Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 29


__ADS_3

Saira menyalakan kran di bathtub nya hingga air itu penuh. Ia memecahkan kaca kamar mandi hingga menimbulkan suara yang membuat orang di luar kamarnya panik. Saira mengambil salah satu pecahan kaca yang paling runcing. Ia duduk di dalam bathtub, dengan keadaan kran yang masih menyala. Saira mengiris pergelangan tangannya. Lagi. Sementara orang di luar sudah panik karena kamar di kunci, akan sulit untuk melihat Saira.


Selang beberapa detik Tristan, Laras, dan Yuna datang, bersama seorang porter atau staf pengangkut barang, Liam meminta kunci duplikat untuk kamar Saira, tak lama porter itu memberikan kunci. Liam berhasil masuk, namun Lagi-lagi kamar mandi di kunci, kali ini tidak ada cara lain selain mendobrak pintu kamar mandi. Dan benar tebakan Liam. Saira depresi berat. Mereka menemukan Saira dengan badan yang sepenuhnya sudah terendam di dalam bathtub, dengan hanya tangan yang terluka yang terjulur keluar dari bathtub. Liam panik, ia mengeluarkan tubuh Saira yang terendam dalam bathub, dan Saira masih memakai pakaian lengkap. Saat seperti ini dengan tenang Tristan meminta kakaknya untuk membawa Saira kerumah sakit.


Saira mendapat Perawatan intensif. Cukup lama Liam, Tristan, dan lainnya menunggu sampai keadaan Saira stabil dan di pindah ke kamar rawat. Saat Saira sadar, ia hanya di temani Liam dan Tristan. Sedangkan dari jendela terlihat langit di luar sudah gelap. Saira berusaha bangun, saat ia akan menopang tubuhnya dengan tangan ia memekik kesakitan, karena ia teringat kalau ia berusaha bunuh diri lagi.


"Saira sadar?" tanya Tristan terbangun


"Tan... " panggil Saira


"Saira bangun" ucap Tristan membangunkan Liam


"Sayang.. Kau bangun" ucap Liam lalu mencium dahi Saira


"Tadi aku denger teriak kenapa?" tanya Tristan


"Ingin bangun. Tapi... "


"Mari, aku bantu" ucap Liam


"Aku.... Aku... Bunuh diri lagi?" tanya Saira ragu-ragu

__ADS_1


Liam dan Tristan hanya diam dan saling berpandangan. Saira menatap mereka, tanpa berkata apapun lagi ia tahu, ia tahu jawabannya. Kali ini dirinya melakukan hal bodoh lagi. Saira memejamkan matanya, ia merasakan kepalanya yang sakit. Saira memijat kepalanya menggunakan tangan yang yang sehat. Batinnya sedih, mengapa dia bisa tidak sadar melakukan hal ini.


"Jangan dipikirkan lagi" ucap Liam membantu Saira memijat kepalanya hingga Saira kembali tertidur.


"Saira sudah tidur" ucap Tristan


"Tan... Tak bisakah kau sembuhkan depresi Saira" tanya Liam


"Jangan terlalu berharap padaku. Aku bukan dokter psikolog" timpal Tristan


"Dokternya yang lama mungkin tidak terlalu berpengaruh besar untuk kesembuhannya sekarang"


"Ikut pusing liat Saira tiap hari berusaha bunuh diri" akhirnya Liam mengeluh ke adiknya


"Jangan ikut pusing! Kuatin Saira, yakinin pikiran dan hatinya, kalau kalian bakal segera punya anak lagi. Jangan nyerah"


"Kadang, loe pantes jadi kakak gue"


"Tumben pakai bahasa loe gue di sini"


"loe Tidur lagi sana"

__ADS_1


Saira sebenarnya tidak benar-benar tidur. Ia masih belum tidur terlelap, dan mendengar semua pembicaraan Liam dan Tristan. Dalam hati ia berkata bahwa ia akan mampu mempunyai anak. Asal dia kuat dan sabar, pasti akan membuahkan hasil. Hanya saja terbesit pula perasaan tidak akan berhasil, dan perasan sedih kehilangan dua calon buah hatinya. Untuk kali ini Saira akan berusaha kuat dan sembuh dari depresinya, dan meyakinkan dirinya jika tidak ada kehilangan untuk yang ketiga kalinya.


Saira hari ini pulang ke rumah Solo. Sebelum pulang, ia dan Liam menyempatkan diri berkunjung ke makam kedua orang tua Saira. Cukup lama Saira bercerita di makam Yelu. Sering ia terfikir jika Yelu masih bekerja di luar kota, Yelu akan pulang, dan Saira akan cerita banyak hal ke Yelu saat Yelu pulang. Saira masih sering menangis jika teringat dirinya yang sudah tidak mempunyai orang tua lagi. Saira juga masih menyesali dirinya yang tidak terlalu peduli dengan Yelu saat Yelu sehat. Penyesalan untuk selamanya. Walau sekarang ada Yuna atau Haikal yang bisa di katakan lebih baik dari Yelu itu tidak sebanding dengan orang tua kandung.


Selama berada di Solo, dengan bantuan teman baik Tristan yang seorang psikolog, Saira mendapat perawatan rutin. Dalam hati Saira, ia juga mulai berfikit positif dan meyakinkan dirinya, bahwa akan segera punya anak lagi.


Kejadian membahagiakan menaungi keluarga Asha. Asha melahirkan seorang anak perempuan cantik. Hal ini membuat Davi bahagia. Bahkan sekeluarga bahagia. Cucu pertama dari almarhum Kaili dan Yelu sudah hadir di dunia. Nama anak mereka Daisha Zakiyya Effendi, mereka memanggil anak itu Ai. Tapi entah kenapa Saira biasa saja, tidak ada yang membahagiakan dari lahirnya Ai. Di hari kedua Ai di dunia, Saira sudah berangkat ke Bandung bersama Yuna, Tristan dan Laras. Saira berangkat pagi hari dengan Tristan dan Laras tanpa persetujuan Liam. Liam marah, dan tidak mau berbicara apapun dengan istrinya. Karena di anggap tidak sabar dan tidak menuruti perintah suami.


"Tenang saja Saira, Liam tidak bisa marah terlalu lama padamu" ucap Laras yang berada di kursi mobil depan dekat Tristan


"Aku tidak ingin membicarakannya mbak" ucap Saira lalu di peluk Yuna


"Dia chat aku Saira... Agar menjagamu Baik-baik" ucap Laras


"Sayang, kau belum sembuh benar... apalagi kamu demam sekarang nak... " ucap Yuna


"Aku Baik-baik aja bunda..." ucap Saira melepaskan pelukannya dari Yuna dan beralih memandang keluar jendela


"Kita akan behenti di rest area depan ya..." ucap Tristan mengalihkan pembicaraan


"Eh, iya, sudah waktunya makan siang juga" ucap Laras

__ADS_1


__ADS_2