
"Hm, boleh." jawab Felicia, mereka pun berhenti di taman tersebut, lalu duduk bersama-sama.
Hendra maupun Felicia saling memalingkan wajahnya ke arah samping, Felicia merasa risih berduaan dengan Hendra di tempat yang begitu sunyi dan sepi. Hanya ada keheningan di antara mereka, setelah beberapa menit kemudian Felicia beranjak dari duduknya. Hendra pun terkejut, Ia merasa panik akan di tinggalkan sendiri dan tak ada waktu untuknya menyatakan perasaannya pada Felicia.
"Lebih baik aku menyusul mereka, untuk membantu mereka membawakan makanan ke sini," ujar Felicia.
'Tidak!' batin Hendra yang melihat Felicia tengah melangkah pergi, lalu Ia pun dengan mengumpulkan keberanian, Ia mencegah Felicia dengan menarik tangan Felicia.
"Eh," Felicia terkejut dan menghentikan langkah kakinya, Ia pun menoleh ke arah Hendra dan melihat tangannya yang di genggam oleh Hendra.
"Tunggu sebentar!" Teriak Hendra dengan mengalihkan pandangannya.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Hendra dengan nada lirih, dan wajahnya yang kini mulai merona.
"Apa itu?" tanya Felicia, Ia merasa tak enak hati. Dengan ekspresi yang di keluarkan Hendra.
"Sebenarnya... Aku..." ujar Hendra dengan gugup.
"Aku suka sama kamu sudah cukup lama," ujar Hendra dengan menatap wajah Felicia.
Felicia tercengang, Ia hanya bisa terdiam membisu. Sama halnya dengan seseorang yang kini tengah menguping pembicaraan mereka berdua, Kavin dan Davira yang kini bersembunyi di balik pohon cemara dan semak-semak. Davira menatap wajah Kavin yang sama tertekan nya dengan Felicia, Kavin hanya berdiri membelakangi pohon tersebut, Ia hanya mendengarkan pembicaraan mereka berdua, enggan untuk melihat secara langsung.
Davira yang berada di balik semak-semak ia melihat ekspresi Felicia dengan jelas, bahwa Felicia tidak menyukai Hendra sama sekali. "Aku tanya padamu," ucap Davira dengan nada berbisik.
"Kamu sebenarnya tau kan Ketua kelas akan mengutarakan perasaannya pada Felicia kan?" tanya Davira dengan wajahnya yang kaku.
"Ia," jawab Kavin dengan jujur.
"Kenapa kamu tidak menghentikannya? Bukannya kamu juga menyukai Felicia?" tanya Davira tanpa basa basi.
"Tidak ada orang yang bisa menghentikan perasaan seseorang," jawab Kavin seraya menengadahkan wajahnya.
"Tidka ada salahnya kan memberikan dia kesempatan? Lagian yang namanya perasaan, ketika kita jatuh cinta kepada seseorang... Lalu kita ingin mengutarakan, menyatakan cinta dan isi hatinya, ataupun memendamnya, menyerah atau tidak... Itu tergantung pada mereka sendiri yang bisa menentukannya, bukan orang lain," ujar Kavin.
"Jadi... Aku tidak memiliki hak untuk mencampuri keputusannya," ujar Kavin dengan menutup kedua matanya, terlihat begitu jelas bulu matanya yang begitu lentik. Davira hanya bisa terdiam dengan menunjukkan wajah tanpa ekspresi.
"Oh," jawab Davira.
'Keputusan yang bijak sekali, sungguh anak pintar, cocok dengan kepribadiannya yang dingin dan sombong,' batin Davira.
__ADS_1
Sementara di sebrang sana masih dalam keadaan tegang, Felicia merasa bingung dengan jawaban yang harus ia keluarkan namun tidak menyakiti hati Hendra. "..."
"Aku... Hanya ingin kamu mengerti perasaan ku. Aku hanya merasa khawatir, jika aku tidak memberi tahu kan perasaan ku padamu, maka aku akan menyesal dalam seumur hidupku." tutur Hendra dengan wajah yang merah merona.
'Walaupun sebenarnya aku sudah tau, jawaban apa yang akan kamu lontarkan kepada ku, aku tau... Kalau aku sudah pasti akan di tolak oleh kamu, Fei...' batin Hendra dengan tatapan matanya yang miris.
'Tapi aku masih ingin mencobanya,' sambungnya dengan tersenyum kecut.
'Untuk bilang aku suka padamu Felicia,'
"Maaf... Aku..." jawab Felicia dengan mengepalkan tangannya, ia memang tidak enak hati menolak namun ia mencoba memberanikan dirinya.
"Sebelumnya terimakasih banyak telah menyukai aku, tapi maaf aku tidak bisa membalas perasaan mu padaku," sambungnya dengan tatapan serius.
"Hehehe iya nggak apa-apa kok," jawab Hendra seraya tersenyum.
Seseorang yang tengah mengintip dari jauh pun merasakan lega, Davida tersenyum seraya melirik ke arah Kavin yang kini tengah tersenyum tipis.
'Heh, munafik ... dasar lelaki!' batin Davira.
"Ok!" jawab Kavin.
Lalu mereka pun makan bersama dengan suasana yang canggung, setelah selsai mereka pun bubar.
"Fei, apakah kamu mau langsung pulang?" tanya Davira.
"Ia, ini sudah malam. Aku janji sama mama akan pulang pukul 21:00 ini sudah pukul 20:45. jadi aku langsung pulang saja," jawab Felicia seraya menatap layar ponselnya.
"Oh, baiklah. Aku mau main sebentar," ujar Davira.
"Ya sudah... selamat bersenang-senang," jawab Felicia.
Kevin hanya berdiri mendengar percakapan mereka, sedangkan Hendra sudah lebih dulu pergi. Dengan perasaan yang terluka, mungkin saja Ia tidak bisa tidur degan nyenyak karena luka hatinya.
__ADS_1
"Ayok, aku akan mengantar kamu pulang," ajak Kavin, mendengar ajakan Kavin. Felicia pun tersenyum bahagia, wajahnya langsung merah merona, Ia pun menjawab dengan anggukan kepalanya. Sedangkan seseorang tersenyum dengan wajah datar seraya melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
.
---
Sepanjang jalan mereka hanya diam, dengan tangannya yang saling menggandeng. Hingga akhirnya kini sampailah di kediaman Felicia, Kavin maupun Felicia enggan untuk melepaskan genggaman tangannya itu.
"Hmm, sudah sampai," ujar Kavin seraya memalingkan wajahnya ke arah sebrang jalan.
"I-iya," jawab Felicia seraya merapikan rambutnya.
Mereka sama-sama saling gugup, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang menatap ke arah mereka dengan tatapan penuh amarah.
"Ya sudah, aku masuk dulu." ujar Felicia.
"Hmm, selamat malam," jawab Kavin, lalu mereka pun melepaskan genggamannya tersebut, dan Felicia pun masuk ke apartemennya, dengan wajahnya yang merah merona, di sertai jantungnya yang terus berdegup begitu kencang.
Sedangkan seseorang masih berdiri, dengan mengepalkan kedua tangannya. Ia ingin sekali menghampiri Kavin, namun Ia belum memiliki alasan yang tepat.
---
Pagi hari berikutnya...
Dis sebuah apartemen mewah, terlihat seorang pria yang baru selsai mandi. Ia sedang mengeringkan rambutnya yang selalu menutupi wajahnya, namun di saat ia hendak melangkah keluar ruangan tiba-tiba ponselnya berdering, ia pun melihat ke arah ponsel tersebut, lalu meraihnya.
Terlihat nama seseorang yang tak asing baginya, nama yang ia rindukan dan di benci olehnya. "Mr. D"
"Halo?" Kavin pun mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Kavin! Ini aku..." jawab seseorang dari sebrang sana.
Kavin yang mendengar suara tersebut hanya diam sejenak, sudah begitu lama ia tidak mendengar suara orang tersebut. Namun akhirnya ia menelponnya juga, tapi hati Kavin sudah terbiasa dengan suasana hening. Kavin pun melosspeker panggilan tersebut, lalu meletakkan ponselnya di lemari kecil samping tempat tidurnya.
"Halo? Kavin?" panggil seseorang dari sebrang sana.
"Kavin! Apakah kamu mendengar suaraku?" tanya mr. D.
"Ya aku dengar," jawab Kavin seraya menggunakan pakaiannya.
"Apakah sekarang kamu sudah bisa menjawab dan mempertimbangkan perkataan ku sebelumnya?" tanya seseorang tanpa basa-basi.
"Dengar Kavin, kakek dan nenek kamu sudah meninggal dunia, lalu bagaimana kamu menghidupi diri kamu sendiri di situ? Bagaimana cara mu menjaga dirimu sendiri?" mendengar ucapan tersebut Kavin hanya bisa diam.
__ADS_1
"Bagaimana jika kamu kembali ke sini? Dan hidup kembali bersama kami?" ajak pria tersebut.