
"Eh, harusnya aku juga berterima kasih padamu," ujar Felicia.
"Makasih ya," ujar Felicia seraya tersenyum.
"Em," jawab gadis tersebut dengan wajahnya yang imut.
"Oh ya, bolehkah aku tau, kamu dari kelas mana?" Tanya gadis tersebut.
"Aku dari kelas 10D, kamu dari kelas mana?" jawab Felicia seraya melontarkan pertanyaan.
"Aku dari kelas A, ruang ujianku di kelas 10D.ada di sebelah sana," jawab gadis tersebut seraya menunjukan ruang kelas 10D yang ada di belokan.
"Oh," jawab Felicia.
"Ya sudah aku buru-buru, ujian akan di mulai. Aku masuk dulu ya?" pamit gadis tersebut seraya berjalan menuju kelas 10D.
Namun baru beberapa langkah, gadis tersebut berhenti dan memutar tubuhnya kembali melihat ke arah Felicia, "sesudah ujian nanti aku harus membalas kebaikan kamu, tolong ingat aku ya?" ucap gadis tersebut lalu berjalan dengan langkah cepat menuju kelas ujiannya.
Sedangkan Felicia masih di depan pintu kelas ujiannya, ia masih menatap gadis tersebut. Hingga Pak pengawas pun berada di belakang Felicia.
"Ekhem, apakah kamu akan tetap terus berdiri di sini?" ujar guru pengawas.
"Eh, maaf Pak." ujar Felicia seraya melangkah cepat, dan masuk ke kelas tersebut. Felicia pun mencari urutan tempat duduknya, ia melihat hanya dia saja yang baru masuk. Lalu Felicia menatap ke arah meja yang masih kosong di paling ujung, Felicia pun tersenyum dan menuju ke arah bangku tersebut.
Sedangkan sang pengawas hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu ia pun masuk dan langsung membagi kan kertas soal ujian dan lembar jawaban.
"Silahkan di bagi ke teman belakang kalian, dan juga tolong di baca dengan teliti soal ujiannya, jangan terburu-buru waktu untuk mengerjakan soal cukup lama, 1:25. Jadi sebisa mungkin fokus dan jawab dengan bener jangan asal," Jelas sang guru tersebut dengan panjang lebar.
Lalu semua murid telah menerima soal ujian dan lembar jawaban, "Ujian di mulai!" Seru
Guru pengawas, seraya duduk di tempat guru ngajar.
Sedangkan Felicia masih tersenyum seraya membayangkan gadis tadi, yang menabraknya hingga terjatuh dan di tindih oleh gadis tersebut. 'Gadis yang menabrak ku barusan benar-benar cantik sekali, selain itu juga ramah. Sepertinya dia seorang gadis yang baik hati,' batin Felicia, seraya menekan tombol yang ada di penanya.
__ADS_1
'Tidak aku sangka, di sekolah ini masih ada gadis sebaik dia, di sekolah ini,' sambungnya.
Felicia pun menulis namanya di lembar jawaban tersebut, lalu mulai membaca soal nomor satu dan seterusnya.
Ding dong ding dong
Dering bell istirahat pun berbunyi, Felicia telah selsai cukup lama. "Oke jam istirahat telah berbunyi, semuanya kumpulkan lembar jawaban kalian dan soal kalian di masing-masing baris meja depan, lembar soal di kiri dan lembar jawaban di kanan. Kalian bisa pergi dari kelas ini," ujar guru pengawas tersebut.
Felicia pun beranjak dari duduk nya, ia membawa bekal makanan satu kotak keluar dari kelas tersebut. 'Kain di kelas mana ya? Aku sebaiknya tanyakan saja padanya, dia berada di kelas mana,' batin Felicia seraya berjalan menelusuri koridor sekolah.
Felicia pun mengambil ponselnya dan mencari nama 'Kavin si wajah aneh' lalu menulis pesan dan mengirimkan pada kavin.
"Kamu di kelas mana?" isi pesan tersebut.
Tak butuh waktu lama kavin pun membalas chat dari Felicia, "nomor 8 di kelas 11A," jawab kavin.
'Ujian nomor 8 kelas 11A?' batin Felicia, lalu ia pun bergegas ke kelas tersebut, ia mencari dan melihat setiap nomor yang tertera di kaca jendela.
Felicia membuka pintu kelas tersebut, ia memunculkan kepalanya mencari sosok Kavin. 'Di mana ya kavin?' gumamnya seraya menatap ke seluruh ruang kelas.
Terlihat di sana masih banyak siswa yang berada di dalam kelasnya, 'ah itu dia Kavin,' batin Felicia setelah melihat keberadaan Kavin yang saat ini masih terduduk dengan fokus membaca mata pelajaran yang akan datang selanjutnya.
"Kavin!" panggil Felicia.
Kavin pun menoleh ke arah suara tersebut, saat Kavin menoleh Felicia sedikit gugup dan tersipu. 'Eh, kenapa jantungku berdebar begini? Apakah karena tadi aku berlari?' batin Felicia.
Kavin pun beranjak dari duduk nya dan berjalan ke arah Felicia, 'ah, kenapa dia terlihat begitu tampan hari ini?' batin Felicia.
"Lain kali jangan lupa untuk di periksa," ujar Ansel pada salah satu siswa, lalu ia pun memutar tubuhnya dan melihat Felicia yang tengah berdiri di depan pintu ruang ujiannya.
'Eh, itu bukannya Felicia?' batin Ansel seraya tersenyum.
'Fei datang mencari ku? Tapi dia tau dari mana kelasku di sini?' batin Ansel seraya tersenyum bahagia, Ansel pun berjalan hendak mendekati Felicia.
__ADS_1
"Fe ..." panggilnya terhenti tak kala ia melihat seseorang yang kini berdiri di hadapan Felicia. Ia terkejut melihat Felicia tersenyum manis terhadap laki-laki lain.
'Eh, dia ..." senyuman yang awalnya mengembang kini pun memudar dari wajah Ansel, ia terus menatap ke arah Felicia yang tengah asik berbincang pada Kavin.
"Ini ..."
"Ini makan siang untuk kamu," ucap Felicia dengan terbata-bata karena rasa gugup.
"Eh," hanya itu yang keluar dari mulut Kavin, ia tak percaya bahwa Felicia benar-benar memberikan makan untuknya.
"Maaf merepotkan kamu," Ujar kavin seraya menerima bekal tersebut, tanpa di sengaja tangan mereka bersentuhan. Tidak seperti biasanya Felicia tersentak dan lebih gugup akan sentuhan yang tak sengaja itu.
'Ah, tangan kita bersentuhan!' batin Felicia.
Seketika wajah Felicia merah merona, kavin sendiri pun menyadari wajah Felicia yang tiba-tiba merah bagaikan tomat.
"Ah, tidak repot kok. Lagian itu aku juga memasak untukku sekalian," jawab Felicia dengan jantungnya yang berdegup kencang, napasnya mulai tak beraturan seperti lari maraton.
"Jangan lupa di makan," sambungnya dengan meremas tangannya untuk menahan rasa gugup tersebut.
"Em, nanti pasti aku habiskan," ucap Kavin.
"Oke, kalau sudah nanti itu wadahnya taruh saja di mejaku," jawab Felicia dengan menundukkan wajahnya.
"Kalau begitu aku ... balik ke kelas dulu!" seru Felicia seraya pergi dari hadapan Kavin dengan wajahnya yang merah merona.
"Terimakasih!" ucap Kavin dengan melihat kepergian Felicia, namun Felicia mendengar ucapan Terimakasih dari Kavin ia pun berhenti dari langkah kakinya, lalu memutar tubuhnya.
"Sama-sama, semoga kamu suka," jawab Felicia seraya tersenyum dan memiringkan kepalanya. Setelah menjawab ucapan Kavin, Felicia pun kembali melanjutkan jalannya lebih cepat lagi.
'Ah, kenapa?' pikir Felicia dengan napasnya yang terengah-engah dan wajahnya yang merasa panas.
'Ada apa sebenarnya? Aku yang tidak pernah merasakan malu, kenapa aku tiba-tiba begini ... Apa karena aku sedang menstruasi saat ini?' pikir Felicia yang merasa aneh dengan reaksi pada tubuhnya
__ADS_1