Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
tatapan mata


__ADS_3

"Hari apa yang kamu maksud? Apakah hari di mana kamu tertidur saat ujian? Hingga kamu bisa mendapatkan nilai segitu?" ucap Kavin mencoba mengalah pembicaraan Felicia.


'Ahgg! Sialan Pak Hans!' gerutu Felicia dalam hati.


"Sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawabku, bagaimanapun Pak Hans meminta ku untuk menuntun kamu agar bisa mendapatkan nilai bagus, setidaknya nila, rata-rata. Jadi sesudah sepulang sekolah kita akan belajar bersama di kelas," sambung Kavin dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sebenarnya Kavin amat bahagia dengan titah yang di berikan Pak Hans padanya.


"Mari kita berjuang bersama-sama, untuk mendapatkan nilai yang lebih baik untuk ujian yang akan mendatang!" ajak Kavin berterus-terang.


Felicia pun menoleh ke arah Kavin dengan tatapan malu seraya memeluk erat lembar kertas soal matematika, 'astaga Kavin! Jangan mengatakan kekurangan seseorang dengan jelas-jelasan seperti itu!' batin Felicia.


Sedetik kemudian ekspresi Felicia pun berubah, 'eh, tunggu sebentar! Apa katanya tadi? Sepulang sekolah belajar bersama? Hanya kita! Kita berdua?' batin Felicia dengan menelan kembali ucapan Kavin barusan, lalu ia pun merasa berbunga-bunga.


"Ya sudah ayok!" ajak Kavin.


Felicia pun mengikuti langkah kaki Kavin, ia menatap punggung Kavin dengan wajahnya yang merah merona. Ia mengembangkan senyuman di bibir mungilnya, hingga mereka sampai di depan kelas 10D. Mereka pun masuk ke dalam kelas yang kosong, kini hanya ada mereka berdua, Kavin pun menuju kursinya, lalu duduk di sana.


"Ini," ujar Kavin dengan memberikan kotak bekal yang ia terima dari Hendra.


Felicia merasa terkejut, bagaimana bisa bekal makan siang yang di kasih ke Hendra berada di tangan Kavin. Felicia pun menerima wadah bekal tersebut.


Ia menatap kotak makan tersebut dengan tatapan sedih, pasalnya ia berpikir. Kavin sudah tidak membutuhkan bekal buatannya, karena sekarang sudah banyak yang mengantri untuk memberikan bekal yang lebih lezat dan mahal untuk Kavin.


"Bagaimana bisa..."


"Hendra yang memberikannya kepadaku tadi," ucap Kavin memotong apa yang akan di tanyakan kepada dirinya.


"Oh, begitu..." jawab Felicia dengan memasukkan wadah tersebut ke dalam tasnya.


'Ini mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya aku membawakan bekal untuknya, aku sedikit merasa kesepian dan kehilangan,' batin Felicia dengan menundukkan wajahnya.

__ADS_1


Kavin yang memiliki iq tinggi ia paham akan ekspresi yang di keluarkan Felicia, ia bersedih dengan terus menatap lekat wadah bekal tersebut. Kavin pun tersenyum kecil. "Itu, bolehkah jika besok kamu membuat bekal lagi untukku? aku sudah merasa nyaman dan cocok dengan masakan milikmu," ujar Kavin.


"Hm?" Felicia merasa terkejut, ia langsung menegakkan kepalanya dan menoleh ke arah Kavin yang kini berada tepat di sampingnya.


"Apa katamu?" tanya Felicia memastikan pendengarannya.


"Tolong siapkan bekal untukku besok, seperti biasanya." Ucap Kavin dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Eh, iya!" jawab Felicia dengan matanya yang berbunga-bunga, ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, ia tak tahan. Ingin rasanya berteriak sekencangnya karena rasa bahagia yang tak bisa ia ceritakan.


Wajahnya merah merona, 'astaga! Aku benar-benar senang banget!' batin Felicia, ia pun bersembunyi di bawah bangku karena tak ingin Kavin melihat kekonyolan Felicia.


Kavin pun beranjak dari duduknya dan berpindah di meja depan, "sekarang ayo kita mulai belajarnya," ajak Kavin dengan menyeret kursi yang ada di sampingnya dan membalikkan menghadap bangku Felicia.


"Ok!" jawab Felicia dari bawah meja, lalu ia pun duduk dengan benar, dengan terus tersenyum bahagia. Seakan-akan bunga terus bertebaran di depannya.


"Iya, ... Bisa di bilang seperti itu," jawab Felicia dengan wajah gugup dan memalingkan pandangan nya. 'Ya mana mungkin aku mengatakannya, itu memang kemampuan ku yang sesungguhnya,' batin Felicia.


"Oh, kalau begitu kita hari ini mempelajari bagaimana cara agar tidak tertidur saat ujian, atau belajar," ucap Kavin.


"Eh! Emang ada caranya ya?" tanya Felicia dengan wajah lugu.


"Ada, ayo kita melakukan kontak mata selama setengah jam!" jawab Kavin.


Felicia hanya bisa tercengang mendengar ucapan yang Kavin lontarkan, pasalnya wajah Kavin tertutup rapat oleh rambut, di tambah Felicia telah melihat mata Kavin yang begitu lucu dan unik.


'Tunggu! Apa tadi dia bilang? Melakukan kontak mata setengah jam? Apa nggak salah?' batin Felicia dengan menatap wajah Kavin yang tampak berkilau.


'Tunggu, tunggu! Melakukan kontak mata kan? Di mana aku harus menatapnya? Aku bahkan tidak melihat di mana matamu! Bagaimana bisa aku melakukan permainan ini!' batin Felicia.

__ADS_1


"Ekhem apakah kamu keberatan?" tanya Kavin sedari menunggu jawaban Felicia, ia merasa gugup terus di tatap oleh Felicia, namun di balik itu semua ia merasa bahagia dan senang bisa menatap dengan bebas tanpa harus memperlihatkan ekspresi wajahnya.


"Tidak, aku tidak keberatan sama sekali!" jawab Felicia dengan mengibaskan tangannya, meremehkan Kavin.


"Baguslah kalau begitu," jawab Kavin dengan mengeluarkan benda pipih kesayangannya.


'Astaga! Apakah dia tidak menyadari permasalahannya di mana sama sekali?' batin Felicia.


"Kalau begitu ayo kita mulai!" seru Kavin seraya menekan tombol pada layar ponselnya, yang menunjukkan waktu yang terus berjalan.


'Astaga!' batin Felicia dengan membulat kan kedua matanya menatap ke arah Kavin, entah menatap ke sembarangan arah.


Lama-lama Felicia menyelusuri setiap inci dari sudut wajah Kavin dengan kedua matanya, ia menatap lekat hidungnya yang mancung, wajahnya yang oval, dan bibirnya yang tipis namun terkesan seksi dan tegas.


'Ah, kalau di pikir-pikir... Selain matanya yang tak terlihat, kalau di perhatikan dengan baik. Memang Kavin sangat tampan. Lihatlah hidungnya yang mancung, wajahnya yang berbentuk oval, sehingga membuat siapa saja iri padanya, dan juga bibirnya sangatlah menawan.' batin Felicia, dan tanpa ia sadari ia tengah meneguk air liurnya sendiri saya melihat ke arah bibir Kavin.


'Astaga! Apa yang aku pikirkan! Buanglah jauh-jauh pikiran jahat. Ya ampun jantungku kambuh lagi!' batin Felicia dengan terus menatap wajah Kavin.


Namun tiba-tiba Felicia menundukkan wajahnya, karena ia merasakan panas di wajahnya dan merasa jantungnya yang hendak loncat. 'Ah, ini tidak adil namanya! Masa aku sendiri yang merasakan malu, dia malah asik sesuka hatinya menatap aku tanpa rasa malu, ntah dia berkedip atau tidak aku juga nggak tau kan? Kan dia tertutup oleh rambutnya!' batin Felicia yang telah menyadari bahwa ia di bohongin oleh Kavin.


"Mmm, Kav..."


Bruk...


Felicia hendak melontarkan rasa keberatan, namun terputus tak kala Kavin menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan begitu keras.


"Kavin~" panggil Felicia dengan nada bergetar, ia panik akan terulang kembali akan apa yang terjadi pada Kavin pada saat itu.


Felicia pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Kavin, "hei! Kavin! Kavin ada apa dengan kamu!" Teriak Felicia seraya duduk di samping Kavin.

__ADS_1


__ADS_2