
Hari demi hari Felicia terus sendirian di kelasnya, Ia lagi-lagi duduk sendiri, Felicia menatap ke arah samping tempat duduk Kavin yang tmasih rapi.
'Entah kapan aku bisa mengucapkan rasa terimakasih ku padanya,' gumam Felicia dengan wajah murung.
'Tapi sebenarnya ke mana dia? Kenapa tak pernah masuk sudah lebih dari satu minggu ini hampir dua minggu, apakah dia baik-baik saja? Ujian tengah semester juga akan di mulai besok,' batin Felicia seraya menatap langit yang biru.
Namun saat Ia melamun karena memikirkan Kavin yang menghilang tanpa kabar, tiba-tiba Ia di kejutkan oleh seseorang yang memanggilnya.
"Anekka Felicia, di panggil oleh wali kelas, dan di suruh untuk ke ruangannya segera," seru seseorang dari depan pintu.
"Oh, baik," jawab Felicia seraya beranjak dari duduknya, Ia pun berjalan cepat menuju ruangan mr, Hans.
---
Sesampainya di ruang guru, Felicia mengetuk pintu sebelum masuk.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Ya, masuk." jawab mr, Hans dengan wajah dinginnya.
Felicia pun masuk, Ia berjalan ke ruangan mr Hans yang berada di paling ujung, sesampainya di hadapan mr, Hans Ia langsung menyerahkan satu lembar soal ujian semester pada Felicia tanpa sepatah kata pun.
"Apa ini Pak?" tanya Felicia.
"Panggil saya mr, jangan ikut-ikutan Kevin," jawab mr, Hans.
"Oh, maaf mr, boleh saya tanya apa ini mr?" jawab Felicia seraya melontarkan pertanyaan.
"Ini adalah uang," jawab mr, Hans dengan wajah serius.
"Apa kamu lihat ini uang? Jelas ini adalah lembar soal untuk ulangan semester," sambung mr Hans.
__ADS_1
"Lalu apa maksud mr, Hans memberikan lembar soal ini?" tanya Felicia dengan wajahnya yang mulai suram.
Felicia menerima lembar soal tersebut, lalu ia melihat nama yang tertera di sana, Kavin Ardana Abiputra, kelas 10D, jenis kelamin laki-laki, nomor kartu ujian 12344556789, kontruksi : ..... .
Ia melihat di sisi samping terlihat sebuah foto untuk di tempelkan di sana. Felicia tersenyum geli, saat membayangkan foto Kavin tertempel di sana, dan memperlihatkan matanya yang unik itu.
"Ujian tengah semester akan di mulai besok, bantu aku berikan ini pada Kavin," ujar mr, Hans.
"Eh, tapi mr, kenapa harus aku?" jawab Felicia dengan tersenyum canggung.
"Hei, bukannya kalian duduk bersebelahan?" ujar mr Hans dengan berdiri tiba-tiba, hingga membuat Felicia terkejut.
"Bukan berarti aku itu dekat dengan dia, mr, Hans." keluh Felicia dengan keringat dingin yang bercucuran karena panik.
"Felicia, aku jelaskan ya. Teman sebangku adalah orang yang paling dekat, karena dia menghabiskan banyak waktu selama di sekolah karena dia selalu bersama kamu," ujar mr Hans dengan wajah serius.
"Juga dengan dia kamu akan memiliki banyak kenangan manis, untuk ke depannya kamu akan lebih dekat lagi," Sambungnya mr Hans.
"Orang yang bilang 'dadah' setiap hari, minggu bulan dan sepanjang tahun, yang mengantarkan kamu kalau saat sakit di sekolah. Yang selalu meminjamkan buku waktu kamu lupa bawa, yang menyingkir waktu kamu mau pergi ke toilet. Itu teman sebangku kamu! Dia itu sangat penting bagimu! Tapi kamu mengantarkan lembar soal ujian saja sulit!" Ujar mr Hans panjang kali lebar.
"Oke baiklah Pak," jawab Felicia dengan senyum yang terpaksa, ia menahan amarahnya karena ucapan mr Hans yang terlalu berbelit-belit.
"Ini alamat rumahnya dan nomor ponselnya, maaf merepotkan kamu ya Felicia!" sambung mr Hans seraya memberikan selembar kertas kecil yang berisikan informasi Kavin.
"Tidak merepotkan kok Pak, memang sudah tugasku!" jawab Felicia, dengan tersenyum manis, namun terlihat otot di wajahnya mengeras.
Setelah menerima kertas tersebut, Felicia langsung pergi dari ruangan mr Hans, dengan wajah kesal. Namu saat ia mengingat ucapan mr Hans ia seketika sadar, 'Benar juga sih yang di ucapan kan oleh Pak Hans, jika bukan karena Kavin, Aku akan mengalami hal yang lebih buruk dari sekarang. Fei saatnya kamu membalas kebaikan ini,' batin Felicia dengan menggenggam erat kertas soal tersebut.
Felicia pun berlari menuju kelasnya, Ia memasukkan lembar kertas tersebut ke dalam tasnya.
Kriing ....
Kriiing ....
Kriiing ....
__ADS_1
Akhirnya bell sekolah pun berbunyi, Felicia bergegas pergi dengan cepat dari kelasnya, ia berlari sekencang mungkin hingga akhirnya berhasil keluar dari gerbang sekolah.
Felicia tersenyum puas, setelah berhasil menghindari Ansel. Ia sekarang melanjutkan larinya, ia sekarang menuju alamat yang di berikan mr Hans padanya.
---
"Hah ... Hah ... Ini beneran kan tempat tinggal Kavin? Alamat nya bener ini kok," gumam Felicia dengan melihat gedung apartemen yang ada di depannya, ia kembali memastikan dengan melihat alamat yang di kasih mr Hans.
"Eh benar kok, astaga! Kavin!" gumam Felicia dengan mengerutkan alisnya. 'Dia tinggal di tempat semewah ini, tapi kenapa dia masih saja mengambil pekerjaan paruh waktu?' batinnya.
Felicia pun masuk ke gedung apartemen tersebut, ia memasuki pintu lift untuk menuju lantai 17 di mana Kavin tinggal. 'Ya ampun lift nya saja begitu mewah,' batin Felicia dengan senyum canggung.
Ting ....
Pintu lift pun terbuka, kini Felicia sampai di lantai 17. Ia pun melihat seisi ruangan tersebut. Felicia menelan ludahnya pasal nya ini baru pertama kalinya ia melihat apartemen yang begitu mewah dan megah, fasilitas nya benar-benar memadai.
'Apakah ini tempat tinggal Kavin? Apakah ini rumahnya?' batin Felicia sesampainya di depan pintu rumah Kavin.
Ia memastikan kembali dan melihat dengan teliti lembar alamat yang di pegang nya, lalu ia pun melihat pintu rumah Kavin yang begitu megah.
'Gawat! Aku tiba-tiba tidak berani untuk mengetuk pintunya,' Batin Felicia dengan wajahnya yang gugup.
Felicia terdiam begitu lama di depan pintu Kavin, ia merasa bingung. 'Kavin izin tidak masuk sekolah selama itu, semua orang bergosip tentangnya. Bahwa dia pergi ke Korea untuk melakukan operasi pada wajahnya, Jangan-jangan!' pikir Felicia.
Ia membayangkan bahwa wajah Kavin saat ini masih tertutup rapat oleh perban bekas operasi di wajahnya, hingga ia tidak bisa membuka pintu maupun pergi kemana-mana. Bahkan membuka kan pintu untuk Felicia masuk.
"Siapa? Maaf aku tidak bisa melihat, aku baru operasi wajah kemarin," bayangan Felicia tentang Kavin yang tengah tertutup rapat oleh kasa.
Bahkan dia membayangkan yang lain tentang wajah Kavin yang berubah seperti wanita-wanita cantik, "aku abis operasi mata, bagiamana menurut kamu?" seraya memicing kan matanya dan tertawa konyol.
'Ah, hatiku sesak! Aku tak tahan ingin tertawa,' gumam Felicia, seraya menahan tawa.
"Ini tidak benar, kau sebaiknya menelpon Kavin lebih dulu saja," Gumam Felicia. Lalu ia mengambil ponsel nya yang ada di tas.
"Kavin si pria aneh," Lalu ia menekan panggil, tak lama panggilannya pun tersambung dan di angkat oleh Kavin.
__ADS_1
"Halo?" sapa Kavin.
"Ah, halo Kavin? Aku Felicia, aku sekarang ada di depan pintu rumahmu. Bisakah kamu keluar? Wali kelas memerintah kan aku agar memberikan lembaran soal ujian untukmu," ujar Felicia.