
"Uncle," Aldora membuka pintu ruang kerja Uncle Penrod dan benar saja Unclenya memang ada di dalam.
"Masuklah, Al" sepertinya Uncle Penrod memang sudah menunggunya.
Aldora masuk dan duduk di depan Uncle Penrod dengan ditengah tengah mereka terdapat meja kerja Uncle Penrod.
"Katakan janji yang Uncle maksud tadi," ucap Aldora.
"Delapan belas tahun lalu, tepatnya saat pemberontakan itu terjadi. Uncle menyuruhnya pergi dan melindungi Mamanya jika seandainya kita kalah. Karena memang pada saat itu kita tidak mempunyai harapan untuk menang," jelas Uncle Penrod.
"Lalu, kenapa semua keluarga kerajaan tidak pergi juga meninggalkan istana? Kenapa mereka malah tetap diistana dan mengorbankan nyawa?" Tanya Aldora.
"Mereka keturunan bangsawan. Seorang bangsawan tidak bisa kabur dari medan perang hal itu adalah hal memalukan bagi mereka," jawab Uncle Penrod.
"Tapi Uncle, Al adalah keturunan bangsawan. Pada saat itu Al kabur... Itu memalukankan?" Tanya Aldora mengingatkan dia kabur pada saat pertempuran itu terjadi.
"Situasinya berbeda Al, itu bukan peperangan untukmu. Usiamu masih 6 tahun saat itu," ucap Uncle Penrod.
Aldora memandang ke sembarang arah. Dia merasa menjadi seorang pengecut saat ini.
"Pada saat itu bukan Al saja yang masih anak anak. Masih banyak lagi anak anak yang terbunuh saat itu. Bahkan usia mereka banyak yang dibawah Al. Dan ada juga yang masih berusia 7 bulan," balas Aldora.
"Kenapa mereka tidak ikut pergi pada saat itu bersama Kakak? Atau Uncle membawanya pergi bersama kita? Jika seandainya Kakak atau Uncle membawa mereka, mungkin saat ini mereka masih hidup" ucap Aldora ada nada penyesalan saat dia berkata begitu.
Uncle Penrod menghela nafas berat mendengar ucapan dengan nada penyesalan Aldora.
"Itu tidak mungkin Al, saat itu Sansone harus berjuang untuk keluar dari istana sendiri. Dia keluar dari istana melewati hutan. Kamu tahukan hutan itu sangat berbahaya. Uncle mengirimkan Sansone karena itulah cara satu satunya. Bahkan kita keluar dari istana juga melalui hutan itu. Kamu ingat? Saat itu apa yang terjadi?" Tanya Uncle Penrod.
Aldora ingat jelas apa yang terjadi saat itu. Hutan yang berbahaya ditambah kegelapan membuat pada saat itu Uncle Penrod hampir merenggang nyawa.
Aldora ingat saat itu Uncle Penrod terluka akibat tanaman duri. Uncle Penrod juga hampir jatuh ke jurang yang sangat dalam jika saja saat itu Aldora tidak menolongnya. Mereka berdua sama sama saling berhutang nyawa.
Aldora mengangguk.
"Aldora ingat Uncle, sangat ingat. Semua yang terjadi malam itu tidak akan pernah terlupakan," jawab Aldora.
"Hutan itu sangat beresiko ditambah suasana yang gelap. Uncle tidak mungkin membawa keluargamu pergi. Bisa bisa kita semua tidak terselamatkan,"
__ADS_1
Uncle Penrod benar. Jika saja malam itu mereka pergi bersama adik sepupunya, mungkin kini mereka semua sudah pasti tinggal nama. Apalagi adik sepupunya itu tidak tahu caranya beladiri. Mereka hanyalah anak anak biasa pada umumnya. Masih bermain dengan mainan anak anak dan bersikap seperti anak anak biasa. Tidak seperti Aldora yang memang sudah mengenal beladiri bahkan mainan pertamanya adalah pedang.
"Al, mengerti" ucap Aldora.
Aldora berdiri berniat pergi.
"Al, kamu ingat satu bulan lagi hari apa?" Tanya Uncle Penrod.
"Ya, Al ingat" jawab Aldora.
"Kamu hanya punya waktu satu bulan Al. Uncle dengar pengumuman seleksi permaisuri akan diumumkan di hari itu. Kamu harus bisa membuatnya memilihmu Al," ucap Uncle Penrod.
Aldora mengangguk lalu pergi begitu saja.
***
Akhir pekan tiba.
Kini Aldora sedang berada di kamar Mama Sansone, Aunty Anindira.
"Aldora kamu kah itu?" Wanita dihadapan Aldora ini bertanya.
"Iya Aunty. Ini Al" Aldora memeluk tubuh kurus wanita itu.
Dulu akibat kehadirannya wanita ini dapat mengurangi sedikit kekososngan dalam dirinya. Namun terkadang dia masih berbicara sendiri dan menangis lalu tertawa layaknya orang gila.
"Kamu sudah sangat besar ya. Dulu kamu masih sekecil ini," Aunty Anindira berkata sambil memposisikan tangannya kebawah. Menunjukkan bahwa dulu Aldora sekecil itu.
"Tidak sekecil itu, Aunty. Aldora segini" Aldora meletakkan tangannya diangin lebih tinggi dari Aunty Anindira.
"Kalau begitu Sansone setinggi mana?" Tanya Aunty Anindira.
"Kakak, em... segini" Aldora memposisikan tangannya kembali jauh dibawah tangan Aunty Anindira.
"Tidak, aku tidak sependek itu" sangkal Sansone yang sedari tadi ada di kamar Ibundanya tercinta.
"Kakak memang pendek dulu," sindir Aldora.
__ADS_1
"Aku tidak pendek. Saat itu memang tinggi kita hanya berbeda 2 senti," ucap Sansone.
"Tapi bagiku Kakak itu pendek," ucap Aldora.
"Terserah apa katamu, Tuan Putri Aldora" Sansone memberikan salam penghormatan yang dia selalu berikan kepada Riccardo dan yang lain yang statusnya berada diatasnya.
Aldora memasang wajah kesal khasnya.
"Sudah jangan menggodanya," Aldora tersenyum mendengar ucapan Aunty Anin yang membelanya.
"Saat ini dia bukan lagi Putri. Dia sudah menjadi seorang Ratu," Aldora memanyunkan bibirnya mendengar godaan Aunty Anin.
Memang iya, karena Papanya sudah meninggal dia sebagai pewaris Papanya menggantikan. Menjadi seorang Ratu pada usia ke 6 tahun.
"Sudahlah, Al mau makan siang saja," ucap Aldora beranjak menuju ruang makan.
"Al," Sansone memanggil Aldora yang sudah berhenti di pintu.
"Kita makan bersama. Ma, nanti pelayan akan mengantar makan siang untuk Mama. Mama masih butuh istirahat yang banyak. Wanita itu mengangguk patuh.
"Al, aku ingin bicara sesuatu kepadamu" ucap Sansone setelah menutup pintu kamar Mamanya.
"Al juga ingin bicara," Aldora berkata sambil berjalan mengikuti Sansone yang sudah berjalan menuju ruang kerjanya.
Lidya tersenyum sinis mendengar perkataan Sansone.
"Tentu Kak, inilah yang kuharap kan," ucap Aldora.
Sansone mengatakan kepadanya bahwa dia mendapat informasi dari kerajaan bahwa Riccardo sudah mengatakan siapa gadis yang ingin dia pilih menjadi kandidat istrinya. Dan gadis itu adalah Aldora.
"Kamu punya rencana?" Tanya Sansone yang mendapat anggukan pasti dari Aldora.
"Tapi Kakak bingung, bagaimana bisa dia memilihmu. Jika karena potensi pekerjaanmu, itu adalah alasan yang tidak masuk akal," ucap Sansone bingung alasan Riccardo memilih Aldora.
"Aku tidak melakukan hal yang besar. Saat itu aku hanya menolong seorang anak yang hampir tertabrak. Dan aku tahu saat itu pria itu sedang memperhatikanku. Mungkin karena itu," ucap Aldora.
Aldora sudah beberapa kali memergoki Riccardo yang selalu memperhatikannya ketika dia sedang berbuat baik
__ADS_1
"Oh," Sansone hanya membalas dengan oh.
"Al, apa kamu tidak tahu? Saat ini kamu seorang Aldora sedang diburu. Jika kamu menjadi kandidat istri Riccardo. Itu sama saja artinya kamu masuk kedalam kandang singa," ucap Sansone ketika teringat akan hal satu ini.