
"Sayang!" panggil seseorang dari belakang punggung kavin dengan manja, kavin pun terkejut di buatnya. Begitu pula dengan para siswa-siswi yang ada di sekitar kavin, mereka tak kalah terkejut dengan apa yang mereka dengar dan lihat dengan mata kepala mereka sendiri.
Seorang laki-laki tampan tinggi dan putih tengah memeluk tubuh kavin dengan begitu mesra, dan tak kalah mengejutkan lagi memanggil sayang dengan begitu mesranya. Seketika hati mereka seperti terbelah menjadi dua, 'ahh, hatiku sakit... Si tampan adalah milik si tampan! Dunia ini tidak adil!' batin mereka serempak.
Kavin tau betul milik suara tersebut, ia hanya bisa pasrah dan terdiam. Hendra punpqpppppnppl menyanggah kan kepalanya di bahu kavin, ia menatap kavin seolah-olah ia benar-benar cemburu dan tersakiti. Matanya yang berkaca-kaca, bibirnya yang cemberut. Ia pun menatap wajah kavin dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Sayang! Apakah kamu tau, bahwa kamu telah membuat aku sakit hati! Mengapa kamu malah di sini, untuk menggoda gadis-gadis ini di belakang ku! Apa kamu sudah tidak cinta lagi padaku sayangku!" ujar Hendra, kavin hanya bisa terdiam. Ia menahan rasa amarah dan kesal di hatinya.
"Dan apa ini? Mereka membawakan bekal untuk kamu? Hiks, kamu jahat! Bukannya kamu pernah berjanji sebelumnya! Bahwa kamu akan makan bekal bersama dengan ku selalu? Dan akan memakan bekal buatanku sendiri, tapi..." Hendra berakting menangis, dan teraniaya, seolah-olah ia benar-benar kekasih kavin dan cemburu.
Kavin makin muak dengan omong kosong Hendra, ia mengepalkan kedua tangannya dan otot wajahnya yang kini mulai mengeras. Ia masih pria normal yang menyukai lawan jenis, bukan dari area pencinta pelangi.
Hendra menatap para wanita itu, ia membulat kan kedua matanya dengan sempurna, namun sedetik kemudian. Hendra pun menatap kembali ke arah kavin dengan tatapan penuh kasih dan kecewa, "huaaah... Apakah semua yang kamu katakan itu omong kosong!" seru Hendra dengan air mata buaya.
Hendra pun berlari seolah-olah ia benar-benar tidak Terima akan perlakuan kavin padanya, ia berlari seraya sesenggukan seraya membawa bekal milik Felicia. "Huaaagh... Aku sangat bodoh, selama ini telah membuatkan bekal untuk kamu setiap pagi. Aku telah buta telah menyukai kamu! Aku benci sama kamu! Aku benci... Aku tidak mau berbicara sama kamu lagi! Aku yang terlalu bodoh telah percaya dengan omong kosong kamu kavin!" teriak Hendra seraya berlari menuju balkon sekolah.
Kavin sudah tidak memiliki wajah lagi, entah bagaimana nanti ia menghadapi gosip kedepannya. Terlihat semua para gadis begitu terluka melihat pria idolanya ternyata sudah memiliki kekasih, namun bukan wanita yang mudah di tindas. Namun kavin adalah kaum pelangi, pikir para gadis tersebut, mereka hanya bisa menahan rasa kecewa dan sakit hati, mungkin jika kekasihnya sesama wanita, ia masih memiliki kesempatan.
"Huhu... Sana, kamu sebaiknya kejar dia... Aku takut dia nekat dan akhirnya bunuh diri," ujar salah satu siswi dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Ia, sebaiknya kamu kejar dia, maafkan kami yang telah membuat hubungan kamu retak," sambung yang lainnya.
"Ia, maafkan kami ya... sebaiknya kamu susul dia segera, kamu jelaskan baik-baik padanya," ujar siswi lain dengan nada lesu.
Sontak saja kavin tertegun dengan ucapan para siswi tersebut, kavin pun menyadari maksud Hendra. Ia pun melepaskan kepalan tangannya, "ia, makasih banyak ya?" ucap kavin seraya berasal meninggalkan mereka yang masih menatap kepergian kavin.
__ADS_1
"Sama-sama.... Huaaaa" jawab mereka serentak, mereka pun saling menguatkan satu sama lain dengan cara berpelukan.
Sesampainya di balkon sekolah, kavin melihat Hendra yang sedang berdiri seraya menatap gedung-gedung yang ada di samping sekolah. Angin yang bertiup dengan sepoy-sepoy, kavin pun menghampiri Hendra, dengan berjalan pelan.
Hendra menyadari kavin yang kini berada di belakangnya, ia masih merenungi dengan apa yang ada di pikirannya. Kavin pun berdiri di samping Hendra, ia sama-sama menatap gedung pencakar langit.
"...." mereka hanya diam membisu, tanpa ada suara sama sekali. Hingga akhirnya Hendra pun melirik kavin, lalu ia mengambil satu kaleng jus jeruk yang ia beli sebelumnya.
"Ini," ujar Hendra seraya menyodorkan kaleng tersebut.
"Terimakasih," jawab kavin seraya mengambil kaleng tersebut.
Hendra menatap lekat kavin, ia hanya diam membisu seraya menatap lekat kavin yang kini tengah meneguk jus jeruk tersebut. Ia pun menyunggingkan bibirnya lalu membuka kaleng miliknya, lalu menenggaknya. "Kavin, aku mau tanya sama kamu, apakah sebelumnya bekal yang kamu makan itu adalah buatan Felicia?" tanya Hendra.
"Nih, untukmu... Kamu pasti lapar kan?" ujar Hendra seraya menyerahkan kotak bekal miliknya yang ia pinta dari Felicia.
"Terimakasih," ujar kavin seraya menerima bekal tersebut.
"Ck, kamu ini... Makan lah bekalnya dulu, sebelum aku nanti berubah pikiran." ujar Hendra seraya meneguk jus jeruk tersebut.
"Barusan..."
"Aku tidak berniat membantu kamu, aku hanya membantu seseorang yang merasa sakit hati melihat pemandangan seperti tadi," Hendra memotong ucapan kavin, ia tahu betul akan apa yang di ucapkan kavin.
__ADS_1
Kavin pun membuka bekal tersebut, lalu mulai mengambil makan dari dalam kotak tersebut. Hendra melirik ke arah bekal yang menampilkan makanan yang enak dan buatan gadis dari yang ia sukai. "Hah..." Hendra menghembuskan napas beratnya, ia kembali memandang gedung di di pinggir sekolah.
'Ah, sial aku sangat iri padanya! Tidak bisakah dia berbohong sedikit padaku, apakah dia sengaja atau apakah sepolos itukan kamu kavin!' gumam Hendra dalam hati seraya meneguk jus jeruk hingga habis.
"Kavin.." panggil Hendra dengan nada dingin.
"Ya?" jawab kavin seraya menoleh ke arah Hendra, ia pun menghentikan makannya.
"Biarkan aku memukulmu sekali ini saja," ucap Hendra dengan ekspresi serius.
"Bolehkah nanti aku memukul kamu balik?" jawab kavin seraya melontarkan pertanyaan dengan nada tenang.
"Apa! Tentu saja tidak boleh! Enak saja!" jawab Hendra dengan nada seru.
"Pukul lah," jawab kavin dengan ekspresi serius dan tenang.
Mendengar jawaban kavin membuat hati Hendra tak tega, begitu polos dan tenangnya kavin. Ia memandang wajah kavin yang kini mulai mempersiapkan diri untuk menerima pukulan darinya.
Hendra pun menundukkan kepalanya dan melihat tangannya yang kini mulai mengepal, ia begitu kesal akan apa yang ia lihat. Bagaimana mungkin gadis yang ia suami menyukai kavin, jelas-jelas ia lebih tampan dan lebih dulu menyukai felicia. Namun felicia menolak dan lebih memilih menyukai pria yang cupu dan kutu buku, yang saat ini ada di hadapannya.
Hendra menggerakkan giginya, dan siap untuk melayang kan tinjunya ke wajah kavin. 'Kenapa? Jelas jelas banyak sekali pria tampan, kenapa!'
Syut...
Hendra menghentikan tinjunya tersebut tepat di hadapan wajah kavin, 'kenapa harus kamu kavin!' batin Hendra, seraya menurunkan kepalannya tersebut.
__ADS_1
"Mengapa kamu tidak menghindari, bodoh!" gerutu Hendra.