Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 31


__ADS_3

Kehidupan Saira membaik selama di Bandung. Liam sering membawa Saira untuk keluar rumah walau hanya sekedar putar-putar kota sambil naik mobil. Walau Liam lelah, tapi lelahnya terobati jika melihat Saira yang sudah kembali semangat. Kecerian Saira kembali. senyum terus menghiasi wajahnya. Apalagi saat Saira keluar dengan Liam, Saira tak berhenti bercerita berbagai hal. Liam tenang dan senang melihat Saira yang cerewet dan oenuh semangat.


Saira kembali mencoba merintis usahanya di Bandung. Ia membuka butik di Bandung di bantu Laras dan Liam. Tidak susah untuk mendapatkan bangunan Toko yang lumayan luas, dan dengan lokasi yang strategis. Berkat bantuan teman Haikal, Liam, dan Tristan, usaha Saira tidak membutuhkan waktu lama untuk di buka.


Tak terasa sudah setahun lebih Saira di Bandung. Ia sibuk dengan Butiknya yang berkembang disana. Tak luput pula, Laras ikut membantu Saira. Rumah milik Liam, dan Tristan juga sudah jadi dan sudah di tempati. Di rumahnya, ia memiliki seorang pembantu bernama Kartika, yang biasa Saira panggil Mbak ika. Mbak ika adalah kakak Tertua Putra. Putra, Teman Preman Liam. Sedangkan pembantu rumah Tristan, Endah. Ia kakak Boni, yang juga teman preman Liam. Bedanya, umur Endah 5 tahun lebih tua dari Ika.


Selama Saira dan Laras sibuk dengan butik, selama itu pula, Suami-suami mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tristan yang hampir setiap hari lelah di ruang operasi, sedangkan Liam, keluar kota untuk mengembangkan Restorannya. Walau sebenarnya tidak sering dan tidak lama. Jikalau lebih dari seminggu ia pasti mengajak Saira.


Hari ini, pembukaan Toko Saira yang baru di Bandung juga, dekat Rumah Sakit tempat Tristan bekerja. Karena masih banyak promo, dan diskon, butik Saira langsung banyak di serbu pengunjung. Ia dan Laras lumayan kewalahan dengan permintaan Pembeli yang beragam. Bahkan ada pembeli luar Jawa yang membeli dalam bentuk grosir untuk di jual kembali di Kota tempat ia tinggal. Saira dan Laras menutup toko sedikit mundur dari waktu mereka biasanya tutup. Biasanya mereka tutup pukul 8 malam. Hari ini jam 9 baru bisa tutup. Saira bahagia sekali hari ini. Bahkan karyawannya ia memberi bonus uang tunai hari ini.


"Wah kak Saira makasih ya... Baru hari pertama udah dapat bonus" ungkap Sofi, salah satu karyawannya


"Iya kak Saira... Kak Laras... Terima kasih" ungkap yang lain


"Iya... Sama-sama..." jawab Saira


"kalian pulanglah... Sudah malam" ucap Laras


"Kak, kak Saira gakpapa? Sejak sore aku lihat pucet kak" tanya Ridwan, salah satu karyawan laki-laki disana


"Gakpapa... Mungkin gak sempat makan siang tadi" ucap Saira. Namun terlihat keringat dingin mengucur deras dari dahinya.

__ADS_1


"Sini... Sini,, duduk dulu" ajak Laras, "Saira tangan kamu dingin banget?“ ucap Laras lagi. Belum sampai Saira duduk, Saira mencengkram dadanya dan jatuh pingsan.


Mereka panik, Saira langsung dibawa kemobilnya dan di bawa Laras ke rumah sakit tempat Tristan bekerja. Kebetulan, disana juga ada Liam, yang menjenguk karyawannya yang kecelakaan. Tristan sudah selesai dengan pekerjaannya, ia sedang duduk dan mengobrol dengan Liam, di teras rumah sakit, walau masih menggunakan jas putihnya. Mereka bengong sesaat sambil mengamati langit malam, tak luput, ada sepuntung rokok di jari mereka dan minuman kaleng di samping mereka duduk. Mereka mengamati tiap Ambulance dan Mobil yang datang. Mereka heran sesaat, saat melihat Laras yang terlihat panik saat keluar dari mobil Saira sambil meminta tolong ke suster dan dokter jaga.


"Laras... Sayang" panggil Tristan setelah Saira di terima dokter dan suster jaga


"Sayang... Saira pingsan" ujar Laras panik


"Pingsan? Bagaimana bisa?" tanya Liam


"Kalian tunggu di ruang tunggu, biar gue tanya ke Maryam dokter yang terima dia tadi" ujar Tristan lalu langsung melesat masuk


Pemeriksaan tidak berlangsung lama. Maryam dan Tristan membawa Saira yang sudah sadar ke kamar rawat. Mata Saira dan Tristan tampak bersinar, dan terpancar kebahagiaan di wajah Saira.


"Benarkah... Oh Tuhan... Thank you" ucap Liam lalu mencium kening Saira


"Tapi, kandungan istri loe lemah banget, mungkin karena dia kecapekan bekerja, buat dua hari ini biarin dia istirahat di sini dulu" ucap Maryam


"Yam, mungkin lebih dari itu. Saira punya riwayat jantung" ucap Tristan


"Bukannya sudah sembuh setelah oprasi?" tanya maryam

__ADS_1


"Aku masih ada jantung bawaan" ucap Saira


"Liam, istrimu harus bedrest, banyak istirahat, dan harus rutin periksa kehamilan" ucap Maryam


"Kami akan menjadi dokter pendamping Saira selama ia hamil" ucap Tristan


"Saira kau harus menuruti semua perkataan dokter kandunganmu sayang" ucap Liam


"Suster ayo dibawa ke kamar" ucap Maryam


Saat Saira dibawa suster ke kamar rawat, Maryam dan Tristan berjalan pelan di belakang Saira, mereka berbicara secara peibadi ke Liam, dan Laras.


"Kak, penyakit Saira bisa membahayakan nyawa Saira dan calon bayinya" ucap Tristan "Namun, jika ditangani dengan tepat, dan kompak, keduanya bisa selamat" imbuh Tristan


"Saira kemungkinan akan melahirkan prematur, atau bahkan buruknya Keguguran" ucap Maryam


"Yam, tolong istri gue. Saira gak bisa keguguran lagi... Dia bakal depresi berat mungkin gila" ucap Liam


"Gue bantu semaksimal mungkin" ucap Maryam


"Tan, bantu istri gue,kalau dia harus disini sampai melahirkan gue gakpapa" ucap Liam

__ADS_1


"Gak lah kak... gak selama itu"


"Kak Liam, kami akan bantu Saira. Yok jalan lagi... Saira udah gak kelihatan" ucap Laras


__ADS_2