Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
34. kecantikan Felicia


__ADS_3

"Ah.. Sialan! Ia aku ingin mengungkapkannya, tapi aku tidak memiliki keberanian," jawab pria tersebut.


"Ah, pantesan kamu selama ini selalu menjomblo! Kamu cemen banget sih, muka cool tapi nyali kaya kerupuk lima ratusan hahaha," seru salah satu teman pria tersebut.



Sedangkan Hendra hanya diam mendengarkan ocehan teman satu kelasnya, seraya memperhatikan Felicia dan kavin yang berjalan bersama menuju kumpulan para siswa-siswi.



'Mereka pasti bertemu di tengah jalan, lalu kesini bersama-sama. Ya pasti begitu,' gumam Hendra meyakinkan hatinya, namun bibirnya begitu masam melihat ke arah mereka.



"Hei! Kavin! Sebelah sini!" Seru Hendra dengan melambaikan tangannya ke arah mereka.



Kavin pun terkejut mendengar teriakan Hendra, "eh, kamu ke sana dulu. Aku akan membeli sesuatu di toko itu," ujar Felicia seraya menunjuk ke arah toko yang ada di sana.



"Ya," jawab kavin seraya memutar kepalanya, menatap Felicia.



Felicia pun memutar tubuhnya dan hendak berjalan, namun ia terhenti tak kala kavin berdehem. "ehmm.."



"Apa?" Felicia kembali memutar kepalanya dan melihat ke arah kavin, namun kavin memalingkan wajahnya seketika.



"Hati-hati," ucapnya seraya menoleh kembali ke arah Felicia.



Deg...



Dag..



Dig...



Dug...



A-aku t-tau!" jawab Felicia seraya memutar wajahnya seketika, wajahnya langsung ngeblus seketika bak kepiting rebus, malah lebih merah.



"Lari!" teriak Felicia seraya berlari ke arah toko yang ia tuju, ia menghindari tatapan kavin.



Sedangkan kavin merasa bingung akan sikap Felicia yang menurutnya aneh, pasalnya ia hanya bilang hati-hati, namun reaksi Felicia justru begitu menggemaskan, pikir kavin.



Setelah Felicia menghilang dari pandangannya, kavin pun berjalan menuju Hendra sang ketua kelas 10D, yang baru saja memanggilnya.



"Ada apa? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya kavin berterus terang, setelah berada di hadapan Hendra.



"Tidak ada, semuanya sudah beres oleh teman-teman yang lain sedari tadi," jawab Hendra seraya tersenyum ramah.



Hendra pun terdiam sejenak seraya menundukkan wajahnya, "tapi..." ucap Hendra setelah beberapa menit terdiam.



"Ada masalah pribadi, dan aku ingin meminta bantuan kamu. Kavin, bisakah kamu membantu masalah ku ini?" ujar Hendra dengan wajah serius.



Kavin terdiam sejenak, lalu menatap lekat dan memperhatikan mimik wajah Hendra.

__ADS_1



"Iya," jawab kavin singkat.


---


Sementara itu di suatu toko, Felicia kini tengah memilih jajanan kesukaannya.



'Akhir-akhir ini aku sangat aneh, aku selalu merasa jantungku berdetak dengan begitu kencang. Apakah aku mempunyai gejala penyakit jantung ya?' batin Felicia di tengah-tengah kesibukannya memilih jajan.



'Tapi... Tadi kavin begitu kuat, dia berani menghentikan sepeda itu dengan satu tangannya. Apakah tadi dia benar-benar sedang marah yah? Hehehe lucu sekali,' batin Felicia seraya terkikik geli.



"Ah, akhirnya ketemu juga," gumamnya setelah menemukan jajan favoritnya.



'Biskuit ini... Aku selalu membelinya jika aku datang ke sini saat bersama Ansel dulu, tapi sayang itu dulu, dan sekarang hanya tinggal aku sendiri di sini,' batin Felicia seraya menggapai biskuit reggae tersebut.



Namun saat hendak menggapainya, ia tiba-tiba tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan tangan orang lain, yang hendak mengambil biskuit tersebut. "Eh, maaf!" ucap Felicia tanpa melihat orang tersebut.



"Fei!" ujar Ansel seraya melihat wajah wanita yang ada di sampingnya.



"Eh, Ansel!" ucap Felicia, dengan wajah terkejut dan panik.



Felicia pun dengan gerakan cepat mengambil biskuit tersebut, namun Ansel pun begitu. Ansel mengikuti gerakan Felicia, Felicia pun menyodorkan belanjaannya ke kasir, begitu pula dengan Ansel.



"Tolong di satukan saja dengan teman saya," ucap Ansel.




"Satukan," ucap Ansel pada kasir tersebut, tanpa menghiraukan ucapan Felicia.



"Baik, semuanya totalnya 100.000," ucap kasir tersebut seraya menyerahkan belanjaan mereka berdua.



"Aku akan bayar menggunakan aplikasi," ujar Ansel seraya mengeluarkan ponselnya.



"Ok! Silahkan letakkan ponsel anda di depan mesin secan ini," jawab kasir tersebut seraya menunjukan alat scan.



Setelah selsai membayar, Felicia pun keluar dengan jalan pelan, ia sedikit gugup dan panik. Pasalnya selama ini selalu menghindari Ansel tanpa memberi penjelasan sama sekali.



"Terimakasih selamat datang kembali," ujar sang pegawai toko tersebut.



"Terimakasih telah mentraktir aku," ucap Felicia lirih.



"Sama-sama," jawab Ansel dengan senyuman manisnya.



"Tapi... Sungguh kebetulan sekali ya?" ujar Felicia dengan senyuman pahit.



"Iya yah, aku tidak menyangka akan bertemu kamu di sini," jawab Ansel seraya tersenyum bahagia.


__ADS_1


"Aku merasa ada yang kurang, jika datang ke sini tapi tidak membeli biskuit ini,apakah kamu juga sama denganku Fei?" tanya Ansel seraya melihat bungkus biskuit reggae tersebut.



"Ha.. Ha.. Iya," jawab Felicia dengan menatap fokus ke jalan.



"Apakah kamu masih ingat? Dulu kita setia minggu akan datang ke sini, menggunakan sepeda, atau jalan kaki bersama-sama," ujar Ansel dengan menatap jalanan.



"Iya," jawab Felicia dengan wajah murung.



"Jujur, aku kangen masa-masa itu Fei," sambung Ansel seraya tersenyum.



"Apa iya?" jawab Felicia dengan wajah datar.



Mereka pun berjalan bersama, dan terdiam sejenak.



"Ngomong-ngomong fei,..." ucap Ansel terpotong.



"Hmm?" jawab Felicia seraya menghentikan langkahnya, ia melihat ke arah Ansel yang kini terlihat murung.



"Kamu kenapa selama ini Fei?" tanya Ansel dengan wajah serius, Felicia pun tertegun akan pertanyaan Ansel.



"Kenapa sekarang aku jarang sekali melihat kamu, dan di saat aku ingin bertemu dengan kamu, kamu seakan-akan menghindari aku." ujar Ansel dengan menatap Felicia.



"Ehmm. Itu," Felicia memalingkan pandangannya, ia menjadi begitu bingung dan gugup ingin menjelaskan apa kepada temannya sekaligus cinta masa kecilnya itu.



"Fei!" panggil Ansel yang merasa tak sabar mendengar jawaban Felicia yang memuaskan, Ansel pun mendorong tubuh Felicia.



"Apakah kamu sengaja menghindari aku Fei?" tanya Ansel dengan penuh tekanan, hingga membuat Felicia tercengang.



"Ti-tidak," jawab Felicia panik, ia pun menundukkan wajahnya.



"Fei! Apakah aku melakukan kesalahan? Apakah aku melakukan sesuatu yang membuat kamu marah? Dan menghindari aku Fei? Kalau iya, tolong beritahukan padaku Fei!" seru Ansel, tanpa sadar ia telah menyakiti Felicia.



"Ah sakit!" Felicia merintih kesakitan tak kala pundaknya di cengkram dengan begitu erat.



"Eh, itu bukannya feifei?" gumam Hendra.



'Tunggu! Bukannya pria itu adalah pria yang sedang Felicia hindari selama ini? Dia mengikutinya Felicia sampai ke sini?' batin Hendra.



"Hei! Kavin, pria di sebelah Felicia itu.. . Kamu kenal?" tanya Hendra tanpa sadar kavin sudah tidak ada di sampingnya.



"Eh, di mana kavin?" gumam Hendra dengan mencari sosoknya, namun ia melihat ke arah Felicia yang tengah di gertak oleh Ansel, ia pun melihat kavin saat ini tengah berlari ke arah Felicia.



"Eh! Kavin!" seru Hendra dengan wajah terkejut.


__ADS_1


'Ternyata dia kenal pria itu?' gumam Hendra seraya menatap sedih ke arah kavin yang tengah berlari ke arah Felicia.


__ADS_2