
__________
Zha memiringkan senyumnya dan melangkah mendekat, melihat itu Alex langsung mundur beberapa langkah kebelakang.
"Sudah ku peringatkan padamu. Jangan pernah menyentuh keluarga Samudra atau kau akan berhadapan langsung dengan ku.!" Ucap Zha.
"Penghianat.!" seru Alex masih dengan menggeser kakinya, di dalam hatinya Alex sudah merasa cemas melihat tatapan mematikan milik Zha yang tepat mengarah padanya.
Zha menyeringai tipis.
"Apa kau bilang.? Penghianat.??"
"Alex... Alex...!!! Aku tidak menyangka ,setelah mendapatkan penolakan dari ku kau malah menyewa Klan Vargas untuk menyakiti Keluarga Samudra. Apa kau lupa aku mempunyai seribu mata Alex? Dan kau tidak tau jika Vargas hanya seujung kuku dari klan ku." ucap Zha kembali, melirik Hanzero yang menatapnya dengan sedikit kebingungan. Namun saat ini Hanzero mencoba mendengar dan mencerna dengan baik percakapan mereka.
Zha kembali menatap Alex dengan tajam.
"Zha, dengarkan aku. Aku teman baik mu bukan..? Kenapa kau tidak mau membantu ku malah membela pembunuh saudara ku itu.!" Alex berusaha menghasut Zha, padahal ia tau jika itu hanya akan sia sia saja.
"Sudah pernah ku katakan padamu. Aku berhutang nyawa pada keluarga Samudra dan aku akan membalasnya dengan cara melindungi mereka.! Dari siapapun, termasuk kau!" Zha kembali menodongkan pistolnya.
"Zha.!"
"Tidak ada yang bisa menentangku.!"
Dor ..!!
Satu peluru Zha menembus kepala Alex yang langsung ambruk tak berkutik lagi.
Zha kini menoleh pada Hanzero dan segera menghampirinya. Dengan sekali tebas pisau tajam milik Zha berhasil membuka ikatan tangan Hanzero dan kini beralih pada ikatan kakinya.
"Apa kau masih bisa berjalan Tuan.?" tanya Zha meraih pinggang Hanzero untuk membantunya berdiri. Hanzero yang tidak sanggup mengatakan apapun itu hanya mengangguk dan meraih bahu Zha.
"Kita harus cepat pergi dari sini sebelum anak buah Vargas sampai kemari." ucap Zha membimbing Hanzero berjalan menuju sebuah lorong rahasia yang berhasil Zha temukan lewat sistem retasnya sebelum ia memasuki ruangan tempat Alex menyekap Hanzero itu.
"Arrgg...!!" Zha tiba tiba ambruk ketika satu peluru anak buah Vargas yang sudah memasuki ruangan itu berhasil menembus betisnya.
Zha masih bisa membalas tembakan mereka dengan posisi terduduk dilantai, tembakan Zha tepat mengenai beberapa pria yang hendak menghampirinya sambil terus melindungi Hanzero dari tembakan mereka. Dua pria muncul kembali dan sialnya satu peluru mereka berhasil melukai bahu kiri Zha yang tidak sempat mengelak dan menyebabkan pistol Zha terlepas dari genggamannya.
Melihat itu Hanzero tidak bisa berdiam diri, ia berguling menyambar pistol milik Zha dan mengarahkannya tepat ke arah kedua pria itu yang langsung ambruk dengan mudahnya oleh Hanzero.
"Tuan, cepat pergi.!" ucap Zha meringis menahan sakitnya.
Hanzero tidak menjawab melainkan langsung mengangkat tubuh Zha dan membawanya melangkah menyusuri lorong panjang itu.
"Turun kan aku. Aku masih bisa berjalan.!" ucap Zha berontak dari gendongan Hanzero.
Dengan menghela nafas Hanzero menurunkan Tubuh mungil Zha itu dan tiba tiba terdengar suara ambruk di barengi suara tembakan yang mengenai dinding lorong. Hanzero menoleh.. Seorang pria yang menyusul mereka sudah terkapar dengan pisau milik Zha tertancap di dadanya.
Hanzero baru menyadari betapa hebat dan lincahnya tangan gadis yang sedang bersama nya itu, masih bisa mengarahkan pisaunya dengan sempurna padahal kondisinya sedang terluka , gadis yang pernah di ancam dan di makinya beberapa jam yang lalu.
"Tuan, tahan nafas mu.!" ucap Zha menyebar sesuatu dari sakunya dan mengajak Hanzero untuk cepat melangkah menyusuri lorong remang itu. Hanzero membantu Zha berjalan dengan memapahnya. Setelah merasa jauh melangkah , sesaat Zha berhenti . Terlihat tubuhnya mulai gemetaran dan tiba tiba ambruk, beruntung Hanzero segera menangkap tubuh Zha yang hampir jatuh ke lantai dan menyandarkannya di dinding lorong.
__ADS_1
"Darah mu terus mengalir." gumam Hanz segera menyobek kemejanya.
"Tidak apa tuan, aku hanya butuh waktu sebentar saja." ucap Zha mencegah Hanzero yang hendak melilit lukanya.
Zha yang ahli menotok pendarahan kini menotok beberapa titik tubuh nya sendiri guna menghindari pendarahan terus menerus pada lukanya.
Hanz yang menyaksikan itu semakin terpana.
"Kau bahkan bisa melakukan itu.?"
Zha hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Hanzero.
"Tuan, bisakah kau pergi dahulu. Di ujung sana ada sebuah pintu. Kau bisa membukanya dan anak buah ku akan menemukan mu. Halilintar juga menunggu mu di sana." ucap Zha.
"Tidak, kita harus pergi bersama." jawab Hanz menatap Zha.
"Baik lah, kalau begitu minum ini.!" Zha memberi Hanzero sebuah pil.
"Aku akan menyebar racun ku di sepanjang Lorong ini untuk mencegah mereka menyusul kita. Racun ku bisa membunuh mereka dalam hitungan detik tapi tidak bisa bertahan untuk lebih dari Lima nyawa." ucap Zha, tanpa bertanya dan tanpa ragu Hanzero langsung menelan pil yang sudah di tangannya itu. Hanzero sudah bisa menebak jika pil itu adalah anti racun milik Zha.
Setelah memastikan racunnya tersebar dengan baik Zha kembali melangkah di ikuti Hanz tidak jauh dari belakangnya. Saat beberapa meter mereka melangkah terdengar suara gemertak dari arah tiang besar yang terbuat dari kayu yang berada di tengah tengah lorong. Seketika Hanz menyadari sesuatu dan berlari cepat menyambar tubuh Zha. Kedua tubuh itu ambruk di lantai dengan posisi tubuh Zha di bawah tubuh Hanzero dan tiang kayu itu sudah tepat berada di punggung Hanzero yang melindungi Zha, beruntung ujung tiang itu masih tertahan oleh dinding lorong.
"Tuan, apa yang kau lakukan.??" Zha menatap wajah Hanzero yang kini tepat di hadapan wajah yang hanya berjarak beberapa Senti itu, wajah penuh wibawa yang kini meringis menahan berat kayu tersebut, semakin Hanz bergerak kayu itu semakin menimpanya.
"Tuan, aku bisa menahannya. Pergi lah cepat.!! Sebelum mereka berhasil menyusul kita. Kau pasti bisa.!" ucap Zha.
"Tidak, kita harus keluar bersama sama." sahut Hanz sambil meringis menahan beban berat di punggungnya.
"Begitu juga dengan ku, jika terjadi sesuatu padamu aku juga tidak akan sanggup untuk bertanggung jawab di hadapan Putra ku dan Istri ku." jawab Hanz kini mereka saling menatap.
"Maafkan aku, aku salah menilai mu.!" bisik Hanz , seketika jiwa Zha merasa melambung ketika merasakan kecupan panjang Hanzero mendarat lama di pucuk kepalanya. Sentuhan yang sudah terlupakan sekian lama oleh Zha kembali ia rasakan dari sosok Hanzero. Mata Zha sempat berkaca kaca ketika satu butir air mata Hanz menetes mengenai pipinya.
"Pantas saja Putra ku bisa jatuh cinta padamu. Kau wanita iblis berhati malaikat." sambung Hanz kini kembali menatap wajah Zha.
"Setelah ini, apa kau akan memaafkan aku gadis iblis.??"
"Tuan tidak bersalah, jadi tidak perlu memaafkanmu.!"
"Benarkah.? Kau tidak sakit hati padaku.?"
"Jika aku sakit hati, tidak mungkin saat ini aku berada disini bersama mu Tuan." jawab Zha menatap pria yang sudah tidak muda lagi itu, namun masih sangat tampan bagi Zha. Pikiran Zha tiba tiba melayang membayangkan wajah Halilintar, pantas saja Halilintar memiliki wajah rupawan, ia terlahir dari seorang ayah yang tampan dan seorang ibu yang sangat cantik. Zha tersenyum.
"Hei, sadar lah gadis Iblis. Apa kau akan tetap tersenyum dengan penderitaan kita ini. ? Kau pikir punggung ku masih terlalu muda untuk menahan beban ini sepuluh menit ke depan.?" ucapan Hanz membuat Zha tersentak dan sekaligus tersipu.
"Ah tidak Tuan, bertahan lah." jawab Zha, tangan nya kini berusaha menarik tubuhnya dari bawah naungan tubuh Hanzero. Zha terus berusaha menggapai lantai dan Zha akhirnya berhasil keluar.
Zha terus memutar otak nya sambil mengedarkan pandangannya hingga berhenti di sebuah tali yang tergeletak begitu saja di pinggir lorong tidak jauh dari tempat Zha berdiri, Tali yang di duga Zha biasa di gunakan mereka untuk menyeret tawanan.
Dengan menyeret kaki kirinya yang terkena peluru itu Zha meraih tali itu.
Meski tangan kiri Zha pun tidak bisa bergerak lincah lagi akibat peluru yang masih bersarang di bahu nya itu Zha berusaha mengikatkan tali itu ke balok yang menimpa tubuh Hanzero dan mengaitkan ujungnya pada sebuah tiang yang masih berdiri kokoh di sana. Zha terus menarik tali itu sekuat tenaganya.
__ADS_1
"Tuan, cepat bergerak.!!" teriak Zha memberi aba aba pada Hanzero. Dengan susah payah perjuangan mereka berdua akhirnya Hanz berhasil keluar dari balok kayu besar yang menimpanya dan menghampiri Zha lalu duduk untuk mengatur nafas dan detak jantung nya.
"Tuan, Anda baik baik saja.?" tanya Zha ikut duduk di samping Hanzero dan menyandarkan tubuhnya di dinding lorong.
"Aku baik baik saja, hanya perlu waktu untuk mengembalikan tenaga ku yang terkuras untuk menahan balok tadi."
"Apa punggung mu sakit.?" tanya Zha menoleh pada Hanz yang tersenyum padanya.
"Sedikit ."
"Kita tidak punya banyak waktu. Racun ku sepertinya sudah habis masa nya." ucap Zha.
"Kalau begitu kita lanjutkan.!" Hanz segera bangkit dan meraih tubuh Zha lalu kembali memapahnya.
Setelah melangkah cukup lama mereka berhenti di sebuah pintu. Benar saja ujung lorong yang merupakan pintu keluar dari lorong panjang tersebut menghubungkan pada halaman belakang gedung milik mafia Vargas yang terletak jauh dari pinggiran kota.
"Apa Tuan masih memiliki tenaga untuk menjebol pintu ini.?" Ucap Zha.
"Tentu saja. Minggir lah." jawab Hanz.
Hanya dengan sekali tendangan pintu itu jebol. Masih dengan memapah Zha, Hanzero melangkah keluar dengan waspada, langkah mereka di sambut suara rentetan tembakan dari anak buah Zha yang sudah dari tadi menunggu kemunculan ketua mereka guna melindungi Zha dari anak buah Vargas yang juga terus menghujani mereka dengan tembakan balik.
Di ujung sana Elang dan Halilintar masih dengan rasa cemas yang berlebih,terus menunggu kemunculan mereka dan langsung berlari kearah mereka setelah melihat dua sosok yang di tunggu itu tanpa mempedulikan tembakan demi tembakan antara dua klan tersebut.
"Nona.!!" Elang langsung mengambil alih tubuh lemah Zha dari rengkuhan tangan Hanzero.
Sementara Halilintar memeluk Ayahnya.
"Papa baik baik saja.?"
"Hall, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Zha.. cepat bawa Zha. Dia terluka." jawab Hanzero.
"Elang, tarik anak buah mu sekarang dan tinggalkan tempat ini. Tuan Hanzero sudah selamat. Tidak ada gunanya melayani mereka." ucap Zha pada Elang yang segera mengangguk sesaat sebelum akhirnya tubuh Zha ambruk tertangkap tangan Halilintar.
"Zha..!!" Panggil Halilintar panik.
"Tuan muda, bawa Nona segera bersama tuan Hanzero. Aku akan menarik mereka dahulu untuk melindungi mobil kalian." ucap Elang pada Halilintar.
Tanpa menjawab Halilintar membopong tubuh Zha yang sudah tak sadarkan diri itu dan memasuk kan nya ke dalam mobil di bantu Hanzero.
Sementara Elang langsung memberi perintah pada anak buahnya untuk mundur bertepatan dengan Anak buah Vargas yang nampaknya juga sudah di tarik mundur oleh ketuanya. Bisa di duga mereka juga tidak ingin terlibat pertikaian terlalu jauh dengan klan Poison Of Death milik Zha yang hanya akan sia sia. Apa lagi jika di pikir orang yang menyewa mereka sudah tewas beberapa waktu yang lalu. Sungguh tidak berguna perjuangan mereka pikir ketua klan Vargas.
Hanzero yang kini mengemudi mobil milik Elang melaju menuju Rumah Utama tanpa mempedulikan beberapa mobil anak buah Zha yang terus mengikuti nya dari belakang . Hanzero hanya berpikir untuk membawa Zha pulang ke rumah nya.
Sedang kan Halilintar yang duduk di bangku belakang terus mendekap kepala Zha dengan sesekali terisak memanggil nama Zha.
"Maafkan aku Zha, aku tidak bisa melindungi mu. Bertahan lah..!" Ucapan Halilintar begitu menusuk jantung Hanz yang mendengar ucapan Putra nya.
Ia sangat menyesali perbuatan gegabahnya yang mengusir Zha pada malam itu. Jika saja ia tidak termakan ucapan Victor mungkin tragedi ini tidak akan terjadi.
_______________________
__ADS_1