Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
31. keanehan ansel


__ADS_3

"Ayo cocokan jawaban denganku?" ujar siswa lain.


"Ayok," jawabnya.



"Ah... Akhirnya ujian selsai juga!" Seru salah satu siswa yang baru masuk, seraya meregangkan tubuhnya.



Felicia masih memantau pintu ruang kelasnya, ia masih menunggu seseorang yang amat ia rindukan beberapa hari ini. Meski sering berjumpa, namun tetap saja merasa kurang karena hanya berjumpa di kala Felicia memberikan bekal makanan saja.



"Huaaa! Pasti aku akan di hajar sama mamaku! Aku tidak mau pulang!" keluh siswi lainnya, dengan ekspresi sedih.



"Jangan tanya lagi! Aku rasanya ingin bunuh diri saja!" sambung siswi lainnya, sedangkan Felicia hanya menyimak keluhan-keluhan teman setu kelasnya. Sebenarnya Felicia juga merasakan khawatir, namun karna orang tua Felicia begitu sabar dan menyayangi Felicia, sehingga ia sedikit bisa tenang.



Pak...



Saat Felicia masih menyimak keluhan temannya, Felicia di kejutkan oleh benda yang tiba-tiba di letakan di depan nya, Felicia terperanjat, dan melihat sosok pria yang kini berdiri di sampingnya. Seketika wajah Felicia merah merona, saat melihat pria yang amat ia rindukan selama beberapa hari ini.



"Eh,"



"Terimakasih banyak ya? Berkat makanan yang kamu berikan padaku, aku sekarang sudah tak pingsan karena kelaparan lagi," ujar Kavin yang kini tengah duduk di kursinya, seraya memalingkan wajahnya.



"Emm... Ya sama-sama, syukurlah aku senang dengarnya," jawab Felicia dengan gugup.



"Enak sekali rasanya, dan juga... Bentuknya lucu-lucu," ujar Kavin.



Mendengar pengakuan dari Kavin, Felicia semakin gugup. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, 'astaga! Apakah dia tak suka dengan bentuk itu? Atau apakah bentuknya aneh?' batin Felicia.



'Ya sudah besok akan aku ubah penyajiannya,' batin Felicia gugup.



Tiba-tiba Hendra pun melangkah maju ke depan, dengan penuh semangat, ia pun berdiri tegak di depan papan tulis. Lalu ia mengetuk papan tersebut dengan penghapus yang ia genggam.



"Dengar semuanya dengar! Apakah kalian bisa diam sebentar!" seru Hendra ketua kelas.



Seketika ruangan pun menjadi hening, semua siswa-siswi terdiam, begitu pula dengan sepasang yang duduk di paling akhir, ia terdiam dengan wajahnya yang merona. Dengan gugup.



"Ujian untuk kelas 10D telah selsai! Besok sudah akhir pekan, ayo kita rayakan Halloween! Kita ajak santai otak kita yang mengebul beberapa hari ini," ujar Hendra ketua kelas 10D.

__ADS_1



Setelah menyerukan hal tersebut ia pun menghampiri meja Kavin, sedangkan siswa-siswi lain berdiskusi akan usulan ketua kelas tersebut.



"Halo Kavin?" sapanya seraya merangkul pundak Kavin, dengan senyumannya yang ceria.



"Eh, halo juga Feifei?" sapanya seraya menatap ke arah Felicia.



"Kavin yuk kita main?" ajak Hendra. Sedangkan kavin merasa risih akan rangkulan tersebut, namun ia tak enak untuk menolaknya.



"Fei? Juga ikut yah!" ajaknya.



'Feifei? Dia panggil aku Feifei?' Batin Felicia yang merasa risih di panggil seperti itu oleh orang asing, baginya Hendra adalah orang asing, pasalnya ia tak begitu dekat dengan Felicia.



"Oke deh, aku ikut," jawab Felicia dengan tersenyum ramah.



Hendra yang memiliki perasaan terhadap Felicia pun tersipu, setelah mendapatkan senyuman manisnya gadis pujaan hatinya. 'Eh, astaga! My Angel dia menerima tawaranku dan tersenyum padaku,' batin Hendra dengan matanya yang berbunga-bunga.


Namun sedetik kemudian, ia melihat ke arah meja. Ia melihat tangan Felicia yang tengah membereskan wadah bekal makanan, ia pun terkejut. 'Eh! Kotak makan yang ia pegang... Bukannya kotak makan milik Kavin?' batinnya dengan penuh curiga.


'Tidak! Tidak mungkin, pasti kebetulan saja! Ya pasti ini hanya kebetulan, lagian bekal makanan begitu pasti sedang tren! Ya pasti begitu!' Batinnya meyakinkan dirinya, namun ia tak bisa berbohong, hatinya sakit seketika.


---


"Hemm, besok hari Halloween, apakah kamu ada acara?" tanya Atikah seraya menggandeng tangan Ansel.



"Eh iya yah?" jawabnya seraya menatap sang kekasih.



"Tidak ada, bagaimana dengan kamu?" tanya Ansel.



"Aku nggak ada sih, bagaimana jika kita rayakan hari Halloween bersama? Lalu ajak teman masa kecilmu bersama-sama, kita rayakan bersama, lagian kamu selama ini hanya bisa membicarakan dia, dan belum mempertemukan dia dengan ku kan?" ajak Atikah dengan nada manja.



"Oke! Baiklah aku akan ajak dia juga nanti," jawab Ansel.



"Pasti akan seru nanti," ujar Atikah dengan penuh siasat.


---


Sedangkan saat ini di sebuah ruangan 10D, sedang asik berdiskusi tentang merayakan hari Halloween yang akan datang.



"Yang Ingin ikut aktivitas Halloween, tolong tulis pendaftaran kalian di kertas masing-masing dengan nama kalian masing-masing, lalu serahkan padaku," ujar Hendra.

__ADS_1



"Feifei? Apakah sudah?" tanya Hendra yang kini sudah berada di samping bangku Felicia dan Kavin.



"Sudah," jawab Felicia seraya menyerahkan lembaran kertas yang ia sobek dari bukunya.



Namun saat hendak menyerahkan ponselnya bergetar di laci mejanya,"ini," ujar Felicia, lalu mengambil benda yang bergetar tersebut. Ia pun melihat siapa si pemanggil.



Saat Ia melihat nama yang tertera Ia pun terkejut, 'Ansel?' gumamnya, lalu Ia pun segera menggeser layar tersebut dan mengangkatnya.



"Halo Ansel?" sapanya dengan dingin.



"Ada apa menelpon aku?" tanya Felicia dengan memalingkan wajahnya, melihat ke arah jendela kaca yang berada di sampingnya.


Kavin pun menyadari sesuatu, dan Ia sudah menebak dalam hatinya, seketika saat ia melihat perubahan pada wajah Felicia.


"Fei, aku dan Atikah akan merayakan hari Halloween besok. Bagaimana kalau kamu juga bergabung dengan kami? Kita bermain bersama-sama," ajaknya dengan penuh semangat.



"Oh ya, kamu juga bisa ajak teman kamu kok..." sambungnya lagi, mendengar ucapan Ansel dari balik ponselnya, membuat Ia terkejut. Bagaimana bisa Ia mengajak dirinya dan bermain bersama-sama, melihat keromantisan mereka.



"Kamu mau?" tanyanya lagi.



Felicia pun menundukkan kepalanya, dan seketika wajahnya berubah menjadi muram. "Sekolahku juga mengadakan acara Halloween bersama-sama, lain kali saja ya? Oh ya sampaikan maafku pada pacarmu itu," jawab Felicia dengan nada lemas.



"Oh, begitu... Kalau begitu baiklah, tidak apa-apa. Kita bisa main bersama-sama lain kali lagi," ujar Ansel dengan senyuman bahagia setelah mendengar suara Felicia, tanpa sadar wanita yang berada di samping selalu memperhatikan dirinya.



"Oke bye bye," sambung nya lagi, lalu melepaskan ponsel tersebut dari telinganya.



Ansel menatap layar ponsel tersebut yang masih menyala dan terlihat wajah cantik Felicia, ia menjadi murung. 'Sepertinya... Felfei telah berubah,"batin Ansel dengan wajah kecewa.



Sedangkan gadis cantik yang sedari tadi memperhatikan ekspresi kekasihnya itu, merasa cemburu. 'Lagi dan lagi, ekspresi wajah ini lagi!' gerutunya.



"Ansel?" Panggilnya dengan suara manja, namun Ansel masih berada di pikirannya.



"Ansel sayang?" panggilnya lagi.



"Eh, maaf, iya ada apa?" jawab Ansel dengan gugup.

__ADS_1


__ADS_2