Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
26. pingsan


__ADS_3

'Siapa? Aku tidak bisa bernapas,' batin Kavin yang mulai sadarkan diri.


Ia melihat sebuah mulut yang akan segera mendarat di wajahnya, Kavin terkejut namun ia hanya bisa diam. Namun karena hidungnya yang di tutup oleh Felicia hingga tak bisa menahan napasnya lagi, ia pun menggerakkan tangannya spontan.


Felicia yang menyadari pergerakan Kavin ia membuka matanya, 'eh kok tangannya bergerak?' batin Felicia seraya menghentikan aksinya.


'Eh! Tunggu matanya terbuka? Kapan dia sadarkan diri?' ia pun menatap tajam ke arah mata Kavin yang sedikit terlihat karena poninya yang terkesiap.


"Heemmm__ rasanya nggak bisa bernapas," gumam Kavin yang bertingkah seolah-olah ia baru sadarkan dirinya.


"Apa aku di tindih hantu?" sambungnya.


Sontak saja Felicia melepaskan tangannya dan mundur sejauh mungkin dari Kavin, 'kenapa dia baik-baik saja?' batin Felicia dengan wajah panik dan takut.


"Eh ada kamu di sini? Aku akan suguhkan minuman ya?" ujar Kavin seraya bangkit dari tidurnya, ia pun berdiri secara perlahan.


"Eh, terimakasih," jawab Felicia masih dalam keadaan syok dan panik, namun ia melihat Kavin yang hendak menuju dapur dengan jalan yang sedikit tertatih-tatih, ia sedikit ragu dan khawatir.


Bruk ....


Benar saja baru beberapa langkah Kavin tersungkur kembali ke lantai, Felicia buru-buru menghampiri Kavin.


"Hei selangkah saja belum!" seru Felicia, serta beranjak dari duduknya.


"Hei? Kavin? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Felicia seraya menggoyang-goyangkan tubuh Kavin.


"Ada apa sebenarnya denganmu Kavin! Apa perlu ke rumah sakit?" Tanya Felicia panik.


"Tidak perlu__" jawab Kavin dengan suara bergetar.


Gggrrruuukkkk .....


Tiba-tiba suara dari dalam perut Kavin berbunyi, Felicia tercengang mendengar suara tersebut. 'Apakah dia kelaparan?' batin Felicia seraya menatap punggung Kavin yang bergetar.


Felicia pun beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Kavin, "Kavin, aku pinjam dapur kamu sebentar ya?" Ucap Felicia seraya menggunakan celemek.


"Hum__" jawab Kavin seraya menahan malunya, ia pun mulai bangun dari lantai, dan duduk seraya membungkukkan kepalanya. Kavin pun berjalan pelan menuju meja makan.


Ia melihat Felicia sedang memasak makanan untuknya, ia pun merebahkan kepalanya di atas meja makan seraya menatap ke arah Felicia.

__ADS_1


"Sudah selesai!" setelah selsai Felicia pun menuangkannya di atas piring besar.


"Cobalah!" sambungnya seraya menyerahkan kepada Kavin di atas meja makan.


Kavin pun tak percaya di buatnya, pasalnya Felicia terlihat seperti gadis pendiam dan anak rumahan yang tak bisa memasak.


'Ini ... ini masakan yang sangat melegenda itu,' batin Kavin seraya menatap makanan yang kini ada di depannya, ia juga silih berganti menatap sang juru masaknya, yaitu Felicia.


Kavin langsung memasukan satu sendok penuh ke dalam mulutnya, 'ini... Benar-benar enak,' sambungnya.


"Rasa masakanmu enak banget, sampai-sampai rasanya membuatku ingin menangis," ucap Kavin setelah habis makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Ahaha, benarkah?" jawab Felicia dengan wajahnya yang merona.


Kavin pun melanjutkan makannya, ia makan dengan menahan air mata bahagia sekaligus terharu. Kavin sesekali melirik wajah Felicia yang ada di depannya, yang saat ini tersenyum puas melihat Kavin begitu lahap memakan masakannya.


"Kamu sudah lama belajar masak?" tanya Kavin.


"Eh ,..." jawab Felicia tertegun.


"Begitulah," sambungnya seraya tersenyum miris.


"Eh, sudah yah? Sini aku beresin aja, kamu sebaiknya duduk saja," ujar Felicia setelah melihat piringnya kosong, dan Kavin pun dengan tak enak hati hendak mencuci piringnya sendiri.


"Sudah sini, aku saja! Kamu sebaiknya duduk dan minum ini," ucap Felicia dengan memberikan satu gelas air mineral, lalu Kavin pun cekukan. Hingga ia pun meminum air tersebut dan Felicia menuju wastafel untuk mencuci piring tersebut.


Kavin hanya melihat Felicia dari meja makan, "apakah kamu belajar masak sudah lama?" Tanya Kavin.


Lalu Felicia menghentikan cuciannya tersebut, ia membayangkan pertama kali ia memasak untuk Ansel.


---


Saat masih SMP kelas dua, Felicia memasak untuk Ansel pertama kalinya dan pertama kalinya juga ia menyentuh dapur.


Terlihat masakan yang begitu hitam pekat dan lengket, ia sajikan kepada Ansel dengan penuh kebahagiaan dan harapan.


"Ansel, aku memasak untukmu! Coba kamu cicipi!" ujar Felicia dengan senyuman di wajahnya, ia menyodorkan satu piring penuh ke hadapan Ansel, saat itu orang tuanya sedang pergi.


"Oh warnanya unik," jawab Ansel dengan menyendok nasi goreng buatan Felicia.

__ADS_1


Lalu Ansel memasukkan ke dalam mulutnya, dan Ansel pun memaksakan diri untuk menghabiskan masakan buatan Felicia, namun baru beberapa suapan Ansel keburu pingsan di kursi makannya.


"Anseelll!" Teriak Felicia panik.


---


"Hahah di pikir-pikir lucu juga," gumam Felicia seraya melanjutkan cuci piring dan peralatan masakan.


'Sejak saat itu, aku terus berlatih, karena aku kira aku akan memasak untuknya setiap hari, setelah aku mengutarakan perasaan ku padanya ... Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi,' batin Felicia dengan wajahnya yang muram.


Kavin menyadari perubahan pada ekspresi yang di keluarkan oleh wajah Felicia, ia pun ikut merasakan sakitnya hati Felicia saat ini juga.


"Maaf ini pertama kalinya kamu datang ke rumahku . .. Tapi malah kamu ke sini memasak dan mencuci piring di sini," ujar Kavin seraya beranjak dari duduknya.


"Tidak apa-apa kok, lagian aku sudah terbiasa di rumah aku juga begini," jawab Felicia seraya tersenyum.


Felicia pun selsai mencuci piring tersebut, ia pun berjalan menuju meja makan dan merapikan kotor an yang ada.


Setelahnya rapi dan bersih Felicia melepaskan celmek yang ia kenakan, lalu menggantungkan di tempat awalnya.


"Kalau kamu sudah baikan aku sebaiknya segera pulang, sebelum keluarga kamu pulang," ujar Felicia.


"Tidak akan ada yang pulang," jawab Kavin seraya menundukkan kepalanya.


"Eh," jawab Felicia terkejut.


"Orang tuamu pergi dinas?" tanya nya lagi, memastikan pikirannya yang jauh.


"Aku tidak memiliki orang tua," jawabnya.


"Ha?" Felicia merasa bersalah akan ucapannya, ia melihat ekspresi yang di keluarkan Kavin begitu sedih, namun karena tak terhalang oleh rambutnya. 'Kavin anak yatim piatu benaran?' batinnya.


"Aku tinggal bersama kakek nenekku," sambungnya.


"Oh kapan mereka akan kembali?" tanya Felicia dengan nada lega.


"Mereka__"jawab Kavin dengan menundukkan kepalanya kembali


"Juga tak akan pulang," sambungnya dengan nada lesu.

__ADS_1


Mendengar itu Felicia semakin merasa bersalah, ia begitu merasa iba, ia terkejut akan pengakuan Kavin. 'Apakah ini penyebabnya dia menutupi wajahnya? Agar ia tak pernah terlihat oleh siapa pun di dunia ini luka di hatinya, luka di wajahnya, kekurangannya, kepedihannya, ia hidup sendiri, luka apa pun ia pendam sendiri? Agar ekspresi yang dia keluarkan tak akan ada yang melihat? Seperti apa wajahnya ketika menangis, bersedih, dan bahagia.' batin Felicia.


'Tapi __ kenapa aku merasakan sesak dan sakit di dada ku, seakan-akan aku juga merasakan sakitnya,' sambung Felicia


__ADS_2