Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 11


__ADS_3

Davi menyetir. Ia membawa Saira dan Candra kerumah temannya yang memiliki konter handphone. Saira tidak lama memilih dan langsung membelinya. Setelah itu mereka langsung berangkat menuju villa. Selama perjalanan Saira tertidur. Saira bangun saat sudah sampai villa. Ada pak Umar dan bu umar di sana yang menjaga villanya. Mereka menyambut kedatangan anak juragannya dengan ramah. Saira tersenyum melihat kedua pasangan tua ini yang tidak asing baginya.


"Non Saira gimana kabarnya non? Terakhir saya lihat non masih kecil" ucap bu umar


"Baik bu umar..."


"Rumah sudah kami bersihkan. Kami kembali dulu ya non, jika membutuhkan sesuatu, rumah kami ada di belakang rumah ini non" ucap Bu umar


"Nggeh bu. Matur nuwun nggeh“ ucap Saira dengan bahasa jawa


"Kamu masuk gih" ucap Davi


"Barangku?“


"Ayo" ucap Candra membawa barang Saira dan sebagian barangnya


"Oh iya"


"Udah ayo masuk" ucap Davi membawa barangnya dan sebagian Candra


"Kak... Begini, aku akan mengaktifkan lagi hpnya tapi aku mau minta satu hal" ucap Saira setelah semua masuk rumah

__ADS_1


"Katakan" ucap Candra


"Sementara ini aku blokir dulu ya nomor Liam. Aku harap kalian tidak bahas Liam.. Jika Liam telpon kalian, jangan sambungkan ke aku" ucap Saira lalu berbalik dan berjalan menjauhi mereka


"Oke dek" jawab Davi


"Gak. Jawab dulu kenapa?“ timpal Candra " rekam lah Dav" ucap Candra berbisik di telinga Davi


"Astaga... Haruskah?" tanya Saira berbalik, mendekati mereka dan duduk di sofa


"Itu syaratnya" ucap Candra


"Oke akan aku jawab... Salah satunya, aku memang marah, dan gak rela dia pergi, selain itu aku marah sama diriku sendiri yang g mau mengerti dan g mau memahami dia, dia pergi untuk bekerja, bukan berlibur, tapi rasa emosi terlalu menguasaiku. Tapi itu hanya alasan lain. Bukan alasan utama"


"Aku malu... Aku marah... Aku benci diri ini yang lemah, yang penyakitan, yang membuatnya bekerja ekstra untuk menjagaku. Karena aku pekerjaannya di sini terbengkalai. Karena aku, dia sangat terlambat ke Jawa Timur. Aku ingin menjadi sehat dan kuat demi dia, tapi aku pernah dengar, jika kesehatanku mempengaruhi kehamilanku nantinya"


"Maksudmu dek?" tanya Davi


"Aku belum tentu hamil kak. Aku gak bisa kasih keturunan buat dia. Aku ingin dia berfikir ulang untuk menikahiku" jawab Saira


"Tuhan... Pemikiranmu sempit sekali" ucap Candra " terserah kamu lah. Kakak capek. Mau istirahat " ucap Candra lalu pergi kekamar.

__ADS_1


"Aku tau aku egois, aku tau aku gak baik, aku paham aku seperti apa"


"Jangan terlalu berlebihan terhadap suatu masalah dek! Jangan lebay. Masalah seujung jari kamu anggapnya besar banget!“ teriak Candra dari dalam kamar


"Apa sih!" balas Saira


"Kakak paham, kamu gak pernah menderita, saat di bully, pada akhirnya kamu mempunyai kami untuk menyelesaikan. Setelah itu sampai saat ini kehidupanmu mulus bagai sutra, tapi ingat kehidupan tidak selalu mulus dek." ucap Candra yang keluar lagi dari kamar


"Ini baru di tinggal Liam, jika masalah lain? jika kelak tentang kesehatanmu, bagaimana caranya kamu bikin gak mudah sakit! Jangan apa-apa di pikir banget!" timpal Davi


"Jika masalah kecil kamu anggap besar, bagaimana jika kamu menghadapi masalah besar. Akankah kamu bisa menghadapi jika gak ada kami?" tanya Candra


"Jangan terlalu perasa dek. Gak baik. Kekamar sana. Tidurlah" ucap Davi


"Ya" ucap Saira lalu masuk ke kamar dengan wajah muram dan kesal.


Saira membereskan pakaiannya ke dalam lemari. Ia memikirkan dirinya sendiri. Mungkin benar apa yang Davi katakan, jika ia terlalu perasa, terlalu melebih-lebihkan jika menghadapi masalah. Hanya pergi sementara, itu seharusnya bukan masalah besar, dan bisa di katakan itu bukan masalah. Cukup mendoakannya saja jika khawatir. Tapi pikiran Saira tidak sampai situ, di sisi lain ia tetap berfikir jika kehidupan Liam tidak akan baik jika Liam menikahinya. Terkadang Saira berfikir mungkin jika Liam tidak hadir dalam kehidupannya, ia akan lebih baik sendiri, dan tidak membuat kehidupan orang lain berantakan karenanya. Tak sekali juga ia berfikir, untuk lebih baik mati. Ia ingin Kaili segera menjemputnya, tapi ia nyatanya masih bertahan hidup, di pertahankan kehidupannya oleh keluarganya.


Kehidupan Saira di villa ringan bagai bulu. Tidak ada yang membahas Liam, atau menyebutkan namanya saat di depan Saira. Walau sesekali terkadang Saira paham jika kedua kakaknya membicarakan Liam, namun mereka menyebut nama Liam dengan sebutan lain.


Pernah Saira ketahuan oleh Candra dan Davi, Saira saat itu sedang duduk di halaman depan villa sambil melihat pemandangan, di depannya ada diary di laptopnya, di laptopnya ia banyak menuliskan tentang kerinduannya pada Liam. Diam-diam Davi merekamnya dan mengirimkan videonya pada Liam.

__ADS_1


'Aku rindu dia... Dia... Yang namanya tidak ingin aku dengar, namun selalu terdengar di setiap mimpiku, dia yang tidak ingin aku pikirkan, namun selalu hinggap di setiap pikiranku... Dia yang berusaha aku jauhi namun selalu dekat di setiap doaku... Liam... Itu namanya. Aku terlalu egois hingga tidak ingin mendengar dan melihat apapun tentangnya. Aku hanya ingin dia jauh, memikirkan ulang tentang pernikahan kami, yang pasti akan dia ketahui jika pernikahan kami tidak akan bahagia. Aku takut, di akan pergi jika aku tidak bisa hamil, aku takut jika dia akan memilih wanita lain karena aku tak sanggup menjadi istri yang sempurna untuk nya. Bukankah lebih baik aku hidup sendiri, jika akhirnya akan melukaiku lebih dari ini?' tulisan Saira


Tak terasa sudah seminggu lebih Saira berada di Villa. Pernah Asha dan Jili ke Villa saat mereka libur, sekedar untuk menginap semalam dan melihat keadaan Saira. Rencana besok Liam pulang. Hal ini hanya di ketahui Candra, Davi, Asha, dan Jili. Kebetulan pula hari ini akhir minggu, di tambah senin adalah tanggal merah libur nasional, Asha dan Jili bisa lebih lama di villa bersama Saira. Namun anehnya Saira semenjak Asha dan Jili sampai villa, ia tidak mau sekamar dengan mereka. Dengan alasan banyak kamar, dan villa lumayan besar, biar kan mereka mendapatkan kamar masing-masing. Padahal saat di rumah Saira pun yang lebih besar, Asha dan Jili senang tidur bersama satu kamar.


__ADS_2