
Namun bukannya membukakan pintu rumahnya untuk Felicia, ia justru memberikan password untuk pintu masuknya.
"Password nya 000123, masuklah." jawab Kavin singkat.
"Eh, tapi ... tapi bukannya lebih baik ..." ucapan nya terputus tak kala mendengar suara benda jatuh dari ponsel, Felicia pun panik ia membayangkan yang tidak tidak tentang Kavin.
"Kavin? Halo Kavin? Kavin ada apa?" tanya Felicia bertubi-tubi.
'Kenapa tiba-tiba hening? Apakah terjadi sesuatu pada Kavin? Apa yang terjadi? Aku harus masuk ke dalam dan memastikan keadaannya,' bati Felicia seraya menekan tombol password pintu rumah Kavin.
Tit ....
Pintu pun terbuka, Felicia menahan rasa takjub nya itu, ia buru-buru membuka pintu rumah Kavin. "Permisi? Kavin?" panggilnya Seraya mendorong pintu tersebut.
Felicia pun memberanikan diri untuk masuk, ia mencari keberadaan seseorang di rumah tersebut, namun ia tak melihat satu orang pun di sana, suasananya begitu sepi dan hening, ia pun memfokuskan mencari sosok Kavin. hingga akhirnya ia melihat ke arah lantai dekat ruang makan.
"Astaga! Kavin!" Teriak Felicia seraya berjalan cepat menghampiri tubuh Kavin yang tengah terkapar di lantai.
"Kavin? Kavin bangun!" ujar Felicia seraya menepuk pelan pipi Kavin.
Namun Kavin tak kunjung menjawab pertanyaan Felicia, ia hanya terdiam, Felicia pun mengangkat kepala Kavin dan merendahkan di pahanya, ia mencoba membangunkan Kavin dengan cara menepuk pipinya dan mencubit hidungnya.
Felicia begitu panik, "hei! Jangan bercanda! Tadi bukannya kamu yang berbicara denganku di ponsel? Kavin bangun!" seru Felicia ia pun melihat sekitar, dan ia melihat ke arah sisi Kavin ada sebuah tangga menuju lantai dua.
"Apakah kamu terjatuh dari tangga tadi? Ya ampun," gumam Felicia seraya menatap kasihan.
'Sepertinya tidak ada luka luar, tapi mungkin saja kepalanya yang terbentur keras.' gumam Felicia seraya mencari luka di sekujur tubuhnya, Felicia pun mengecek napasnya, 'astaga! Napasnya melemah!' batin Felicia ia pun menjadi lebih panik.
Felicia meletakkan kepala Kavin kembali di lantai, Felicia pun berdiri dan mencari bantal. Ia melihat di ruang tamu ada bantal duduk, Felicia pun mengambilnya dan meletakkan di lantai untuk bantalan Kavin.
'Gawat gimana ini! Hanya ada aku dan Kavin, jika terjadi sesuatu pada Kavin, maka aku yang akan menjadi tersangka! Gawat, gimana dong. Napasnya mulai melemah begitu,' batin Felicia seraya melihat tubuh Kavin yang terkapar di lantai.
'Bagaimana ini! Masa aku tinggalin begitu saja, nanti ... Ahhhg,' batin Felicia bergema.
'Tunggu! Aku ingat, aku pernah baca di berita internet, di saat darurat seperti ini ....' seketika ia menatap bibir seksi Kavin, bibir yang tipis dan bawah yang tebal namun kecil, warnanya yang merah jambu.
'Na-napas buatan, tidak tidak aku tidak akan melakukannya!' batin Felicia, namun wajahnya justru merona membayangkan bibirnya mendarat di bibir Kavin yang seksi itu.
__ADS_1
'Tapi, menyelamatkan dia adalah prioritas Felicia! Ingat dia sering membantu kamu! Jangan terlalu banyak berpikir!' gumamnya seraya mendekatkan wajahnya pada Kavin.
Dag dig dug dag dug suara jantung Felicia yang begitu kencang, wajahnya yang merah merona, napas nya yang semakin memanas dan terasa berat, entah apa yang dia rasakan, ia tak bisa menjelaskan dengan kata-kata, pasalnya ini adalah ciuman pertamanya.
---
"Hei jangan keterlaluan!" ucap seorang gadis kecil yang meminta pada temannya untuk melepaskan seorang anak laki-laki yang di kurung dalam lemari.
"Biarkan saja, anggap saja pelajaran untuk nya! Supaya dia tidak banyak gaya lagi kedepannya!" jawab anak laki-laki lain seraya tersenyum puas.
Duk ...
Duk ...
Duk ...
"Hei! Buka pintunya!" Teriak anak laki-laki tersebut, seraya mengetuk pintu lemari tersebut dengan sekuat tenaga.
"Berisik banget!" gerutu anak laki-laki tersebut seraya memutar kepalanya.
"Ta-tapi ..." jawab gadis kecil tersebut seraya menatap ke arah lemari, ia sedikit ragu-ragu dan merasa kasihan padanya.
Namun temannya menyeret tangannya, ia pun hanya diam seraya menatap kearah lemari. "Sudah ayok pulang, di sini berisik banget," desak anak laki-laki tersebut.
"Aku ingin makan kue gulung di tempat kemarin, ayo pergi!" ajaknya.
"Ok!" jawab gadis tersebut, dan mereka pun pergi meninggalkan anak malang tersebut yang terkurung di lemari.
"Tolong jangan pergi! Tong buka aku!" Serunya dengan suaranya yang semakin melemah.
Duk ...
Duk ...
"To-long aku__" ujarnya.
'Tolong aku, siapa pun tolong!' batinnya seraya berjalan mundur dari pintu lemari, ia mencengkram dadanya yang mulai terasa sesak, napas nya sudah mulai terengah-engah.
__ADS_1
"Hah ... Hah ..." napasnya mulai berat, keringatnya bercucuran membasahi wajah hingga rambut yang menutupi wajahnya basah kuyup.
'Aku tidak bisa bernapas, seseorang tolong siapapun bantu aku!' batinnya dengan kesadaran yang semakin melemah. Ia pun meringkuk kan tubuhnya di dalam lemari yang gelap tersebut.
Tak lama kemudian seseorang datang ke arah lemari tersebut, seorang gadis kecil berkucir kuda. "Eh, Kenapa ada sapu di sini?" Monolognya.
"Hei, sapu! Beraninya kamu menghalangi pintu lemari ini!" serunya membentak sebuah sapu yang menjadi alat kunci lemari oleh anak-anak nakal tadi.
Anak laki-laki tersebut adalah Kavin kecil, Ia selalu di bully sedari TK, Ia menutup wajahnya yang tampan agar tak jadi bully-an namun kenyataan nya salah, kenyataan nya Ia tetap di bully setelah menyembunyikan ketampanan nya tersebut. Walaupun bukan wajahnya yang menjadi sasaran namun tetap saja.
'Ah, ada orang? Tolong aku ... tolong!' gumamnya dalam hati, Ia sudah tak bisa mengeluarkan suara sama sekali bibir nya bisa bergerak namun suaranya sudah tak mampu keluar dari mulutnya.
"Katakan padaku sapu! Siapa yang menaruh kamu di sini sapu? Katakanlah padaku, nanti biar aku marahi orang yang menaruh kamu di sini!" ujar gadis tersebut seraya menjulurkan tangannya mengambil sapu tersebut.
'Tolong buka pintunya,' gumam Kavin dengan pandangannya yang mulai kabur. Lalu gadis kecil tersebut mengambil sapi yang menghalangi lemari sebagai kunci.
Setelah saku itu terlepas, lemari pun terbuka gadis kecil itu pun terkejut. "Ahg! Kenapa ada orang di sini!" teriaknya.
"Hei kamu tidak apa-apa? Aku akan memanggil pak guru dulu," ujar gadis kuncir kuda tersebut, dengan panik.
'Aku tidak kuat bicara,' gumamnya dalam hati dengan keringat dingin yang mulai bercucuran di seluruh wajahnya.
'Ini pertama kalinya, aku merasa terganggu oleh rambutku. Aku hanya ingin melihat siapa yang menolongku,' batinnya, namun matanya sudah tak tahan untuk terbuka lagi.
"Hei! ... Hei ... Kamu kenapa!" teriak gadis kecil tersebut.
"Aku akan menolong kamu!" serunya seraya mendekat ke Kavin kecil.
'Aku hanya ingin tahu namanya,' batin Kavin kecil lalu ia pun tak sadarkan diri.
---
---
"Aku harus beranikan diri__" gumam Felicia dengan mendekatkan wajahnya, ia menutup matanya dan memancung kan bibirnya.
Muuuuuuuu... ~~~~
__ADS_1