
"Iya halo, Ansel aku sudah menemukan tempat yang akan kita kunjungi," ucap Atikah dengan menyunggingkan bibirnya.
"Oh ya? Di mana?" tanya Ansel.
"Bagaimana kalau kita pergi ke ragunan besok? Ku dengar di sana selalu ada aktifitas di sana setiap hari Halloween," ucap Atikah.
"Ragunan?" jawab Ansel.
'Aku dulu sering ke sana bareng Felicia, tapi sekarang...' brain Ansel seraya menggenggam ponselnya.
"Ok! Boleh," sambung Ansel setelah beberapa detik terdiam.
"Baiklah, aku akan menunggumu di depan rumahku besok, jam lima sore ya," ujar Atikah dengan senyuman manisnya.
"Baik, ya sudah kalau begitu sampai ketemu nanti setelah selsai jam sekolah," jawab Ansel.
"Hmm, bay bay." ucap Atikah lalu mengakhiri panggilannya.
'Hehehe ... aku sudah tak sabar dengan pertunjukan besok!' gumamnya dengan menutup mulutnya dengan ponsel yang ia genggam.
---
Pagi hari berikutnya, Felicia tengah bersiap-siap untuk pergi ke acara kelasnya, yaitu merayakan hari Halloween bersama. Ia menggunakan dress berwarna merah muda dengan rambutnya yang di jepit menggunakan pita berwarna yang senada, sementara rambutnya yang panjang terurai begitu saja.
"Mah, Fei pamit dulu ya mah," ujar Felicia pamit kepada mamanya.
"Iya... ingat jangan pulang terlalu malam ya?" ucap mama dari ruang tengah.
"Iya," jawab Felicia, ia pun segera keluar dari rumahnya.
Kini Felicia telah keluar dari apartemen nya, Ia berjalan di trotoar pejalan kaki. Matanya lurus ke depan, Ia lagi-lagi memikirkan pria yang Ia sukai sejak kecil. 'Ansel... Dia pasti saat ini sedang berjalan berdua bersama pacarnya, dia pasti sedang bersenang-senang dengannya, pasti dia saat ini sedang bahagia sekali.' batin Felicia seraya tersenyum kecut.
Namun tiba-tiba ada sebuah sepeda yang berjalan begitu cepat dari arah belakang, Felicia tak mendengar bunyi klakson dari sepeda tersebut.
Kring....
Kring...
Kring...
"Hey! Awas!" teriak pria tersebut dengan wajah panik, Ia sudah tak bisa lagi menghindari Felicia begitu pula sebaliknya.
'Kenapa aku kepikiran terus? Tidak apa-apa Felicia! Lupakanlah Ansel! Asalkan Ansel bahagia, maka kamu harus ikut bahagia dan lupakan dia segera!' batin Felicia yang tidak menyadari teriakan dari orang.
Namun dari sisi lain tiba-tiba ada seseorang yang berlari dengan begitu cepat, melebihi kecepatan sepeda tersebut.
__ADS_1
Prak...
Prak...
Prak...
"Ah," teriak Felicia yang terkejut akibat serangan tiba-tiba dari seseorang.
'Eh, eh eh...' batin Felicia, ia membulat kan kedua matanya dengan sempurna tak kala sepeda nyaris menabraknya. Namun beruntung seseorang berhasil meraih pundak Felicia dengan begitu sigap.
Swooos....
'Astaga! Aku takut sekali,' batin Felicia dengan keringat dingin yang sudah bercucuran.
"Hati-hati dong..." ucap pria yang menolongnya.
Felicia terkejut mendengar suara tersebut, ia pun memutar kepalanya. "Eh, ia makasih banyak yah?" ujar Felicia.
"Kavin," sambung Felicia seraya menatap wajah pria tersebut.
"Ah! Ah...." seru pria yang mengendarai sepeda tersebut, mereka sama-sama panik.
'Lagi!' batin Felicia seraya membulatkan matanya dengan sempurna.
Namun berbeda dengan Kavin, yang terlihat begitu santai juga cool. Dengan gerakan cepat, kavin menghadang sepeda tersebut dan melindungi Felicia di belakang punggungnya.
"Hahaha," gelak tawa dari pria yang mengendarai sepeda tersebut, sehingga amarah kavin memuncak. Ia pun menatap tajam ke arah pria tersebut.
Sementara Felicia tersipu, kini wajahnya merah merona, detak jantungnya berdetak begitu cepat.
"Hahaha ... keren sekali!" seru pria tersebut dengan mempercepat mengayuhnya.
Kavin memiringkan kepalanya, lalu sepeda tersebut menghampiri mereka berdua. Dengan kecepatan kilat kavin menghentikan sepeda tersebut dengan satu tangannya.
"Eh!" pria tersebut terkejut tak kala sepedanya berhenti seketika, dan ban belakang terangkat, akibat cekatan yang di lakukan kavin.
Felicia pun tercengang akan apa yang ia lihat, setelah sepeda itu terhenti dan ban belakang kembali menapak di atas aspal. Kavin pun mencengkram kerah baju pria tersebut.
"Hei! Apakah guru di sekolahmu, tidak mengajar kamu tentang sopan santun!" ucap kavin dengan nada menggertak.
__ADS_1
"Ah!" pria tersebut hanya bisa meringis ketakutan, ia tak bisa menjawab pertanyaan kavin, badannya bergetar akibat cegatan kavin yang mampu menghentikan sepedanya yang berkecepatan tinggi itu.
"Bukankah seharusnya kamu berjalan di jalan sepeda itu? Bukannya kamu lihat di sini untuk pejalan kaki! Di sana untuk sepeda, kenapa kamu malah bersepeda di sini! Malah asik dan bangga akan menabrak seorang pejalan kaki seperti kami!" sambungnya seraya menunjukkan jalan untuk sepeda.
"Ma-maaf aku lupa!" jawabnya dengan terbata-bata, ia begitu takut hingga ingin menangis kejar.
"Minta maaf kepada semua guru!" ucap kavin, semakin memperketat cengkeramannya di baju pria tersebut.
"Ba-baik! Maafkan aku guru!" ucap pria tersebut dengan air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya.
Sedangkan Felicia asik menonton pertunjukan tersebut dari belakang punggung kavin, ia tersenyum dengan begitu bahagia. 'Kavin ... apakah dia sedang marah?' batin Felicia.
'Wah lucu sekali,' sambungnya dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya, ia terkikik geli melihat aksi kavin yang begitu gentleman.
'Tapi... Ada apa dengan jantungku? Kenapa jantungku lagi-lagi berdetak dengan begitu kencang? Ada apa ini?' batin Felicia dengan memegangi dadanya.
Setelah pengguna sepeda tersebut minta maaf kepada mereka berdua, kavin pun melepaskan pria tersebut. Lalu mereka melanjutkan jalannya menuju taman bersama.
Sepanjang jalan mereka hanya diam, Felicia terus merasakan gugup dan aneh akan dirinya.
---
Taman ragunan...
Semua siswa-siswi telah berkumpul, hanya tinggal kavin dan Felicia yang belum hadir. "Ketua kelas kami pergi dulu ya? Kami ingin lihat-lihat di sekitar taman sini," ujar salah satu siswa.
"Ok! Hati-hati nanti kumpul lagi setelah jam 17:15 ya?" jawab Hendra dengan tersenyum ramah.
"Terimakasih," jawab siswa tersebut, lalu berjalan menjauh dari perkumpulan mereka.
"Eh, akhirnya kavin sama Felicia datang juga," ujar siswa yang berada di samping Hendra, Hendra yang mendengar nama Felicia, gadis pujaan hatinya di sebut. Ia pun segera menoleh dengan penuh semangat dan wajahnya yang berseri-seri.
"Fei..." ucap Hendra seraya tersenyum manis, namun sedetik kemudian senyuman itu pun memudar secara perlahan.
"Eh," Hendra menatap senyuman Felicia yang begitu ceria dan bahagia di saat di samping kavin. Ia merasakan cemburu dan sengit.
"Kenapa mereka terlihat begitu dekat ya? Udah gitu datangnya barengan lagi," ucap siswa yang sama-sama memperhatikan mereka.
"Apakah kamu merasa bahwa mereka itu terlihat sangat cocok? Eh, kamu lihat! Mereka seperti memakai baju couple bukan?" sambung siswa lainnya.
"Tapi... Anekka Felicia terlihat begitu imut sekali menggunakan dress begitu, tambah cantik dan bentuk tubuhnya jadi terlihat lebih bagus dan sempurna, sungguh aku ingin menjadi pacarnya, bukannya kamu pikir dia akan lebih cocok jika berjalan denganku?" ujar yang lainnya.
__ADS_1
"Coba saja kamu nyatakan cintamu padanya, siapa tau kamu di tolak... Hahaha," jawab teman pria tersebut dengan di iringi gelak tawa.