
Liam mengantarkan Lita ke rumah sakit. Baru beberapa menit di jalan ia terlihat tidak sakit seperti awal mula. Liam mulai curiga tapi yang ia perhatikan adalah masa lalu Lita saat mendapatkan luka itu. Lita meminta agar di antar pulang, dan tidak perlu ke rumah sakit. Liam menuruti ucapan Lita tanpa bertanya hal lain.
Di satu sisi, Saira sampai rumah. Di saat yang sama Asha juga baru sampai rumah setelah dari butik. Asha tak habis pikir bagaimana bisa Liam melakukan hal seburuk itu ke istrinya, yang terparah tidak mempercayai istrinya. Padahal suami istri haruslah saling mempercayai. Jika kepercayaan itu sudah hilang buat apa tetap di pertahankan rumah tangga itu.
Sudah 2 hari Saira berada di rumahnya Yelu. Bersama Candra, Davi, Asha, dan Jili. Herannya mereka berempat, Liam sama sekali tidak mencari Saira, atau sekedar bertanya keberadaan Saira. Hati Saira tidak pernah tenang selama 2 hari ini. Tidurnya tidak nyenyak, selalu handphone yang dia lihat. Hingga Saira malam itu bermimpi jika Liam menceraikannya karena Liam ingin kembali ke Lita. Saira terbangun dengan nafas memburu. Di tengah malam ia segera meraih kunci mobilnya dan melajukan mobilnya kembali kerumah Liam.
Saira melihat Liam berada di luar rumah, bersama dengan Teman-temannya yang tidak ia kenal. Salah satunya ada Lita di sana. Lita terlihat mesra memeluk Liam. Air mata Saira mengalir tidak menyangka dengan apa yang ia lihat. Saira lalu melajukan mobilnya melewati depan mata Liam, hingga Liam dan Lita mampu melihat Saira yang tidak mampu membendung air mata.
Liam panik, ia lupa sesaat jika sudah 2 hari ia cuek dengan istrinya. Setelah Teman - temannya pulang, ia mengantar Lita. Selama perjalanan Lita hanya diam seribu bahasa. Apapun yang Liam obrolkan tak ada jawaban dari Lita. Sampai Liam bertanya, pertanyaan yang membuat ia keringat dingin.
"Jawab Lita. Jika tidak aku akan membawamu ketempat yang tidak pernah kau bayangkan" ancam Liam
"Iya... Iya... Saat di rawa itu aku sengaja. Maaf... Aku hanya cemburu... Cemburu karena kemesraan kalian"
"Lita... Lita... Kenapa kau berbuat begini lagi... Menjebak orang lain"
"Maaf... Maaf Liam... Tidak aku ulangi... Aku hanya ingin menjadi teman dekat mu.. Kembali dekat denganmu"
"Saira istriku. Jangan kau berbuat jahat padanya"
"Iya.. Gak akan lagi"
"Turunlah... Rumahmu sudah terlihat dari depan gang ini"
"Maaf Liam... Terima kasih"
Liam langsung meluncur ke rumah Yelu. Tapi karena itu perumahan besar dan ketat, dan satpamnya sudah di pesan oleh Si kembar agar tidak memperbolehkan Liam masuk ke pekarangan rumahnya. Tapi Liam berjanji hanya akan lewat tanpa mampir karena sudah larut malam. Akhirnya Liam di perbolehkan masuk, dan benar, ia hanya lewat, dan tidak lama mobil Saira masuk. Liam turun dan segera menghampiri Saira.
"Sayang... Kenapa gak pulang? Pulang sama aku"
"Ngapain kamu kemari? Bukannya kak Davi dan kak Candra dah pesan sama satpam gak bolehin kamu masuk"
"Iya aku hanya lewat. Saira... Mari pulang kerumah... Aku jemput kamu"
"Gak... Buat apa? Buat lihat kamu pesta sama temanmu? Atau lihat kamu mesra sama Lita? Atau dengar kamu membela dia dan tidak percaya sama aku?"
"Aku sudah tanya ke Lita, dan memang kamu yang benar"
__ADS_1
"Aku gak bakal melakukan hal Sekeji itu! Kamu suamiku tapi percaya orang lain! Bagaimana jika kamu berada di posisiku? Sepertinya kita pisah saja, aku pikir kamu lebih cocok dengan Lita daripada denganku" ucap Saira lalu segera masuk kedalam rumah
Liam mematung dengan ucapan Saira. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Liam menggedor pintu rumah Saira. Tak lama Candra keluar bersama Davi.
"Kau mau bicara apalagi?" tanya Davi
"Bukankah ucapan Saira tadi sudah jelas?" tanya Candra
"Aku gak mau pisah, aku gak mau pisah"
"Pulanglah. Pikirkan baik-baik. Saira tidak pernah asal memutuskan suatu hal" ucap Davi
"Pulang!"bentak Candra
"Besok pagi harus ngomong ke satpam komplek" bisik Davi
"Malam ini akan aku telpon mereka"
Keesokannya Saira bangun, badannya terasa segar, bebannya seperti terangkat. Ia puas dengan kata-kata dan keputusannya sendiri semalam. Ia hari ini berencana mengambil semua pakaian dan barangnya saat Liam tidak ada di rumah. Saira sudah hafal keseharian Liam. Saira mengajak Asha dan Jili untuk membereskan barangnya. Asha dan Jili menatap Saira sedih, mereka takut jika keputusan ini akan Saira sesali nantinya. Tapi untuk sekarang Saira tampak lebih bahagia, dan tenang. Tapi kali ini Saira salah, saat sampai rumah Liam, ia menemukan Liam sedang tertidur di lantai depan kamarnya sambil memeluk foto pernikahan mereka. Saira menatap Liam sedih. Ia mendekati Liam, tubuh Liam menggigil kedinginan. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Liam, sangat panas. Liam demam.
"Pasti demamlah say, tidur aja di lantai" ujar Jili
"Udah ayo bantu" ucap Asha
"Kayaknya aku gak jadi pergi jika lihat Liam begini"
"Dia sangat merasa bersalah" ucap Jili
"Ia maafkan dia kali ini sai" ucap Asha
Asha dan Jili membantu Saira merawat Liam. Tapi tidak lama, Saira meminta mereka untuk pulang. Karena Saira rasa ia mampu merawat Liam sendiri. Asha dan Jili menuruti permintaan Saira dan mereka pulang. Saira sendiri yang memasak dan membuatkan Liam bubur. Ia membawa ke kamar Liam. Ia melihat Liam sudah bangun, dan terlihat duduk dengan wajah pucat.
"Makanlah. Aku sendiri yang buat. Jika tidak enak, tetap harus di habiskan untuk menghargai aku yang bikin sendiri"
"Kamu... Kamu kembali sayang? Sayang... Maafkan aku"
"Makanlah dulu. Jangan banyak bicara"
__ADS_1
"Tapi kau tidak akan pergi lagi kan?"
"Tergantung kau menghabiskannya atau tidak. Dan tergantung sikapmu"
"Akan aku habiskan" ucap Liam lalu makan buburnya dengan semangat dan langsung bersih tak bersisa
"Bagaimana rasanya?“
"enak... Kau tidak pergi lagi kan?
"Pergi... Aku pergi Kedapur, mencuci mangkokmu"
"Taruh aja di dapur. Biarkan mirna yang mencucinya"
"Hem? Baiklah. Aku akan menaruhnya saja"
"Gak boleh, panggil mirna aja buat ambil ke kamar" ucap Liam lalu meraih handphone nya dan mengetik sesuatu ke Mirna. Tak lama, Mirna mengetuk pintu untuk mengambil mangkoknya
"Mas Liam kenapa mbak? "tanya Mirna setelah Saira keluar dari kamar
"Demam biasa"
"Oh pasti karena kemarin... Sudah aku bangunin tetep tidur aja di lantai mbak... "
"Benarkah... Sejak semalam?"tanya Saira
"iya... Dia pulang dini hari mbak... Terlihat udah pucat banget, masih setelah itu tidur di lantai. Aku gak pernah lihat dia seputus asa kemarin... Dia bagai kakakku mbak"
"Iya... Aku tau kau sudah sejak kecil bersamanya. Jarak umur kalian juga 10 tahun, itu membuat Liam dan Tristan menjadi kakak terbaikmu"
"Sayang... Kau tidak pergikan?"tanya Liam sedikit berteriak
"Mirna.. Liam mencariku, terima kasih ya"
"Jangan pergi lagi ya mbak... Aku gak tega lihat mas Liam"
"Tenanglah" ucap Saira lalu masuk ke kamar "aku gak pergi Liam" ucap Saira lagi
__ADS_1