Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
11. baper


__ADS_3

'Ansel ...' batin Felicia, Ansel pun membalas tatapan mata Felicia, dari wajahnya yang tadi penuh amarah, kini berubah menjadi anak kucing yang tak berdosa, ia tersenyum manis saat menatap Felicia.


'Aku merasa baru saja tadi bukanlah Ansel yang aku kenal, sebenarnya aku juga takut saat Ansel berekspresi seperti tadi.' batin Felicia.


Ansel pun menatap Felicia dengan penuh kehangatan, merubah ekspresi wajahnya dalam satu detik. "Aku pasti akan melindungi kamu Fei," ujarnya dengan senyuman di bibirnya yang manis.


"Ternyata sepasang kekasih yah, cuih! Dasar munafik! Melindunginya katanya? Omong kosong, nanti juga ujung-ujungnya kamu juga yang memakan. Dasar anak muda! Di kira aku tak paham pikiran kamu," ucap pria mesum tersebut.


Ansel yang mendengar ucapan pria tersebut merasa risih, ia pun membentak pria tersebut dengan sekuat tenaganya. "Cepat pergi!"


"Idih, galak banget sih!" serunya seraya membuang ludahnya di hadapan Ansel dan Felicia.


Ia bukannya pergi, Ia justru menghampiri gadis balon tadi. Ia mulai menunjukkan wajah mesumnya, "kalau adik manis ini, mau tidak ikut dengan kakak?" ujarnya dengan lembut dan senyuman ramahnya.


"Baik," jawabnya dengan singkat, Namun ia terlihat menjawab dengan ekspresi dingin.


"Paman, sebenarnya aku juga ingin mencobanya untuk pertama kalinya dan cukup sekali saja," sambungnya seraya mengulurkan tangannya.


"Bagus, memang anak baik dan lugu. Kakak suka dengan kejujuran kamu," ujarnya dengan menggosokkan kedua tangannya.


Dalam hitungan detik tangan tersebut sudah menjambak rambut ikal pria tersebut, lalu menekan ke bawah dan memukul wajahnya dengan dengkulnya. dalam sekejap pria itu pun sempoyongan, dengan darahnya yang bercucuran dari hidungnya. Ia pun menatap tajam ke arah gadis balon itu seraya mengepalkan tangannya, "dasar gadis pelacur! Beraninya kamu membuat hidungku terluka! Rasakan ini!" serunya seraya melayangkan tinjunya ke arah wajah gadis balon.


Namun gadis balon tersebut menghindari dengan memiringkan kepalanya, dan hantaman kedua berhasil di tangkisnya, namun sayang sekali tangan pria tersebut menyenggol rambut pink-nya. hingga tanpa sadar terlihat rambut asli miliknya.


"Berani sekali memukulku, sakit tau! Rasakan ini!" ucap gadis balon tersebut dengan memelintir tangan si pria mesum tersebut dengan begitu kencang. Hingga ia menjerit kesakitan, "aaaahh ...! Sakit ... sakit ..."

__ADS_1


Lalu gadis balon tersebut melepaskan tanga pria mesum itu dengan mendorong, hingga kini tubuhnya tersungkur ke aspal. "Auh! Sial! Akan aku ingat kejadian ini!" serunya serata bangkit, ia menatap tajam ke arah gadis balon tersebut.


"Heh! Cepat pergi kalau tak pergi, jangan harap bisa pulang ke rumahmu dalam keadaan tubuh mu utuh," ujar gadis balon itu dengan nada dingin.


Dalam sekejap pria itu pun pergi dengan pontang-panting, akibat wajahnya yang sudah babak belur, juga tangannya yang pindah tulang.


Felicia maupun Ansel merasakan hawa yang di keluarkan gadis balon tersebut, hingga ia bergidik ngeri. Namun Felicia menyadari keanehan dalam gadis balon itu, yaitu rambutnya yang miring dan menunjukan rambut berwarna pirang.


'Eh tunggu! Itu, rambut palsu?' batinnya.


"Maaf kalian jadi terlibat dalam kejadian ini, semua salahku. Andai aku tak menghampiri kalian, dan tak memberikan balon itu, mungkin kalian akan baik saja," ujarnya dengan memutar kepalanya, Felicia pun terkejut setelah melihat siapa si gadis balon itu.


"Ka-kavin!" ucap Felicia.


Sontak saja membuat Ansel terkejut bukan main, "kalian saling kenal?" tanya Ansel dengan wajah panik.


'Apa! Ahh ini gila, gadis imut ini kenal dengan Fei! Setelah di pikir-pikir, dari cara mereka melakukan aksi-aksi nya, seperti satu aliran. dari mulai Fei yang memecahkan balon dengan begitu mengerikan, juga cara gadis loli ini berkelahi dengan paman tadi hingga babak belur begitu, sungguh ganas dan tak bisa untuk di sentuh, mereka benar-benar bunga kaktus yang indah, namun berbahaya,' gumam nya dalam hati, dengan keringat dingin yang bercucuran di wajahnya, ia benar-benar berpikir terlalu jauh.


"Ah astaga aku lupa ... kalian silahkan mengobrol saja dulu, aku berbelanja sebentar yah?" ujarnya seraya memundurkan dengan tergesa-gesa.


Felicia menatap kepergian Ansel yang begitu mencurigakan, 'Astaga anak ini! Apakah dia berpikiran yang tidak-tidak lagi!' batinnya dengan kesal.


 


"Kavin Ardana Abiputra ..." panggil Felicia dengan menatap tajam ke arah Kavin.

__ADS_1


"Ukhuk ... Em, seperti anda salah orang Kak," dalih Kavin, ya dia adalah Kavin. terlihat dari rambutnya dan tinggi badannya.


'Dasar pembohong! Apa kamu kira aku sebodoh itu? Bahkan anak kecil saja pasti akan tau jika kamu adalah laki-laki, terkecuali si konyol Ansel, astaga!' batin Felicia.


"Oh yah, perkenalkan nama saya pinkan," dalih Kavin.


Felicia pun melangkahkan kakinya, ia mendekati Kavin dengan satu langkah, hingga kini wajah Felicia benar-benar dekat dengan wajah Kavin. Kavin pun terkejut akan tindakan Felicia.


"Ah," seraya memundurkan wajahnya.


"Pinkan yah? Terus boleh aku tanya, di mana kamu menyembunyikan dadamu ini?" ujar Felicia seraya menempelkan kedua tangannya di dada Kavin, tanpa ia sadari dada Felicia yang besar juga menyentuh tubuhnya.


Kavin pun menyentuh tangan Felicia yang kini meraba-raba dada Kavin saat ini, "kamu kenapa bisa mengenal aku?" ujar Kavin, Felicia langsung melepaskan sentuhannya, ia sadar bahwa dadanya saat ini menyentuh dada Kavin.


"Kenapa bisa kamu tau ini aku? Padahal aku sudah pakai kostum ini, apakah karena kurang bra?" tanya Kavin dengan memalingkan wajahnya.


Felicia juga masih terdiam, seraya memegangi tangannya yang baru saja tersentuh oleh Kavin, dengan wajahnya yang nerah merona. "Itu karena kamu ceroboh, tuh liat wig di kepala kamu lepas," ujar Felicia seraya menunjuk ke arah rambut palsu Kavin yang miring.


Mendengar jawaban Felicia Kavin pun terkejut, "apa!" Teriak Kavin.


Felicia pun duduk dengan menampilkan wajah datar, begitu pula dengan Kavin. Ia ikut duduk di samping Felicia, 'astaga! Duduknya itu loh!' batin Felicia dengan memutar bola matanya, 'apakah dia tak sadar saat ini dia berpakaian seperti wanita, dan duduk dengan begitu? Oh apa kata orang yang lewat nanti!' gumam Felicia.


Tak lama kemudian ada anak dan ibu yang lewat dan berhenti seketika, "mah cara duduknya keren banget! Aku mau belajar duduk seperti dia!" seru bocah tersebut. Sontak saja membuat Felicia tercengang, cara duduk yang menurutnya tidak sopan membentangkan kedua pahanya, hingga memperlihatkan ********** keren katanya? Sungguh aneh tapi nyata.


Mereka pun hanya diam satu sama lain, selama beberapa menit duduk di bawah pohon beringin tersebut, Felicia pun melirik Kavin secara diam-diam.

__ADS_1


'Tapi kenapa Kavin menggunakan pakaian wanita seperti ini? Bahkan bekerja sampingan seperti ini? Apakah Kavin ...' batin Felicia


__ADS_2