Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 1


__ADS_3

Kring... Kring...


Suara dering handphone Saira yang membuat Saira panik saat ia melihat layar handphone-nya. Candra dan Davi melihat gelagat aneh dari Saira. Tanpa berfikir lama, Saira berlari menuju kamarnya di lantai 2. saira menatap layar handphone-nya dan mencoba bernafas sebelum mengangkat telponnya yang terus berdering.


"Halo sayang" sapa Saira


"Halo sayang... Tumben lama angkatnya" tanya Liam


"Iya tadi aku lagi nonton tv sama kakakku"


"Owh, ganggu ya"


"Enggak sayang... Hanya saja... Aku belum mengatakan apapun ke kakakku atau papa"


"Sebenarnya aku juga belum mengatakan apapun pada kedua orang tuaku"


"Mereka pasti kaget, jika kau tiba-tiba minta menikah... Apalagi aku belum pernah kau ajak kerumah"


"Sayang... Kita tidak berada di satu kota... Apalagi setau kakakmu aku hanya teman dan belum pernah kerumahmu"


"Ya... Kita kenal melalui salah satu medsos, dan kamu baru 2 kali ke kotaku dan sama sekali tidak mampir kerumahku"


"Sabarlah sayang... Walau kau di Solo dan aku di Bandung, kita kelak akan bersatu"


"Iya sayang..."


"Ya sudah, tidurlah lebih awal. Mimpi indah sayang"


"Mimpiin aku ya"


Tiba-tiba pintu kamar Saira terbuka. Terlihat dua kakak kembarnya menunggu penjelasan dari adik kesayangannya. Saira mencoba tersenyum manis, tapi yang terlihat, senyum yang ia paksa.


"Oh kak... Apa?"


"Siapa?" tanya Candra


"Siapa apa?" ulang Saira


"Kami dengar" ucap Davi


"Oh... Kalian nguping... Jangan ikut campurlah kak"


"Kau tau jika papa tau bagaimana" ucap Davi

__ADS_1


"Hem.. Yes... Oke... Aku cinta dia kak"


"Kalian baru bertemu 2 kali dan sudah bilang cinta?" tanya Candra


"Haduh... Kalian tuh gak pernah gagas perempuan yang deketin kalian! Jadi kalian g tau cinta pandangan pertama..." cerocos Saira mulai kesal


"Oh kakak pernah punya cinta pertama" jawab Davi


"Oh.... Kak.. Tenanglah aku gak percaya... Cinta pertamamu mungkin hanya dalam angan dan gak kamu sampaikan... Beda denganku kak... Cinta pertamaku akan menikahiku"


"Nikah?" ucap Candra dan Davi serempak


"Iya, dia akan datang dan memintaku menikah dengannya"


"Jangan yakin dulu Saira... Kau harus hadapi keganasan papa" ucap Candra


"Iya! Paham! Udah sana keluar! Aku diminta dia bobok awal nih!" ucap Saira cengengesan lalu mendorong kedua kakaknya pergi


"Oh ya, dek.. Papa sudah pulang baru aja dari bali" ucap Davi lalu pergi dengan Candra


"Hem... Okey" ucap Saira santai


Keesokannya, telpon Saira kembali berdering. Tanpa melihat siapa yang video call, ia angkat begitu saja dengan raut wajah bangun tidur, namun mata masih tertutup. Terdengar gelak tawa dari handphone Saira. Matanya terbuka, dan langsung bangun dengan wajah cemberut dan malu.


"Aduh... Liam... Tumben video call pagi-pagi... Aku kira papa atau kakak"


"Hahahaha... Sengaja... Untuk melihat wajah cantik Saira Meili Effendi"


"Tetep aja malu... Biasanya setelah jam sarapan telponmu"


"Saira sayang... Aku sudah ngomong ke kedua orang tuaku"


"Hah... Lalu?“


"ayahku mau bertemu denganmu. Namun bundaku hanya diam"


"Apakah beliau marah?“


"Entah sayang... Pagi ini bunda sudah ke pasar sama bi Eka"


"Kabari aku lagi ya... Aku mau mandi"


"Oke sayang... Nanti aku Hubungi lagi"

__ADS_1


Tok... Tok... Tok....


"Siapa suara laki-laki itu Saira?" tanya papa dari balik pintu


'Oh Tuhanku... Papa mendengar pembicaraan kami....' Batin Saira takut


"Papa tau kamu sudah bangun. Papa tunggu di bawah Saira"


Saira langsung meraih handphone-nya dan mengirimkan pesan singkat ke Liam. Tapi hingga Saira selesai mandi tak ada jawaban dari Liam, hingga akhirnya, Saira memberanikan diri untuk video call Liam tetlebih dahulu. Hingga nada tunggu selesai, tak ada jawaban pula. Kemana Liam batin nya. Tapi baru Saira akan keluar kamar, Handphone-nya berdering. Segera ia lihat kembali layar handphone-nya, video call dari Liam.


"Liam... Liam... Gawat, papaku dengar pembicaraan kita tadi" terlihat raut wajah Saira yang khawatir


"Tenang... Papamu memang seharusnya segera tau Saira"


"Tapi papa tak pernah memperbolehkanku dekat dengan lelaki"


"Tenanglah Saira... Aku seminggu lagi akan ke solo bersama orang tuaku"


"Kemari? Bersama mereka? Buat apa?"


"Aku akan membuka cabang restoran disana, dan kedua orang tuaku akan melihat rumah lama mereka"


"Kedua orang tuamu orang Solo sayang?"


"Iya Saira... Dulu kami di Solo hingga SMA" ucap Yuna, Bunda Liam yang mengambil Handphone Liam


"Eh... Bunda... " Sahut Liam


"Eh... Maaf Tante, saya gak tau jika ada Tante"


"Gakpapa sayang... Kamu cantik sekali... Mirip teman Tante"


"Eh iya ya... "


"ya sudah, kapan-kapan kita bicara lagi ya Saira... sampai Jumpa" ucap Yuna


"Eh iya Tante... Sampai jumpa"


"Maafin bundaku ya sayang..."


"Gakpapa kok... Aku malah senang berbicara dengan ibumu"


"Ya sudah.. Sekarang tenanglah.. Kabari aku perkembangannya"

__ADS_1


"Oke sayang"


__ADS_2