Kisah Cinta Masa Abu-abu

Kisah Cinta Masa Abu-abu
28. serangga usil


__ADS_3

"Sudah pergi belum? Atau masih di kepala ku?" tanya Felicia panik.


"Sudah," jawab kavin.


"Kamu yakin? Aku takut," ujarnya.


Kavin tak menjawab pertanyaan Felicia, ia tak berani bergerak pasalnya Felicia menindih tubuh kavin pada saat ini. Dan memeluk begitu erat, Kavin merasakan hembusan napas yang di keluarkan Felicia, begitu menggelitik di lehernya.


Setelah beberapa menit kemudian Felicia menyadari posisi saat ini, ia pun melihat tangannya yang melingkar di leher kavin, tubuhnya menempel di tubuh kavin, dan sedari tadi wajahnya dan napasnya membelai tengkuk leher kavin.


Felicia pun menoleh ke arah kavin, dengan wajah gugup dan malu, "eh," ucapnya, melihat wajah kavin yang masih menghadap ke depan seraya diam tak mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya.


'Astaga! Aku ternyata memeluknya dari tadi!' batin Felicia.


"Aaahhhhhhhggggg" teriak Felicia, kavin hanya diam mendengar teriakan yang begitu menusuk di telinganya.


Felicia seger melepaskan pelukannya, ia begitu panik atas apa yang baru saja ia lakukan. Bukan hanya memeluk kavin ia juga berteriak kencang di telinganya. "Maaa aa," ucap Felicia terbata-bata.


"Maaf, maaf maaf maafkan aku," ucapnya sembari bersujud pada kavin berkali-kali.


Felicia pun dengan panik buru-buru berdiri dan meninggalkan kavin yang masih mematung di tempat, Felicia pun berlari namun sebelum ia masuk ke jalan taman, Felicia berhenti sejenak seraya menoleh kearah Kavin yang masih terduduk di aspal.


"Sungguh aku minta maaf," ujar nya.


"Dan besok jangan lupa ikut ujian," sambung Felicia seraya berjalan dan bersembunyi di balik tembok besar.


"Aku akan bawakan makanan, sampai jumpa besok," ucap Felicia seraya memegangi dadanya yang bergetar hebat, ia mengigit bibir nya dengan menutup matanya, wajahnya merah merona.


"Hem," jawab kavin tanpa menoleh ke arah Felicia.


Felicia pun melanjutkan berjalan dengan menutupi mulutnya dengan lengan, ia berlari pelan dengan wajahnya yang merona.


'Apa yang barusan aku lakukan! Seorang gadis memeluk seorang pria dengan begitu agresif? Apakah tadi ada yang melihat? Aduh ceroboh banget sih kamu Fei! Benar-benar memalukan!' batin Felicia.


Sedangkan kavin masih terduduk di tempat tadi, ia memikirkan tentang hati Felicia, ia hanya ingin melindungi Felicia. 'Baguslah, dia tidak melihat mereka lewat tadi,' gumam kavin dengan wajah nya yang merasa lega.


---


Pagi hari berikutnya di sebuah apartemen yang di tinggal oleh keluarga Felicia.


saat ini Felicia berada di dapur, tengah memasak untuk bekal makan siangnya, untuk dirinya dan Kavin. Sepanjang memasak bibir mungilnya terus mengeluarkan senyum.


'Selsai!' gumam nya seraya melihat karya yang ia buat.


'Semoga saja dia suka,' sambungnya dengan menutup wadah tersebut.


"Wah, anak mama senyum terus sepanjang memasak, ada apa?" tanya mama Felicia seraya berjalan mendekati Felicia yang kini berada di depan kompor.

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa kok mah," jawab Felicia dengan tersipu.


"Ohh, begitu." jawab mama Felicia penuh selidik.


"Tapi, tumben kamu masak bekal teliti sekali hari ini? Dan juga ini seperti untuk porsi dua orang," sambung mama Felicia.


'Jangan-jangan,' pikir mama Felicia.


"Ia mah, mulai hari ini aku akan membuat bekal untuk dua orang, jadi Fei minta tolong bantuan mama, tolong belanja lebih banyak lagi ya mah, hehehehe maaf merepotkan mama," jawab Felicia seraya tersenyum.


Mendengar jawaban putrinya sang mama tersenyum sekaligus terkejut, ia juga merasa bahagia. Felicia telah selsai membungkus bekal makanan nya, lalu ia melepaskan ikatan rambutnya, dan juga celmek. Felicia memasukan bekal tersebut ke dalam tasnya.


"Maj, aku berangkat sekolah dulu ya?" pamit Felicia setelah mencium kedua pipi mamanya.


"Iya ... Hati-hati di jalan, jangan lari-lari. Dan satu lagi jangan lupa sebelum mengumpulkan jawaban periksa yang teliti lagi lebih dulu," jawab mama seraya mengikuti langkah Felicia sampai ke pintu rumahnya.


"Ok aku tau," jawab Felicia, lalu ia pun pergi dari rumahnya.


'Sepertinya dia sangat senang sekali, pasti bekal itu untuk di berikan pada Ansel. Tidak ku sangka putri ku ternyata bisa tersipu malu begitu, putri ku sudah dewasa,' gumamnya seraya menatap kepergian sang putri semata wayangnya.


---



\---



Setelah mengelilingi beberapa kelas, akhirnya ia menemukan ruang ujian nomor 02."ah ini dia, oh astaga! Aku hampir terlambat di buatnya," gumam Felicia setelah berada di depan pintu ruang kelas 12A, yaitu ruang ujian untuk nomor 02.



'Kira-kira ada teman satu kelasku juga gak ya di ruang ujian ini?' gumamnya dalam hati seraya melangkah kan kakinya masuk ke ruangan kelas tersebut.



Namun tiba-tiba ada seseorang yang berlari dari arah belakang Felicia, dengan begitu buru-buru seraya berucap. "Gawat aku akan terlambat!".



"Ah..."



Bruk ...


__ADS_1


Mereka berdua tersungkur ke lantai bersama akibat tabrakan tersebut, "auh, sakit!" Gumam gadis yang menindih tubuh Felicia.



Namun gadis tersebut tak langsung berdiri ia justru asik menindih tubuh Felicia, "ah, maaf. Bisakah kamu berdiri dulu," ujar Felicia dengan menahan berat tubuh wanita tersebut.



"Eh, maaf! Maaf kan aku," ujarnya seraya buru-buru beranjak dari tubuh Felicia.



"Nggak apa-apa, kamu tidak apa-apa?" jawab Felicia seraya melontarkan pertanyaan pada wanita yang kini berdiri di hadapannya.



"Ia aku baik-baik saja, maafkan aku ya? Aku sangat tergesa-gesa, maaf." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.



"Ah, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, semua orang sibuk jadi wajar saja, aku juga baru menemukan ruang kelas ujian ku." Jawab Felicia seraya tersenyum manis.



"Eh, kartu ujianmu?" ujar gadis tersebut seraya memungut kartu ujian milik Felicia yang terjatuh dan masih di lantai.



"Eh, ia. Tidak apa-apa, biarkan aku saja yang mengambilnya," jawab Felicia.



Namun wanita itu terkejut saat memungut kartu ujian milik Felicia, wajahnya terlihat begitu tertekan dan marah. 'Sungguh sebuah kebetulan,' batin gadis tersebut dengan menyunggingkan bibirnya.



"Kalau bukan karena kamu ..." ucapnya dengan nada sinis, sontak saja Felicia merasa aneh akan ucapannya di telinganya. Wanita tersebut masih mencengkram kartu ujian Felicia, namun sang pemilik tidak mengetahui nya.



"Aku akan di panggil ke ruang kedisiplinan," sambungnya seraya menoleh ke arah Felicia yang masih tercengang, setelah mendengar sambungan dari ucapan si gadis tersebut Felicia pun tersenyum kembali.



Ia sama sekali tidak merasa curiga, awalnya merasa sedikit aneh dan terkejut dengan ucapan pertama nya, "terimakasih banyak ya," ucapnya seraya memberikan kartu milik Felicia.


__ADS_1


Felicia tersipu setelah melihat wajah gadis tersebut yang terlihat imut dan juga cantik, 'wow, dia cantik sekali. Tapi sepertinya tidak asing wajah itu, sepertinya pernah bertemu deh? Tapi di mana ya?' batin Felicia


__ADS_2