
Felicia pun selsai merapikan rambutnya,lalu ia membuka lemari dan mengambil satu set baju. Setelah selsai ia segera membuka pintu kamarnya.
"Feifei? Wah aku tak menyangka, kita menggunakan the street yang sama! Ingatkan saat SMP kelas dua kita pergi studi tour? Dan kita beli baju ini sama-sama, barang kenangan paling berharga kita hanya baju ini hahaha.. " ucap Ansel yang kini berdiri di depan pintu kamar Felicia.
Felicia tak bisa berkata apa-apa melihat penampilan Ansel saat ini, ia menatap ke arah perut Ansel yang terbuka karena baju yang ia kenakan sudah tak muat lagi. Hingga membuat perutnya terbuka, Namun tetap memaksakan untuk ia kenakan, dengan wajah yang tanpa rasa malu maupun risih.
"Mah? Aku pamit mau pergi dulu..." ucap Felicia dengan buru-buru pergi meninggalkan Ansel, ia merasa malu melihat penampilan Ansel saat ini juga.
"Tugu aku Fei! Bibi aku izin pamit dulu yah? Aku akan mengantarkan Fei pulang nanti?" ucap Ansel dengan langsung mengejar Felicia.
Namun Felicia justru makin mempercepat jalannya, "Fei tunggu aku!" Seru Ansel dengan napasnya yang terengah-engah.
"Fei! Kamu jalannya kencang sekali sih! Fei tunggu aku, huh huh ..." sambungnya.
'Sungguh kencan yang tidak romantis!' batin Felicia dengan memasang wajah datar.
Sesampainya di taman, semakin banyak orang yang memperhatikan mereka. Felicia semakin tercengang di buatnya.
'Astaga! Kenapa tidak mengganti baju saja? Memalukan sekali ... rasanya berjalan berdua begini, benar-benar di luar dugaanku. Ini bukan impianku,' keluhannya dalam hati seraya memalingkan wajahnya dan menutup dengan satu tangannya.
"Wah ... Sejuk sekali rasanya ..." ucap Ansel dengan kedua tangannya di masukan ke dalam saku celananya.
'Jelas sejuk, apa kamu tak sadar bajumu begitu? Perutmu terlihat begitu jelas itu ibarat kata itu baju untuk anak usia tiga tahun dan di kenakan oleh anak usia 12 tahun, kamu tak sadar dulu kamu begitu kecil, tingginya hanya sebahu ku sekarang aku yang tingginya sebahu mu. Jelas saja di sini kamu harusnya bisa berpikir, astaga!' Keluhannya.
Felicia memasang wajah datar di sepanjang jalan, ia merasa aneh dan malu. "Ma! Mama lihat baju pria itu!" Teriak seorang anak kecil, yang saat ini di gandeng oleh mamahnya, dengan wajah terkejut.
'Ya ampun Ansel! Kamu sudah masuk SMA masih saja mau di tertawakan oleh anak kecil.' batinnya dengan mengusap wajahnya. dengan kasar.
"Mah lihat! Cowok itu ganteng sekali! Aku juga mau baju seperti dia pakai mah!" sambung anak itu seraya memuji Ansel, ia menunjukkan ekspresi mengidolakan Ansel. Sungguh di luar dugaan Felicia, ia mengira akan menjadi hinaan atau lelucon. Justru yang di dapat malah kebalikannya, entah anak yang matanya salah atau memang tren jaman sekarang yang sudah ngawur.
Mereka terus berjalan menyusuri taman seraya bergandengan tangan, dengan Ansel yang berada di depannya. Felicia menatap punggung laki-laki yang ia kagumi selama ini, ia tersenyum dengan pipinya yang kini merah merona.
'Di pikir-pikir ... sudah lama sekali kita tak berjalan berdua, bergandengan tangan begini.' batinnya.
'Sejak kapan aku mulai menyukai pria konyol ini?' Sambungnya.
'Sejak kejadian itu ...' Seraya menatap punggung Ansel, ia membayangkan masa-masa di SMP dulu.
Flashback ...
SMP bakti husada...
Di depan ruang kelas dengan menjinjing tas ranselnya, Felicia menatap panik ke arah pintu ruangan kelasnya. 'Gawat!' batinnya.
Felicia pun masuk dengan jalan pelan, ia terlihat begitu lemah, sambil memegangi perutnya. 'Auh ... Perutku benar-benar sakit!' batin Felicia dengan mukanya yang kini semakin pucat.
Jam kelas pun di mulai, sepanjang kelasnya di mulai Felicia terus menundukkan tubuhnya, ia sesekali menyenderkan kepalanya di tembok, karena Felicia duduk di paling akhir hingga tak ada yang memperhatikan dia.
Setelah jam istirahat, Felicia makin terlihat lemas, ia pun membaringkan kepalanya di atas mejanya, 'ini pertama kalinya aku, atau apakah aku terlalu banyak makan es krim yah?' batinnya dengan keringat dingin yang terus bercucuran.
"Hei Ansel? Lihat teman kecilmu hari ini diam sekali, juga terlihat pucat." ujar seorang teman sebangku Ansel, ya Felicia semenjak masuk ia hanya terdiam,tak seperti biasanya yang banyak omong dan ribut, setelah jam istirahat pun akan mengajak makan,makan dan makan. Namun tidak dengan hari ini.
__ADS_1
"Sepertinya sudah berbaring begitu semenjak masuk kelas," sambung salah satu temannya yang lain.
Ansel pun memutar kepalanya, melihat sahabatnya itu. Dan benar saja ia terlihat begitu lelah, lemas, dan pucat. Ansel pun menghampiri Felicia. "Fei?" panggil Ansel seraya menyentuh pundaknya.
Felicia pun mengangkat kepalanya sedikit, dan melirik ke arah suara tersebut, Ansel melihat begitu banyak keringat yang bercucuran di wajah Felicia. "Kenapa kamu berkeringat begitu banyak? Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu sakit? Apanya yang sakit Fei?" Ansel menghujani banyak pertanyaan, Felicia pun menyangka kepalanya dan menutup wajahnya, terlihat wajah Felicia merah merona.
"Perutku yang sakit," jawab Felicia dengan berbisik.
Ansel yang mendengar jawaban dari Felicia terdiam sejenak, lalu melihat ekspresi wajah Felicia. 'Sakit perut yang membuat Feifei menjadi pendiam adalah ... Astaga! Apakah Felicia...' batinnya Ansel dengan tak melanjutkannya, ia pun dengan wajah panik segera pergi dengan buru-buru.
"Feifei! Tunggu dulu sebentar, aku akan balikkan untuk kamu, kamu taha sebentar ya!" ucapnya dari depan pintu.
Felicia hanya terdiam ia bingung akan ucapan Ansel, ia tak paham maksudnya. Ia pun melanjutkan merebahkan kepalanya kembali.
Ansel pun berlari begitu kencang menuju minimarket di sebrang sekolah tersebut, ia langsung masuk ke dalam dan mencari kebutuhan seorang wanita di setiap bulannya datang tamu. Jangan tanya lagi semua karyawan dan para pelanggan melirik ke arah Ansel. Namun Ansel adalah seorang yang polos dan tak menghiraukan pandangan orang lain.
"Terimakasih ... Kami tunggu kedatangannya kembali," ucap kasir minimarket, setelah selsai membayar Ansel langsung pergi
Tintin ...
"Ah...!" teriak Ansel dengan tubuhnya yang kini tersungkur di aspal, ia hampir saja tertabrak mobil.
"Dasar anak bodoh! Kalau jalan liat kanan kiri dulu ngapa! Kalau sampai kamu ketabrak aku yang rugi bukan kamu goblok! Udah gede masih aja goblok!" Dengus pria tersebut dengan marah-marah.
"Maaf Pak ia maaf, saya akan lebih hati hati lagi, maafkan saya ya Pak?" ucap Ansel dengan langsung berdiri, ia pun melanjutkan berlari menuju sekolah.
Hingga akhirnya tibalah di ruang kelas 9D, masih terlihat Felicia yang berbaring dengan memegangi perutnya yang merasa begitu nyeri. "Ini, cepat... Cepat buka dan gunakanlah," ucap Ansel, dengan napasnya yang terengah-engah.
"Sakitnya ... Ada mobil tadi yang hampir menabrak aku di jalan," keluhnya dengan meniup luka yang ada di sikunya.
"Aku membersihkan lukaku dulu ya, kamu jangan lupa buka dan cepat dipakai!" ujarnya seraya berlalu pergi dari ruang kelas.
Felicia menatap kepergian Ansel yang meringis kesakitan, 'hehehe lucu sekali, rambutnya sampai acak-acakan begitu. Terimakasih Ansel,' batin Felicia.
'Semangat Ansel luar biasa sekali, dia pasti tadi berlari sekencangnya untuk membelikan obat untukku, sampai tak melihat sekitarnya. Sungguh manis hmmm,' batinnya seraya ia membuka isi plastik tersebut.
'Ansel begitu perhatian padaku, aku benar-benar merasa bahagia.' Ia terus tersenyum, hingga akhirnya ia membuka isi plastik tersebut. Betapa terkejutnya ia saat melihat isinya.
'Ah... Astaga! Aku...' Dan Felicia pun pingsan karena terkejut dan rasa sakit yang menusuk.
'Hahaha, lucu sekali ... Aku saat itu sedang mag, aku kira dia ... benar-benar konyol, namun aku menghargai ketulusannya. Dan di saat itu aku benar-benar menyadari bahwa aku jatuh cinta, dan aku teguh akan pendirianku,' batin Felicia.
"Kita duduk di sini dulu ya?" ucap Ansel.
"Hmm ..." jawab Felicia dengan menundukkan kepalanya, ia merasa malu dengan wajahnya yang saat ini merona.
__ADS_1
Ansel pun duduk di samping Felicia, ia terus tersenyum seraya memandangi pemandangan yang ada di depan matanya. Sedangkan Felicia sendiri justru memandang secara diam-diam wajah tampan Ansel.
'Pria ini benar-benar bodoh dan konyol seperti dulu, ia sama sekali tak berubah. Yah dia adalah pria idaman ku, pria impianku selama ini, sampai hari itu aku baru menyadari perasaan ku padanya. Sudah lama rasa suka ini, rasa cinta ini padanya,' batinnya seraya tersenyum.
Ansel pun melirik ke arah Felicia, namun Felicia langsung mengalihkan pandangannya ke taman bunga yang ada di samping kirinya.
"Hmmm," Ansel tersenyum, lalu ia pun berdiri meregangkan tubuhnya.
'Pria yang terlihat konyol, pria yang bodoh, pria yang gugup hanya karena aku. Ansel Arian Rendra, hari ini kamu benar-benar ...' batin Felicia tak melanjutkan ucapannya.
"Yuk kita ke sana!" ajak Ansel seraya mengulurkan tangannya.
"Hmm," jawab Felicia seraya menerima ukuran tangan Ansel, ia pun berjalan menuju tempat lain dengan bergandengan tangan, Felicia menggenggam tangan Ansel ia melihat tangannya yang di gandeng olehnya, Felicia tersenyum bahagia seraya pipinya merah merona.
'Hari ini aku harus mengutarakan perasaan ku!' batin Felicia.
Felicia pun menghentikan langkah kakinya, lalu ia melepaskan genggaman tangan Ansel. Lalu menarik baju the street yang sudah tak muat lagi.
"Hmm?" Ansel menghentikan langkahnya, lalu ia pun hendak memutar tubuhnya menghadap Felicia.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Felicia yang masih memegang erat baju Ansel.
"Ada apa?" tanya Ansel seraya memutar tubuhnya.
"Jangan balik badan!" seru Felicia, dengan wajahnya yang memerah.
Ansel pun kaget akan teriakan yang tiba-tiba itu, ia langsung serentak memutar badannya kembali, dan berdiri dengan tegap. "Baik!" jawabnya tak kalah seru.
Di tengah-tengah jalan yang begitu ramai, mereka berdiri tegap tanpa melihat satu sama lainnya, Felicia mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan perasaannya. Ia ingin mengungkapkan semua isi hatinya, walaupun sempat ia utarakan namun dengan pria yang aneh.
"Aku pikir ..."
"Balon balon, balon gratis, balon balon ..." seru seseorang yang membagikan balon.
"Aku ..."
"Semuanya lihat itu!" teriak pengunjung lain.
"Mama aku ingin balon," rengek salah satu anak yang lewat.
'Astaga! Jalan yang begitu ramai seperti ini, aku saja tak mendengar suaraku sendiri, bagaimana dengan Ansel ... hanya terdengar degup jantungku sendiri, apakah Ansel mendengar ucapanku?' batin Felicia dengan jantungnya yang berdegup begitu kencang, juga wajahnya yang sudah merah merona.
Hingga setiap orang yang berlalu lalang melihat ke arah Felicia, dan berbisik, "apakah dia sakit?"
"Ah tidak dia sepertinya sedang berkencan, anak muda jaman sekarang..." ucap seseorang yang lewat.
"Aku pikir ... Aku suka ..." namun sebelum ia menyelesaikan ucapannya, Ansel buru-buru memotong ucapan Felicia, Felicia semakin di buat terkesan. Ia tak percaya bahwa Ansel hanya terlihat konyol dan bodoh, tapi dia sebenarnya peka akan perasaannya selama ini. Felicia menengadahkan wajahnya menatap Ansel, ia benar-benar semakin terkesima akan pria yang ada di depannya.
"Aku sudah tau, kamu dari tadi mengatakan ini tapi kamu terus saja malu-malu. Aku tau apa yang mau kamu katakan," ujar Ansel seraya memutar tubuhnya.
"Tunggu sebentar ..." ucap Ansel setelahnya ia pergi dari hadapan Felicia.
__ADS_1
Felicia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, jantungnya benar-benar berdegup begitu kencang bak genderang yang di tabuh. Ia membuka matanya lebar-lebar, bibirnya menyambungkan senyuman.
'Akhirnya ... benar-benar tersampaikan juga ... Aku benar-benar senang hati ini, aku tak menyangka Ansel tau begitu cepat, dia peka terhadap perasaan ku selama ini,' batin Felicia tak percaya ia terus tersenyum bahagia.