
Ray Anaka beserta teman-temannya mengelilingi kota Tara untuk mengenali penduduk atau bisa di bilang menyesuaikan diri pada lingkungan
"Mereka gagah perkasa dan cantik-cantik ya!" Kata salah satu penduduk memuji
" Wah kita seperti Raja yang di hormati dan di sanjung oleh ribuan penduduk! Baru kali ini aku merasa bagai orang yang paling penting di mata penduduk!" Ujar Ray mengutarakan rasa bahagianya sembari berjalan
" Iya! Dan sepertinya seluruh penduduk menaruh harapan yang besar pada kita! " Sahut Apriana
" Tentu! Akan tetapi tugas kita sebagai seorang pendekar akan semakin berat! Karna kepercayaan penduduk sudah di berikan pada kita sepenuhnya!" Sambung Ray
" Kau benar! Dan mudah-mudahan tidak akan ada orang yang akan mencoba untuk merusak ketentraman penduduk di Kota ini!" Sahut Apriana lagi
" Aku juga berharap demikian!" Sambung Ray sependapat
Singkat kata, Setelah berkeliling mereka kembali ke Istana, Merekapun menata atau merapikan ruangan-ruangan di Istana tersebut
Sementara Ray duduk di menara istana sembari melihat di sekeliling kota Tara seolah melamun, Kemudian datang Apriana
" Aku ingin bertanya satu hal padamu!" Kata Apriana tiba-tiba
Ray: " Mudah-mudahan aku bisa
menjawabnya!"
Apriana: " Apakah kau memiliki
suatu mimpi?"
Ray: " Tentu saja! Karna setiap
orang pasti memiliki mimpi!"
Apriana; " Apa mimpi terbesar
dalam hidupmu?"
Ray: " Aku? hanya ingin
mengetahui siapa orang
tuaku dan darimana
sebenarnya aku berasal!"
Apriana: " Dan setelah kau mengetahui semuanya apakah mimpimu hanya itu saja?"
__ADS_1
Ray: " Pertanyaan mu seperti guru saja! Apakah penting bagimu mengetahui semua tentang mimpiku?"
Apriana: " Tidak! Hanya saja aku ingin bertukar pikiran padamu tentang tujuan ataupun mimpi kita masing-masing! Dan sepertinya kita memiliki mimpi yang sama! Jujur! Aku iri pada orang-orang yang seusia dengan kita tentunya! Mereka memiliki kasih sayang dari orangtuanya! Sementara aku jangan kasih sayang! Nama kedua orang tuaku saja tidak tau!"
Ray: "Kau benar!"
Karena terlihat seperti orang yang sedang bermesraan, Nara dan Damar tanpa sengaja mendengar percakapan mereka
" Kalian ditakdirkan sebagai seorang pendekar yang tentunya kalian memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain! Dan rasanya tidak pantas seorang pendekar merenungi sebuah takdir yang di berikan oleh sang maha pencipta" Sambung Damar tiba-tiba
"Ternyata ada kalanya kau berkata benar Damar! Dan sepertinya baru kali ini kau bicara betapa bijaknya! Bahkan aku sendiri tidak menyangka bahwa kata-kata itu keluar dari mulutmu!" Sahut Nara sedikit kagum
"Apa maksudmu Damar? Kau bilang kami adalah seorang pendekar! Padahal kau juga seorang pendekar! yang sama seperti kita!" Sambung Ray Anaka juga kagum
" Aku juga mungkin seorang pendekar, Akan tetapi aku tidak sehebat kalian yang tangguh dalam bertarung! Sementara aku bahkan menguasai jurus dasar pun sangat sulit bagiku!" Gerutu Damar
" Bagiku! Seorang pendekar tidak bisa di ukur dari seberapa tangguh dia dalam bertarung Damar! Akan tetapi itu di ukur dari tekad yang kuat demi membela orang-orang yang lemah!" Terang Ray Anaka
"Ya! Ray benar! Hebat atau tidaknya kau Damar! Tidak akan mengubah takdirmu sebagai seorang pendekar maupun seorang ksatria! Karena bagaimana pun juga, kita tetap satu perguruan yang di besarkan oleh guru Barata! Pada intinya! kau juga tergolong orang yang membela kebenaran di bidang dunia persilatan! Dan tekad mu adalah kekuatan mu yang akan melahirkan kehebatan dalam dirimu!" Sambung Apriana memuji Damar
" Benarkah? Kalau begitu mimpi terbesarku adalah hidup bersamamu Nara! " Ujar Damar sembari bercanda
"O ya? Berarti kita memiliki mimpi yang sama Damar! Dan setelah kita sudah hidup bersama aku berharap kita di karuniai seorang anak yang tampan seperti Sastra!" Sahut Nara juga bercanda
" Perduli setan!" Ucap Nara sembari pergi
Kemudian Ray dan Apriana juga pergi
"Semuanya terserah padamu temanku! Kau ingin memperjuangkan mimpimu atau mimpi Nara?" Ujar Ray sembari menekuk bahu Damar lalu pergi
" Memperjuangkan mimpiku? atau mimpi Nara?" Ucap damar sendirian bingung
" Ah bingung aku! Akan lebih baik aku batalkan saja mimpiku!" Sambungnya lagi juga pergi
Singkat Kata, Mereka hidup di kota Tara penuh dengan kedamaian dan canda
Sementara dari golongan aliran hitam, Aranjaya menyimpan dendam yang sangat besar pada seluruh murid Sugiran. Dan bersumpah akan menghabisi semuanya, membalaskan dendam atas kematian kakaknya yang bernama Mahantan.
Namun kebenciannya pada murid-murid perguruan Sugiran bukan karena kematian kakaknya saja, tapi juga karena murid sugiran adalah orang-orang golongan aliran putih
"Akan ku buat kalian semua hancur!" Ucap Aranjaya sendirian mengutarakan dendamnya
"Sudah waktunya aku turut menghancurkan orang-orang aliran putih! Karena hanya akulah ksatria yang paling kuat saat ini!" Sambungnya lagi dengan sesumbarnya
Kemudian Aranjaya mulai mengembara mencari keberadaan para murid Sugiran dengan tujuan menghabisinya satu-persatu
__ADS_1
#PEMBERITAHUAN
Aranjaya merupakan musuh besar bagi seluruh golongan aliran putih terutama bagi para murid Perguruan Sugiran
Aranjaya menguasai seluruh jurus pengendali alam dan kekuatan batin atau ilmu ghaib yang sangat sempurna
Turunnya Aranjaya ke medan pertarungan di dunia Ksatria, merupakan ancaman besar bagi murid sugiran maupun Barata.
#ALUR
*Masih di aliran hitam
Arya merasa di permalukan karena kalah oleh kelompok Semiang, Dan dia pun bermaksud untuk memperdalam ilmunya dengan bertapa di gunung berapi
" Aku tidak terima jika mereka akan menguasai kota Kuto Lama!" Ujar Arya dengan nada kebenciannya
" Lantas? Apa yang akan kita lakukan ketua?" Tanya Sarpa
" Untuk sementara waktu, aku akan bertapa dan memperdalam kekuatanku di gunung berapi! Sementara kalian berusaha untuk menghasut penduduk agar penduduk menolak kehadiran mereka!" Perintah Arya pada Sarpa dan Ratna beserta anggotanya
" Baik! " Sarpa menyanggupi
Singkat kata, Arya dan yang lainnya menjalankan tugas masing-masing
Di mulai dari Sarpa dan Ratna yang menghasut penduduk
"Semuanya! Kota kita sedang di serang oleh penjahat" Teriak Sarpa di tengah keramaian
Tak lama kemudian ada beberapa penduduk yang tewas tanpa di ketahui penyebabnya.
Lalu Sarpa mulai menjalankan rencana busuknya
" Siapa yang tega melakukan ini? " Kata salah satu penduduk saat melihat beberapa mayat tersebut
" Sepertinya ada orang asing yang memasuki kota ini! Dan ingin menguasainya secara berlahan!" Ucap Sarpa mulai menghasut
"Kita baru saja terlepas dari cengkeraman raja Rasta? Kenapa harus ada lagi yang akan membuat kita kembali menderita!" Gerutu salah satu penduduk
Sementara mayat yang di maksud adalah ulah dari anggota Sarpa itu sendiri
Pada saat istirahat sekaligus sedang makan, Semiang dan teman-temannya bermaksud untuk melihat kerusuhan yang terjadi
Dan benar saja, Setelah mendekat Sarpa mulai kembali menjalankan rencananya
" Siapa mereka? Sepertinya mereka bukan penduduk disini! Jangan-jangan mereka adalah dalang dari semua ini!" Kata Sarpa seolah memfitnah Semiang dan kelompoknya
__ADS_1