
'Kavin bagaimana sebenarnya kehidupan kamu selama ini? Kamu masih seumuran denganku, tapi sepertinya kehidupan nya pe uh dengan tragedi, itu sebabnya kah? Dia menutup matanya juga menutupi kesedihan nya,dia sebenarnya melindunginya dirinya sendiri. Apakah dia tidak punya siapapun?' batin Felicia seraya menatap ke arah Kavin yang saat ini berdiri melihat kota dari dinding kaca.
"Kavin?" panggil Felicia dengan nada lemah lembut.
Kavin pun memutar tubuhnya, hingga kini mereka bertatap muka. 'Kalau begitu setidaknya . .. Biar aku melakukan sesuatu untuknya,' batin Felicia dengan keberanian.
"Hm?" jawab Kavin.
"Mulai hari ini aku akan membawakan makan siang untukmu," ucap Felicia dengan memiringkan kepalanya, begitu imut dan polos. Dengan wajahnya yang berseri-seri tersenyum begitu lugu dan tulu, membuat Kavin tersipu, terlihat dari telinganya yang merah.
"Eh," jawab Kavin tertegun akan ucapan Felicia.
"Bagaimana? Jadi kamu setuju kan?" tanya Felicia dengan penuh semangat.
'Meskipun hanya sekali__' batin Felicia dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
'Aku ingin sekali melihat senyum di wajahmu Kavin,' sambungnya.
Setelah selsai berbincang, Felicia mengambil tas ranselnya yang ada di lantai pertama kali ia melihat Kavin terbengkalai di sana. Setelah selesai di kenakan ia membuka tas tersebut dan mengambil selembar surat ujian sekolah untuk Kavin.
"Oh iya, ini kartu ujian kamu dan kisi-kisi ujian tengah semester untukmu besok, dan Pak Hans bilang jangan lupa menempelkan fotomu di sebelah nya, ... Aku pamit pulang ya?" ujar Felicia, ia membayangkan foto Kavin yang akan terpanjang di sebelah kartu ujiannya dengan matanya yang unik, Felicia merasa perutnya terkoyak geli.
"Aku antar," ujar Kavin seraya menggunakan jas miliknya yang ukuran jumbo. Entah jaket milik siapa, mungkin saja jaket peninggalan sang Papa ataupun sang kakek.
"Eh, tidak perlu repot-repot. Kamu sebaiknya istirahat saja, lagian rumahku dekat dari sini. Kamu pulihkan saja tenaga kamu," tolak Felicia dengan menggerakkan kedua tangannya.
"Aku sudah cukup beristirahat ... aku juga sekalian ingin mencari angin segar," jawab Kavin dengan tegas.
'Jangan-jangan ... Teori ku benar,' batin Felicia, entah pikiran aneh apa lagi yang ia pikirkan.
"Ayok!" Ajak Kavin setelah selsai menggunakan jaketnya dengan rapih.
"Ok!" jawab Felicia dengan wajah datar.
---
Mereka pun sudah sampai gang yang akan menuju taman, sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam. Kavin yang menuntun jalannya sedangkan Felicia membuntuti Kavin dengan wajahnya yang gugup. Pikirannya penuh akan hal-hal yang di luar jangkauan nya, Felicia sering baca novel dan komik hingga ia selalu berpikir yang berlebihan.
'Dia terus beristirahat! Apakah untuk pemulihan operasi plastik di wajahnya?' batin Felicia dengan ekspresi wajahnya yang begitu jelas.
'Kavin!' panggilnya dalam hati.
__ADS_1
'Tak ku sangka dia begitu peduli akan penampilannya,' pikir Felicia seraya menatap lekat punggung Kavin.
"Oh iya! Makanan apa yang kamu suka?" tanya Felicia mencoba memecahkan keheningan yang ada.
"Makanan kesukaan aku__" ucap Kavin seraya memutar kepalanya.
"Iya," jawab Felicia dengan senyuman yang manis.
"Tunggu dulu, aku akan catat di ponsel ku agar tak lupa," ucap Felicia seraya merogoh tasnya.
Namun Kavin tak sengaja melihat sepasang kekasih yang sedang berjalan bersama menuju ke arahnya, mereka terlihat begitu manis dan harmonis. Kavin terkejut saat mereka semakin mendekat ke arahnya, 'eh itu ...' batin Kavin.
"Eh, aneh di mana ponsel milikku, jangan bilang tertinggal lagi di kelas apa di rumah kamu," gumamnya seraya menunduk mencoba mencari ponselnya yang terselip.
Ansel begitu bahagia terlihat wajahnya yang terus berseri-seri, sedangkan Kavin semakin panik karena sepasang kekasih tersebut semakin mendekat ke arahnya. 'Gawat! Bagaimana ini mereka semakin mendekat ke arah kami,' batin Kavin seraya memutar kepalanya melihat ke arah Felicia yang ada di belakang nya.
"Seharusnya aku tak masukan ke dalam tas, ah jadi begini kan," gumamnya seraya mengacak-acak isi tasnya.
"Ah, ketemu juga kamu!" sambungnya tersenyum bahagia setelah ponselnya ketemu di tengah-tengah buku.
"Oke! Beri tahu aku, apa makanan kesukaan kamu? Biar aku catat," tanya Felicia, seraya menyalahkan ponselnya.
Bukan jawaban yang keluar dari mulut Kavin, justru ia ikutan jongkok dan menudungi dirinya dengan jas hitam yang ia kenakan.
'Eh! Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba menjadi cosplay mendadak begitu?' Felicia terkejut, ia merasa aneh pada diri Kavin yang tiba-tiba ikut jongkok dan menutupi dirinya menggunakan jas tersebut dengan begitu rapat.
'Astaga! Aku benar-benar tidak mengenal Kavin sama sekali!' batinnya.
Srak ....
Srak ....
Srak ...
"Benarkah?" tanya Ansel kepada kekasihnya, namun mereka di kejutkan oleh sepasang kekasih yang sedang bertindak tak senonoh.
"Iya," jawab Atikah tersenyum riang.
Ansel dan Atikah berhenti sejenak karena terkejut melihat perlakuan sepasang kekasih yang sedang asik melakukan olahraga di siang hari, pikir Ansel.
"Dasar mesum!" umpat Ansel dengan tatapan jijik.
__ADS_1
"Sudah ayok cepat sebaiknya kita abaikan saja," sambungnya seraya merangkul Atikah jalan.
"Mesum!" umpat nya lagi.
'Harusnya terhalangi tadi,' batin Kavin dengan wajahnya yang gugup.
"Kavin?" Panggil Felicia.
"Eh, iya?" jawab Kavin seraya menatap wajahnya cantik Felicia.
"Kamu sehat?" Tanya Felicia dengan menunjukkan ekspresi datar.
Kavin terdiam sejenak setelah melihat ekspresi yang di keluarkan Felicia, ia menjadi canggung dan bingung untuk menjelaskan pada Felicia. Begitu jelas Felicia merasa aneh akan tingkah konyol Kavin saat ini.
"Eh, itu ... Sebenarnya__" ucap Kavin mencoba menjelaskannya pada Felicia namun sedikit ragu.
"Kalau sedang tidak sehat katakan padaku, dan katakan padaku makanan kesukaan kamu," ucap Felicia panik, namun ia tak menyadari sesuatu jatuh di atas kepala nya.
"Ah, Laba-laba__" ucap Kavin dengan santainya.
"Ah, Laba-laba kamu bilang!" Seru Felicia dengan wajah tak percaya.
'Ya ampun Kavin! Ternyata selera makan kamu begitu berat!' batin Felicia, ia mengira Kavin menjawab pertanyaannya tentang makanan kesukaannya, ia tak menyadari sesuatu telah berjalan di atas kepalanya.
"Meskipun bahannya sulit di cari akan aku usahakan, dan akan mencoba memasak kan untukmu, katakan mau di masak seperti apa? Oseng? Goreng tepung? Pedas tidak?" tanya Felicia dengan wajah serius.
"Maksudnya __ di atas kepala kamu ada laba-laba," jelas Kavin dengan santainya.
"Oh," jawab Felicia dengan wajah datar, ia belum menyadari akan ucapan Kavin barusan.
"Apa!" Setelah beberapa detik kemudian Felicia sadar dan terkejut, ia membelalakkan kedua matanya.
'Eh jatuh,' batin Kavin setelah melihat laba-laba tersebut terjun dari rambut Felicia.
"Ahhhhhhh!" teriak Felicia serta menghamburkan tubuhnya pada Kavin.
Ia menjerit sekencang mungkin seraya memeluk erat leher Kavin, ia tak menyadari akan perlakuan nya. Ia hanya fokus akan teriakannya dan rasa panik yang ada pada dirinya, Felicia begitu takut akan serangga.
"Cepat ambil!" teriak Felicia.
"Aku benar-benar benci serangga!" Sambungnya dengan air matanya yang mengalir.
__ADS_1