak bisa." jawab Zha kembali dengan wajah datar nya.


"Beri aku alasan atas penolakan mu." ucap Hanzero masih tetap dengan sorot kewibawaan nya.


"Banyak hal Tuan, selain karena aku bukan lah wanita yang baik untuk Halilintar. Aku tidak mungkin bisa menjadi menantu keluarga terhormat seperti keluarga Samudra. Apa Tuan tidak memikirkan nama baik keluarga ini.? Jika orang tau siapa menantu yang kau pilih.!"


"Kami sudah memikirkan hal itu secara matang Zha. Dan Putra ku mencintai mu. Jika kau menikah dengan nya dan menjadi bagian dari kami, kita akan bisa bersama sama dalam menghadapi apapun. Termasuk permasalah hidup mu." ucap Hanzero.


Gadis itu kembali tersenyum simpul.


"Tuan, permasalahan hidup ku terlalu pelik. Aku terbiasa sendiri. Dan sampai saat ini aku masih ingin sendiri. Permisi Tuan.!" Zha sudah berdiri dan melangkah.


"Apa kau mencintai Halilintar.?"


Deg....!!! Zha menghentikan langkah nya dan menoleh.


"Aku belum bisa mengerti tentang perasaan seperti itu." jawab Zha.


"Setiap manusia mempunyai jalan nya masing masing. Tapi kita bisa memilih jalan yang terbaik untuk ke depan nya. Pahit, atau kesalahan, semua pernah mengalami. Tapi kembali pada diri kita sendiri apakah kita selamanya ingin terbelenggu dalam keadaan yang menyimpang atau keluar mencari kedamaian.?" sambung Hanzero membuat gadis itu tertegun dan mata indah nya sempat berkaca kaca.


"Baiklah Zha.. jika kau ingin pulang. Pulanglah. Kami tidak ada hak untuk menahan mu di sini. Jika kau keberatan Halilintar mengantar mu itu tidak masalah, aku akan berbicara pada Putra ku." ucap Hanzero kembali.


"Tidak Tuan, aku sudah berjanji akan pulang bersama Halilintar." jawab Zha.


"Kalau begitu tunggu lah, aku akan memanggil Halilintar." ucap Hanzero kini ia yang melangkah meninggalkan Zha yang akhirnya duduk kembali di sofa.


Gadis itu terlihat masih datar, tapi jauh di lubuk hati nya terasa begitu gelisah dengan semua ucapan Hanzero tadi. Ia memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut pria itu yang ternyata begitu mengenai hati nya. Entah kenapa , saat di dekat Hanzero Zha merasa nyaman. Kerinduan akan kasih sayang seorang ayah bisa ia rasakan dari pria itu. Begitu juga ketika Zha berada di sisi Azkayra kerinduan pada sosok ibu tercintanya bisa langsung terobati.


Lalu bagaimana perasaan nya ketika bersama Halilintar..? Ya, tidak bisa di pungkiri oleh Zha, rasa nyaman bahagia terkadang mampu membuat nya melambung dan terasa terbang ke awan. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelum nya. Apakah itu cinta.??


Zha mengusap wajah nya dengan kasar. Harus kah ia menerima kebaikan keluarga ini.? Yang sudah berjanji akan menemani nya untuk menjalani hidup nya yang berantakan. Akhir akhir ini Zha berpikiran jika hidup nya sudah melampaui batasan. Gelap dan tak terarah. Tapi bagaimana dengan tujuan nya untuk mengungkap kematian ayah nya, belum lagi rasa benci nya pada keluarga ayah nya yang sudah menyakiti ibu nya dan juga dirinya yang tidak tau apa apa itu.


Zha tidak ingin menyerah. Ia sudah hampir berhasil. Jika saja keturunan jangkar perak bisa ditemukan semua akan berakhir. Ardogama.. Ya.. dia lah kunci nya.


Sebuah tepukan ringan di bahu Zha membuat Zha terperanjat kaget.


Halilintar terkekeh, tidak biasa nya Zha bisa seterkejut itu.

__ADS_1


"Hall, kau mengagetkan ku.!"


"Apa yang sedang kau lamun kan.?"


"Tidak ada.?" kilah Zha menutupi.


"Huh, baik lah. Kau mau jalan jalan.?"


"Tidak, aku ingin pulang."


"Setelah kita jalan jalan. Bagaimana.?"


"Terserah kau saja." sahut Zha melenggang begitu saja.


Halilintar mengekor di belakang, dan segera menghampiri mobil nya.


"Kau mau jalan jalan kemana.?" Halilintar menoleh pada gadis yang sudah duduk manis di samping nya itu sambil menghidupkan mesin mobil nya.


"Mencari Ardogama..!"


"Hah.!!"


"Kenapa.? Kau keberatan menemani ku.? Aku bisa pergi sendiri." Zha menoleh dengan memasang senyum miring nya.


"Huh, padahal aku ingin kali ini kita jalan jalan romantis. Tapi baik lah.!!" keluh Halilintar mulai menjalankan mobil nya.


****


Azkayra menghampiri Hanzero yang duduk di ruang tengah dengan secangkir kopi di tangan nya, lalu duduk di samping suami nya itu dan mengambil alih cangkir kopi di tangan suami nya.


Menyeruput sedikit dan meletakkan sisanya di atas meja.


"Apa lamaran mu di tolak.?"


Hanzero membuang nafas dan tersenyum tipis.


"Zha bukan gadis sembarangan, tentu saja ia akan berpikir seribu kali untuk menerima lamaran ku."


"Aku tidak bisa tinggal diam. Kau tidak bisa di andalkan.!" Azkayra bangun dari duduk nya.


"Azka, apa yang akan kamu lakukan..?"


"Menemui seseorang."


"Aku akan mengantar mu.!"

__ADS_1


____________________________________


__ADS_2