
" Jika ditakdirkan memilih antara hidup dan mati! maka aku akan memilih mati ku bersamamu Berta!" Ujar Sastra mulai menancapkan kata-kata gombalnya
" O ya? Bagaimana jika aku lebih memilih pedangku ini yang menebas lehermu Sastra!" Sahut Berta seraya bercanda
" Ayo lah Berta! Jangan kau abaikan perasaanku padamu yang begitu dalam ini!" Rengek Sastra
" Eh! sudah! pacaran nya nanti saja! Sekarang waktunya berlatih" Potong Jini seraya mengakhiri pembicaraan
" Ya ya! Baiklah! " sahut Sastra
*PEMBERITAHUAN
Setelah perang besar terjadi, perguruan sugiran hanya tersisa dua puluh satu murid. Sepuluh murid laki-laki di antaranya adalah Semiang Medang, Sastra, Satril, Argus, Karnada, Apriando, Damar, Randa, dan Ray Anaka.
Sementara murid wanita, Berta, Jini, Zabela, Apriana, Sugita, Novita, Munawangi, Suntari, Lisa, Kristi dan Nara.
Semiang Memiliki satu kekuatan andalan yang disebut jurus pengendali angin, Dan bersenjata pedang. Dia memiliki karakter yang dingin dan tidak suka akan pertarungan, Dan dia adalah tokoh antagonis.
Sastra memiliki jurus pengendali api bersenjata pedang, Dia bersifat arogan romantis, dan tergesa gesa dalam bertindak.
Satril menguasai jurus pengendali bumi tombak, Satri memiliki ambisi yang tinggi dalam membela kedamaian dan dia bersifat netral, Dalam arti dengan siapa dia bergabung seperti itulah sikapnya.
Dan jini menguasai jurus pengendali air bersenjata panah juga memiliki sifat yang dingin hampir sama dengan Semiang.
Mereka berempat memiliki gelar pendekar pengendali alam. Meskipun mereka berempat disebut pendekar bergelar bukan berarti mereka yang terkuat, Hanya saja mereka lebih menguasai jurus pengendali alam yang di akui oleh Barata.
*ALUR
Pada malam hari saat Barata sedang memadu kasih bersama istrinya Mayang Sari, Tiba-tiba datang seekor burung gagak yang membawa secarik surat.
Setelah Barata membaca isi surat tersebut, teryata yang mengirimnya adalah salah seorang penduduk dari kadipaten atau kota Tara.
" Yang mulia Adipati Barata! Kami seluruh penduduk kerajaan Tara, Meminta agar yang mulia mengirimkan sebagian murid sugiran! untuk melindungi dan memimpin kadipaten Tara agar keinginan kami akan kedamaian dan ketentraman tercapai yang mulia!" Isi surat tersebut
Sebelumnya kota Tara adalah sebuah Kerajaan yang cukup besar, Namun karna perang dua aliran yang kedua terjadi kerajaan di nusantara seketika hilang. Hal ini terjadi pada abad kejayaan zaman ksatria tokoh-tokoh ksatria tersebut lebih memperdalam ilmu kanuragan bukan memperluas kekuasaan, baik dari aliran putih maupun aliran hitam.
Keesokkan hari nya
Akhirnya Barata memenuhi permintaan dari surat tersebut, Dia bermaksud menugaskan Berta, Munawangi Suntari, dan Satril untuk di kirim ke kota Tara.
__ADS_1
" Mulai hari ini! Aku memerintahkan Adinda Berta, Munawangi Suntari dan Satril! Untuk menetap dan melindungi kadipaten Tara!" Perintah Barata dengan tegasnya
"Menetap? Apakah ini berarti kami berhenti berlatih guru?" Tanya Berta dengan rasa hormat dan seolah keberatan dengan perintah tersebut
" Kalian sudah memiliki kekuatan yang sama dengan ku! Aku rasa kalian sudah cukup mampu menyelesaikan tugas tersebut!" Harapan Barata
Mendengar keputusan Barata, Banyak murid yang keberatan dengan keputusan tersebut terutama Sastra.
" Ini berarti aku dan Berta akan semakin jauh terpisahkan!" Ujar Sastra dalam hati
" Guru! Apakah ini berarti hari terakhir kebersamaan kami dengan mereka?" Tanya Sastra dengan wajah yang sedikit kusut
" Bisa jadi! Karena mereka berempat akan menetap selamanya!" Jawab Barata menakut-nakuti
Sementara di satu sisi Berta juga keberatan dengan keputusan Barata tersebut
" Maaf guru! Bukanya hamba menolak perintah guru! Namun hamba keberatan! Karena kesedihan hamba atas kematian orang tua hamba masih belum hilang! Maka tidak mungkin hamba akan berpisah dengan ayunda Mayang Sari!" Ujar Berta mengutarakan keberatannya dengan penuh hormat
Mendengar ucapan Berta tersebut Barata menyadari bahwa keputusannya salah. Akhirnya Barata memenuhi permintaan Berta secara bahwa Berta adalah adik iparnya sendiri.
" Baik! Maafkan kanda yang sudah lupa akan hal itu!" Kata Barata
Akhirnya Barata mengubah keputusannya. Tugas tersebut dia berikan pada murid yang lain.
" Ray Anaka, Apriana, Damar, Randa, dan Nara! Kalian yang akan menerima tugas ini!" Kata Barata mengubah keputusannya
" Baik guru! " Jawab mereka dengan serempak
Meskipun keberatan mereka menerima tugas tersebut, Namun Barata menjelaskan bahwa tugas tersebut bukan untuk selamanya. Karena Barata masih akan tetap melatih murid yang lain di tempat perguruan yang sekarang hingga kemudian perguruan akan di pindahkan ke kota Tara itu sendiri.
Singkat kata, Mereka yang di tugaskan pun berangkat
Dan sesampainya di kota Tara, Mereka di sambut oleh penduduk setempat dengan hormat dan rasa bangga.
" Wah! Ramai sekali penduduk disini!" Ujar Apriana saat melihat keramaian kota
" Ya! Rasanya baru kali aku melihat penduduk seramai ini! Sambung Nara
" Kau tidak pernah menjalankan tugas di luar perguruan Nara! Tentu saja baru kali ini kau melihat keramaian benarkan? " Kata Ray Anak seolah mengejek Nara
__ADS_1
" Bukan kah kau sendiri juga tidak pernah menjalankan tugas di luar perguruan?" Sahut Nara sedikit kesal
" O iya ya! Maaf aku tidak menyadari itu! " Kata Ray menyadari
Kemudian mereka di ajak oleh salah seorang penduduk untuk menunjukan dimana mereka akan menetap.
" Mari den! ikut saya! Saya akan mengantarkan kalian ke singgasana kerajaan! "
" Singgasana?" Tanya Ray
" Iya den!"
Betapa senangnya mereka saat melihat kuil istana kerajaan yang akan mereka tinggali tersebut.
" Astaga! Istana ini megah sekali! " Ujar Nara terpesona
" Apakah disini tempat akan tinggal pak?" Tanya Ray penasaran
" Iya Den"
" Aku tidak terpengaruh akan kemegahan istana ini! Yang aku heran! Kenapa penduduk disini tidak ada yang mau menjadi raja! Padahal! Siapa saja boleh menjadi raja asalkan setidaknya memiliki kelebihan lah! " Ujar Apriana mengungkapkan rasa penasarannya
" Menjadi seorang raja harus memegang tanggung jawab yang besar nak pendekar! Sementara penduduk disini lebih memilih sebagai rakyat biasa! Karena dengan seperti itu mungkin tidak banyak yang harus di kendalikan! " Terang bapak tersebut
" Itu benar!" Sahut Damar
" Apa yang benar? Apakah kau mengerti apa yang di maksud dengan perkataan bapak tadi?" Tanya Nara pada Damar seolah mengejeknya
" Tentu saja tidak!" Jawab Damar dengan entengnya
" Jika tidak mengerti apa-apa! Akan lebih baik kau diam saja!" Sambung Randa
" Ya Baiklah!"
Singkat kata panjang cerita
Mereka berlima pun akhirnya menjadi penduduk kota Tara dan menetap di istana tersebut. Penduduk kota meminta agar salah satu dari mereka menjadi seorang raja untuk menjadi pemimpin kota Tara, Namun mereka menolak, Karena selagi penduduk masih bisa menjaga kedamaian dan keadilan, Peranan seorang raja tidak terlalu penting bagi mereka.
......
__ADS_1
.......