
*Beralih ke Mahantan dan adiknya sejenak
Saat meninggalkan pertarungan adik Mahantan membawa kakaknya ke sebuah tempat yang cukup untuk di obati.
Namun sayangnya, serangan dari Sastra yang di terima Mahantan, tidak bisa menyelamatkan nyawanya
Karna sebab itulah adik Mahantan bersumpah untuk menghabisi seluruh murid sugiran terutama Sastra.
Adik Mahantan adalah musuh besar Semiang Medang di dalam dunia Ksatria, Kekuatan yang dimilikinya melebihi kekuatan Barata dan Artasura, Karna selain memiliki kecepatan kilat Adik Mahantan juga Menguasai empat jurus pengendali alam.
*Kembali ke perguruan
Serangan dari Barata yang di terima Artasura berhasil membuat Artasura tewas. pertarungan pun berakhir
Dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah, Barata dan Semiang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, keduanya hanya bisa terkulai lemas saat melihat Raja Musi, Permaisuri, Dan Tumenggung Adiraksa sudah kembali menghadap sang pencipta.
" Yang mulia! Maafkan hamba, karna hamba belum bisa menjaga kedamaian, Sehingga membuat yang mulia dan permaisuri hidup menderita, Semoga yang mulia, permaisuri dan kanda Adiraksa mendapatkan kedamaian di alam sana" ujar Barata dalam hati mengutarakan rasa bersalahnya pada Musi, Permaisuri dan Adiraksa
Dengan penuh linangan air mata, Berta merasakan kesedihan yang amat perih.
"Kenapa hanya sesaat aku merasakan kasih sayang dari ayahanda dan ibunda? Sejak kecil aku sudah dipisahkan oleh takdir dengan kedua orang tuaku, Kenapa kini aku di kembali dipisahkan lagi untuk selamanya? Kenapa?" ujar Berta menangisi kedua orang tuanya
"Hidup memang tidak seperti apa yang kita harapkan, tapi percayalah! bahwa kita akan mendapatkan kebahagiaan di balik semua ini, ihklas kan lah kepergian yang mulia raja dan permaisuri, Karna aku yakin mereka akan mendapatkan kebahagiaan di alam sana" kata Semiang berusaha menenangkan Berta
"Ayahanda dan Ibunda mendapatkan kebahagiaan di alam sana itu pasti! tapi apakah ada kesalahan besar yang pernah aku lakukan, Dan haruskah ada takdir yang memisah kan aku dengan mereka, Sehingga rasa perih harus aku yang menanggungnya?" gerutu Berta yang seakan-akan tidak bisa menerima
Selain Berta, Mayang Sari pun merasakan hal yang dengannya
__ADS_1
Duka dan Tangis menyelimuti perguruan Sugiran, bahkan banyak murid yang gugur dalam serangan tersebut
Dan karna peristiwa tersebut murid laki-laki yang masih bertahan hanya tinggal, Semiang Medang, Sastra, Satril, Argus, Parta, Damar, Apriando,Randa, dan Ray anaka.
meraka dijuluki Ksatria Sembilan
Bahkan lebih banyak Murid perempuan yang bertahan yakni, Berta,Jini, Zabela, Munawangi Suntari, Apriana, Novita Sugita,Lisa,Jelia, Kristi dan Nara.
Sebelumnya saat menjelang upacara pernikahan, Barata sudah mengetahui bahwa perguruan sugiran sudah di kepung oleh kelompok Aliran hitam melalui ketidak adaan nya Semiang dan Berta, Karna pada saat mereka berdua tidak ada Barata berfirasat buruk.
Dan Karna waktu yang mendesak, akhirnya Barata meminta agar tumenggung Adiraksa menikah kan dia dan Mayang Sari tanpa sepengetahuan seluruh murid, Intinya, meskipun perguruan diserang, Namun pernikahan Barata dan Mayang Sari tidak gagal
Setelah beberapa minggu kemudian, Duka yang dialami perguruan sugiran berangsur-angsur mulai menerima kenyataan masing masing,
Yang awalnya Berta adalah seorang Putri kerajaan dia pun akhirnya kembali menjadi seorang pendekar biasa.
Sementara Barata dan Mayang Sari resmi menjadi sepasang suami-isteri, Mereka berdua pun mulai menjalankan sebuah misi yang belum terungkap yakni bulan madu di kamar pembantaian. Saat mereka berdua berbulan madu entah apa yang terjadi selanjutnya. jeng jeng
SEASON 2
Setelah perang besar tersebut berakhir, para ksatria yang berhasil selamat akhirnya mulai di kenal di seluruh pelosok Nusantara. Namun tokoh-tokoh ksatria tersebut lebih sering di juluki Ksatria Sumatera.
Di Perguruan Sugiran
Kesedihan Berta atas kematian orang tuanya masih terus berlarut-larut dalam benaknya, Yang tadinya dia pendekar cantik dan bersifat tempramental kini lebih sering melamun.
Suatu hari saat Berta duduk di pinggir sungai seolah meratapi perasaannya, Semiang datang mencoba untuk menghiburnya.
__ADS_1
"Kita sebagai manusia yang hidup pasti akan menjalani proses kematian! Dan itu adalah takdir yang maha pencipta! Begitupun dengan yang mulia raja dan permaisuri! Kau harus menerima kenyataan yang ada! Karna pendekar seorang pendekar sepertimu tidak pantas berlarut-larut dalam kesedihan!" Kata Semiang mengingatkan Berta
" Aku sudah berusaha merelakan semuanya! Akan tetapi apakah salah jika aku memendam rasa yang begitu menyakitkan ini meskipun aku harus menerima kenyataan yang ada?" Gerutu Berta seolah membantah perkataan Semiang
" Memendam sebuah rasa yang menyakitkan bukan lah sikap seorang pendekar! Dan itu hanya akan menimbulkan titik kelemahan pada dirimu Berta!" Sambung Semiang mulai ngegas
" Aku mungkin seorang pendekar! Akan tetapi aku juga adalah seorang wanita yang tetap memiliki perasaan yang lemah ketika aku harus kehilangan orang yang ku sayangi!" Kata Berta
" Baiklah! Aku ingin menanyakan satu hal padamu! Aku meminjam sebilah pedang pada teman ku, Dan pada suatu hari teman ku tersebut memintaku agar pedangnya segera ku kembalikan! Padahal aku meminjamnya sudah lama, Pertanyaan ku! Apakah salah jika aku tidak mau mengembalikan pedangnya?" Ujar Semiang menanyakan pendapatnya
" Tentu saja itu salah! Karna meminjam dalam arti, itu bukan milik kita" Jawab Berta menjelaskan
" Lantas? Jika kita tidak menerima apa yang bukan hak kita itu adalah suatu kesalahan! Maka kenapa kau tidak menerima kenyataan atas kepergian raja dan permaisuri? Sedangkan itu adalah hak yang maha pencipta!" Kata Semiang menjelaskan maksud dari pertanyaan nya
Mendengar ucapan Semiang tersebut, Kemudian Berta menyadari bahwa yang dia rasakan itu salah.
" Mungkin kau benar Sem! Maafkan aku yang sudah melupakan jati diriku yang sebenarnya! Aku sadar bahwa berlarut-larut dalam kesedihan itu adalah kesalahan besar!" Kata Berta menyadari
" Syukurlah jika kau sudah ingat hal itu! Sekarang! Sudang waktunya kita kembali berlatih sekeras mungkin demi menghancurkan ke angkaramurkaan dan membangun kedamaian!" Ajak Semiang pada Berta untuk bangkit
Akhirnya Berta kembali ke medan pelatihan. Karna melihat Berta yang semakin semangat dalam berlatih membuat kekaguman Sastra semakin mendalam.
...
.......
...
__ADS_1