
'Apakah Kavin adalah waria!' gumamnya namun terlihat jelas dari ekspresi Felicia, hingga tiba-tiba Kavin pun menyadari akan pemikiran aneh Felicia tersebut.
"Pemilik toko menjanjikan upah tiga kali lipat, dan makan malam untukku, secara gratis. Jika aku menggunakan kostum wanita ini, jadi aku terpaksa. Lagian aku pikir tak akan ada yang mengenal aku ini, taunya kamu ..." jelas Kavin, sontak saja membuat Felicia tercengang dan panik, 'apakah dia bisa baca pikiran orang lain?' pikir Felicia.
Felicia pun tertunduk malu, seraya berpikir
kenapa si pemilik toko tersebut menyuruh Kavin seorang anak laki-laki untuk menggunakan pakaian wanita, di tambah pakaiannya yang benar-benar seksi. Atau apakah si pemilik toko tersebut adalah orang yang mesum atau cabul juga?
Kavin pun menoleh ke arah Felicia yang saat ini sedang memikirkan dirinya, ia mencoba meminta tolong namun sedikit ragu-ragu. "Em ... maaf, apa boleh aku minta tolong?" Ucap Kavin, sontak saja Felicia terkejut dari lamunannya, ia pun menoleh ke arah Kavin saat ini.
"Boleh minta tolong, tolong bantu aku lepaskan rambut palsu ini dari rambutku," jelas Kavin seraya menunjuk ke arah rambutnya.
Felicia pun beranjak dari duduknya, dan melangkahkan kakinya. Ia langsung membantu melepaskan rambut palsu tersebut. Namun di tengah-tengah melepas rambut palsu itu, Felicia tanpa sengaja melihat mata dan alis Kavin, terlihat bulu matanya yang tebal dan juga lentik, namun terlihat ada bekas luka di alisnya. 'Eh, terlihat mata yang indah, namun kenapa ada luka di alisnya? Apakah ini alasannya tidak mau memperlihatkan wajahnya? Karena luka itu?'
Hingga akhirnya Felicia pun di buat terkejut oleh Kavin yang tiba-tiba memutar kepalanya, "apakah sudah selesai?" tanya Kavin.
"Em, i-iya sudah lepas. Nih," jawab Felicia gugup, seraya memberikan rambut palsu milik Kavin.
"Makasih banyak yah?" ucap Kavin seraya mengelus rambutnya. Secara tiba-tiba Felicia pun mendekat kan wajahnya ke Kavin, sehingga membuat Kavin tercengang, namun tak terlihat begitu jelas ekspresi wajahnya, mereka terdiam sejenak. Hingga akhirnya Felicia membuka mulutnya dan mengeluarkan ucapan yang ia pendam beberapa menit lalu.
"Kavin? Apakah kamu ..." namun belum selesai mengucapkan kalimatnya Ansel tiba-tiba datang dari arah belakang seraya berteriak.
"Fei! Aku sudah selesai semuanya, ayok kita pulang!" serunya seraya melemparkan senyuman bodoh.
'Ah baru saja mau bertanya, anak ini selalu saja mengganggu keinginan tahuan ku!' umpat Felicia dengan wajahnya yang penuh kecewa.
Felicia pun berdiri dan berjalan ke arah Ansel, "aku pamit dulu ya? Sampai ketemu besok," pamit Felicia dengan melemparkan senyuman manisnya, namun tiba-tiba Kavin meraih tangan Felicia, hingga membuat Felicia terhenti dan memutar kepalanya.
"Soal hari ini, apakah boleh kamu merahasiakannya untukku?" ujar Kavin, Felicia pun tersenyum ramah seraya menganggukkan kepalanya, sebagai tanda ia setuju dengan permohonan Kavin. Namun tangan Kavin masih saja menggenggam begitu erat, seolah-olah tak rela melepaskan genggaman tersebut.
"Em, ini aku mau pulang dulu yah?" ujar Felicia seraya melirik ke arah genggaman tangannya, Kavin pun melepaskan genggamannya, seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
Felicia pun berjalan pergi meninggalkan Kavin, sedangkan Kavin mematung di tempat seraya melihat kepergian Felicia bersama Ansel.
__ADS_1
Pagi berikutnya,..
Felicia telah bersiap pergi ke sekolah, kali ini ia menggunakan training untuk melakukan kegiatan perkenalan seluruh siswa-siswi SMK tersebut. Felicia telah keluar dari rumahnya seraya menggunakan sepatunya. "Mah aku berangkat ya," pamit Felicia.
"Hei, ini bawa dulu bekalnya!" seru sang mama, seraya menyerahkan bekal untuk putrinya. "Hmm, makasih mah, ya sudah aku pamit dulu, bay bay mah." Felicia pun berlari.
'Musim panas di kota ini, tidak tahu kapan akan berakhir,' gumam Felicia seraya menatap langit yang begitu cerah di pagi hari, ia berjalan pelan seraya menghirup udara di pagi hari.
'Suara serangga yang begitu terdengar nyaring, tidak tahu kapan berhenti. Kehidupan SMK ku yang kutunggu-tunggu akhirnya kini di mulai, tapi ... Rencana ku untuk mengutarakan perasaan, rasanya sulit untuk aku ulang sekali lagi, untuk mengumpulkan keberanian ini. Tapi perasaan ini harus aku ungkapkan agar aku merasa lebih lega, aku yakin dia juga memiliki perasaan yang sama, hanya saja tak berani untuk mengutarakan nya padaku.' gumamnya, hingga tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya, siapa lagi kalau bukan Ansel.
"Pagi juga Ansel," jawab Felicia dengan menunjukan senyum yang manis, sedetik kemudian ia terkejut dengan penampilan Ansel saat ini, Ansel menggunakan pakaian yang bukan ukurannya, hingga memperlihatkan perutnya.
"Tapi rasanya panas sekali yah? Pagi-pagi begini padahal ... tapi aku sedah merasa gerah,"keluh Ansel dengan menunjukkan wajah lugunya, seraya mengelap wajahnya yang memang penuh dengan air keringat.
'Astaga! Lagi-lagi dia menggunakan pakaian yang mini, apakah dia tak malu? Atau tak sadar bahwa perutnya terlihat begitu? Apa yang terjadi pada selera pakaian kamu Ansel! Sungguh memalukan!' batin Felicia.
"Ah aku lupa, aku belum mengerjakan PR semalam, aku duluan yah?" ujar Felicia berdalih, ia segera memalingkan pandangannya.
__ADS_1
"Loh,baru saja bertemu ... Malah mau pergi lagi? Kamu sungguh terlalu," jawab Ansel dengan wajah muram, namun Felicia tidak menghiraukan ucapan Ansel, ia buru-buru menjauhi Ansel. Namun lagi-lagi ia di kejutkan oleh siswi lainnya.
"Hei! Bajumu kok di potong pendek sekali sih?" ujar seorang siswi yang melewati Felicia.
"Mana ada? Kamu malah lebih pendek dari aku!" jawab siswi lainnya yang ada di samping siswi tersebut, sontak saja membuat Felicia terdiam di tempat dengan mulutnya yang menganga tak percaya.
'Astaga! Apa apaan ini! Mereka lucu sekali, apakah mereka tidak malu?' umpat Felicia dengan memutar bola matanya, namun ia melanjutkan jalannya, hingga lagi-lagi bersebrangan dengan siswa yang sedang asik mengobrol, ia melihat cara berpakaian mereka.
'Astaga! Apakah aku yang ketinggalan jaman? Atau apakah aku yang terlalu kuno dan tak tau fashion masa kini?' gumam Felicia merasa kesal.
"Hei bro!Apa kabar? Kemarin aku baru saja mengecilkan lingkar kaki celana ku, gimana keren kan?" ucap pria tersebut dengan bangganya.
"Baik, woh iya keren samaan kita, tapi bajuku j ini terlihat lebih longgar? Ah besok aku akan mengecilkannya," jawab pria satunya dengan merangkul pundak sahabatnya itu.
'Ah, masa sih seleraku bermasalah!' gumam Felicia alam hati, ia pun buru-buru menuju ruang kelasnya.
Sesampainya di ruang kelas, ia berhenti sejenak di pintu masuk ruang kelas tersebut.
__ADS_1