Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
23. terimakasih kavin


__ADS_3

'Benar yang ku lihat ini, benar-benar nyata. Dia Ansel dan Tika, gadis yang dia sukai, mereka berciuman di jalan, di depan apartemen. Sungguh ....'batin Felicia, namun saat hendak menangis. Kavin buru-buru menutupinya kembali.


"Jangan lihat ke sana," ujar Kavin.


"Eh," Felicia terkejut dengan tindakan Kavin yang tiba-tiba.


"Lihat aku!" sambungnya seraya membuka wajahnya yang tertutup rambut.


"Semua orang yang melihatku, selalu bilang bahwa aku menghibur. Dan hati mereka akan tenang dalam sesaat," sambungnya seraya memegangi poninya ke belakang, agar terlihat jelas wajahnya.


Mata Kavin yang terlihat unik karena tidak seperti anak biasanya, mata Kavin terlihat terbalik dengan alisnya yang hilang, matanya lebar bahkan menutupi tempat alisnya.


Felicia yang melihat pun tercengang, Ia terdiam tanpa mengeluarkan ekspresi apapun, namun sedetik kemudian ia menutup mulutnya dengan tangannya, tubuhnya pun bergetar hebat karena menahan tawa.


"Bagiamana?" tanya Kavin, seraya memiringkan kepalanya.


"Aku sungguh merasa terhibur," unar Felicia dengan terkekeh.


"Uh__ " Ia tak bisa menahan tawanya lagi hingga akhirnya tawanya pun pecah.


"Hahahahaha hahahaha hahahah hahaha,"


"Hahaha maaf aku benar-benar hahaha tidak tahan, hahaha sungguh menghibur hahaha," Felicia tertawa tanpa henti, hingga perutnya merasa sakit.


"Oh, sungguhan?" gumam Kavin dengan mendekat ke arah Felicia.


"Ternyata benar," Sambungnya seraya mengulurkan tangannya, lalu Ia menghapus air mata Felicia yang keluar karena tertawa puas.


"Ha ha," Felicia seketika berhenti dari tawanya.


"Kamu lebih cocok tertawa," sambung Kavin dengan mengusap pipi Felicia dengan lembut.


"Eh," Felicia tercengang akan perubahan Kavin, dan perlakuannya terhadap dirinya. Felicia merah merona di buatnya Ia terpesona di buatnya.


"Kav,__" saat menyebutkan namanya sedetik kemudian Kavin mencubit kedua pipi Felicia dengan kencang, "jadi terus lah tertawa," ucap Kavin seraya mencubit gemas pipi Felicia.


"Sakit, sakit, auh," gerutu Felicia dengan air mata yang mengalir karena sakit.


---


\---


'Meskipun wajahku masih terasa sakit karena cubitan dia semalam, aku harus berterimakasih padanya, jika tidak ada dia...' batin Felicia dengan meraba pipinya bekas cubitan Kavin semalam, Ia tersenyum seraya mengusap usap pipinya.



Di waktu yang sama, Ansel telah sampai di depan gerbang. Ia mencari Felicia sepanjang jalan, ia juga datang ke rumahnya dan mama Felicia mengatakan Felicia sudah berangkat.



'Pagi ini aku belum melihat Felicia,' gumam Ansel seraya menoleh ke sana ke mari.



Felicia melihat jam di ponselnya, jam telah menunjukkan pukul 7:00, Ia masih menunggu Kavin, namun Kavin tak kunjung datang. Felicia pun membuka buku untuk mata pelajaran pertama.



'Dia belum juga datang, ya sudah aku sebaiknya membaca pagi saja,' dengus Felicia.

__ADS_1



Setelah selsai membaca 2 lembar, ia melirik ke arah meja Kavin yang masih saja kosong. 'Biasanya dia datang pagi-pagi, apakah dia sakit? Ada apa sebenarnya? Aku benar-benar khawatir, kenapa dia belum datang juga,' dalam hatinya terus bertanya-tanya.



Ia melihat ke arah jendela, dan betapa terkejutnya, saat melihat sosok yang mencoba Ia hindari, malah kini ada di bawah dan melihat ke arahnya.



"Astaga! Ansel!" dengus Felicia kesal.



"Fei! " panggil Ansel dengan wajahnya yang sumringah.



Felicia merasa gugup dan canggung, pasalnya Ia mencoba menghindari Ansel tanpa sepengetahuan Ansel sendiri. "Yui tunggu! Aku mau bicara padamu," bahasa bibir.



'Bicara padaku? Jangan-jangan?' batin Felicia.



"Fei, aku ada kabar baik," ujarnya dengan merona.



"Aku dan Atikah sudah jadian semalam, kami juga sudah berciuman," bahasa bibir, Ansel tak melihat ekspresi yang di keluar kan oleh Felicia, Ia masih saja tersenyum bahagia di bawah sana seraya menutupi wajahnya yang merona.




Felicia pun meletakkan buku di laci mejanya, lalu ia segera pergi dari kelas tersebut dengan berlari. Setelah sampai di Koridor sekolah, Ia tersenyum puas,"huh! Mudah sekali menghindar dari Ansel," gumamnya dengan bangga.



Namun siapa sangka, justru Ansel terus saja mengejarnya sampai ke koridor sekolah. Ia panik akan kedatangan Ansel. Felicia pun berpikir keras sebisa mungkin untuk menjauh darinya.



Felicia melihat kedatangan ketua kelas 10D, lalu ia memiliki sebuah ide yang menurutnya cemerlang, Ia tersenyum licik.



"Hooam, ngantuk banget," gumam ketua kelas Rendra dengan wajah malas, Felicia dengan cepat menghampiri ketua kelas.



"Eh, Felicia?" ucap Rendra dengan menghentikan langkah kakinya.



"Hussst, jangan bersisik. Tolong tutupi aku tolong aku mohon pada mu," ujar Felicia dengan membungkam mulut Rendra degan tangannya.


__ADS_1


"Hmm," Rendra pun menurut Ia setuju dengan menganggukkan kepalanya.



"Aku minjam jas kamu ini," ujar Felicia dengan langsung merebut jas yang di bawa Rendra. Lalu Ia pun menutupi wajahnya dengan jas tersebut.



"Dia datang, aduh gimana ini?" gumam Felicia dengan panik, Ia melihat Ansel yang berlari ke arahnya dengan wajahnya yang sumringah.



'Eh, dia sedang sembunyi dari pria itu?' gumam Rendra lalu ia membalikkan tubuhnya kembali menghadap Felicia.



"Ah, jangan lihat aku," gumamnya panik.



Rendra pun melihat wajah Felicia yang kini tengah gugup dan panik, terlihat butiran keringat yang membasahi keningnya.



"Jangan bergerak," bisik Rendra, Ia menghimpit tubuh Felicia ke dekapannya dan menutupi wajahnya dengan jas miliknya. Hingga tak terlihat dari sisi mana pun.


Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang asik berduaan.



Felicia menurut dengan perintah Rendra, Ia pun diam dan tak bergerak sama sekali dalam dekapan Rendra. Hingga Ansel pun melewatinya, "ah di mana dia? Apakah aku salah lihat tadi? Tapi perasaan tadi aku lihat Felicia di sini," gumamnya seraya menoleh ke sana ke mari.



Ansel pun menepuk pundak Rendra, Ia ingin bertanya, namun tiba-tiba seseorang memanggilnya, "ketua kelas Ansel dari 10A di panggil oleh wali kelas," seru salah satu siswa.



Ansel pun mengurungkan niatnya, Ia menoleh ke arah Rendra yang sedang menghadapi tembok seraya menyembunyikan Felicia. Setelah Ansel pergi Felicia dengan buru-buru melepaskan diri dari pelukan Rendra.



"Terimakasih banyak, ini jas milik kamu," ucap Felicia dengan tatapan dingin.



"Eh, em\_\_" Jawab Rendra, Ia masih terdiam di tempat seraya menghadap tembok. Felicia melihat ekspresi yang di keluarkan oleh ketua kelas, Ia paham dari tatapan mantannya dan detak l jantung nya, dan pipinya yang merah merona.



'Gawat aku jadi salah tingkah sendiri begini,' batin Ansel, seraya mencium jas miliknya yang masih tercium aroma Felicia.



\---


---


Hingga beberapa hari kemudian Felicia terus menghindari Ansel, gosip tentang hubungan Ansel dan Atikah semakin menyebar luas dengan cepat, dan tempat duduk Kavin masih saja kosong. Felicia merasa kesepian Ia ada sedikit rasa rindu di hatinya keberadaan Kavin.

__ADS_1


Tapi Ia masih enggan berpendapat bahwa itu rasa rindu melainkan rasa kesepian karna tak ada teman satu bangkunya, dan perasaan ingin berterimakasih rasa bersalah dan lain sebagainya.


__ADS_2