
Mereka pulang dengan penerbangan siang. Selama di pesawat Saira hanya memandang keluar jendela. Ia tak peduli dengan slentingan pembicaraan penumpang lainnya tentang dirinya. Mereka yang mengatakan jika Saira pucat sekali, walau di tutupi dengan kacamata coklat dan syal tetap saja terlihat. Asha yang mendengarnya ingin buka suara, namun di cegah oleh Liam. Kondisi Saira sedang tidak baik jika harus masih mendengar orang bertengkar.
"Maaf tuan, anda atau istri anda membutuhkan sesuatu?“ tanya sang pramugari
"Tidak. Terim kasih"
"Sayang... Kamu belum makan sejak pagi. Kamu ingin makan apa? Nanti setelah turun akan aku belikan" ucap Liam
"Aku gak ingin makan Liam" jawabnya pelan
"Baiklah... Istirahatlah kalau begitu"
"Sebenarnya kejutan apa yang akan kau berikan nanti?" tanya Saira
"Rumah. Sudah lama aku mempersiapkan rumah untukmu. Untuk kita berdua"
"Rumah? Dimana?“
"perumahan samping perumahanmu" jawab Liam
"Perumahan Intan permata?" tanya Saira
"Ya..."
"Itu bukannya perumahan elit?"
"Kau kira perumahanmu garden white tidak elit sayang?“
"Aku melihat hanya tersisa 3 lahan kosong di sana"
"Oh sayang kapan? Sekarang sudah penuh"
"Beberapa bulan lalu"
"Aku mengatur rumah kita dan mengisinya dengan barang yang kau sukai di rumahmu"
"Terima kasih"
"Sayang.. Badanmu semakin panas... Sampai rumah, kau makan dan istirahat ya" ucap Liam
"Iya"
__ADS_1
"sayang, pakailah Headphon mu, dengarkan musik. jangan dengarkan pembicaraan orang"
"ehm, aku hanya bawa yang bluetooth, baterai habis. yang kabel tidak aku bawa"
"baiklah pakai punyaku... tidulah sayang... aku akan menjagamu" ucap Liam lalu memberikan Headphone kabel nya
Pesawat akhirnya mendarat. Karena Saira lemas dan tak bisa berjalan ia di bopong Liam, dan barang lainnya di bawakan oleh Davi dan Candra. Asha sedikit khawatir jika Saira langsung di bawa pulang dan tidak ke rumah sakit. Tapi Saira kekeh hanya ingin pulang dan istirahat di kamar. Merekapun menyerah, dan ikut Saira pulang sekalian untuk tau rumah baru Saira.
Setelah sampai rumah, mata Saira sudah bersinar dulu saat melihat pagar rumahnya. Walau terlihat elegan, tapi ia suka perpaduan warnanya, abu tua mix pink muda. Terlihat Elegant. Liam, dan Saira di sambut oleh 2 orang pembantu dan seorang tukang kebun. Mirna, Bu Jannah, dan Pak sholeh. Mereka sekeluarga. Mirna adalah anak Bu Jannah dan Pak Sholeh. Mereka sudah ikut keluarga Liam sejak Liam lahir, di Bandung hingga sekarang.
Saira terpesona dengan pemandangan di depannya. Dengan di bopong Liam, ia meminta untuk langsung kekamar. Kamar Saira dan Liam dua kali lebih besar dari pada kamarnya. Di tambah ada balkon yang menghadap ke Timur, ke depan. Liam sangat tau jika Saira menyukai kursi ayunan gantung dari rotan. Kursi ini sedikit lebih besar dari kepunyaan Saira dirumah.
"Aku ingin di kursi saja" ucap Saira lalu Liam mendudukan Saira di kursi gantung
"Suka bantal kursinya?"
"Ya... Motif bunga sakura ini aku sangat menyukainya"
"Kamu tidak ingin tiduran sai?" tanya Asha
"Sebentar aja Ash, lihat pemandangan baru"
"Ash, ili, tolong jaga Saira, aku akan membereskan pakaian kami" ucap Liam lalu membuka pintu lemari yang ternyata seperti sebuah lorong. Di ujung lorong ada pintu lagi, yang bertuliskan toilet.
"Benarkah? Kalian bisa sering-sering kemari" balas Saira.
"Suamimu baik sekali Sai... Mau membereskan pakaian mu" puji Asha
"Suami kalian juga akan begitu jika kalian sakit" ucap Saira
"Lemarimu lebih besar dari di kamar lama mu sai" puji Jili
"Aku belum melihatnya. Tubuhku lemas. Ash... ili... Seringnya perut bagian bawahku sakit" ucap Saira
Asha dan Jili menempelkan tangannya ke perut Saira "perut kamu besaran sai?" tanya Jili
"Iya. Setelah di kuret baru aku sadari kemarin sore jika perutku membesar. Seperti bengkak" ucap Saira
"Lebih baik jika kamu kedokter" ucap Asha
"Betul" timpal Jili
__ADS_1
"Aku sedih jika kerumah sakit. Itu mengingatkanku di sanalah calon anakku harus pergi" ucap Saira menahan air matanya
"Ya Tuhan Sai" ucap Asha dan Jili hampir bersamaan lalu memelui Saira
"Kamu bisa dapat anak lagi. Jangan menyerah" ucap Jili
"Kamu keringat dingin Sai" ucap Asha
"Kram perutku" balas Saira
"Sudah jangan duduk di sini. Istirahatlah" ucap Jili
"Kenapa jil?" tanya Liam yang masih sibuk membereskan pakaian
"Saira kram perutnya" ucap Asha
"Istirahat... Tidurlah sayang" ucap Liam lalu menuntun Saira ke kasur.
"Ash, ili... Temani aku ya?" pinta Saira
"Iya sayang" balas Asha dan Jili
"Kalian tidurlah disini hari ini. Nemenin Saira" ucap Liam
"Kami ada diluar" ucap Davi
Liam, Davi dan Candra keluar kamar. Mereka melihat-lihat rumah Liam. Halaman depan terlihat lega, apalagi ada tanaman-tanaman yang sedap di pandang. Di sana ada gazebo kecil dari kayu jati yang menghadap ke pagar rumah. Halaman belakang cukup luas. Ada kolam ikan yang Cukup besar dan panjang dengan di desain seperti air terjun. Di tengah kolam ikan ada sebuah jembatan menuju ke gazebo kayu yang lumayan besar.
"Inspirasi rumah ni dari film twilight?" tanya Davi
"Kenapa bisa nebak itu?" balas Liam
"Liat, pintu depan, belakang kaca, yang hanya ditutup tirai" ucap Candra
"Hanya Saira pernah bilang ingin punya rumah dengan pintu geser yang serba kaca transparan" ucap Liam
"Terus lantai 3 apa?" tanya candra
"Kamar dan kolam renang. Ayo kesana" ajak Liam
"Dari pada puter rumah, mending telpon dokter" ucap Candra sambil melihat handphone nya
__ADS_1
"Saira" ucap Liam lalu segera pergi ke kamar Saira