Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
cemburu


__ADS_3

Felicia berbalik badan dengan wajahnya yang tertunduk lesu, ia begitu lemas. Setelah mendengar banyak siswi-siswi yang mengagumi Kavin, banyak wanita yang lebih cantik menyukai Kavin, menurut Felicia.


"Hei... Apa kamu sudah dengar? Kavin mendapatkan peringkat pertama di seluruh siswa sekolah kita loh... Benar-benar deh, dia jenius banget!" ujar siswi yang berpapasan dengan Felicia.



"Ada apa sih! Apakah aku ada masalah dengan Kavin, Kavin itu! Perasaan aku nggak ada masalah deh sama jenius itu!" seru salah satu siswa, yang merasa tersaingi oleh Kavin.


Felicia terus melanjutkannya jalannya, ia menuju ke ruang kelas dengan wajah yang begitu muram. Entah mengapa Felicia merasa sakit juga merasakan gelisah di hatinya, ada bahagia dan bangga, namun ada rasa khawatir.


Sesampainya di ruang kelas ia dapati kavin yang tengah membaca buku, lalu Felicia berjalan ke arahnya,l dengan wajah tertunduk.



Greeett...



Felicia pun duduk di samping kavin, karena memang ia satu bangku tentunya. Felicia hanya terdiam seraya menatap ke arah jendela kaca, sedangkan kavin masih fokus membaca bukunya.



Tak lama kemudian Hendra dan Davira datang, "Wah, kamu keren banget! Kamu juara satu dalam satu sekolah ini loh," ujar Hendra seraya duduk di kursi nya menghadap kavin.



"..." kavin hanya bisa diam mendengar pujian tersebut, seraya meletakkan bukunya.



"Ah, sialnya aku... Aku harus merevisi semua soal ini, agar aku bisa dapat nilai B setidaknya," gerutu Hendra seraya balik badan.



Lalu Hendra pun mulai melakukan tugasnya, demikian Davira yang mendapatkan nilai B. Ia ingin mendapatkan nilai A seperti kavin.



Sedangkan Felicia masih memandang taman di sekolah dari jendela kaca, namun tiba-tiba bell sekolah berbunyi, Felicia pun Membenarkan duduknya kembali, Felicia mengambil kantong yang berisikan bekal sekolahnya.



"Hari ini aku tidak membawa bekal... Ke kantin yuk? Bantu aku bayar dulu ya?" ujar siswi lain seraya beranjak dari duduknya.



"Ok, santai aja deh..." jawab siswi lain lalu pergi dari ruang kelas 10D tersebut.



Felicia begitu gugup sejak kejadian tadi pagi, Felicia kini menatap ke arah tas hitam tersebut. 'Aku kasih aja kali ya? Seperti biasanya... Aduh kenapa sekarang jadi gugup gini sih!' gerutu Felicia dengan wajah yang merona.



Ia mencoba memberanikan diri, lalu menatap ke arah kavin yang kini tengah fokus membaca bukunya. "Kav..."



"Kavin!" Panggil para siswi yang mengaguminya.



Seketika kavin pun menoleh ke arah mereka, begitu pula Felicia melihat ke arah pintu, dan ia tercengang, tak kala melihat banyak siswi yang berbondong-bondong membawakan bekal untuk kavin.



"Eh,"


'Banyak sekali bekalnya,' batin Felicia dengan menundukkan wajahnya, seraya menyembunyikan bekal miliknya.

__ADS_1



"Hai kavin!" sapa salah satu dari mereka dengan gaya centilnya.



"Apa yang ingin kamu katakan barusan?" tanya kavin, ia tak menghiraukan gadis-gadis lain selain yang kini tengah menunggunya di depan pintu.



"Eh, bukan apa-apa kok... Cepatlah pergi! Mereka semua menunggu kamu itu!" jawab Felicia seraya tersenyum.



"Kalau begitu, aku pergi menemui mereka sebentar ya," ujar kavin seraya beranjak dari tempat duduk nya.



"Iya," jawab Felicia masih dengan senyumannya.



Felicia menatap punggung kavin yang semakin menjauh darinya, lalu ia berpindah menatap bekal yang ada di tangannya. 'syukurlah, bagus deh... Banyak wanita yang memberikan kavin bekal, jadi dia tidak akan kelaparan lagi,' batin Felicia seraya menatap sedih bekal miliknya itu.



"Fei!" panggil Hendra membuat lamunan Felicia buyar seketika.



"Hm!" jawab Felicia dengan kepala menunduk.



"Kamu bawa bekal nggak? Ke kantin yuk?" ajak Hendra dengan berbalik menghadap Felicia, begitu pula Davira.




"Mm... Iya bekal..." jawab Hendra dengan panik.



"Bekal untuk hari ini aku justru membawa terlalu banyak! Hahaha," ucap Felicia dengan tawa yang mengerikan.



Davira menatap ke arah Felicia dengan tatapan datarnya, ia bergumam. "Aura pembunuh Felicia akhirnya keluar juga,"



"Ini bekal! Makan! Cepat makan! Aku akan membunuh kalian berdua jika kalian tidak memakannya dengan habis!" Seru Felicia seraya menyerahkan dua bekal miliknya, dengan menggebu-gebu.



"Iya, iya baik!" jawab Hendra dengan keringat dingin, ia benar-benar takut melihat Felicia yang seperti ini, pasalnya Felicia selalu diam dan ramah. Tidak pernah menampakkan wajah muram dan galaknya, namun kali ini bukan hanya galak aura pembunuh Felicia pun begitu kuat.


---


Hendra dan Davira pun membuka bekal tersebut, lalu mulai memakannya, "wow! Rasanya benar-benar enak banget!" ujar Hendra, sedangkan Davira hanya membuka bekal tersebut, menunggu Felicia reda dari amarahnya.


'Tapi... Rasanya sama seperti bekal kavin yang waktu itu,' batin Hendra dengan matanya terus menatap bekal tersebut dengan suram.



"Wah! Aku tak menyangka feifei bisa memasak bekal seenak ini!" ucap Hendra memuji Felicia. Namun Felicia tak menghiraukan pujian dari Hendra, di tambah lagi ia melihat wajah Felicia yang berseri-seri dengan terus fokus menatap ke arah luar jendela.


__ADS_1


"Fei!" panggil Hendra.



"Iya," jawab Felicia tanpa mengalihkan pandangannya.



Hendra pun melihat ke arah yang di pandang oleh Felicia, ia terkejut. Ternyata Felicia terus menatap ke arah kavin yang kini tengah di sibukkan oleh para wanita-wanita. Hendra tersenyum miris, ia mencoba meyakinkan hatinya, bahwa bekal yang selama ini kavin makan bukan buatan Felicia, dan yang di sukai Felicia bukan kavin. Namun kenyataannya begitu pahit.



"Kavin! Ini silakan makan bekal ku saja,"



"Kavin ini bekal buatan tanganku sendiri loh! Yang lain pasti di buatkan oleh mamanya,"



"Enak saja! Aku juga membuat sendiri! Ini kavin, aku membuatnya cukup lama, terimalah!"



Mereka semua saling berebut untuk makan siang kavin, namun kavin tetap diam dan mematung. Ia bingung ingin mengakhiri semua itu dengan cara apa.



"Fei!" panggil Hendra untuk kedua kalinya, namun kali ini Felicia menoleh dan menatap Hendra.



"Iya?" jawab Felicia dengan nada lemas.



"Bekalnya.. Bolehkan aku makan bersama temanku?" tanya Hendra.



"Boleh, asal tak tersisa... Kan aku bilang tadi, makan sampai habis tak tersisa," jawab Felicia dengan suara lemas.



"Hmm, makasih banyak ya?"



"Sama-sama,"



"Kalau begitu, aku permisi mau menemui temanku dulu," ujar Hendra, lalu ia pun menutup bekal tersebut. Hendra pun beranjak dari duduknya lalu keluar dari kelas 10D. Ia menenteng bekal tersebut, lalu menghampiri kavin.


---


"Kavin! Cobalah ini masakan aku yang pertama, aku ingin kamu yang pertama yang mencicipi masakan ku,"



"Kavin! Kavin! Bekal yang di buat mamaku sangat enak loh!"



"Hah..." kavin merasa tertekan akan desakan para wanita-wanita tersebut, ia begitu tak enak hati untuk menolaknya. Namun juga tak mungkin untuk menerima semuanya.



"Maaf, sebenarnya..." Kavin dengan tak enak hati mencoba menolaknya namun, di tengah-tengah ucapannya tersebut seseorang memeluk tubuh kavin dari belakang dengan tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2