Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
22. pemandangan yang begitu menyakiti hati


__ADS_3

"Halo? Apakah kamu sudah baikan?" tanya Kavin.


"Eh, iya aku sudah merasa lebih baik," jawab Felicia. Namun sebenarnya Ia masih begitu lemas.


"Oh syukurlah, Bisakah kita bertemu?" tanya Kavin.


"Hmm, di mana?" tanya Felicia.


"Di taman," jawab Kavin.


"Hmm, baiklah aku akan segera ke sana," jawab Felicia lalu panggilan pun berakhir, Felicia beranjak dari tidurnya, lalu berjalan menuju lemari, Ia membuka pintu lemari dan mengambil satu jaket, setelah itu ia gunakan.


Dengan tatapan matanya yang sayu dan wajahnya masih terlihat pucat, Ia keluar dari kamarnya dengan jalan perlahan. Mama Felicia yang sedang duduk bersama sang suami langsung beranjak dari duduknya.


Ia menghampirimu Felicia dan bertanya dengan wajahnya yang khawatir, "nak? Kamu mau ke mana?"


"Nak kamu mau beli apa? Biar Papa belikan saja ya?" sambung Papa dengan wajah panik.


"Nggak apa-apa mah pah. Felicia hanya lelah saja seharian tiduran terus, Fei ingin mencari angin segar di luar. Hanya sebentar saja kok," jawab Felicia seraya tersenyum.


"Oh begitu, kalau begitu cepat lah pergi dan cepat kembali ya? Jangan berlama-lama di luar. Kamu belum sembuh sepenuhnya," ujar mama seraya tersenyum.


"Oke mah," jawab Felicia.


"Tapi ..." sambung sang Papa merasa khawatir dan tak tega.


"Tidak apa-apa, biarkan dia pergi pah," ujar sang mama, seraya menyiku perut sang suami.


Felicia pun berjalan menuju pintu kedua orang tuanya melihat setiap langkah kakinya, sang Papa benar-benar khawatir dan tak tega. Namun sang mama justru ia penasaran akan sikapnya kepada Ansel yang tiba-tiba cuek dan tak ingin berjumpa lagi. Ia berfikir anaknya sedang sakit hati hingga Ia butuh angin segar.


Felicia pun pergi dari rumah, kini Ia berjalan menuju taman di mana tempat perjanjian berjumpa dengan Kavin. Dari rumah Felicia menuju taman hanya beberapa langkah saja. Hingga tak perlu untuk naik sepeda ataupun angkutan umum, cukup dengan jalan kaki lalu sampai.


---


Sesampainya di taman Felicia melihat Kavin yang tengah menunggu dirinya, dengan menyenderkan tubuhnya di sebuah pohon besar. "Kavin?" panggil Felicia.


Kavin pun menengok ke arah asal suara tersebut, lalu ia menghampiri Felicia. "Kamu sudah datang? Nih, obatnya. Maaf aku lupa memberikan obatnya kepada orang tuamu," ujar Kavin seraya menyerahkan keresek yang berisikan obat-obatan.


"Em, makasih banyak ya. Maaf merepotkan sampai mengantarkan obat ku kesini," ujar Felicia seraya menerima obatnya.


"Aku saja yang pelupa, jadi aku harus bertanggung jawab dan mengantarkan obat ini," jawab Kavin dengan wajah serius.


Mereka pun terdiam cukup lama, tak ada lagi hal untuk di ucapkan. Sehingga suasana menjadi canggung, mereka saling tatap, Felicia pun mengalihkan pandangannya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang saat ini merona. Begitu pula dengan Kavin, Ia hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, seraya menatap samping taman tersebut.


"Hmm, wajahmu terlihat pucat. Biarkan aku antar kamu pulang," ujar Kavin mencoba memecahkan keheningan.


"Em," jawab Felicia.

__ADS_1


'Sebenarnya hanya di ujung jalan doang,' batin Felicia.


Mereka pun berjalan menuju apartemen yang di tempati Felicia, tak butuh waktu lama akhirnya sampai di depan apartemen, Felicia pun berhenti dan memutar tubuhnya. "Sudah sampai," ujar Felicia seraya tersenyum manis.


"Aku pulang," ucap Kavin seraya menggaruk tengkuknya.


"Oke hati-hati," jawab Felicia, Ia pun memutar tubuhnya kembali. Namun saat Ia hendak melangkahkan kakinya, Ia di kejutkan oleh pemandangan yang amat menyakitkan.


"Ah," Felicia terkejut saat melihat sepasang kekasih yang sedang berciuman, Kavin yang mendengar suara Felicia yang terkejut pun menengok ke arah Felicia, Ia pun berjalan mendekati Felicia yang saat ini mematung.


'Itu Ansel dan ....'batin Felicia dengan menatap tajam ke arah Ansel, Kavin yang melihat ekspresi yang di keluarkan Felicia. Ia merasa kasihan dan ikut merasakan sakit di hatinya, Ia pun menjulurkan tangannya, lalu memakai kan tudung hoodie yang di kenakan Felicia, Ia menutupi wajah Felicia dengan tudung tersebut.


Lalu memutar tubuh Felicia agar menghadap ke arah dirinya, Kavin pun memeluk tubuh Felicia agar tak melihat adegan tersebut.


"Jangan menangis," ucap Kavin seraya mengusap kepala Felicia. "Jangan menangis," ulangnya, tubuh Felicia semakin bergetar menahan tangis dan rasa lemas di kakinya, Kavin menyadari hal tersebut.


---



\---


Pagi hari Gedung apartemen Viola....


Felicia sudah terbangun sebelum alarm membangunkannya, tak lama alarm ponselnya berbunyi.




Baru satu kali berbunyi Felicia buru-buru menekan tombol off, lalu ia pun turun dari ranjangnya. Ia melihat ke arah jendela Ia terlihat begitu tertekan akan kejadian semalam yang menimpanya.



Felicia pun berjalan menuju kamar mandi, seperti biasa Ia hanya cuci muka dan menggosok gigi. Lalu keluar mengganti pakaian nya dengan seragam sekolah.



'Mulai hari ini, aku akan terbangun 20 menit lebih awal, dan pergi ke sekolah lebih awal.' batin Felicia seraya mengikat rambutnya. Felicia pun keluar dari kamarnya, lalu minum susu dengan membungkus roti selai coklat.



"Mah aku berangkat ya?" pamit Felicia dnegan buru-buru, Ia pun berlari menuju sekolah, Ia mencoba menghindari Ansel, Ia tak ingin berangkat bersama maupun berjumpa dengan Ansel.


\---


Pukul 6:30 Felicia sampai di sekolah, Ia berlari sekencang mungkin agar tak berpapasan dnegan Ansel, ia tersenyum puas dengan wajahnya yang kelelahan, dan napasnya yang terengah-engah. Sekolah masih begitu sepi, Ia pun langsung menuju kelasnya dengan santai.

__ADS_1



"Hehehe, dengan begini aku tidak akan mungkin bisa bertemu dengan Ansel." gumamnya, Ia pun masuk ke dalam kelasnya kemudian menuju tempat duduknya yang paling ujung.



Street ...



Felicia menarik kursi duduknya, suara tersebut menggema di ruangan tersebut karena masih begitu sepi, hanya ada Felicia seorang. Ia pertama yang datang di sekolah tersebut, Ia tersenyum dengan wajah bodoh. "Fiuh, hanya aku Felicia yang bisa membuat rencana sesempurna ini," monolog nya seraya duduk di kursinya.



Felicia melihat seisi ruangan sekolah yang masih begitu hening, Ia pun menoleh ke arah samping, tempat duduk Kavin yang masih kosong.



Ia tersenyum seraya mengusap meja Kavin, 'dia belum juga datang? Untung semalam ada kamu, ' Gumamnya seraya membayangkan kejadian semalam.



\---


"Jangan menangis," ulang Kavin.



"Tapi ..." jawab Felicia terputus tak kala Kavin melepaskan pelukannya dan mempersilahkan Felicia agar bisa melihat pemandangan di depan matanya.



"Silahkan, kamu ingin lihat bukan?" ujar Kavin.



"Eh," mendengar ucapan Kavin. Felicia tercengang, Ia terdiam seribu bahasa dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.



"Walaupun aku tidak suka, kalau kamu bisa sedikit senang setelah melihatnya. Aku tidak apa-apa," ujar Kavin seraya menyingkir dari hadapan Felicia.



'Kavin,' gumam Felicia, setelah mendengar ucapan Kavin.


__ADS_1


Setelah Kavin menyingkir, Felicia melihat dengan jelas pemandangan yang menyakiti hatinya. Yaitu Ansel yang kini tengah berpelukan sembari berciuman dengan wanita yang dia idamkan.


__ADS_2