
Kavin memandang kepergian Felicia, ia paham Felicia gugup saat tak sengaja di sentuh olehnya.
Setelah Felicia hilang dari pandangannya, kavin pun memutar tubuhnya hendak masuk kembali ke dalam ruangan kelasnya, namun ia melihat Ansel yang kini berdiri melihat ke arahnya dengan tatapan tajam.
'Pria itu, bukannya yang saat itu?' batin Ansel dengan memandang rendah kavin.
"Hei, Ansel!" panggil salah satu teman Ansel yang ada di sampingnya.
"Hmm?" jawab Ansel dingin, ia masih menatap tajam ke arah kavin yang saat ini masih menatap kepergian Felicia, kavin hendak masuk kembali ke dalam kelas namun ia melihat Ansel yang kini menatapnya dengan tajam.
"Gadis tadi cantik sekali, dari kelas mana ya? Apakah kamu kenal? Tubuhnya sungguh menggoda, baru sekali lihat saja aku sudah tidak tahan... Rasanya aku ingin sekali jadi pacarnya," ujar teman Ansel yang sedari tadi menatap haus tubuh Felicia.
Ansel mendengar ucapan temannya ia langsung menolehkan kepalanya, dan menatap tajam ke arah pria tersebut, "apa beraninya..." Namun belum sampai ia menyelesaikan ucapannya, ia di kejutkan oleh tangan yang melayang begitu cepat ke arah wajah temannya itu.
Bugh....
"Ah... Ah... Ah..." pria tersebut tak dapat bicara, tak kala mulutnya di himpit oleh kedua pipinya yang di cengkeram oleh sebuah tangan yang begitu putih dan mulus.
"Jangan bicara seperti itu lagi, atau mulutmu tak bisa bicara selamanya! Sekali lagi aku dengar mulutmu yang kotor ini membicarakan dia! Akan aku sobek mulutmu ini!" ujar Kavin dengan mencengkram kuat mulut pria tersebut.
"Ma-maaf!" ucap pria tersebut dengan air mata yang mengalir, ia begitu ketakutan sampai tubuhnya pun ikut bergetar.
Sedangkan Ansel hanya diam di tempat, seraya menatap berapa emosinya Kavin saat ini, Ansel menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala Kavin. Ia menilai dengan tatapan matanya yang terlihat meremehkan.
'Lagi-lagi aku lihat pria ini! Apakah dia punya hubungan spesial dengan Felicia?' batin Ansel dengan tatapan cemburu.
"Ampun, ampun! Aku janji aku tak akan bicara begitu lagi! Mohon maafkanlah aku!" ujar pria itu dengan penuh tekanan.
Sedangkan di sisi lain, ada seorang gadis yang sedari tadi mengamati gerak gerik mereka dari salah satu sudut ruang kelas. Ia menatap penuh kekecewaan di wajahnya, dia adalah Atikah seorang gadis yang amat mencintai Ansel. 'Hmm, aku tidak pernah melihat ekspresi wajahnya seperti itu sebelumnya, ada apa dengan hatiku? Aku benar-benar iri dan benci, aku merasakan sakit di dadaku,' gumamnya dengan tatapan matanya yang kosong.
__ADS_1
Setelah pria itu bersungguh-sungguh minta maaf dan berjanji, Kavin pun melepaskan cengkraman tangannya. Lalu memutar tubuhnya tanpa melihat ke arah Ansel, walaupun sebenarnya ia melihat di balik poni panjangnya.
Kavin pun tak menghiraukan tatapan sepele Ansel padanya, ia pun masuk ke dalam kelas. Setelah sampai di dalam kelas Kavin duduk di bangku sekolahnya, ia meletakkan dan menatap wadah bekal itu.
"Apa!" seru Hendra yang sedang menyantap roti beli dari kantin sekolah, ia langsung menghampiri Kavin.
"Kavin! Kamu dapat bekal dari mana? Apakah dari Pacarmu? Dia bisa memasak? Ini tidak adil bagiku! Aku setampan ini, tapi masih saja tidak laku! Aku setiap hari hanya makan roti saja, atau sosis! Aku benar-benar iri dan dengki!" Seru Hendra dengan melihat wadah bekal tersebut.
"Coba aku ingin lihat, coba lah buka!" ucapnya lagi dengan duduk di sebelah Kavin, ia benar-benar tak sabar untuk melihat isinya seperti apa.
"Bukan, sebenarnya ini..." Kavin mencoba menjelaskan salah paham temannya itu, namun Hendra buru-buru memotong ucapannya.
"Diam! Cepat buka! Aku ingin cicipi lebih dulu!" Seru Hendra dengan tak sabar.
"Baiklah," jawab Kavin, lalu ia pun membuka bekal buatan Felicia tersebut. Dengan tatapan yang penuh semangat dan antusias, Hendra seketika merasa sedikit terkejut dan jijik.
"Apakah ada yang dendam padamu?" Sambungnya lagi dengan keringat dingin di wajahnya. Begitu pula dengan Kavin, namun ia tetap terdiam dan positif thinking.
"Ya sudah lah aku mau makan, jika kamu tidak suka melihatnya lebih baik kamu makan saja roti mu itu, dan kembali duduk di tempat mu. Lagian ini bekal milikku dan untukku makan siang," jawab Kavin, lalu ia mulai mengambil telur balado.
"Aku mau ini," ujar Hendra seraya mengambil perkedel dan bakwan jagung.
"Hmm, tapi soal rasa enak juga. Tampilannya memang mengerikan, seperti seorang yang sedang dendam." ujar Hendra dengan mulutnya yang penuh.
"Boleh minta cemilannya?" ujar Hendra.
"Jangan semua," cegat Kavin saat Hendra hendak mengambil cuci mulutnya lebih dari satu.
__ADS_1
"Cih, pelit banget! Cuman di kasih satu!" gerutunya seraya kembali ke bangkunya.
Sedangkan Kavin ia melahap satu persatu bekal buatan Felicia dengan penuh semangat, ia begitu bahagia dengan makanan yang Felicia bawakan tersebut, tanpa sadar ia menyunggingkan bibirnya.
Mulai hari itu Kavin tak lagi kelaparan, Felicia terus membawakan bekal untuknya. Ia selalu memberikan bekal tersebut dengan tanpa saling sentuh, Felicia begitu sensitif dengan sentuhan Kavin.
~~~~~~~~~~~~
---
Hingga tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kini ujian tengah semester telah selsai.
DING...
Dong....
Ding...
Dong...
Suara bell berbunyi, menandakan waktu untuk istirahat telah selsai.
"Baiklah semuanya, ujian tengah semester telah selsai, kini kalian bisa kembali ke kelas kalian masing-masing!" ujar sang guru seraya membereskan lembaran soal dan jawaban.
"Ya Tuhan rasanya begitu melelahkan, syukur lah... Akhirnya ini semua berakhir, tinggal menunggu hasil nilai saja," gumam salah satu siwi di ruang ujian Felicia.
'Syukur lah, semuanya selsai. Semoga nilai ku memuaskan semuanya, aku ingin segera kembali ke kelas,' batin Felicia seraya beranjak dari duduknya, lalu berjalan dengan cepat menuju ruang kelasnya.
Sesampainya di ruang kelasnya, ia melihat bangku masih kosong. Kavin belum masuk ke kelas 10D, ia pun sedikit lega. Pasalnya ia merasa ada yang aneh dengan dirinya, jika dekat dengan Kavin ia merasa begitu gugup, dan malu, namun juga merasa bahagia.
Felicia pun segera menuju bangkunya dan duduk di kursi, seraya mendengarkan keluhan siswa-siswi lainnya. "Hei! Bagaimana ujianmu?" tanya siswi lainnya.
"Haaah, jangan tanyakan itu! Hanya membuat aku semakin depresi nanti! Aku benar-benar merasa gugup di setiap soal yang ku baca, apa lagi mata pelajaran matematika, aku benar-benar asal centang saja, aku baca bolak-balik pun tetap tak ada jawaban, bahkan lembar kertas untuk coretan saja masih begitu kosong!" jawab siwi lain dengan nada miris.
__ADS_1
Felicia pun merasakan apa yang mereka rasakan, pasalnya Felicia tidak begitu ahli dalam mata pelajaran matematika. Selain matematika semuanya nilai sempurna.