Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
10. gagal


__ADS_3

Tak lama kemudian Ansel menghampiri Felicia, "Fei?" panggil Ansel dengan lembut.


"Em," jawab Felicia singkat, tanpa melihat ke arah Ansel.


"Ini sudah aku bantu mintain, aku tau kamu begitu suka dengan warna kuning. Jadi aku ambil yang warna kuning kesukaan kamu. Kamu malu kan minta balon, hehehe ..." ucap Ansel, seraya menyodorkan balon angin yang baru saja ia pinta. Felicia hanya bisa ternganga tak percaya.


"Kamu dari kecil suka sekali balon kan, dan kamu tadi malu ingin meminta balon, dan kamu meminta aku ambilkan balon untukmu. Sekarang kamu sudah besar jadi kamu malu ya? Ini kakak ambilkan untukmu," ucap Ansel seraya tersenyum ceria.


"Eh!" Felicia hanya bisa menahan rasa kecewanya dalam hati, seketika dirinya berubah menjadi batu.


"Ini ambilah," ucap Ansel seraya menarik tangan Felicia, Felicia pun menerimanya dengan tatapan mata yang kosong.


'Ya ampun! Ansel bodoh, bukan ini yang aku inginkan, bukan ini yang ingin ku katakan. Yang akan keluar dari mulutmu adalah semua isi hatiku selama ini, yaitu aku cinta padamu! Dasar Ansel bodoh! Apakah EQ mu benar-benar nol!' gerutu Felicia dengan memandangi tali balon yang saat ini ia genggam.


"Bukan ini yang akan aku katakan Ansel!" ucap Felicia dengan ekspresi datar.


"Sebetulnya aku itu ..." lagi dan lagi ucapan Felicia terputus tak kala Ansel memotongnya.


"Eh, balonnya terbang. Balonnya kenapa di lepaskan? Apakah kamu tak suka dengan warna kuning setelah dewasa?" ucap Ansel seraya menatap balon yang kini terbang menjauh.


"Sayang sekali balonnya terbang begitu jauh," sambungnya dengan ekspresi sedih.


Felicia semakin di buat geram oleh tingkah laku Ansel, ia pun mencengkram kedua pipi Ansel. Memutar secara paksa kepalanya agar menatap ke arahnya. "Hei Ansel bodoh! Lihat aku baik-baik!"


"Baik!" jawab Ansel terkejut sekaligus merasa takut akan tatapan mata Felicia saat ini juga.


"Hmm, baiklah aku lepaskan tapi kamu cukup dengar semua omonganku. Yang akan aku katakan dari tadi, dulu juga kemarin adalah ... Sebenarnya sudah sejak lama aku ..." lagi dan lagi ucapannya terputus.

__ADS_1


"Maaf kak, permisi." suara yang lemah lembut, namun terkesan seperti suara pria. Terlihat seorang wanita yang berkuncir kuda, juga menggunakan seragam SMK ala Korea, dengan rok mini juga lengkap dengan dasi. Namun wajahnya tertutup oleh kaca mata yang besar berbentuk love, dan poninya.


"Kuliah kalian berkelahi setelah kehilangan balon ... Jadi demi menjaga kedamaian, aku berinisiatif memberikan balon ini, silahkan di ambil. Lagian ini gratis kok," ucap wanita tersebut seraya menyerahkan satu balon berwarna merah muda.


"Cepat ambil gadis manis, jauhkan balon itu!" teriak Ansel, dengan mulutnya yang memuncis, akibat Felicia langsung menekan kedua pipinya, agar Ansel tetap menatap ke arahnya.


Si gadis manis tersebut bukannya minggir justru ia hanya diam, dan tetap kekeh mengulurkan balon tersebut. Felicia menyingkirkan wajah Ansel, ia menatap begitu tajam, bak elang yang akan menerka ular. Ia pun berjalan begitu cepat menuju ke arah gadis balon, Dan menyentuh balon tersebut dari atas.


'Mulai hari ini aku benar-benar benci balon, hatiku benar-benar kacau!' geram hati Felicia.


"Feifei! Feifei jangan!" seru Ansel tanpa menggerakkan tubuhnya.


Felicia mencengkram balon tersebut dengan tatapan matanya yang penuh amarah, hingga balon tersebut membunyikan suara yang begitu keras.


DOR ...


"Maaf aku tak suka balon! Aku benci balon!" ucap Felicia, dengan dingin ke gadis balon tersebut seraya memutar tubuhnya.


Gadis tersebut hanya bisa diam, dengan tangannya yang masih memegang benang balon barusan yang Felicia letuskan.


Hingga tiba-tiba ada seorang pria dewasa yang datang menghampiri mereka, dengan wajahnya yang merah merona, Perut yang buncit, serta rambutnya yang ikal. Ia menatap ke arah gadis balon tersebut dengan tatapan haus.


"Wah ... ada yang bagi-bagi balon ternyata," ucapnya dengan mata yang kemana-mana.


"Gadis cantik kamu ya yang bagi-bagi balon gratis? Cepat berikan satu untuk kakak!" Sambungnya seraya lebih mendekat ke gadis balon tersebut.


Mereka hanya diam, hanya memancarkan berbagai ekspresi, dari mulai Felicia yang memandang dengan wajah datar, ia merasa jijik dan geram. Sedangkan gadis loli tersebut entah apa ekspresi yang ia keluarkan, pasalnya tak terlihat begitu jelas wajahnya, ia tertutup oleh poni dan kaca matanya. Sedangkan Ansel ia justru memancarkan aura kagum dan senang terhadap pria tersebut.

__ADS_1


'Astaga! Lagi-lagi pecinta loli, sama saja dengan Ansel!' Batin Felicia.


'Sekali lihat sudah jelas, bahwa kamu pria mesum.' Batin loli.


'Wah! Paman ini sungguh keren,' batin Ansel, entah di lihat dari mananya yang keren. Dari setelah yang sama-sama pendek hingga memperlihatkan perut buncitnya dan bulu-bulu di pusarnya, juga rambut yang ikal, tatapan matanya yang nakal, juga wajahnya yang begitu mesum.


Dengan sekejap paman tersebut langsung mengelus bokong loli tersebut, seraya *******-*****, "cepat ambilkan satu untuk kakak, aku sungguh sudah tidak tahan, ada pelayanan ekstra tidak? Tenang kakak akan berikan kamu tips yang lebih," ucapnya dengan mendekat kan wajahnya, namun loli tersebut menjauhkan wajahnya.


Ia benar-benar merasa geram dengan tangan nakal pria tersebut, Felicia yang melihat perilaku buruk pria mesum itu ya maju mendekat ke arah loli.


"Hei berhenti! Dasar kau hidung belang!" teriak Felicia, memang benar akan ucapan Felicia. Bahwa pria tersebut selain sifatnya yang hidung belang, hidungnya pun memang belang.


Pria tersebut melepaskan tangannya yang nakal ari bokong loli, lalu ia maju mendekati Felicia. "Wah gadis jaman sekarang pertumbuhannya benar-benar bagus yah?" ucap pria tersebut seraya matanya yang melihat dada Felicia yang montok.


Ya memang benar, Felicia ukurannya 38D di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Felicia merasa gugup saat melihat tatapan mata pria tersebut ke arah dadanya.


'Apa!' Batin Felicia panik.


"Di banding loli ini, paman sebenarnya lebih suka yang bersih juga montok, enak di genggam. Kayaknya di tangan paman pun tak cukup ya?" ucap pria mesum itu, dengan mengulurkan tangannya ke dada Felicia.


"Hei paman! Menyingkir dari hadapan dia!" ucap Ansel, yang mulai risih akan perkataan paman mesum tersebut.


"Diam kau! Jangan ikut campur! Ini urusanku bukan urusanmu!" jawab pria mesum itu.


"Bukan urusanku? Wanita ini akan selalu menjadi urusanku! Siapapun yang berani macam-macam maka akan menjadi urusanku!" ucap Ansel seraya merangkul pundak Felicia.


Betapa bahagianya Felicia mendengarkan ucapan Ansel barusan, ia langsung merasakan banyak bunga yang bertebaran di atasnya, bak drama Korea yang romantis, angin mulai berdesir.

__ADS_1


Felicia menatap ke arah Ansel, ia mendongakkan kepalanya dan melihat bibir yang baru saja mengucapkan kalimat yang mampu membuatnya berbunga-bunga.


__ADS_2