Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
nilai yang buruk


__ADS_3

'Mengapa harus kamu... Yang membuat aku menyerah akan cinta ini kavin!' batin Hendra dengan tatapan kecewa akan dirinya.


Mendengar cacian dari mulut Hendra, kavin hanya terdiam. Ia tak menghindari pukulan darinya, atau mengelak akan cacian dari Hendra. Hendra pun tersenyum melihat ekspresi kavin yang siap untuk menerima pukulan tersebut, bak puching bag.



"Ah, perutku lapar... Ayo makan bersama?" ajak Hendra seraya menarik bekal yang ada di hadapan kavin.



"Enak saja, ini punyaku!" jawab kavin seraya menghentikan aksi Hendra.



"Ih pelit, cuman sedikit saja kok sayang! Kan aku juga yang meminta ini dari felicia!" seru Hendra.



"Tapi memang ini di siapkan untukku!" jawab kavin.



'Hahaha, memang aku tidak bisa membenci kamu kavin!' batin Hendra seraya menyenderkan kepalanya di tangannya.



"Tapi aku yang mengambilnya, beri lah aku sedikit saja, apakah kamu begitu tega?" ucap Hendra merengek.



"Baiklah, tapi kamu hanya boleh ambil hanya baksonya saja," jawab kavin seraya menarik kotak bekal miliknya.



"Ya ampun benar-benar kamu ini, aku loh yang membantu kamu barusan, dan juga mengambilkan bekal ini untuk kamu!" seru Hendra, mereka pun makan bersama bekal tersebut seraya beradu argumen dan bercanda ria di balkon sekolah.



Sementara Felicia sedang berada di ruang guru, ia menghadapi kesulitannya. Ia hanya bisa terdiam membisu menghadapi ocehan mr, hans yang begitu terlihat kesal padanya.



"Kamu benar-benar ajaib ya?" ucap mr, Hans dengan wajah kesal



"Ini pertama kali aku melihat nilai report seorang siswi yang sebagus ini! Aku sampai tidak bisa berhenti untuk menatapnya, benar-benar bikin kepala ku geleng-geleng, benar-benar ajaib," ujar mr, Hans yang tengah memandang report Felicia dengan serius.



Sedangkan Felicia begitu malu dengan setiap kalimat yang terdengar pujian namun sebaliknya, Ia benar-benar tidak memiliki wajah lagi. 'Astaga Pak! Tolong berhenti menatapnya Pak!' batin Felicia berteriak.



Namun mr, Hans tetap menatap nilai report Felicia. Ia merasa heran dengan anak didiknya yang satu ini, semua mata pelajaran nilainya sempurna. Namun berbeda dengan nilai matematika dan Fisika, Ia mendapatkan nilai yang begitu mengagumkan untuk di ulas dengan kata-kata.



"Pasti kamu melakukan banyak hal, dan berusaha sekuat mungkin agar bisa masuk ke sekolah ini." ujar mr Hans seraya menoleh ke arah Felicia dengan tatapan kasihan.


__ADS_1


'Uh, cukup mr! Kamu membuat aku merasa sakit hati!' gumam Felicia dalam hati dengan air mata yang bercucuran.



Mr hans pun mengambil report seseorang yang berada di paling atas report siswi lainnya, Ia tersenyum bahagia dan menunjukkan wajah bangga tak kala melihat raport tersebut. "Tetapi,..." ucapnya dengan membuka rapot tersebut.



"Kevin tidak terpengaruh sama sekali dengan apa yang baru saja menimpanya, padahal dia baru saja tertimpa musibah yang amat besar. Aku sungguh kagum pada anak itu, dia pantas di beri julukan anak jenius." ucap mr Hans, mendengar ucapan mr Hans yang menyebut nama Kevin sontak saja Felicia terkejut. Apa maksud perkataan mr Hans, musibah besar apa? Felicia bertanya-tanya dalam pikirannya.



"Eh, tunggu Pak. Kevin ... ada apa dengan keluarganya? Dia tertimpa musibah besar apa Pak?" tanya Felicia khawatir.



"Oh ya, aku baru ingat ... kemarin kan pas kamu ambil izin sakit, saat itu dia tertimpa musibah besar, kakek neneknya meninggal dunia, dia juga ambil izin selama sepuluh hari untuk ke pemakaman mereka," tutur mr, Hans dengan melihat nilai raport milik kavin.



Felicia pun tercengang, ia membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Ia merasakan sakit di dadanya, 'astaga! Ya Tuhan,' batin Felicia.



"Memangnya kemarin Kevin nggak bilang sama kamu?" tanya mr Hans.



Felicia hanya terdiam dengan merenungkan ucapan mr Hans, lalu membayangkan ucapan kavin di kala ia memberikan Kartu ujian ke rumahnya.


---


"Tidak akan ada seorang pun yang akan kembali,"



"Aku tinggal bersama kakek dan nenekku,"



"Oh kapan mereka akan kembali?"



"Mereka... juga tidak akan kembali untuk waktu yang lama,"


---


'Kenapa waktu itu aku sangat tidak peka! Kenapa aku nggak menyadari ucapan dan maksud ucapan kavin! Aku benar-benar wanita yang bodoh dan tidak berperasaan!' batin Felicia mengutuk dirinya sendiri.


'Saat itu... Aku bahkan tidak memberikan support atau bahkan kata-kata untuk menghibur dia!' gumamnya dengan menggigit bibirnya, Ia merasa kesal terhadap dirinya sendiri, Ia merenungkan nasib kavin saat ini. Namun tiba-tiba Ia di kejutkan oleh suara seseorang yang Ia rindukan.



"Apa anda mencari saya pak Hans?" ujar kavin yang kini sudah berada di belakang Felicia.



Felicia pun terkejut, lalu menoleh ke arah si pemilik suara tersebut. 'Kavin!' batin Felicia seraya melihat kavin yang berjalan ke arahnya.


__ADS_1


"Ya, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu..." jawab mr, Hans.



Kavin pun berdiri tepat di samping Felicia, mata Felicia tak sedikitpun berpaling dari kavin, Ia terus menatapnya dengan tatapan kasihan dan sayang. Kavin tak menoleh ke arah Felicia, ia membiarkan Felicia menatapnya.



"Kesini sebentar," ujar mr Hans, lalu kavin pun melangkah ke arah arah mr Hans, Dan berdiri di samping meja mr Hans.



"Lihat, ini adalah nilai rapot teman sebangku kamu. Menurutmu apakah masih ada harapan?" tanya mr Hans seraya menunjukkan nilai rapot milik Felicia pada kavin.



"Hmm," kavin pun terkejut, dan tak bingung untuk menjawab pertanyaan mr, Hans. Pasalnya nilai Felicia benar-benar tidak memungkinkan untuk lolos, bahkan nilainya jauh di bawah rata-rata.



Felicia menundukkan wajahnya, ia merasa kecewa pada dirinya dan juga malu akan nilai yang Ia dapat. Ia hanya fokus membuat komik atau mengarang cerita romantis, bahkan saat menjelang ujian pun Ia sibuk dengan komik, tidak membuka bukunya sama sekali.



Kavin dan mr, Hans berdiskusi bagaimana untuk membuat Felicia lulus dengan nilai yang bagus dan jujur. Mereka pun berdiskusi, Felicia tidak mendengar mereka berdiskusi Ia masih berada di pikirannya sendiri.



"Hm, kalau begitu tolonglah dia,"



"Baik, kalau begitu kami permisi undur diri," ujar kavin.



Setelah selsai berdiskusi, Felicia maupun kavin keluar dari kantor mr, Hans. Felicia hanya menundukkan wajahnya, Ia masih memikirkan nasib kavin yang hidup dengan sebatang kara.



"Kavin ..." panggil Felicia.



"Ya?"



"Maaf," ucap Felicia dengan nada sendu.



"Aku sungguh-sungguh minta maaf kavin," sambungnya seraya menatap lekat punggung kavin yang begitu kekar.



"Hari itu aku ..." Felicia terhenti dari ucapannya, tak kala kavin langsung menunjukkan nilai matematika milik Felicia tepat di wajahnya. Felicia seketika langsung terdiam dengan wajahnya yang memerah.



'Ahh... Astaga!' Felicia membulatkan kedua matanya dengan sempurna seraya mulutnya menganga.

__ADS_1



"Aaaahhhh!" teriak Felicia dengan menarik lembar kertas tersebut dari tangan kavin dengan secara paksa, Ia merasa malu dengan nilai matematikanya itu. Ia melipat lalu masukkan ke dalam saku bajunya dengan wajah yang merah semerah tomat matang.


__ADS_2