Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
18. paniknya mr. Hans


__ADS_3

"Hmm, dengar kata paman. Kejar dia sampai dapat!" ujar sang paman seraya menghampiri Felicia.


"Nak, sudah habis? Mau nambah lagi?" tawar sang paman.


"Eh, nggak usah paman. Saya sudah kenyang. Tapi rasanya memang ingin nambah lagi, hanya saja perut saya sudah menolaknya. Hehehe," tolak Felicia dengan ramahnya.


"Oh begitu, ya sudah besok ke sini lagi ya?" ujar sang paman.


"Eh, i-iya paman pasti, kedai ini akan menjadi tempat favorit saya mulai detik ini," puji Felicia, hingga membuat sang paman tersipu.


"Wah begitu, saya senang sekali mendengar nak Felicia bilang begitu."


"Iya sudah paman, ini sudah mulai mau malam. Felicia izin pamit dulu ya? Makasih banyak traktirannya ya paman hehehe," ucap Felicia seraya membungkuk kan setengah badannya.


"Eh jangan sungkan, paman malah senang sekali. Paman akan menunggu kedatangan Felicia ke kedai paman, jangan sungkan ya?" ujar sang paman.


"Kavin!" panggil sang paman, Kavin pun menoleh ke arah sang paman. Lalu menghampirinya.


"Sudah kamu tidak usah beres-beres lagi, sana kamu antar Felicia pulang saja. Sudah mau malam anak gadis pulang sendiri takut terjadi apa-apa," perintah sang paman.


"Baik paman," jawab Kavin, lalu ia pun melepaskan topinya.


Felicia berpamitan kepada paman, setelah itu pergi dari kedai tersebut. Sedangkan Kavin sudah lebih dulu.


"Hmm, itu ... terimakasih banyak ya?" ujar Felicia dengan malu-malu.


"Hmmm?" Kavin pun memutar tubuhnya, kini mereka berhadapan, Felicia menengadah dan menatap wajah Kavin yang tertutup rambutnya yang panjang. Namun sedetik kemudian Felicia menundukkan kepalanya, dengan wajahnya yang merah merona.


"Terimakasih banyak," ulang Felicia dengan menundukkan wajahnya.


"Sama-sama," jawab Kavin, lalu mereka pun melanjutkan jalannya. Namun setelah itu mereka hanya diam di sepanjang jalan, hingga akhirnya tiba di apartemen Felicia.


"Terimakasih, aku naik dulu ya?" ucap Felicia.

__ADS_1


"Iya," jawab Kavin Felicia pun memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan Kavin, sedangkan Kavin hanya diam di tempat dengan melihat kepergian Felicia.


 


Sesampainya di depan rumahnya, Felicia pun memutar knock pintu, lalu membuka pintunya dan menutupnya kembali. Felicia memasuki rumahnya, terlihat kedua orang tuanya sedang menunggu dirinya di ruang utama sembari menonton drama kesukaan sang mama.


"Malam mah, Fei langsung ke kamar ya mah, pah?" izin Felicia, lalu ia pun bergegas menuju kamarnya.tanpa menghiraukan pandangan kedua orang tuanya yang khawatir dan penuh tanda tanya.


Sesampainya di dalam kamar Felicia merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu ia melihat lukisan yang terpajang di dinding. Ia pun membayangkan ungkapan isi hati Ansel, lalu ia memejamkan matanya karena rasa sakit itu. Ia berharap itu semua hanya mimpi belaka, Namun saat ia hendak terlelap tiba-tiba perutnya berbunyi.


Kruuukkk ...


Kruukkk ....


"Ah, perutku sakit banget, perasaan aku sudah makan. Apakah karena makan terlalu banyak? " monolog Felicia seraya memegangi perutnya.


Ia pun bangkit dari tidurnya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri, lalu setelah itu ia pun kembali merebahkan dirinya kembali, namun lagi dan lagi perut Felicia berbunyi makin sering.


"Ah, sakit banget. Rasanya mules tapi kenapa di keluarin susah, ini benar-benar menyiksaku. Perut ku rasanya di putar-putar," keluh Felicia.


"Astaga mama," Gumam Felicia seraya tersenyum melihat tingkah sang mama. Ia pun menghampiri mamanya.


"Mah, ada obat pereda nyeri tidak?" tanya Felicia.


"Eh, kenapa? Apa yang sakit nak?" tanya mama seraya mengusap air matanya.


"Perut Fei sakit mah, tadi di ajak teman sebangku Fei makan di sebuah kedai, dan di sana makanan nya benar-benar enak. Jadi Fei tanpa sadar menghabiskan lima mangkok, kayaknya karena kebanyakan makan Mie deh mah," jelas Felicia.


"Oh begitu, nanti mama ambilkan dulu," jawab mama seraya beranjak dari duduknya, namun pandangannya tidak lepas dari drama yang masih terpampang di televisi.


"Mah, nanti kesandung loh mah," ujar Felicia.


"Eh, kamu ini." jawab sang mama lalu ia pun bergegas menuju kamarnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian ia membawa satu kotak obat, dan mengambil beberapa obat untuk putrinya. "Ini, makan satu dan ini makan setelah obat yang ini lalu nanti kalau merasa masih sakit kamu makan yang ini lagi," jelas sang mama seraya memberikan obat tersebut.


"Baik, makasih banyak ya mah, kalau begitu Fei ke kamar lagi ya mah," pamit Felicia, setelah menerima obat yang di kasih sang mama, lalu ia pun kembali masuk ke dalam kamarnya.


Setelah sampai di kamar ia pun segera meminum obat tersebut, sesuai dengan perintah sang mama. Tak lama kemudian ia merasa ngantuk lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur, Felicia menutup matanya secara perlahan hingga akhirnya ia pun terlelap sampai pagi.


Jam 6:50.


Felicia sudah bersiap menggunakan seragam sekolahnya, ia sudah bersiap dengan wajah sedikit pucat, karena sejak subuh ia sudah merasakan sakit kembali pada perutnya.


Felicia pun keluar dari kamarnya, ia menuju meja makan. "Mah, kayaknya Fei gak sarapan dulu deh, rasanya penuh banget perut Fei. Mungkin karena di perut Fei masih begitu banyak bakmie ayam nya, Fei langsung berangkat ya mah?" pamit Felicia.


"Eh, apa kamu benar nggak apa-apa? Apa sebaiknya kamu izin saja hari ini nak?" tanya sang mama panik.


"Nggak lah mah, masa baru masuk 3 minggu Fei izin sih, nanti ketinggalan mata pelajaran. Apa lagi hari ini ada mata pelajaran bahasa Inggris, sama fisika." jawab Felicia.


"Ya sudah kalau begitu, kamu baik-baik ya nak, jika kamu merasa nggak enak sebaiknya kamu kabari mama atau ke UKS. Nanti mama jemput kamu, hari ini mamah nggak ada pekerjaan," ujar sang mama.


"### Ia mamah, ya sudah Fei izin berangkat dulu ya mah," ucap Felicia seraya mencium kedua pipi sang mama, lalu ia pun bergegas pergi meninggalkan rumahnya.


SMK mawar indah ....


Kavin telah sampai di gerbang sekolah, ia segera memasuki ruang kelasnya namun ia di hadang oleh wali kelas 10D, hingga ia terkejut. "Eh,"


"Se-selamat pagi," sapa Mr Hans dengan wajah panik dan merasa bersalah.


"Selamat pagi Pak," jawab Kavin, ia merasa sedikit panik dan juga terkejut dengan tingkah dan ekspresi Mr Hans.


"Kevin, apakah kamu baik-baik saja hari ini?" tanya Mr Hans dengan wajah yang mencurigakan.


"Lumayan," jawab Kavin yang merasa sedikit bingung dengan tingkah Mr Hans.


"Ba-baguslah kalau begitu, em ... Ngomong-ngomong kue beras yang kemarin ku berikan padamu, sebaiknya kamu buang saja ya ... sebenarnya tidak terlalu enak," ucap Mr Hans dengan sedikit gugup dan canggung.

__ADS_1


"Maaf Pak, tapi kue berasnya sudah aku kasih ke teman, dan di habiskan. Sepertinya memang benar-benar enak sekali kue itu," jawab Kavin apa adanya.


"Apa!" seru Mr Hans, mendengar jawaban Kavin ia begitu terkejut, panik, khawatir juga takut.


__ADS_2