
Beralih ke Semiang.....
Semiang, Satra, dan Dua Selendang akhirnya sampai di kerajaan Tara, dan merekapun memasuki kerjaan tersebut.
Keadaan masyarakat kerajaan tara benar dalam keadaan rusak moral, aktifitas mereka hanyalah bersenang senang, Judi, minum minuman keras atau pun pelecehan seksual sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka, hal ini dikarenakan Raja Artasura memimpin kerajaan tanpa peraturan, terlebih lagi Artasura tidak pernah ada di kerajaan, ia hanya fokus dengan pengembaraannya.Sehingga Semiang dan teman temannya bisa memasuki kerjaan tersebut dalam penyamaran dengan mudah.
"Kerajaan ini benar benar sangat parah! Tidak ada sedikitpun sisi kebaikan dalam sifat mereka.!" ujar Semiang pada teman temannya seraya memperhatikan keadaan masyarakat kerajaan tersebut
"Iya! Kami bersama romo hidup dalam penyamaran bertahun lamanya pun sudah tidak tahan lagi! ingin cepat keluar dari kerajaan ini!" sahut Munawangi
"Mengapa kalian tidak mencoba untuk pergi dari tempat ini?" tanya Semiang
"Romo berfirasat bahwa akan ada masa dimana aliran putih akan bangkit! itu lah sebabnya Romo lebih baik bertahan hidup disini dengan penyamaran sebagai kelompok aliran hitam! Sampai waktu yang dinantikan oleh romo ku tiba! dan selebihnya hanya romo lah yang mengetahui alasan mengapa kami tidak pergi dari tempat ini.!" terang Munawangi
Mereka pun akhirnya sampai di tempat yang di tuju, yaitu ruang rahasia dibawah keraton kerajaan. Dan di ruangan itulah tumenggung Adiraksa, Munawangi maupun Suntari tinggal bertahun tahun.
Dan akhirnya merekapun bertemu dengan Adiraksa diruang tersebut.
"Romo!" panggil Munawangi dengan senangnya
"Munawangi?" sahut Adiraksa seolah tidak menyangka
"Iya romo!" kata Munawangi
Adiraksa belum mengetahui siapa dua orang yang ikut bersama Munawangi dan Suntari tersebut.
__ADS_1
"Siapa mereka Nawang?" tanya Adiraksa pada Munawangi
"Mereka berdua adalah Semiang dan Sastra murid dari guru Barata! Aku dan Suntari bersama mereka berdua diutus guru untuk membebaskan romo dari penyamaran kita! Guru meminta agar romo turut bersama kami ke perguruan sugiran romo.!" terang Munawangi
"Akhirnya masa yang selama ini ku nantikan telah tiba.!" ujar Adiraksa dengan senangnya
" Tuan! Kita harus pergi secepatnya sebelum kita di ketahui Artasura" potong Semiang
"Iya" sahut Adiraksa
Mereka pun berlahan keluar dari ruang tersebut, dan masih dalam keadaan menyamar.
Namun secara kebetulan, mereka melihat bahwa Artasura dan Trantasura sudah kembali ke kerajaan.
Selama Artasura pergi dari kerjaan, posisinya sebagai seorang raja di gantikan oleh Randa, ia seorang panglima perang kerjaan Tara dalam masa kekuasaan Aliran hitam.
Kemudian orang yang menggantikan posisi Artasura tersebutpun menyambut kedatangan Artasura.
" Yang mulia? Kau sudah kembali.!" ujar Randa saat melihat datangnya Artasura
"Iya!" sahut Artasura
Sambil melihat dari kejauhan, Semiang meminta agar mereka lebih hati hati.
" Kita harus keluar dengan hati hati! jangan sampai ada yang mencurigai gerak gerik kita.!" ujar semiang
__ADS_1
"Mengapa kita tidak langsung menghabisi Artasura saja.!" ajak Sastra untuk menyerang Artasura
"Jangan gegabah! Kita tidak di perintahkan untuk menyerang kecuali dalam keadaan mendesak" sahut Semiang
Karna tidak terlalu mementingkan kerajaan, Artasura pun tidak banyak menanyakan tentang keadaan kerajaannya, Iya hanya memperhatikan sekitarnya. Dan akhirnya Artasura merasakan bahwa aliran putih sedang ada di kerjaannya.
"Kurang ajar..! Aku merasakan ada kelompok aliran putih di kerajaan ini.!" kata Artasura pada Ranada seraya mencium bauk tak sedap, eh maksudnya merasakan keberadaan kelompok aliran putih
"Benarkah?" tanya Ranada
Kemudian Artasura memerintahkan untuk menutup gerbang benteng kerajaan pada Ranada.
"Ranada! Tutup seluruh pintu gerbang! jangan biarkan mereka lolos!" perintah Artasura pada Ranada seraya mencari orang orang yang ia maksud
"Celaka.! Artasura sudah mengetahui bahwa kita ada disini..!" kata Munawangi yang seolah panik
"Bersikaplah dengan tenang..! Karna ketenangan akan meloloskan kita dari keadaan mendesak.!" pinta Semiang pada teman temanya untuk tidak panik
"Baiklah.!" sahut Munawangi
Dan dengan santainya mereka keluar ke benteng kerajaan, hingga gerak gerik mereka pun tidak ada yang curiga. Saat prajurit Artasura menutup gerbang, mereka sudah ada diluar dan meneruskan perjalanan untuk kembali ke perguruan.
Sementara Artasura sudah mengetahui bahwa mereka berhasil lolos.
"Sepertinya kita sudah terlambat.! Aku tidak merasakan lagi adanya aliran putih!" ujar Artasura pada Ranada dan Trantasura
__ADS_1