
Kavin pun hanya menganggukkan kepalanya, lalu Felicia dengan semangat menarik tangan Kavin untuk masuk ke dalam pintu karcis.
"Dua orang ya kak..." ujar tukang karcis.
"Iya," jawab Felicia dengan senyuman ramah.
"Baik, ini silahkan... Selamat bersenang-senang," ujar pria tersebut seraya tersenyum ramah pada Kavin dan Felicia.
Setelah menerima karcis tersebut, kini mereka pun masuk ke dalam pintu rumah hantu yang berbentuk wajah iblis. Kavin sedikit ragu akan ajakan Felicia, namun ia akan selalu ada untuk Felicia, dan akan menuruti semua keinginannya asal ia tak lagi bersedih. Kavin sudah paham akan perasaannya terhadap Felicia, ia tau bahwa dirinya kini jatuh cinta pada Felicia. Bukan sekedar rasa kasihan maupun rasa ingin melindungi saja, namun juga rasa suka sebagai lawan jenis dan nyaman.
Kavin menatap tangannya yang kini tengah di gandeng oleh Felicia, Ia tanpa sadar telah mengeluarkan senyuman kecil pada bibirnya yang tipis namun seksi. Kini ia sudah merasakan bahwa tangan Felicia sudah mulai hangat.
"Huuuuuhhhh...."
"Ah!" teriak Felicia seraya memukul wajah hantu tersebut.
Groookk...
Bugh...
Hihihihi....
Bugh...
"Tolong... Ah.. Tolong aku kakak... Hah..." ujar seorang wanita dengan rambut panjang, lalu ia pun melepaskan kepalanya yang penuh akan darah.
Bugh...
Kavin pun hanya bisa diam mengikuti Felicia ia bagaikan bodyguard pribadi Felicia, ia hanya melihat seraya menyembunyikan tangannya di balik saku celananya. Kini ia tau alasan kenapa Felicia ingin ke rumah hantu, ia hanya ingin melepaskan emosinya di dalam dan memukul para hantu tersebut.
Setelah selsai bermain, kini Felicia menuju pintu keluar. Ia penuh dengan keringat dingin dengan menunjukan wajah takutnya.
"Huft... Hah..." Felicia menyenderkan tubuhnya di pohon beringin, dengan napasnya yang terengah-engah.
"Huft," Ia mencoba merilekskan pikirannya dan meregangkan otot-otot nya.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Kavin.
__ADS_1
"A-aku ketakutan sekali..." jawab Felicia dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan.
"..." Kavin hanya bisa diam mendengar jawaban dari mulutnya dan melihat ekspresi yang di keluarkan Felicia.
'Astaga! Sepertinya penyakit jantungku bertambah parah kali ini!' batin Felicia panik seraya memegangi dadanya, ia merasa jantungnya semakin berdetak tidak karuan bahkan kecepatannya melebihi manusi normal pada umumnya, ia mengira itu di sebabkan oleh penyakit.
"Ya sudah, sebaiknya kita berkumpul di tempat BBQ," ajak Kavin dengan sedikit khawatir melihat ekspresi Felicia saat ini.
"Hmm," jawab Felicia dengan wajah kamu.
Mereka pun langsung menuju tempat BBQ, di sana ternyata hanya tinggal mereka berdua saja yang belum kumpul. Terlihat Hendra yang merasa kecewa sekaligus terkejut akan kedatangan Felicia bersama Kavin. Sedangkan davira ia mersa tidak terkejut sama sekali, ia sudah tau semuanya tentang cinta Segitiga tersebut.
Davira menatap Felicia dengan penuh selidik, ia melihat ekspresi Felicia. Ia menebak bahwa Felicia tengah bingung dan gugup. 'Hmm, sudah di pastikan. Sungguh perasaan yang rumit.' Batin davira.
"Kavin!" Panggil Ketua kelas seraya melambaikan tangannya, ia mencucurkan air matanya, karena ia begitu ceroboh dan rencana yang di bangun oleh kavin gagal dengan sia-sia.
'Apa sebaiknya aku cerita sama mama ya? Tapi jika aku cerita... Aku takut mama akan terkejut lalu...' batin Felicia, dengan membayangkan mamanya yang terjatuh pingsan, lalu ikut sakit hingga akhirnya menangis setiap hari.
'Ahh, tidak sebaiknya aku pendam saja, jika saatnya aku mati maka biarkan saja, asal jangan membawa mamaku ikut dalam kesedihan ini,' sambungnya.
"Oke saya akan umumkan pemenangnya, juara satu grup katak, juara sua grup elang, juara tiga grup ular," seru benda hara dengan penuh semangat.
Lalu bendahara pun menyerahkan plastik yang berisi makanan, grup elang adalah grup Kavin, dan mereka mendapatkan juara dua. "Ini ... selamat ya kalian mendapatkan juara dua, jadi ini ambilah daftar makanan kalian, dan juga silahkan ambil sendiri makanan kami juga," ujar Imam untuk menyerahkan hasil berburu mereka.
"Kavin!" panggil Ketua kelas dengan wajah serius.
"Hm?" jawab Kavin seraya menoleh ke arah Hendra.
"Bisakah kamu dan davira saja yang mengambil makanan kita? Lalu biarkan aku dan Feifei berduaan sebentar," ujar Hendra.
Kabun hanya bisa diam, lalu ia menoleh ke arah di mana Felicia kini sedang asik berbincang dengan davira. "Wah bagus banget," ucap Davira tanpa ekspresi.
"Kamu tau? Ini di jual di bagian selatan di sana juga ramai banget loh," tutur Felicia dengan bangga.
"Setelah ini... Aku tidak yakin aku akan ada kesempatan sebagus ini untuk menyatakan perasaan ku padanya," ujar Hendra.
__ADS_1
"..." Kavib menatap ke arah Felicia yang kini tengah tersenyum dengan begitu bahagia, ia pun mengepal kan kedua tangannya ia merasa tak mau memberikan waktu dan tak mau membiarkan Felicia berduaan dengan pria lain selain dirinya. Namun ia bukan pria egois dan pria yang begitu tak tegaan.
Jadi... aku mohon ya Kavin!" ucap Hendra dengan menatap ke arah Kavin penuh harap.
"Hmm," jawab Kavin tanpa mengalihkan pandangannya dari Felicia.
Felicia dan Davira berjalan ke arah Kavin dan Hendra saat ini berdiri, "kalau begitu aku akan mengambil makanan dulu," ucap Kavin.
"Eh, aku juga," sambung Felicia seraya melangkah besar menuju Kavin.
'Davira!' batin Hendra seraya menatap tajam ke arah davira, davira yang amat peka akan kode tersebut pun memahami apa maksudnya.
"..." Davira tak suka dengan tatapan Hendra, ia tak suka di perintah oleh lain selain ibunya. Namun ia menahan rasa amarah di hatinya, ia pun menuruti permintaan Hendra.
"Aku saja yang mengambil makanan bersama Kavin," ujar davira dengan wajah datar.
"Eh," Felicia sedikit kecewa.
"Ayo jalan," ajak Davira kepada Kavin, untuk segera meninggalkan mereka berdua.
Felicia menatap kepergian Kavin bersama Davira dengan wajah kecewa dan sedih, entah perasaan apa sebenarnya. Felicia masih belum mengetahui dan menyadari itu adalah perasaan jatuh cinta.
"Fei, ayo kita cari tempat untuk makannya," ajak Hendra dengan tersenyum puas.
"..." Felicia hanya terdiam seraya melihat bayangan Kavin yang pergi menjauh darinya.
'Perasaan ku sedikit aneh,' gumam Kavin dan Felicia secara bersamaan, walaupun mereka berjalan melawan arah, namun hati mereka tetap bersatu.
"Hari ini ramai banget ya? Banyak banget orang-orang yang datang ke taman ini, kita sampai tidak bisa berjumpa setelah tantangan di mulai," ujar Hendra basa-basi.
"Hmm, iya," jawab Felicia dengan melontarkan senyuman.
"Tapi game ini menyenangkan bukan?" tanya Hendra dengan perasaan gugup.
"Iya, aku juga senang sekali," jawab Felicia dengan tatapannya terus ke arah jalan, namun pikirannya ke arah Kavin.
"Di sini saja yuk? Untuk tempat kita makan nanti," ujar Hendra seraya menunjuk ke arah taman yang penuh akan rumput Jepang.
__ADS_1