
"Kavin?" panggil Felicia seraya memastikan Kavin baik-baik saja.
Namun terdengar Kavin yang mendengkur, Felicia pun merasa lega dan mengusap dadanya yang begitu panik. 'Huft, untunglah dia hanya tertidur... Aku kira dia jatuh pingsan lagi," gumam Felicia dalam hatinya seraya tarik napas lega.
Felicia pun menatap wajah Kavin dengan penuh kelembutan, tanpa ia sadari Kavin pun menatap wajahnya dari balik poninya yang menutupi wajahnya. Felicia membaringkan kepalanya menghadap Kavin yang kini tertidur pulas, Pikir Felicia.
'Kavin ... Apakah kamu masih bekerja paruh waktu di berbagai tempat?' batin Felicia.
"Hmm, bisa-bisanya kamu tertidur di tempat seperti ini dengan begitu pulas nya," gumam Felicia seraya mengulurkan tangannya ke arah kepala Kavin namun tanpa ia sadari, setelah itu ia sadar apa yang coba tangannya lakukan. Ia pun menatap tangannya yang hendak menyentuh kepala Kavin, dan menghentikan aksinya.
"Maaf! Kamu sangat lelah, tapi masih saja mau membantu aku untuk belajar," gumam Felicia seraya menarik kembali tangannya.
Grep...
'Eh!' Felicia di kejutkan dengan tangannya yang tiba-tiba di genggam erat oleh Kavin yang masih tertidur.
"Jadi ... Aku yang kalah ya? Aku yang tertidur duluan?" tanya Kavin dengan nada lemas, namun ia masih tetap pada posisinya dan tidak melepaskan genggaman tangannya.
"Hoaammm, ternyata aku payah dalam kontak mata, aduh parah banget sih aku ini, malah sok ngajak berduel lagi," ucap Kavin seraya mengangkat kepalanya.
Felicia tidak mendengarkan ucapan Kavin sedikitpun, ia mersa begitu gugup dan nerves dengan keadaannya saat ini, 'astaga! Tanganku itu, jantungku serasa mau copot!' batin Felicia dengan wajahnya yang merah padam.
Bukan hanya wajahnya yang merasakan panas, namun kali ini Felicia merasakan hal aneh pada tubuhnya. Ia sendiri merasa bingung dan gelisah akan reaksi yang di dapat. "Bagaimana kalau ..." lanjutnya seraya menatap ke arah Felicia, dengan mengacak-acak rambutnya.
"Kita melanjutkan dengan lomba kedip mata? Siapa yang berkedip lebih dulu dia yang kalah?" ucap Kavin seraya menunjukkan matanya yang unik.
"Eh," Felicia terdiam, lalu mencerna ucapan Kavin yang baru saja keluar dari mulutnya, sedetik kemudian wajah Felicia berubah seakan-akan penuh dengan tekanan.
'Astaga Kavin! Tolong kondisikan wajahmu! Kenapa kita tidak langsung ke materi saja? Kenapa malah menjadi permainan yang sangat mengerikan seperti ini!' batin Felicia dengan wajah pucat.
'Astaga! Lalu siapa yang menciptakan kedua mata Kavin dengan keadaan yang terbalik seperti itu? Lagian aku yakin aku tidak akan menang melawannya, rasanya menjadi aku ingin pulang sekarang! Atau melihat siapa yang bisa menjulingkan matanya seperti itu!' batin Felicia.
"Aku ingin pulang saja," ucap Felicia dengan wajah menunduk.
"Eh," mendengar ucapan Felicia, Kavin tertegun ia pun paham Felicia sudah merasa tak nyaman.
"Baiklah, kita mulai membuka bab awal, kita kenali yang mudah terlebih dahulu, kita akan menghapal rumusnya lebih dulu," ucap Kavin dengan membetulkan poninya lalu mengambil tas miliknya dan mengambil buku matematika.
__ADS_1
Felicia pun merasa lega, ia beranjak dari duduknya dan kembali duduk di kursinya sehingga kini mereka bersebrangan.
---
Di sisi lain...
Ting tong...
Ting tong...
"Ia, tunggu sebentar!" seru mama Felicia yang sedang menonton drama di TV.
"Eh, nak Ansel?" ucap mama Felicia setelah membuka pintunya, dan terlihat Ansel yang telah berdiri di depan pintunya.
"Masuk nak," sambungnya lagi.
"Nggak bi, terimakasih. Saya kesini mau ajak Felicia untuk mengantarkan saya ke market bi, untuk beli belanjaan keperluan sehari-hari saya," ucap Ansel seraya tersenyum ramah.
"Eh, begitu? Tapi Felicia belum pulang dari sekolahnya," jawab mama Felicia.
"Eh, ini kan sudah sore bi? Masa jam segini masih belum pulang?" tanya Ansel.
"Oh begitu," ucap Ansel.
"Ya sudah, kalau begitu Ansel permisi dulu ya bi," ucap Ansel.
"Eh, nggak masuk dulu? Ada paman itu, seraya nunggu Felicia pulang," ajak mama Felicia ramah.
"Nggak deh bi, makasih. Nanti keburu malam, dan super marketnya keburu nutup, hehehe," jawab Ansel.
"Ya sudah, nanti datang main lagi ke sini kalau ada waktu senggang ya?" ucap mama Felicia.
"Em, selamat sore bi," salam Ansel, lalu ia pun pergi dari apartemen tersebut dengan wajah masam.
'Hmmm, Fei... apakah kamu menghindar dari ku?' batin Ansel.
Ansel pun berjalan dengan lemas menuju supermarket dekat taman, ia berbelanja makanan ringan maupun makanan siap saji.
__ADS_1
"Semuanya 250.000 rupiah," ucap kasir dengan sopan.
"Baik," jawab Ansel seraya menekan tombol skin untuk mode pembayarannya.
"Baik terimakasih, selamat datang kembali..." ucap sang pegawai market tersebut dengan membukakan pintu untuk Ansel.
Ansel pun langsung pulang, namun saat tiba di tengah-tengah jalan ia melihat dari jauh, Felicia yang sedang asik bercanda ria dengan seorang pria. Mata Ansel terbuka dengan sempurna, ia melihat Felicia berjalan berdampingan dengan seorang pria lain selain dirinya dengan begitu bahagia. Di bawah sorotan lampu jalan yang menyinari nya.
"Ah, kamu bohong kan? Hahaha," ucap Felicia di iringi gelak tawa.
"Tidak, aku jujur padamu. Aku bicara apa adanya," jawab Kavin.
"Hahaha, aku nggak percaya! Aku tidak menyangka kamu seorang yang bisa bicara lelucon seperti ini hahaha," ucap Felicia yang masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Kavin orang yang dingin.
'Eh, lagi-lagi Felicia dengan pria itu lagi!' gumam Ansel dengan wajah tak suka.
Lalu ia pun bersembunyi setelah melihat Felicia semakin mendekat ke arahnya, ia bersembunyi di balik tiang listrik yang ada di pinggir jalanan tersebut.
"Hahaha, Kavin. Wajahmu itu loh lucu banget, kamu bahkan bisa nggak tertawa sedikitpun saat kamu membuat lelucon," ucap Felicia.
"Eh, itu rumahku." ucap Felicia dengan menunjuk ke arah gedung apartemen yang ada di depan mereka. "Itu lantai empat, adalah tempat tinggal ku selama ini," sambungnya lagi.
"Sudah sampai sini saja, makasih banyak ya sudah mengantarkan aku pulang. Sampai jumpa besok lagi," ucap Felicia seraya tersenyum dan berjalan menuju apartemen.
"Sampai jumpa besok," jawab Kavin singkat padat dan jelas, tanpa mengeluarkan ekspresi sama sekali.
Kavin hanya diam di tempat dengan memandang kepergian Felicia, setelah memastikan Felicia masuk dengan selamat dan aman, dan bayangan Felicia telah menghilang. Kavin pun berbalik badan hendak pergi.
Namun ia menghentikan jalannya, tak kala melihat seseorang yang tak asing menghampiri Kavin dengan wajah penuh amarah seraya menenteng kresek.
"Hai?" sapa Ansel dengan wajah tersenyum.
"Sepertinya akhir akhir ini kita sering bertemu ya?" sambungnya lagi dengan senyuman remeh.
"Perkenalkan namaku Ansel, teman masa kecil Felicia. Kami juga tinggal satu gedung," ucap Ansel memperkenalkan diri seraya memberi tahu kan kepemilikannya.
"Aku Kavin, teman sebangkunya," jawab Kavin tanpa menerima jabatan tangan Ansel yang penuh kepalsuan.
__ADS_1