Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 26


__ADS_3

Saira dan lainnya, sampai Makassar saat langit sudah gelap. Karena sebelumnya mereka mampir transit dulu di Surabaya selama beberapa jam untuk sekedar menikmati kota Surabaya sebentar. Walau sakit, Saira sangat menikmati perjalanan ini. Apalagi setelah sampai Makasar melihat pemandangan yang indah dari jendela hotel. Pemandangan malam dengan banyak lampu yang berkerlap kerlip, membuat Saira teringat akan masa kecilnya. Saira selalu berhenti menangis bila kakaknya mengajak Saira ke hotel saat malam hari. Ia menatap suaminya yang baru selesai mandi. Aroma segar, dan wangi semerbak di kamar Saira. Saira mengamati suaminya yang hanya mengenakan celana pendek. Saira mengamati dari atas sampai bawah. Tubuh Liam selalu bisa membuat Saira tersenyum dan tidak lagi membayangkan hal-hal seperti dulu saat ia belum mengenal Liam.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Liam mengambil salah satu kaos, lalu memakainya


"Kau taukan aku sangat menyukai drama Asia? Terutama China dan Korea. Aku dulu sering membayangkan jika punya suami seperti aktornya. Punya tubuh yang bagus. Sixpack. Tampan. Kulit putih. Kekar. Tinggi. Sekarang ini bukan halusinasiku lagi.... Aku punya suami yang seperti aku impikan"


"jadi kau sudah mengkhayal sejak lama tentang aku sayang?" tanya Liam tersenyum


"lebih tepatnya tentang calon suamiku kelak sayang... ternyata suami yang kudapat lebih dari semua itu... kau terbaik Liam" puji Saira


"Istriku ini juga cantik. Mari... Lihatlah dirimu di kaca" ucap Liam menarik Saira ke depan kaca yang lumayan besar


"Aku cantik? Lihatlah... Bukankah tubuhku terlalu kecil" umpat Saira lalu memegang lengannya sendiri


"Kau sudah lebih baik dari saat awal aku melihatmu" puji Liam tersenyum


"Hem.. Saat itu aku sakit. berbeda dengan sekarang... saat itu aku benar-benar dalam kondisi buruk... paling buruk" ucap Saira, lalu menghembuskan nafas panjang


"Lihatlah warna kulitmu putih bercahaya. Tidak lagi putih pucat. Tubuhmu juga sudah berisi. Tidak kering seperti tumbuhan mati seperti dulu"


"Hhiiisss... Kau mengejekku Liam... tumbuhan mati... seburuk itukah aku?" ucap Saira lalu mencubit pinggang Liam

__ADS_1


"Hahahahaha... Seperti inilah istriku... sakit tak membuatmu diam jika ada aku disisimu"


"Dan beginilah suamiku. Mimpiku saat lihat drama dulu, yang sekarang menjadi nyata"


"Apa kamu masih mau lihat dramanya?"


"Oh tetap sayang.. Walau bukan lihat pemain, tapi aku masih suka lihat jalan cerita nya"


"Ah... tapi kau tidak akan suka mereka kan?"


"sukalah... aku fans setia mereka"


"sudahlah, aku cemburu... Mandilah... Aku bantu kau ke toilet" ucap Liam yang sangat terlihat kesal


Mereka di Makassar seharusnya 1 minggu. Tapi karena ada masalah dengan kepindahan Tristan ke Bandung, ia terpaksa harus pulang ke Solo dan di Makassar hanya 5 hari. Walau hanya sebentar mereka tetap menikmati perjalanan liburannya. Di akhir perjalanan kaki Saira sudah sembuh sepenuhnya, walau sangat di sayangkan karena hanya sebentar tapi berjanji akan melanjutkan liburan mereka, yang belum di ketahui kapan dan di mana.


Saat sampai Solo Saira dan Liam langsung menuju rumah Davi dan Candra untuk memberikan mereka oleh-oleh dari liburannya. Sedangkan Tristan, dan Laras, kerumah lama Yuna dan Haikal saat tinggal di Solo. Tapi bukan sambutan dan kegembiraan yang di terima Saira dan Liam, tapi terlihat isak tangis dan wajah panik dari Davi, Candra, Jili, dan Asha.


"Ada apa ini?" tanya Liam begitu sampai rumah dengan pintu yang terbuka lebar.


"Ada apa? Kenapa menangis Ash?" tanya Saira

__ADS_1


"Papa... Meninggal di Jakarta" ucap Davi pelan, bahkan nyaris tidak terdengar


"Jasadnya dalam perjalanan kemari" lanjut Candra yang kali ini sama dengan saudara kembarnya, sangat pelan ucapannya


"Jasad? Meninggal? Kenapa gak kasih tau aku? Kapan kejadiannya? Kemarin sehat... " walau pelan, Saira dan Liam masih mendengarnyax air mata Saira mulai mengalir


"Setelah pernikahan Tristan, papa ada pekerjaan di Medan. Tapi karena setelah itu ada acara di Jakarta bersama tante Yuna dan Om Haikal, papa langsung ke Jakarta di malam berikutnya" ucapan Jili berhenti


"Lalu?"


"Dugaan utama om Haikal dan tante Yuna papa kelelahan... Dan... Penyakitnya yang membuat papa tak mampu bertahan"ucap Asha


"Penyakit? Papa ada penyakit apa yang kalian tidak katakan padaku?" tanya Saira


"kanker paru-paru" ucap Davi mulai tidak mampu menahan air matanya


"Sejak kapan? Sejak kapan kalian tahu jika papa sudah kena kanker?" tanya Saira


"Sejak... 6 bulan lalu. Saat awal papa di vonis" jawab Candra, karena terlihat yang lain tak mampu lagi menjawab pertanyaan Saira.


"Kalian bohongkan... Aku gak percaya! Kalian cuma bercandakan? Kemarin papa sehat! bahkan pucatpun tidak. papa kemarin terlihat sangat sehat!!" ucap Saira lalu berlari menuju kamarnya.

__ADS_1


Liam mengejar Saira, sedangkan Davi dan Candra hanya bisa diam saling memandang. Mereka tahu Saira tidak akan percaya. Saira sampai kamar menangis tak percaya dengan apa yang diungkapkan kedua kakaknya. Saira berusaha menyangkal, tapi handphone papanya tidak aktif. Berakhir sudah harapan Saira, yang sampai detik ini masih yakin jika kedua kakaknya bercanda. Beberapa jam setelah Saira datang, Ambulance dan beberapa mobil datang. Yuna dan Haikal turun dari mobil di ikuti berberapa teman dekat Yelu. Di ikuti sebuah peti mati berwarna putih.


Peti itu di taruh di ruang tamu yang sudah kosong dari sofa dan hal lainnya. Saira turun, ia melihat peti putih, dengan di tutupi kain putih transparan di tengah ruang tamu. Tampak Yuna menangis tersedu-sedu, dengan memeluk Asha. Saira berjalan pelan di bantu Liam, Liam tampak memeluk Saira erat saat berjalan mendekat. Yuna menyambut Saira, namun tidak Saira hiraukan, ia hanya ingin lihat siapa yang berada di dalam peti.


__ADS_2