Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
42. Rangking pertama di seluruh siswa-siswi


__ADS_3

Davira terus memperhatikan sahabatnya itu, ia melihat ekspresi Felicia begitu aneh semenjak mendengar banyak wanita yang mengagumi Kavin. Davira pun menebak sahabatnya itu sedang cemburu.


"Fei!" panggil davira dengan wajah kakunya.



Felicia terkejut mendengar namanya di panggil seseorang, ia pun menghentikan lamunannya. "Eh, i-iya ada apa?" tanya Felicia dengan wajah gugup.



"Kamu... Apakah kamu menyukai Kavin?" tanya davira tanpa ekspresi.



Mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh sahabatnya itu, yang kini tengah duduk berada di depannya. Membuat Felicia menganga tak percaya akan pertanyaannya, namun sedetik kemudian wajah Felicia pun ngeblus, merah padam bak kepiting rebus. Namun bukan Felicia namanya jika tidak ngeles.



"Apa! Hahahaha..." Felicia tertawa geli dengan menepuk-nepuk meja sekolah dengan begitu kencang.



'Sudah jelas, masih aja...' batin Davira dengan menyunggingkan bibirnya.



"Astaga! Apa yang kamu tanyakan padaku sih Davira! Tebakan kamu yang satu ini benar-benar tidak masuk akal Davira! Hahaha.." ucap Felicia dengan tatapan kosong, ia masih menutupi perasaannya namun, terlihat jelas di raut wajahnya yang memantulkan 'benar tebakanmu Davira!'



"Siapa yang menyukai Kavin? Apakah kamu ini sedang bercanda? Kamu kali yang menyukai Kavin! Bahkan semua keluarga kamu menyukai Kavin! Hahaha," sambung Felicia degan gelak tawa, hingga air matanya keluar.



"Oh, begitu ya?" jawab Davira dengan senyuman penuh makna.



"Karena Kavin begitu populer sekarang, aku takut kamu akan merasa sedih karena hal ini, tapi berhubung kamu bilang kamu nggak suka ya sudah, aku jadi merasa lebih lega mendengarnya," sambung Davira dengan senyuman kecil di bibirnya, namun sayang Felicia masih terkikik geli akan pertanyaan Davira. Ia masih mencoba menutupi perasaannya dengan mencoba menipu sahabatnya itu. Namun sayangnya Davira begitu peka tentang ekspresi dan kondisi di sekitarnya, sehingga ia paham betul bahwa sebenarnya Felicia maupun kavin saling suka.



"Kamu ini! Benar-benar lucu, Davira! Bagaimana mungkin Kavin, sebegitu populer di kalangan siswi, kamu ini ada-ada saja! Bahkan kita saja tidak bisa melihat wajahnya seperti apa kan? Bagaimana bisa di sepopuler itu, Davira!" ujar Felicia dengan memukul mukul papan mejanya.



Namun saat Felicia tengah mengatakan itu, sungguh kebetulan Kavin datang, dan di ikuti para wanita cantik, dari berbagai kelas. Dari mulai satu angkatan dengannya maupun kakak kelas sekalipun. "Eh, dia datang!" ucap Davira dengan sengaja.



"Eh," Felicia yang mendengar ucapan sahabat nya pun ikut terkejut, dan berhenti dari gelak tawanya.



"Siapa? Siapa yang datang?" tanya Felicia seraya mengikuti arah tatapan mata Davira.



Felicia melihat Kavin dari balik kaca jendela, ia melihat wajha Kavin yang begitu bersinar baginya. Jantung Felicia berdetak begitu cepat seketika, Kavin berjalan dengan santai seperti biasanya. Diam tanpa suara, namun kali ini berbeda, ia di ikuti puluhan siswi dengan tatapan mata yang haus.



Melihat penampakan itu Felicia pun merubah ekspresi wajahnya dalam sedetik kemudian, dari wajahnya yang berseri-seri kini berubah seketika. Menjadi suram dan tegang, ia merasa emosi dan cemburu. Sedangkan Davira kini melirik wajah Felicia, dan tersenyum setelah melihat ekspresi yang di keluarkan oleh Felicia dengan begitu jelas.



"Kavin! Ahh. ..kamu sungguh harum banget sih..." goda siswi lain.

__ADS_1



"Wow! Kavin barusan berpapasan denganku!" sambung salah satunya.



"Ah... Dia berjalan kemari!" seru yang lainnya dengan penuh semangat.



"Kamu sudah lihat bukan? Betapa Kavin begitu populer? Akhir-akhir ini, selera perempuan begitu berat, dan juga unik," ujar Davira memanas manasi Felicia.



"Hmmm, iya..." jawab Felicia dingin.


Kavin pun memasuki ruang kelas, ia menatap ke arah Felicia. Begitu pula sebaliknya, namun seketika saat menyadari Kavin menatap ke arahnya, Felicia pun menundukkan wajahnya.


Srek...


Kavin menarik kursi duduk, lalu duduk di samping Felicia, ia langsung merebahkan kepalanya di atas meja dan ber bantal satu lengannya.



'Apakah dia tertidur?' batin Felicia, dengan gugup ia pun menoleh ke arah Kavin.



"Hmm," Felicia mengumpulkan senyuman di bibirnya, dan menatap bibir, hidung Kavin.



Glek...


'Astaga! Apa yang ada dalam pikiran bodohku ini!' umpat Felicia pada dirinya sendiri.




"Astaga!" teriak Felicia saat kepala Kavin bergerak lebih mendekat ke arah Felicia.



"Ekhem," Felicia panik dan gugup, ia pun duduk dengan tegap, dan menatap ke arah papan tulis.



'Hm..' tanpa Felicia sadari Kavin menyimpulkan senyuman di bibirnya.


---


Pukul 10.00...


Karena selsai ujian tengah semester, maka tidak ada pelajaran selama masuk kelas, mereka hanya menghabiskan untuk menghibahkan laki-laki maupun perempuan dan sinetron kesukaan mereka.


Sedangkan Felicia masih berusaha menenangkan jantungnya yang ingin meloncat dari dadanya.


"Semuanya, nilai ujian kita telah keluar! Siapa yang ingin melihat silahkan lihat nilai kalian masing-masing, yang ada di papan pengumuman!" ujar Hendra sang ketua kelas.



Para siswa-siswi pun berbondong-bondong keluar dari kelas mereka, menuju papan pengumuman. Termasuk Felicia dan Davira, sedangkan Kavin ia masih asik merebahkan kepalanya di atas meja.



Felicia pun berdiri dari kursinya, namun sebelum pergi ia menatap punggung Kavin. "Ayok!" ajak Davira, memecahkan lamunan Felicia.

__ADS_1



"Ok," jawab Felicia lalu berjalan keluar menuju papan pengumuman.



Setelah Felicia melangkah pergi dari pintu kelas tersebut, Kavin pun terbangun dan menatap kepergian Felicia.


---


Papan pengumuman...


Peringkat 50 besar siswa-siswi. Ujian tengah semester tahun pertama...


Felicia ikut berdesakan dengan para siswa-siswi lain, ia ingin melihat nilai seseorang, bukan nilainya yang di utamakan namun nilai Kavin lah yang pertama ia ingin lihat.



Tak perlu butuh waktu lama, ia langsung menemukan nama Kavin. Mata Felicia berbunga-bunga, ia begitu bangga dan bahagia, bak dialah orang yang peringkat pertama. Ia tersenyum bahagia, wajahnya berseri-seri. 'Hah! Ya ampun! Kavin... Dia peringkat pertama satu sekolah!' batin Felicia.



Namun saat ia sedang menatap nilai Kavin dengan bangga, tiba-tiba tubuhnya di dorong oleh beberapa siswi yang ingin cari tahu nama yang tercantum di peringkat 50 besar.



"Eh! Kavin peringkat pertama?" ujar seseorang seraya mendesak tubuh Felicia hingga ia semakin kebelakang.



"Sudah tidak di ragukan lagi, Kavin benar-benar jenius!" seru siswi lainnya.



"Dia bukan tipe lelaki tampan tapi otak kosong!" sambung yang lain.



Kini Felicia benar-benar semakin menjauh dari papan tersebut, ia hanya bisa pasrah, lalu memundurkan kakinya dengan menundukkan wajahnya.



"Dia bukan hanya tampan, tapi juga pintar!"



"Iya, iya,"



"Kamu tau nggak? Kalo aku bukan tipe yang suka mendengarkan pidato dengan serius. Aku merasa risih biasanya, atau gak suka mendengarkan ceramah dan pidato siswa-siswi ataupun guru. Namun berbeda dengan pagi ini, aku tadi mendengarkan pidatonya dengan penuh semangat dan serius. Aku masukan ke telingaku, baru kali ini aku mendengarkan pidato seseorang di bawah panasnya trik matahari dengan begitu fokus!" ujar seseorang.



"Hei minggir!" ucap siswi yang lain, mendorong tubuh Felicia.



Felicia hanya bisa pasrah dengan tindakan mereka, ia hanya bisa mendengarkan ocehan mereka, dengan wajah yang masam.



"...."



"Mengapa aku merasa sakit dan sedih?" gumam Felicia seraya memutar tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2