
"Pah, Felicia kita bawa pulang saja ya pah?" tanya sang mama.
"Terserah mama, tapi sebaiknya kita tanya dokter dulu mah," jawab papa.
"Hmm, baik pah," ujar mama lalu ia pun pergi dari ruangan tersebut menuju ruangan dokter, setelah sampai di depan ruangan sang dokter, mama Felicia mengetuk pintu ruangan itu yang sedikit terbuka.
"Selamat siang dok?" sapa mama Felicia seraya mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Siang silahkan masuk Bu," ujar sang dokter.
"Terimakasih Pak," jawab mama Felicia seraya masuk ke dalam ruangan, lalu ia pun duduk di sebrang sang dokter.
"Ada apa Ibu?" tanya dokter ramah.
"Begini Pak, saya orang tua Felicia. Siswi dari SMK Mawar Indah, saya mau tanya. bolehkah anak kami di bawa pulang?" tanya mama Felicia.
"Oh, Felicia? Boleh Bu, jika sudah membaik. mari saya cek terlebih dahulu sebelum di bawa pulang ya Bu," jawab sang dokter, lalu dokter pun beranjak dari duduk nya begitu pula dengan mama Felicia. Lalu mereka pun pergi menuju ruangan Felicia.
Sesampainya di ruangan Felicia, sang dokter langsung mengecek kondisi pasiennya. "Hm ... panasnya sudah turun, tapi anak ibu masih lemas dan ini belum sadarkan diri." ujar sang dokter.
"Jadi gimana dokter? Apakah boleh kami rawat jalan?" tanya mama.
"Boleh bu, nanti Ibu ganti infus nya jika sudah hampir habis, dan ingat jaga makanannya ya bu. Selama satu minggu ini, tolong sebisa mungkin harus makan bubur saja dan di perbanyak minum air putih," jelas sang dokter.
"Baik Pak dokter," jawab mama Felicia.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi," pamit sang dokter lalu ia pun pergi dari ruangan tersebut.
"Ya dokter terimakasih banyak," sembung sang Papa, Lalu mereka membawa putri mereka pulang.
---
Felicia membuka matanya perlahan, lalu ia bangun dan duduk di ranjang, sembari melihat seisi ruangan tersebut. 'Auh, kepala ku sakit,' batin Felicia seraya memijit pelipisnya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Seseorang mengetuk pintu kamar Felicia, lalu tak lama kemudian knock pintu bergerak dan munculah kepala sang mama. "Mama masuk ya?" ujar mama seraya tersenyum.
"Kamu sudah bangun ya? Mama masak bubur buat kamu nih," ujar mama seraya menghampiri Felicia, lalu ia memberikan semangkuk bubur ayam. Mama Felicia duduk di sisi ranjang Felicia.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong di mana Kavin?" tanya Felicia di tengah-tengah makanannya.
"Maksudnya pria yang menjaga kamu? Dia sudah pulang saat kami menjemput kamu," jawab mama Felicia.
"Oh begitu," Felicia sedikit ada rasa kecewa di hatinya, lalu ia melanjutkan makannya.
'Aku akan berterimakasih pada dia besok,' pikir Felicia.
Krrriingggg .....
Kringgg ....
Kriing ....
Bell rumah berbunyi, terlihat sang Papa buru-buru menghampiri pintu rumahnya untuk membuka kan pintu untuk sang tamu. "Iya iya, tunggu sebentar!" teriak Papa Felicia seraya berlari.
Sang Papa pun membukakan pintu, dan terlihat Ansel yang berada di depan pintu rumahnya, dengan napasnya yang terengah-engah dan keringat yang bercucuran di wajahnya. "Eh Ansel?"
"Paman?" panggil Ansel dengan wajah lelah.
"Bagaimana kondisinya Felicia?" tanya Ansel.
Felicia mendengar suara Ansel dari kamarnya,
"Kamu lari-lari dari sekolah ke sini?" tanya Papa. Felicia membuka matanya lebar-lebar setelah mendengar percakapan mereka, ia merasa sakit di hatinya tumbuh lagi, walaupun ada sedikit rasa terharu akan pengorbanan Ansel datang ke rumahnya dan rasa khawatir nya.
Bukannya senang justru Felicia terlihat murung, ia menundukkan wajahnya. "Mah, aku ... Tidak ingin bertemu dengan-Nya," jawab Felicia seraya meletakkan mangkuk di meja yang berada di sampingnya.
Sang mama yang mendengar jawaban dari putri nya merasa terkejut, Felicia dan Ansel bagaikan permen karet yang tak bisa di pisahkan. Ia selalu nempel dan selalu welcome kepada Ansel, namun entah apa masalahnya hingga Felicia tidak ingin berjumpa dengan Ansel. Bahkan sang mama sudah mengidamkan Ansel sebagai calon suaminya kelak, mereka tua bersama selamanya tidak terpisahkan.
"Baik, aku akan beritahu dia," jawab sang mama seraya mengambil mangkuk.
Sang mama beranjak dari duduknya, dan berjalan keluar, Felicia membungkuk kan kepalanya, sang mama menengok kembali melihat putrinya yang saat ini terlihat terpuruk.
'Hmm,' mama pun melanjutkan jalannya dan keluar dari kamar Felicia.
"Eh ada Ansel? Felicia baru saja minum obat, dan langsung tertidur. Dia tidak apa-apa jangan khawatir," ujar sang mama.
"Syukurlah kalau begitu, aku tidak akan menganggu tidurnya. kalau begitu Ansel pamit ya Bi?" jawab Ansel.
"Terimakasih sudah datang ya Ansel," ujar sang mama, Felicia hanya terdiam meringkuk kan tubuhnya, ia mendengar semua percakapan mereka dari dalam.
"Tidak apa-apa Bi, Felicia sudah ku anggap adik kandungku sendiri" jawab Ansel. Mendengar pengakuan Ansel membuat mata Felicia terbuka lebar, ia terkejut akan ucapan Ansel.
__ADS_1
"Kalau begitu Ansel pulang dulu ya bi," ujar Ansel. Lalu pergi dari rumah tersebut.
Sedangkan Felicia di kamarnya meringkuk kesakitan atas pembicaraan yang baru saja ia dengar, 'ah, ternyata aku hanya seorang adik baginya? Ternyata ... Aku yang selama ini salah paham, ternyata hanya imajinasi ku saja selama ini hehehe,' batinnya seraya mengusap air matanya yang menetes tanpa ia inginkan.
---
\---
Malam hari di kamar sebuah apartemen mewah, terlihat seorang pria yang sedang berdiri di dinding kaca, ia menatap seisi kota dari kaca.
Ia hanya terdiam seraya memegang ponselnya, "halo? Kamu masih di sana nggak? Masih dengar kan suara aku?" ujar seseorang dari sebrang sana.
Kavin hanya terdiam seraya menatap isi kota yang begitu meriah karena lampu dan mobil yang berlaku lalang. "Halo?" panggil seseorang lagi.
"Hm, ya. Baik aku tau, saya akan melakukannya. Aku akan izin cuti besok," jawab Kavin dengan nada lemas. "Oke," Jawab seseorang dengan senang.
Lalu ponsel pun terjatuh dari genggam man Kavin, Ia menyenderkan kepalanya di dinding kaca apartemen nya, Ia merasa begitu terpuruk. 'Tak bisa ku percaya, bahkan di detik terakhir pun tak bisa berjumpa dulu denganku,' bati Kavin seraya memejamkan kedua matanya menahan tangis.
Kavin pun berjalan menuju ranjang nya, Ia melihat meja di sisi samping ada plastik yang berisikan obat-obat milik Felicia yang tak sengaja terbawa olehnya. Kavin mengambil plastik tersebut, lalu membayangkan wajah Felicia saat di rumah sakit, dan membayangkan kejadian yang menimpa dirinya, Ia merasa iba.
Kavin pun mengambil ponselnya yang masih di lantai, Ia mengetik nama di pemanggil. 'Feifei'.
\---
Di waktu yang sama di sebuah apartemen, Felicia sedang tertidur di kamarnya. Hingga Ia terbangun saat mendengar suara ponsel miliknya berdering.
Felicia mengambil ponsel tersebut, lalu Ia lihat siapa si pemanggil, 'Kavin si wajah aneh', lalu Felicia pun mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
"Kavin?"