Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
36. niat Hendra


__ADS_3

"Kavin, maka dari itu aku sangat meminta pertolongan kamu. Aku ingin mengutarakan sekarang. Hatiku mengucapkan, jika aku tidak mengutarakan sekarang juga, maka akan ada orang lain yang akan mengungkapkan isi hatinya lebih dulu. Dan pada akhirnya aku akan kehilangan dia, aku takut aku tidak akan memiliki kesempatan ini di lain waktu. Lalu aku akan menyesalinya seumur hidupku," ujar Hendra dengan wajah serius.


"Jadi, Kavin aku sangat meminta pertolongan padamu," ucap Hendra dengan nada memohon.



Greet...



Kavin benar-benar tidak sabar dan merasa kesal akan niatan Hendra, ia mungkin saja tau. Bahwa kavin menyukai Felicia, atau sebaliknya, atau yang di maksud Hendra adalah Kavin.



"Bagaimana caraku membantu kamu?" tanya Kavin dengan nada tegas dan serius.



"Kavin.... Kamu!" ucap Hendra dengan wajah terkejut dan matanya yang berkaca-kaca, ia begitu terharu dan tak percaya akan jawaban dari mulut kavin. Ia mengira mungkin saja kavin belum mengetahui perasaannya pada Felicia, atau ia tidak menyukai Felicia. Namun itu hal yang tak mungkin, pria mana yang tak menyukai gadis secantik dam sebaik Felicia.



"Kavin... Kamu benar-benar sahabat sejatiku!" seru Hendra seraya menghamburkan tubuhnya pada Kavin, sedangkan Kavin sendiri tidak bisa menolak seseorang, ia hanya bisa terdiam mematung. Ia membiarkan Hendra memeluknya walaupun sebenarnya Ia begitu risih.



"Aku berjanji, jika kami jadian. Lalu kami menikah aku akan mengundang kamu yang paling utama," ucapnya dalam pelukan Kavin.



Sedangkan semua siswi melihat aksi mereka, hingga mereka menjadi tontonan gratis bahkan ada beberapa yang mengabadikan momen tersebut. "Kita foto yuk," ucap seorang wanita dengan penuh semangat akan gosip baru.



"Wah! Aku nggak menyangka! Ada sepasang kekasih yang sesama jenis," seru salah satu dari mereka, hingga mengundang banyak orang lainnya yang melihat.



"Tunggu dulu! Barusan ketua kelas membicarakan soal pernikahan bukan? Apakah kalian dengar? Apakah dia melamar pria itu? Wah sungguh berita yang sangat hot! Ayo cepat rekam!" seru lainnya dengan menyodorkan ponselnya ke arah mereka.



Kavin mendengar dengan jelas ucapan percakapan para siswa-siswi yang ada di belakangnya, ia bergidik ngeri akan gosip para mulut wanita. Namun Hendra tak mau melepaskan pelukannya, justru ia tersenyum melihat kavin yang saat ini tubuhnya bergetar akibat perbuatan dirinya.



"Ketua kelas! Bisakah lepaskan pelukannya dulu? Aku merasa sesak!" ucap Kavin dengan nada dingin.



"Eh, iya maaf. Biarkan saja mereka berbicara apa saja tentang kita, hehehe. Lagian nanti kalo aku sudah pacaran maka mereka akan bungkam sendiri kok," jawab Hendra seraya melepaskan pelukannya.



"Ya sudah ayok kita berkumpul, ini sudah mau menjelang malam," ajak Hendra seraya menggandeng tangan Kavin.


__ADS_1


"Maaf Ketua kelas, aku bisa jalan sendiri!" ujar Kavin mencoba melepaskan genggaman Hendra.



"Ok!" jawab Hendra dengan berjalan penuh semangat.


---


Kini semua siswa-siswi telah berkumpul di tempat yang di setujui, Hendra pun mengabsen mereka satu persatu dari teman satu kelasnya.


"Baik semuanya, semuanya sudah hadir kan ya?" seru Hendra.



"Biarkan aku menjelaskan kegiatan kita hari ini," sambungnya dengan tegas.



Hendra pun mengumumkan acara yang ia buat dengan berdiskusi bersama Kavin, Mereka berniat membuat tim atau kelompok.


"Para teman-teman sekalian, kita akan menjadi beberapa kelompok agar lebih adil dan lebih cepat dalam mengerjakan tugas, jadi dalam satu kelompok akan ada empat orang di dalamnya, dan kalian bebas untuk memilih team sendiri, setelah tugas kalian selsai kita akan berkumpul di perkemahan. Lalu membuat BBQ di sana," tutur Hendra dengan jelas.



"Dan untuk teman sekelas kita yang memiliki penyakit jantung, maka sebaiknya menunggu di tempat kita berkumpul. Untuk team yang selsai lebih dulu, maka akan mendapatkan makanan dari team lain yang mereka belum punya," sambungnya.



"Jadi aku akan membagikan kertas ini, untuk di stempel oleh team kalian masing-masing. Setelah kalian mendapatkan stempelnya, kalian boleh langsung menuju perkemahan kalian," ujarnya seraya menyerahkan kertas kepada masing-masing ketua kelompok.


"Setelah kalian selsai membuat group, kalian boleh langsung menuju tempat tujuan kalian masing-masing," sambung Hendra.



Sedangkan Hendra tersenyum seraya menatap ke arah Felicia, lalu ia pun melangkahkan kakinya ke arah Felicia. "Fei!" panggil Hendra.



"Ayo gabung dengan grup kami!" ajak Hendra dengan tersenyum ramah.



"Oke, boleh!" jawab Felicia dengan tersenyum manis.



"Jadi kita berempat ya?" tanya Davira dengan wajah datar seperti biasanya.



"Iya," jawab Hendra lalu mengeluarkan kertas absennya, ia pun mengambil kertas tersebut dari tas selempangnya.



"Eh, kok banyak banget ya?" gumam Hendra seraya menatap lembar kertas tersebut.


__ADS_1


"Sobek," ujar Kavin dengan melihat isi lembar kertas absen tersebut.



"Oh, iya yah," jawab Hendra seraya menatap wajah Kavin dengan penuh cahaya bahagia.



'Kavin memang pantas menjadi siswa nomor satu di kelas kita, dia iq nya luar biasa.' batin Hendra, lalu ia pun menatap kertas tersebut dan menyobeknya menjadi lebih sedikit.



'Dengan begitu aku bisa berduaan bersama Felicia,' batinnya dengan penuh keyakinan.



"Terimakasih banyak sahabat sejati ku," bisik Hendra dengan mata yang berkaca-kaca, Kavin hanya diam mendengar ucapan Hendra, ia merasa gugup juga risih akan tatapan mata Hendra.



"Kita akan menjadi dua kelompok setelah ini, untuk menyelesaikan tantangan ini secepat mungkin, kita akan melakukan tugasnya terpisah. Lalu kita akan berkumpul kembali di tempat BBQ, setelah kita semua telah menyelesaikan stempelnya." ujar Hendra.



"Ok!" jawab Davira dengan wajah tanpa ekspresi nya itu.



"Eh, memang dengan begini akan lebih cepat, tapi..." ujar Felicia dengan berpikir keputusannya.



"Baiklah aku..." Felicia pun melanjutkan ucapannya namun belum selsai mengucapkan kalimat setuju, Hendra buru-buru memotong dengan penuh semangat.



"Baiklah kalau begitu ayo! Pergi bersamaku!" seru Hendra seraya menggapai tangan salah satu dari mereka.



"Jangan khawatir! Aku jamin kita akan menjadi grup yang akan juara satu!" serunya seraya melangkah dengan cepat. Dengan tangannya menggenggam erat tangan seorang wanita.



"Eh," Felicia terkejut dengan apa yang terjadi padanya. Pipinya merah merona akibat sentuhan tangan seseorang dan menggandeng tangannya.



'Sekarang kami sedang bergandengan tangan, uwu senangnya...' batin Hendra dengan wajahnya yang merah merona. Ia benar-benar begitu semangat.



Ia tersenyum sepanjang jalannya, seraya menggandeng tangan seorang wanita.



'Tangannya begitu dingin, apakah dia gugup juga? Sama denganku? Hehehe. Aku akan mengutarakan isi hatiku malam ini juga,' gumam Hendra dengan penuh kebahagiaan.

__ADS_1



Hendra sama sekali tidak melihat ke arah belakang, dia hanya fokus menggandeng tangan wanita tersebut, dan terus menariknya. Mereka berjalan dengan terus bergandengan tangan, Hendra sama sekali tidak melepaskan tangan wanita tersebut


__ADS_2