Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
38. melihat Felicia berpelukan


__ADS_3

Atika dengan sengaja mengajak Ansel untuk melihat ke arah segerombolan hantu, namun bukan itu niatnya. Ia berniat menunjukkan kekasih masa kecil Ansel yang kini sedang asik berpelukan dengan pria lain.


"Banyak banget ya di sini hantunya, seru juga!" ujar Atika seraya menunjuk ke arah di mana ada hantu yang mendekati Felicia.



"Lihat itu, hahaha lucu sekali," seru Atika dengan penuh makna.



"Iya ya," jawab Ansel.



"Eh," namun sedetik kemudian ia melihat ke arah di tunjuk Atika itu, ia melihat seseorang yang amat ia kenal. Matanya membulat dengan sempurna, ia benar-benar marah akan apa yang ia lihat.



'Hehehe berhasil,' batin Atika setelah melihat ekspresi yang di keluarkan Ansel.



'Akhirnya dia melihat dia juga,' sambungnya dengan senyuman licik.



Ansel terdiam membisu, ia melihat ke arah wanita yang saat ini berada di tengah-tengah kerumunan hantu dan di peluk oleh seorang pria. Ansel mengepalkan kedua tangannya, amarahnya benar-benar sudah tidak bisa di kendalikan.



'Bukannya ini adalah kegiatan kelas? Kenapa mereka hanya berduaan di sini?' gumam Ansel.



'Beraninya dia memeluk Felicia ku!' batin Ansel seraya melangkahkan kakinya.



"Sialan!" gerutu Ansel dengan langkah besar, Atika yang melihat kekasihnya begitu marah karena melihat Felicia berpelukan. Ia pun semakin cemburu. Atika menghentikan langkah Ansel dengan menarik lengan Ansel dan menunjukkan wajah imutnya.



"Ansel, apa yang baru saja kamu ucapkan?" tanya Atika dengan wajah polos.



Namun Ansel tidak menghiraukan Atika, mengibaskan tangannya hingga genggaman tangan Atika terlepas begitu saja. Atika menggertakkan giginya, dan mengepalkan tangannya.



"Tunggu Ansel! Kamu mau ke mana?" ucap Atika dengan nada manja.



"Ansel!" panggil Atika seraya menggapai tangan Ansel, namun Ansel menghindarinya.



'Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Aku tidak akan membiarkan kamu pergi ke sana!' batin Atika dengan air matanya yang mengalir, ia pun berlari mencoba mengejar Ansel, namun kakinya dengan sengaja menyenggol kaki sebelahnya, sehingga ia terjatuh ke aspal.



"Aduh!" seru Atika, yang kini bersimpuh di atas aspal, Atika menangis sesenggukan, karena sakit hati. Ia benar-benar terobsesi dengan Ansel.


__ADS_1


"Ansel! Aku jatuh!" teriak Atika sekencang mungkin, agar Ansel bisa berhenti dari langkahnya.



"Ansel..." panggil Atika dengan isak tangisan.



Ansel pun menghentikan langkahnya seketika, sedangkan Felicia mendengar seorang wanita yang memanggil nama yang tak asing baginya, ia pun menoleh ke arah suara tersebut. Dan ia langsung melihat wajah pria yang membuatnya sakit hingga jatuh pingsan.



Mata Ansel dan Felicia kini saling bertemu, namun dengan jarak yang lumayan jauh. Mereka saling bungkam dan terkejut. Mereka berada di pikiran masing-masing, Ansel yang merasa tersakiti dan kecewa, begitu pula dengan Felicia yang masih tersakiti oleh Ansel.



'Feifei... Jangan-jangan dia...' batin Ansel dengan tatapan kecewa.



'Eh, Ansel! Kenapa Ansel bisa berada di sini?' batin Felicia.



"Ansel! Ah sakit... Kakiku terkilir," teriak atika dengan air mata yang terus mengalir, seraya memegangi kakinya yang keseleo yang di sengaja di buatnya.



'Meskipun aku harus melukai diriku sendiri aku rela, asal kamu jangan pergi dari sisiku Ansel! Aku nggak bakal rela! Aku akan tetap membuat kamu selalu berada di sisi ku untuk selamanya!' batin Atikah dengan menggertakkan giginya.



"Sakit... Hiks hiks... Kakiku sakit," Atika merintih kesakitan seraya memijit kakinya yang mulai membengkak.




"Ansel!" panggil Atika.



Ansel pun mengigit bibirnya, lalu berjalan ke arah Atika. Ia pun mengangkat tubuh Atika dengan gaya ala bridal style. "Apakah sakit banget?" tanya Ansel dengan lembut.



"Iya, sakit banget, kalo nggak sakit aku nggak mungkin nangis kan?" jawab Atika dengan nada manja.



'Ansel... ' batin Felicia dengan terus menatap kepergian Ansel seraya menggendong kekasihnya itu.



"Di bagian mananya yang sakit?" tanya Ansel, seraya berjalan menuju kursi yang ada di taman.



"Au... Sakit, di bagian pergelangan yang sakit," keluh Atika.



"Oh," jawab Ansel dengan wajah datar, ia masih memikirkan Felicia.


__ADS_1


'Feifei...' batin Ansel, seraya menoleh ke arah Felicia yang kini tengah menatapnya.



"Ceroboh sekali sih, kenapa sampai kamu terkilir begini? Lain kali jangan menggunakan sepatu hak tinggi lagi," ujar Ansel seraya memijit kaki Atika.



"Iya, maaf aku..." jawab Atika dengan nada manja, ia pun memeluk tubuh Ansel seraya menatap ke arah Felicia dengan tatapan meremehkan. Ia merasa akan kemenangan di hatinya, karena telah berhasil membuat Ansel meninggalkan Felicia dan memilih dirinya.



'Sungguh kasihan sekali kamu, meskipun kamu menunjukkan ekspresi seperti itu... Ansel akan tetap memilih aku dan pergi meninggalkan kamu!' batin Atika.



"Ya sudah sebaiknya kita segera pulang!" ajak Ansel seraya menggendong tubuh Atika bak bridal style.



"Hmmm," jawab Atika seraya melingkarkan tangannya di leher Ansel, ia pun tersenyum bahagia dan puas. Bahwa jebakannya berhasil.



'Yey... Ansel memilih aku, sungguh senangnya. Sudah aku duga bahwa Ansel benar-benar suka dengan aku!' batin Atika dengan menyenderkan kepalanya di dada bidang Ansel.



Sementara Felicia masih saja menatap kemesraan mereka, hingga mereka benar-benar hilang dari pandangannya. Namun untung saja ada Kavin yang selalu ada untuk Felicia. Kavin pun mengusap pipi Felicia dengan lembut, lalu memakaikan topeng pada wajah Felicia untuk menutupi kesedihan pada wajah Felicia.



"Hmm, sekarang terlihat lebih baik," ujar Kavin seraya menundukkan kepalanya.



'Kavin...' batin Felicia seraya menatap dengan penuh haru dari balik topeng yang ia kenakan.



"Hmm, sudah jam seberapa ini? Ayo kita sebaiknya segera kumpulkan stempel lainnya, masih kurang empat lagi," ajak Kavin, seraya mencoba mengalihkan perhatian Felicia. Agar ia tak tenggelam dalam kesedihannya.



"Ok!" jawab Felicia.



Kavin pun menggandeng tangan Felicia yang begitu dingin, entah karena sakit hati dan rasa gugup atau karena udara malam itu. Mereka terus bergandengan di sepanjang jalan tanpa melepaskan satu sama lainnya, hingga akhirnya selesai juga mereka mengumpulkan stempel tersebut.



'Yah, pada akhirnya kita memilih jalan yang berbeda. Dan pada akhirnya kita akan menuju jalan dan tujuan yang berbeda juga... Sekarang aku lebih baik melihat ke arah yang lebih cerah lagi, mungkin ini sudah jalannya untuk kami. Aku akan maju terus tanpa Ansel! Dan menemukannya jalan lain untukku tuju,' batin Felicia seraya menatap punggung Kavin.



"Eh, lihat itu..." ujar Felicia seraya menunjuk ke arah rumah hantu.



"Eh," Kavin sedikit bingung, pasalnya ia baru saja melihat Felicia yang ketakutan karna hantu Halloween. Lalu kini ia menunjukan ke arah rumah hantu.



"Maukah kamu menemani aku ke sana?" ajak Felicia dengan wajahnya yang memerah.

__ADS_1


__ADS_2