
Saira kembali kerumah, dan alangkah terkejutnya ia. Di rumah sudah ada Yuna, Haikal, dan Yelu. Mereka terdengar sedang cek cok tentang masalah tanggal pernikahan. Liam langsung memutuskan tanpa melihat pertengkaran ketiga orang tua ini. Pernikahannya 2 bulan lagi. Liam sudah mulai mengurus perizinan di kantor pemerintahan. Semua yang akan mengurusnya Liam, Saira hanya menentukan pilihannya saja yang ia sukai. Tristan selalu meminta Saira untuk istirahat dan lebih banyak makan-makanan yang bergizi, agar tubuh Saira bisa fit saat hari H pernikahan. Selain itu, yang lainnya juga di ingatkan agar menjaga perasaan Saira, agar ia tidak sakit atau depresi seperti saat sebelumnya. Hal itu sangat membuat kesehatannya menurun drastis. Di tambah tidak ada asupan bergizi yang masuk kedalam tubuhnya, yang sangat Tristan sayangkan tidak ada yang memberitahunya. Jika ia di beri tahu mungkin tubuh Saira tidak akan sepucat mayat.
Mendekati hari H pernikahan sudah banyak peningkatan di dalam diri Saira. Tubuhnya sudah lebih berisi, bahkan kulitnya tidak sepucat mayat. Wajah cerah bersinar selalu menemani hari-hari Saira. Selama menuju tanggal ijab sah, tidak ada permasalahan yang berarti. Hanya masalah kecil yang mudah dan segera di selesaikan. Hari-hari Saira di penuhi kebahagiaan dan harapan.
Tibalah besok hari pernikahan. Asha dan Jili menginap di rumah Saira. Mereka tidur bersama sekamar, anggapan mereka ini terakhir kali mereka tidur bersama satu kasur. Kelak mungkin tidak bisa. Sebenarnya diam-diam Candra melamar Jili di hadapan orang tua Jili. Kedua orang tua Jili sudah menyetujui, bahkan Yelu sudah tahu, dan sudah setuju. Tanggal pernikahan pun sudah di buat 3 bulan dari sekarang.
"Aku mau buka rahasia" ucap Jili sebelum tidur
"Apa? Masih punya rahasia sama kita?“ tanya Asha
"3 bulan lagi aku akan menikah dengan Candra" ucap Jili yang tersenyum malu
"Wah... Selamat ya... Cepet juga Candra geraknya tanpa pacaran deket doang tiba-tiba nikah" ucap Asha
"Selamat ya sayang. Jadi kakak iparku" ucap Saira
"Pengantin satu ini aku kira tidur" ucap Jili
"Belum... Belum" ucap Saira pelan
"Kamu sehatkan?“ tanya Asha ke Saira
"Ya... Aku baik" ucap Saira
__ADS_1
"Ya sudah tidur aja besok bangun pagi" ucap Jili
Saira sudah bangun sejak pukul 3 pagi. Ia sudah memulai persiapan untuk di dandani untuk ijab dulu. Ia mengenakan kebaya berwarna putih bersih. Rambutnya yang panjang ikal di tata sedemikian rupa, hingga ia tampak lain dan sangat cantik. Semua mara terpana melihatnya. Saira sangat cantik. Apalagi Liam, ia sampai tidak berkedip karena sangking cantiknya.
Pukul 8pagi ijab di mulai. Liam sampai harus mengulang 3 kali karena gugup, Saira sudah keringat dingin dan tegang, dan yang ke 4 Saira dan Liam sah. Saira mengucap syukur dan lega, akhirnya dia menjadi istri sah Liam. Setelah ijab selesai, jam 10 akan ada resepsi. Saira akan mengenakan gaun panjang putih untuk resepsi.
"Tan.. Mbak Laras"panggil Saira
"Ngapain kamu di sini? Bukannya di ruang rias?" tanya Laras
"Aku ada masalah" ucap Saira, yang tanpa ia ketahui ada Liam yang menguping tidak jauh darinya
"Dadaku sering sakit akhir-akhir ini... Gejalanya kadang muncul kadang tidak.. Tergantung kondisi badanku. Jika lelah akan muncul" ucap Saira
"Di tusuk dan sangat sakit apabila untuk bergerak dan di tekan"
"Sejak kapan?"
"Tidak lama setelah operasi jantung kemarin"
"Mungkin aku akan ngomong ke kak Liam, agar... " ucapan Liam terpotong
"Jangan... Jangan ngomong ke Liam... Sedikitpun jangan bicara apapun ke Liam" ucap Saira
__ADS_1
"Gimana mungkin ra? Kak Liam suamimu sekarang" ucap Liam tidak habis pikir
"Plis tan.. Ehm... Kak tristan" rayu Saira
"Gak perlu panggil kak. Kamu kakak iparku. Aku tetap jadi adikmu" jawab Tristan jutek
"Liam Harus tau Saira" ucap Laras
"Tristan.. Mbak Laras. Ini bukan hal penting. Tidak ada penyakitkan... Jadi tidak perlu ngomong apapun, atau periksa apapun... Oke... Aku ganti gaun dulu" ucap Saira lalu pergi ke ruang rias. Liam keluar dari persembunyiannya
"Sakit apa Saira?“ tanya Liam setelah keluar dari persembunyiannya
"kak... Sejak kapan?“
"Awal. Saira sakit apa?“ tanya Liam setengah kesal
" aku gak bisa tebak kak. Pemeriksaan lebih lanjut. Tapi bisa juga itu hanya efek stressnya dia"
"Stress?"
"Iya... Jika setelah pernikahan ini masih berlanjut akan aku sarankan periksa"
"Oke... Laporkan apapun itu"
__ADS_1
Resepsi di mulai. Banyak tamu yang datang memeriahkan acara. Tak terkecuali mantan pacar Liam dari Jakarta. Mantan pacar yang masih setia menunggu Liam, dan menangis saat berhadapan dengan Liam dan Saira. Saira jadi serba salah dan tidak tahu harus berbuat apa. Tapi tiba-tiba kepanikan terjadi. Davi melamar Asha di hadapan orang tua Asha. Tanpa pikir menunggu persetujuan Asha, kedua orang tua Asha memeluk Davi dan menyetujui atas nama Asha, karena mereka jamin Asha juga setuju. Saira dan Liam ikut bahagia. Tak lama lagi kedua kakaknya tak lagi melajang. Acara pernikahan selesai, Saira dan Davi saatnya lempar bunga. Tak sengaja yang mendapat kedua pasang tangan Asha dan Jili. Mereka tertawa karena sangat kebetulan.