Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
35. bertemu ansel


__ADS_3

"Katakan Fei! Ada apa!" seru Ansel.



"Auh sakit!" seru Felicia seraya mencoba melepaskan cengkraman Ansel.



"Eh, maaf Fei!" ujar Ansel seraya melepaskan tangannya, ia pun di kejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba datang memeluk Felicia.



"Hei! Maaf mengganggumu, tapi bolehkah aku membawa dia sebentar?" ujar kavin dengan menarik Felicia dan memeluknya dari belakang.



Felicia pun tak kalah terkejut dari Ansel, ia tak menyangka lagi dan lagi kavin datang menyelamatkan dirinya, lagi dan lagi kavin berada di sisinya.



'Pria ini lagi!' gumam Ansel dalam hati, ia tak mendengarkan ucapan pria tersebut. Ia merasa marah dan benci terhadap pria itu, atau kavin. Bukan sekali ini saja, ia melihat kavin membela Felicia dan melindungi Felicia.



"Fei.. Aku..."



"Ansel..." Felicia segera memotong ucapan Ansel.



"Kami harus pergi, dan segera berkumpul, karena teman-teman kelas kami sedang menunggu kami. Ansel jangan membiarkan pacarmu menunggu!" ucap Felicia dengan wajah pilu.



"Fei!" panggil Ansel, namun Felicia tetap saja memutar tubuhnya dan berlalu pergi dari hadapan Ansel.



"Kavin, ayo!" ajak Felicia seraya berjalan meninggalkan Ansel.



"Ok!" jawab kavin seraya menatap dingin ke arah Ansel dari balik poninya.



Sementara Ansel hanya bisa terdiam tak berdaya, dia merasa sedih dan terluka. Ia merasa kehilangan Felicia, 'kenapa? Aku... Apa yang telah aku lakukan pada Felicia? Kenapa aku menjadi marah sehingga aku tak sadar telah menyakiti dia,' batin Ansel seraya menatap lekat telapak tangannya yang telah mencengkram pundak Felicia.



Sedangkan seseorang sedari tadi berdiri dari jauh melihat aksi Ansel, ia kini merasa lebih kesal dan tak suka akak apa yang ia lihat barusan. "Sial! Lagi-lagi aku melihat ekspresi itu lagi," gumamnya dengan mengepalkan kedu tangannya.



"Hufft," gadis itu pun menarik napasnya lalu membuangnya kasar, ia menyimpulkan senyuman di bibirnya, sebelum akhirnya muncul di hadapan Ansel.



"Ansel!" panggil Atikah.



"Atikah?" Ansel pun menoleh ke arah suara yang tak asing baginya, dan langsung menyebutkan namanya.



"Aku sudah menunggu kamu terlalu lama, jadi aku mencari kamu ke mana-mana, tapi tak di temukan juga. Akhirnya aku menemukan kamu di sini," ujar Atikah dengan suara lembut.

__ADS_1



"Eh, maafkan aku ya? Tadi lama karna aku bertemu teman," jawab ansel.



"Oh oke, tidak apa-apa kok," jawab Atikah dengan senyuman manisnya.



"Sungguh aku benar-benar minta maaf," ucap ansel ulang.



"Tidak apa-apa serious tidak apa-apa," jawab Atikah meyakinkan Ansel bahwa dia baik-baik saja.


---


Di sisi lain di waktu yang sama, Felicia berjalan dengan tatapan matanya yang sayu. Sedangkan kavin hanya bisa terdiam seraya mengikuti langkah kaki Felicia dari belakang.


"Kavin..." panggil Felicia seraya menghentikan langkahnya. Kavin terkejut mendengar Felicia memanggil namanya dengan lembut, ia pun mengikuti Felicia untuk menghentikan langkah kakinya, ia menatap punggung Felicia yang ramping.



"kamu dari mana saja? Kenapa baru muncul?" ucap Felicia.


Kavin terdiam sejenak, ia pun merasa senang dan juga sakit pada hatinya. Pasalnya kini Felicia sudah terbiasa akan kehadiran kavin, dan membutuhkannya, juga merasa sakit karena ia terlambat menolong Felicia.


"Maafkan aku, aku barusan melihat kamu sedang dalam keadaan susah. Aku pun mencoba membantu kamu. Sekali lagi aku minta maaf, karena sudah turut ikut campur akan urusanmu," ujar kavin.



"Kavin... Apakah kamu itu hantu atau siluman?" ucap Felicia, kavin pun bingung mendengar ucapan yang di lontarkan Felicia barusan.



"Eh, maksudnya?" tanya kavin.




"Terimakasih kavin!" ucap Felicia seraya tersenyum manis pada kavin, kavin pun tersenyum. Angin berhembus pelan hingga mereka merasakan kesejukan.



Kavin pun mengulurkan tangannya ingin menyentuh pipi Felicia, namun di saat beberapa senti lagi, ia menghentikan niatnya. Ia mengepalkan tangannya dan menarik kembali.


"Kavin, bisakah kamu bantu aku? Kamu pasti mau kan membantu aku?" ucapan Hendra terngiang-ngiang di benak kavin, itu sebabnya ia mengubur niatnya.


Ctak...



"Auh," Felicia meringis kesakitan tak kala keningnya di sentil oleh kavin, namun bukannya marah justru ia merasa bahagia dan tersipu.



"Memang kamu selalu cantik jika tersenyum begitu," ujar kavin seraya berjalan melewati Felicia, Felicia tercengang akan ucapan kavin barusan. Ia pun mengusap keningnya degan degup jantungnya yang berdetak begitu kencang.



'Liburan tahun ini, sepertinya aku memang benar-benar punya penyakit jantung,' batin Felicia.



"Kamu melamun lagi?" tanya kavin tanpa menoleh ke arah Felicia.


__ADS_1


"Tidak, siapa yang melamun?" jawab Felicia dengan memutar tubuhnya, dengan menatap punggung kavin yang kini berada di depannya.



"Ya sudah ayok jalan, nanti keburu telat lagi. Nanti yang lain akan marah," ujar kavin.



"Hmm," jawab Felicia, ia pun berjalan mengikuti langkah kaki kavin. Dengan senyuman yang begitu manis juga wajahnya yang merah merona.



Dag...



Dig....



Dug...



Degup jantung Felicia begitu terdengar begitu jelas, hingga ia tak tau harus bagaimana meredakan degup jantungnya agar stabil. 'Ini sudah pasti aku punya penyakit jantung, besok aku akan mengajak mama ke rumah sakit,' batin Felicia, seraya memegangi dadanya dengan kedua tangannya.



Setelah sampai di perkumpulan, kavin hanya terdiam dengan menatap wajah Felicia yang saat ini tengah berbincang-bincang dengan teman wanitanya.



Beberapa menit yang lalu...


"Kavin... Aku yakin kamu orang yang baik, dan kamu tadi sudah bilang akan membantu aku kan?" ujar Hendra.



"... " Kavin hanya terdiam.



"Aku ada masalah pribadi, dan aku memerlukan bantuan kamu kavin," sambungnya.



"Apa itu?" tanya kavin.



"Aku..." ujar Hendra menggantung ucapannya, lalu ia menatap wajah kavin dan berjalan mendekati kavin.



"Hari ini aku berniat ingin mengungkapkan isi hatiku, yang selama ini aku pendam kepada Felicia," ujar Hendra seraya tersenyum.



"..." Lagi dan lagi kavin hanya bisa terdiam seraya mengepalkan kedua tangannya.



"Di saat pertama kali bertemu dengannya di mana hari pertama aku masuk ke sekolah, aku sudah jatuh hati pada Felicia. Saat itu... Dia berlari dengan begitu cepat ke arahku, untuk melihat tempat duduknya di mana, aku pun seketika menghindari karena terkejut," ujar Hendra dengan membayangkan awal berjumpa dengan Felicia.



"Hahaha, aku kira pada saat itu, dia mau menyatakan cinta padaku," sambungnya dengan tertawa.


__ADS_1


"Lalu, kemarin pas kamu sedang izin. Sesuatu terjadi padanya, hingga akhirnya terjadi hal yang membuat aku berani mengungkapkan isi hatiku padanya," tuturnya dengan wajah tersipu, kavin yang melihat itu sudah menebak apa yang terjadi pada mereka pada saat itu.


__ADS_2