
Di sisi lain, Felicia begitu terkejut akan tindakan Kavin padanya. Felicia pun menoleh ke arah Kavin, begitu pula dengan Kavin. Sehingga mereka kini saling tatapan.
Felicia menatap ke arah tangannya yang kini tengah di genggam begitu erat oleh Kavin, "eh," gumam Felicia dengan wajahnya yang kini berubah seperti kepiting rebus.
'Kapan dia...' pikir Felicia dengan jantungnya yang berdegup kencang.
'Maaf Hendra, mohon tunggu sebentar lagi!' batin Kavin dengan menatap wajah Felicia.
---
Di waktu yang sama, kini Hendra sudah berada di tempat keramaian. Ia masih menggenggam tangan seorang wanita dengan begitu erat.
"Aku ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," ujar Hendra tanpa melihat ke arah belakang.
"Sebenarnya aku suka padamu!" ujar Hendra seraya menghentikan langkahnya, lalu Ia pun memutar tubuhnya dan membuka matanya.
"Hah!" Hendra pun terkejut saat melihat siapa yang berada di belakangnya saat ini, ia menjadi kaku seketika. Saat melihat wajah kaku dari seorang wanita yang sedari ia gandeng.
"Loh kok!" seru Hendra dengan menunjuk ke arah wajah wanita tersebut, Hendra menatap wanita tersebut dari ujung kepala hingga kakinya. Ia mencoba meyakinkan dirinya, bahwa yang Ia gandeng tadi adalah tangan Felicia, bukan si wajah kulkas.
"Ada apa? Apa yang ingin kamu katakan, Katakan saja!" ujar wanita tersebut tanpa ekspresi.
"Buat apa kamu menarik tanganku lalu berlari?" tanya Davira.
"Eh! Eh," seketika Hendra pun pucat mendengar pertanyaan yang di lontarkan gadis kaku tersebut, pasalnya ia merasa yakin tadi yang ia tarik adalah tangan Felicia bukan si gadis kaku.
"Davira! Kenapa jadi kamu!" teriak Hendra dengan wajah panik.
"Bodoh!" ucap Davira dengan wajah datar.
"Waduh! Di mana Felicia ku!" seri Hendra yang masih belum menyadari kesalahannya, ia melihat sekeliling yang begitu ramai dengan orang-orang yang merayakan hari Halloween.
"Huaaah! Feifei ku!" Hendra berteriak histeris, ia benar-benar kecewa dan panik.
Sedangkan Davira hanya menatap dengan dingin atas apa yang Hendra lakukan saat ini, ia merasa ketua kelasnya begitu bodoh dan ceroboh.
'Tunggu! Setelah di pikir-pikir...' gumam Davira dengan membayangkan kejadian beberapa menit yang lalu.
---
Di saat Hendra mengajak Felicia, Kavin dengan sigap mendorong tubuh Davira dan dengan sigap menggandeng tangan Felicia. Hingga akhirnya Hendra menggandeng tangan Davira dan berlari bersama, lalu Hendra pun mengutarakan isi hatinya.
Davira maupun Felicia sama-sama terkejut akan tindakan para lelaki entah itu Kavin maupun Hendra.
'Aha! Jadi begitu? Hehehe,' batin Davira dengan mengusap dagunya dan tersenyum, namun senyumannya begitu mengerikan.
__ADS_1
---
Di sisi lain waktu yang sama, kini sepasang team telah berada di keramaian, mereka hendak ke tempat tugas utama, yaitu mencari snack. Namun karena hari Halloween, tempat itu pun semakin malam semakin ramai pengunjung. Kini Felicia di himpit banyak orang.
"Ah," teriak Felicia di saat tertabrak oleh seorang pria bertopeng hantu.
"Ah, maaf sudah menabrak kamu, aku nggak sengaja. Maafkan aku ya," ujar pria bertopeng tersebut.
"Ti-tidak apa-apa," jawab Felicia dengan terkejut dan takut akan topeng yang di gunakan pria tersebut.
"Ya Tuhan! Dia benar-benar menakutkan sekali!" gumam Felicia dengan wajah panik.
"Kavin? Jadi kita kemana dulu ya?" tanya Felicia seraya memutar kepalanya, namun setelah meredakan rasa takut barusan, ia justru di kejutkan lagi oleh kavin yang tiba-tiba bertopeng badut.
"Astaga!" gumam Felicia dengan keringat dingin.
"Oh, lalu bagaimana dengan yang ini?" tanya Kavin setelah mengganti dengan topeng panda. Kavin berharap pujian dari mulut Felicia, namun justru Felicia menatap dengan ekspresi datar, ia hanya diam.
Namun sedetik kemudian, ia menatap kembali dengan menilai penampilan Kavin saat ini, yang sedang menggunakan topeng panda.
"Topeng ini cocok sekali dengan kamu loh, Kavin!" ucap Felicia seketika, seraya mendekatkan wajahnya dengan ekspresi serius.
"Hey! Jangan menghalangi jalan dong! Minggir sana!" gerutu salah satu pengunjung dengan topeng setan, dengan penuh amarah, ia pun mendorong tubuh Felicia dari belakang, hingga Felicia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Cup...
Felicia tanpa sengaja mencium bibir Kavin walaupun tanpa bersentuhan langsung, karna Kavin saat ini masih menggunakan topengnya. Felicia membulat kan kedua matanya dengan sempurna. "Ahhh!" teriak Felicia seraya memundurkan wajahnya, dengan wajahnya yang merah merona, akibat kecelakaan membahagiakan tersebut.
"Ma... Maaf, maafkan aku!" seru Felicia dengan gugup, hingga tanpa sadar teriakan tersebut di dengar oleh banyak orang, termasuk seseorang yang tidak menyukai dirinya.
"Eh, aku seperti mendengar suara seseorang?" gumam Atikah.
'Barusan, seperti suara...' batin Atikah seraya mencari sosok dari suara tersebut, dan sedetik kemudian ia melihat di tengah-tengah puluhan orang ada sepasang wanita dan pria yang sedang berpelukan.
'Ah! Aku melihat pertunjukan yang bagus kali ini,' batin Atikah dengan senyum licik.
"Ansel? Ansel!" panggil Atikah.
__ADS_1
"Ya?" jawab Ansel dengan wajah dingin.
"Aku ingin ke sana, maukah kamu temani aku ke sana? Sepertinya di sana banyak permainan yang menarik," ajak atika dengan rengekan.
"Oke!" jawab Ansel.
---
Sedangkan Felicia kini masih memegangi mulutnya yang baru saja mencium seorang pria, walaupun tanpa di sengaja. Wajah Felicia begitu merah merona. Kavin pun mencoba mencairkan suasana yang kini menjadi canggung, ia pun mengulurkan tangannya, lalu menarik Felicia ke dalam pelukannya.
"Eh," Felicia semakin gugup. Ia mampu mendengar suara jantung Kavin dan suara jantungnya yang berdetak secara bersama, hingga seperti alunan musik cinta yang begitu merdu.
"Grrraaauur...." hantu Halloween yang begitu menakutkan lewat satu persatu layaknya model.
"Ahhh! Menakutkan sekali!" seru para pengunjung saat melihat hantu Halloween melewati mereka.
"Begini saja dulu, untuk beberapa menit. Jangan bergerak," ujar Kavin seraya mempererat pelukannya.
"Iya," jawab Felicia menurut, ia pun hanya diam di dalam pelukan Kavin, seraya mendengarkan teriakan orang-orang.
"Ahhhg! Apa-apaan itu!"
Groook...
Ouhhhh....
Hihiihii....
Huhuhu...
Hoooooohhh...
Macam-macam suara dari hantu Halloween yang melewati mereka, dan juga suara orang-orang yang merasa takut akan hantu Halloween, begitu ramai namun berbeda dengan sepasang wanita dan pria yang saat ini merasakan begitu damai dan tentram.
"Eh, Ansel!" seru Atikah seperti terkejut.
"Ya?" jawab Ansel seraya menatap wajah kekasihnya itu.
"Lihat itu, ada macam-macam hantu yang begitu seram, dan mereka benar-benar mirip. Lihat orang-orang pada ketakutan," ujar Atikah seraya menunjuk ke arah Kavin dan Felicia.
"Eh iya, banyak hantu nya ya di sini," jawab Ansel dengan senyuman ramah.
__ADS_1