Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 24


__ADS_3

Hari berikutnya jam baru menunjukan pukul 9 pagi. Liam dan Tristan baru saja pulang dari lari pagi. Sedangkan Saira dan Laras baru selesai sarapan. Sudah ada yang datang berkunjung. Secara kebetulan Haikal. Sedang berada di teras rumah bersama Yuna yang sedang menikmati kopi setiap pagi di temani biskuit, sambil membaca koran.


"Liam... Tristan.... Lihat siapa yang datang" ucap Yuna sambil membawa buah tangan dari tamunya yang berkunjung pagi ini.


"Dian" ucap Tristan tapi Liam mundur beberapa langkah.


"Kenapa mundur Liam?" tanya Dian lalu berlari dan memeluk Liam


"Dian... Kamu bukan anak kecil lagi yang selalu minta aku peluk"


"Tapi jarak umur kita gak jauh... Umur loe sekarang 25 kan? Gue dah 17. Hanya selisih 8 tahun... Gue masih selalu suka sama loe"


"Dian... Kenalin ini istri ku... "


"Gak... Loe gak boleh buat cewek penyakitan ini!" ucap Dian marah lalu mendorong Saira


"Dian! Saya tidak terima siapapun yang berbuat kasar. Sekarang anda minta maaf ke Saira... Istri saya"


"Ogah! Gak mau! Dia ngerebut loe"


"ini masih pagi!" ucap Tristan kasar ke arah Dian


"Dian... Kamu pulang dulu ya.. Liam sudah memiliki kehidupannya sendiri.... Kamu selalu menjadi adik kecil kami... Bukankah Liam pernah bicara begitu?" tanya Yuna


"Tapi siapa yang mau jadi adik. Maunya jadi istri! Selalu disisi dia tan"


"sadar loe! Kakak gue gak cinta sama loe! Pergi loe dari rumah gue! Berhenti ganggu hidup Liam dan kakak ipar gue!" ucap Tristan


"Tristan... Sabar nak" ucap Yuna


"Kamu pulang! Sikapmu tidak saya terima di sini" ucap Liam tetap tenang


"Gak mau!!"ucap Dian lalu berlari ke Liam dan mencium bibir Liam. Namun karena Liam menolak, hanya terkena bibir samping Liam. Saira mundur beberapa langkah kebelakang

__ADS_1


"Eh! Gue udah pernah bilang ke loe, loe tuh terobsesi banget sama Liam! Karena Liam guru les loe?"Tanya Tristan


"Saira.... Kamu gakpapa?" tanya Laras


"Aku gak tau mbak... Gak di sini... Di Solo... Sama aja... " ucap Saira lirih namun terdengar oleh Liam dan lainnya


"Dian! Sopanlah! Saya bukan siapa-siapa mu!" bentak Liam berusaha melepaskan pelukan Dian


"Kenapa... Kenapa loe jadi sopan gini? Gak ada keakraban kayak dulu? Karena dia! Karena istrimu?" bentak Dian lalu mendorong Saira hingga Saira terjatuh dan terduduk di lantai


"Sayang.." ucap Liam


"Aku gakpapa kok" jawab Saira mencoba berdiri di bantu Liam dan Laras


"Pulang" bentak suara sesorang yang Dian kenal


"Papi.... " pekik Dian


"Gue bakal balik! Saira lihat nanti! Bakal gue rebut Liam!"teriak Dian


"Astaga... Apa itu tadi?" tanya Saira ke Yuna


"Mari ikut... Bunda ceritakan semuanya" ucap Yuna lalu menggandeng Laras dan Saira menuju halaman depan


Dian dahulu tinggal di depan rumah ini sebelum mereka pindah karena rumah mereka terbakar. Saat itu umur Dian 6 tahun, di dalam rumahnya saat itu hanya ada mama Dian, Adik Dian Cempaka, dan Dian sendiri. Mama Dian sudah panik menyelamatkan Cempaka dan beberapa file dan barang penting. Ia melupakan Dian. Sampai Liam dan Tristan membuat mama Dian sadar, jika Dian masih di dalam. Tanpa pikir panjang, Liam masuk kedalam dan membawa Dian keluar. Sejak saat itu Dian sangat menyukai Liam, dan sangat terobsesi ke Liam. Penjelasan Yuna.


"Kebakarannya kenapa bunda?"tanya Saira


"Puntung rokok mama Dian. Saat itu baru pukul 9 malam, dan setelah ada pesta di rumah tersebut" ucap Yuna


"Papa Dian kemana saat itu Bund?" tanya Laras


"Berada di luar kota, dan ia tidak bisa di hubungi. Ia baru kembali 5 hari setelahnya. Selama beberapa hari itu Mama Dian, Dian, Cempaka tinggal di sini" imbuh Yuna

__ADS_1


"Ehm, setelah itu mereka kerumah mereka yang baru?"


"Kerumah lama mereka yang sebelumnya di kontrakan. Yang terbakar adalah rumah baru mereka"


"Kasian" ucap Laras dan Saira hampir bersamaan


"Sebenarnya kami sudah lelah dengan ulah Dian. Berulang kali ia membuat Liam putus dengan pacarnya. Sampai perempuan tidak mau dekat dengan Liam. Begitu pula dengan Tristan"


"Ulah dia yang seperti apa bund?" tanya Laras


"Menyewa preman untuk menganggu pacar atau perempuan yang dekat dengan Liam atau Tristan... Tidak hanya itu, ia pernah mengendap-endap masuk ke kamar Liam"


"Berani banget dia?" ucap Saira kesal


"Lalu bagaimana?" tanya Laras


"Tristan Kebetulan berada di kamar Liam saat itu, karena belajar, Tristan langsung menyeret Dian pulang. Papa dan Mama Dian sangat marah saat itu. Tapi semenjak saat itu, kami memberikan pengamanan ekstra"


"Perbuatannya gak bisa di tebak.... Nekat banget" ucap Saira


"Ya.... Semoga saja kalian berdua tidak menemui hal buruk yang berhubungan dan Dian"


"Iya bunda" jawan Laras dan Saira


Saira menatap ke depan, terlihat beberapa mobil yang berbaris rapi disana. kendaraan berlalu lalang, terlihat ramai. namun, di sebrang ia melihat lahan kosong, yang akan menjadi calon rumahnya dan rumah Laras nantinya. Saira sempat berfikir, apakah di sana rumah Dian dulu. Rumah Dian saat kecil dulu.


"bunda, apakah lahan kosong yang akan menjadi rumah kami, dahulu rumah Dian?" tanya Saira


"bukan sayang, rumah Dian yang terbakar yang sekarang menjadi mini market itu, mini market itu milik papa Dian" ucap Yuna


"oh mini market Biru yang besar itu bunda?" tanya Laras


"benar sayang. mari masuk, langit sebentar lagi hujan" ajak Yuna

__ADS_1


__ADS_2